NovelToon NovelToon
MANTAN JENDERAL MENANTIKAN PERNIKAHAN

MANTAN JENDERAL MENANTIKAN PERNIKAHAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Yorozuya Rin

Pada tahun kesembilan pemerintahan Huangdi, Jenderal Shen meninggal di Qi Huai. Kaisar saat itu memberinya gelar kehormatan anumerta sebagai Marquis Yongqing.

Pada bulan kedua belas tahun yang sama, Nona Shen kedua, yang telah menemani neneknya ke pegunungan untuk melakukan ritual Buddha selama lima tahun, kembali ke rumah. Hal pertama yang dihadapinya saat tiba adalah hukuman berlutut di aula leluhur.

Di aula leluhur, sesepuh keluarga Shen memarahinya, menyuruhnya untuk tidak bertindak sembrono di masa depan dan untuk dengan patuh menunggu para sesepuh mengatur pernikahan untuknya.

Perjalanan penantian pernikahan mantan jenderal pun dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yorozuya Rin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertemu Dia

Udara di lantai tujuh Menara Qitian terasa jauh lebih dingin dibandingkan di bawah, seolah-olah ketinggian menara ini telah menembus batas dunia fana dan menyentuh inti dari musim dingin yang abadi.

Angin malam yang liar menyelinap tanpa permisi melalui celah jendela kayu yang berderit, membuat nyala lilin di sudut ruangan bergoyang hebat dan nyaris padam.

Cahaya yang tidak stabil itu menciptakan bayang-bayang di dinding batu yang tampak hidup, memanjang dan meliuk seperti makhluk halus yang sedang mengintai dari balik kegelapan yang temaram.

Di dalam sudut yang paling gelap, suasana terasa begitu menyesakkan saat tubuh Shen Fuyan menahan Guru Besar Kekaisaran, mengunci pria itu di antara lengan dan dinding batu yang membeku.

Jarak di antara mereka telah melampaui batas kewajaran terlalu dekat, terlalu intim, dan sangat tidak pantas bagi seorang putri pejabat terhadap pria paling suci di kekaisaran.

Namun, Shen Fuyan yang dibakar oleh alkohol sama sekali tidak berniat mundur; ia justru condong ke depan, membiarkan aroma anggur yang panas dari napasnya bercampur dengan wangi obat dingin yang samar dan bersih dari jubah sang Guru Besar.

Perpaduan aroma itu terasa aneh dan paradoks, namun justru menciptakan tegangan yang semakin berbahaya, seolah satu percikan saja bisa menghanguskan seluruh menara ini.

“Kau berbau harum sekali,” bisik Fuyan, suaranya rendah dan serak, nyaris tenggelam dalam deru angin di luar jendela.

Bisikan itu bukan sekadar kata-kata; itu adalah sebuah tantangan yang dilemparkan langsung ke wajah Sang Guru Besar, sebuah sentuhan tak kasat mata yang mencoba mengusik ketenangan es yang selama ini menyelimuti pria tersebut.

Di tempat yang paling terisolasi di seluruh Chang'an ini, keheningan terasa begitu berat, menyimpan potensi ledakan konflik yang bisa menghancurkan reputasi dan nyawa mereka sekaligus dalam satu malam yang bersalju.

Guru Besar Kekaisaran tidak bergerak.

Tatapannya tetap dingin, setajam ujung pedang yang baru saja keluar dari sarungnya, tidak menunjukkan setitik pun kegoyahan meskipun kini punggungnya terhimpit pada dinding batu yang beku. Dinginnya dinding itu seolah menyatu dengan aura tubuhnya, membuat pria itu tampak seperti patung giok yang tak bernyawa namun mematikan.

“Sudah cukup main-mainnya?”

Suaranya rendah, nyaris seperti bisikan yang menyapu permukaan air membeku.

Tidak ada nada tinggi yang mengekspresikan keterkejutan, tidak pula ada kobaran amarah yang meledak.

Namun, justru ketiadaan emosi itulah yang membuatnya terasa jauh lebih menekan; sebuah otoritas yang mutlak dan tak tergoyahkan, seolah-olah ia sedang berbicara pada seorang anak kecil yang nakal, bukan pada seseorang yang sedang mengancam nyawanya.

Di bawah tatapan itu, udara di lantai tujuh Menara Qitian seakan berhenti mengalir, menciptakan keheningan yang begitu pekat hingga suara salju yang menghantam kaca jendela pun terdengar seperti dentuman keras.

Pria itu tidak perlu bergerak untuk mendominasi, hanya dengan satu kalimat itu, ia telah membalikkan keadaan, membuat keberanian Shen Fuyan yang dipacu alkohol perlahan terasa seperti kerapuhan yang nyata.

Shen Fuyan menyipitkan mata sedikit, seolah tertarik.

“Main-main?” ia terkekeh pelan. “Aku datang jauh-jauh ke sini hanya untuk „main-

main‟?”

Tangannya yang menahan pergelangan Guru Besar Kekaisaran sedikit mengencang.

Namun di saat yang sama ia juga menyadari sesuatu.

Detak nadi di bawah kulit dingin itu…

tetap stabil.

Tidak panik.

Tidak terganggu.

Seolah-olah yang sedang terjebak bukan Guru Besar Kekaisaran.

Melainkan dirinya sendiri.

Seketika, alis Shen Fuyan berkerut tipis.

Menarik.

Sangat menarik.

“Kau tidak takut?” tanyanya tiba-tiba.

Guru Besar Kekaisaran akhirnya mengangkat matanya sedikit, menatapnya lurus.

Dalam cahaya redup, mata itu seperti salju abadi, tenang, namun membekukan.

“Aku harus takut pada apa?” balasnya datar.

“Pada seseorang yang menyelinap masuk sambil mabuk?”

Satu kalimat itu menusuk tepat sasaran.

Shen Fuyan terdiam sejenak.

Lalu… tertawa pelan.

Tawa yang rendah, bergetar, dan sedikit berbahaya.

“Jadi kau tahu aku mabuk.”

“Tentu saja,” jawab Guru Besar Kekaisaran.

“Kalau tidak, kau tidak akan sebodoh ini.”

Untuk pertama kalinya senyum di wajah Shen Fuyan berubah.

Bukan hilang.

Tapi… menjadi lebih tajam.

Ia mendekat sedikit lagi.

Hidungnya hampir menyentuh pipi Guru Besar Kekaisaran.

“Kalau begitu,” bisiknya pelan, “bagaimana kalau aku benar-benar melakukan sesuatu 

yang bodoh?”

Hening.

Angin berdesir.

Lilin bergetar.

Namun Guru Besar Kekaisaran tetap tidak bergerak.

Bahkan tidak berkedip.

“Coba saja.”

Jawaban itu terlalu tenang.

Terlalu yakin.

Dan justru itu yang membuat Shen Fuyan berhenti.

Untuk sesaat, ia menatap wajah di depannya.

Wajah yang selalu terlihat seperti tak tersentuh dunia.

Dingin.

Suci.

Jauh.

Namun sekarang berada begitu dekat.

Begitu nyata.

Dan entah kenapa…

itu membuat sesuatu dalam dirinya terasa aneh.

Tidak nyaman.

Tapi juga… tidak ingin menjauh.

Shen Fuyan tiba-tiba melepaskan tangannya.

Langkahnya mundur setengah.

“Hah…” ia menghela napas, lalu meraih guci anggurnya. “Membosankan.”

Seolah semua yang terjadi barusan hanyalah lelucon.

Namun saat ia berbalik, suaranya terdengar lagi.

“Lain kali,” ucap Guru Besar Kekaisaran dari belakang, “jangan datang ke tempat 

seperti ini.”

Langkah Shen Fuyan terhenti.

Ia tidak menoleh.

“Kenapa?” tanyanya santai.

“Karena ini wilayahmu?”

Guru Besar Kekaisaran tidak langsung menjawab.

Namun ketika ia berbicara lagi, nada suaranya lebih rendah dari sebelumnya.“Karena lain kali… aku tidak akan membiarkanmu pergi semudah ini.”

Sunyi.

Angin malam tiba-tiba terasa lebih tajam.

Namun alih-alih takut, sudut bibir Shen Fuyan justru terangkat.

“Kalau begitu,” katanya pelan, “aku akan menantikannya.”

Dan detik berikutnya sosoknya sudah menghilang ke dalam bayangan.

...----------------...

Kediaman Shen, Malam yang Sama

Lampu di kamar Lin Yuexin masih menyala.

Ia belum tidur.

Buku di tangannya sudah lama tidak dibalik halamannya.

Tatapannya kosong, seolah pikirannya berada di tempat lain.

Pintu jendela terbuka sedikit dan sesosok bayangan melompat masuk tanpa suara.

Aroma anggur langsung memenuhi ruangan.

Lin Yuexin bahkan tidak perlu menoleh.

“Kau pergi minum lagi.”

Nada suaranya datar.

Namun ada sedikit… ketidaksenangan yang terselip.

Shen Fuyan menjatuhkan dirinya ke kursi dengan santai.

“Mm.”

Ia tidak menyangkal.

Tidak juga menjelaskan.

Lin Yuexin akhirnya menoleh.

Tatapannya jatuh pada pakaian pria yang dikenakan Shen Fuyan, rambut yang sedikit 

berantakan, dan pipi yang samar memerah karena alkohol.

Alisnya berkerut.

“Kau keluar?”

Shen Fuyan tersenyum samar.

“Sedikit.”

“Ke mana?”

Hening sejenak.

Lalu

“Menara Qitian.”

Buku di tangan Lin Yuexin terjatuh.

Ia menatap Shen Fuyan dengan ekspresi yang jarang terlihat benar-benar terkejut.

“Kau gila?!”

Itu wilayah Guru Besar Kekaisaran.

Tempat yang bahkan para pejabat tinggi pun tidak berani mendekat tanpa izin.

Dan Shen Fuyan masuk ke sana… sambil mabuk?

Shen Fuyan hanya mengangkat bahu.

“Tidak mati, kan?”

Lin Yuexin menatapnya lama.

Lalu menghela napas panjang, menekan pelipisnya.

“Kau benar-benar…”

Namun kalimatnya terhenti.

Karena ia menyadari sesuatu.

Aroma bukan hanya anggur.

Ada bau lain yang samar.

Dingin.

Bersih.

Seperti obat.

Matanya menyipit.

“Kau bertemu dia.”

Bukan pertanyaan.

Pernyataan.

Shen Fuyan tidak menjawab.

Namun senyumnya sudah cukup sebagai jawaban.

Lin Yuexin terdiam.

Untuk pertama kalinya ia merasa sesuatu mulai bergerak ke arah yang…

tidak bisa ia kendalikan.

Dan itu bukan pertanda baik.

1
Nurhasanah
suka banget sama karakter cwek yg badas nggak menye2 🥰🥰🥰 lanjut thor
Nurhasanah
lanjut thor 🥰🥰🥰
Sri Yana
tolong perbanyak episode nya, ceritanya semakin menarik....
Zhou Yan: maaf ya othor hanya bisa up 1 ep sehari, karena othor punya 4 cerita on going, lumayan menguras emosi kalo harus up lebih dari 1 episode. /Sob/
Jadi selagi nunggu othor up cerita lagi, kakak bisa baca cerita on going othor lainnya ya, 🙏🤭🤭
total 1 replies
Nurhasanah
karya yg bagus di tunggu lanjutan nya 👍👍👍
Nurhasanah
lanjut thor ... makin seru 🥰🥰🥰
Mydar Diamond
lanjuutt 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!