NovelToon NovelToon
Menunggumu Berdamai Dengan Luka

Menunggumu Berdamai Dengan Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / CEO
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

''Semua laki-laki sama, termasuk kamu."

Duniaku hancur saat tahu Ayah punya keluarga lain. Malam itu juga, aku pergi meninggalkan rumah, kenangan, dan laki-laki yang paling mencintaiku tanpa satu pun kata pamit. Bagiku, cinta hanya sebuah kepalsuan.

Lima tahun berlalu, aku kembali sebagai wanita mandiri yang keras hati. Namun, takdir mempertemukanku lagi dengannya di sebuah persimpangan.

Dia tidak lagi mengejarku. Dia hanya memilih duduk di sampingku saat aku menangis, mendengarkan tanpa banyak tanya, dan menjagaku dari kejauhan.

Apakah aku sanggup membuka hati, saat bayang-bayang pengkhianatan Ayah masih menghantui? Bisakah aku berdamai dengan luka, jika memaafkan saja terasa begitu mustahil?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Gemerincing bel pintu terdengar untuk terakhir kalinya malam itu. Aku membalikkan papan tanda di pintu menjadi 'Closed', lalu menguncinya rapat-rapat. Hening segera menyergap, hanya menyisakan aroma lilin aromaterapi dan tumpukan kain yang sedikit berantakan.

Ibu menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya di kursi kayu dekat meja potong. Wajahnya tampak kelelahan namun puas. Dengan langkah perlahan, Ibu berjalan ke arah dapur kecil di sudut butik dan kembali membawa dua cangkir teh hangat yang masih mengepul.

"Minum dulu, Rez. Ibu benar-benar berterima kasih kamu sudah bantu tadi," ucap Ibu sembari menyodorkan cangkir itu.

Farez dengan sigap berdiri, mengambil nampan dari tangan Ibu agar Ibu tidak perlu membungkuk lebih lama. "Tante duduk saja, biar saya yang rapikan sisanya," balasnya lembut. Setelah meletakkan nampan, Farez duduk di kursi plastik kecil di dekat Ibu, mengabaikan fakta bahwa setelan kemeja mahalnya mungkin akan terkena debu kain.

Ibu menatap Farez lama, matanya yang mulai menua tampak berkaca-kaca. "Farez... Ibu benar-benar tidak menyangka akan melihatmu lagi di sini. Setelah malam itu, Rana benar-benar memutus semuanya."

Farez menunduk sejenak, memutar-mutar cangkir teh di tangannya. "Tante, selama lima tahun ini, tidak satu hari pun saya berhenti mencari keberadaan Rana. Saya mendatangi rumah lama Tante berkali-kali, bertanya pada setiap orang yang mungkin tahu ke mana kalian pergi."

Aku yang sedang merapikan rak di sudut butik, menghentikan gerakanku. Hatiku berdenyut nyeri mendengar pengakuannya.

"Saya tahu apa yang terjadi malam itu," lanjut Farez, suaranya merendah namun terdengar sangat berat. "Saya tahu tentang Pak Wira. Saya tahu luka yang dihantamkan beliau ke punggung Rana dan Tante. Saya paham kenapa Rana benci pada dunia."

Farez menjeda kalimatnya, lalu ia menoleh ke arahku—sebuah tatapan yang penuh dengan pertanyaan yang tertahan selama setengah dekade.

"Tapi yang masih saya tidak tahu sampai detik ini adalah... kenapa Rana harus mengakhiri semuanya dengan saya sepihak? Kenapa saya tidak diberi kesempatan sedikit pun untuk bicara, atau setidaknya menemani dia di masa tersulitnya? Kenapa saya juga harus dibuang bersama luka yang tidak saya buat?"

Pertanyaan itu meluncur seperti anak panah yang tepat sasaran. Ibu terdiam, menatapku dengan pandangan penuh simpati. Ruangan itu mendadak terasa lebih dingin. Farez tidak sedang menuntut maaf, ia hanya sedang meminta kejujuran yang sudah lama hilang.

Aku mencengkeram kain tenun di tanganku kuat-kuat. Suara Farez bukan lagi suara Direktur Abiwangsa yang angkuh, melainkan suara remaja laki-laki yang dulu ditinggal di bawah lampu jalan saat hujan turun.

"Karena saat itu..." suaraku akhirnya keluar, serak dan gemetar. "Melihatmu hanya membuatku teringat betapa besarnya aku bisa dikhianati oleh laki-laki yang kucintai, Rez. Aku tidak takut padamu, aku takut pada perasaanku sendiri yang mungkin akan hancur lagi kalau aku percaya padamu."

Farez bangkit dari duduknya, melangkah mendekat ke arahku di tengah temaram lampu butik. "Jadi selama lima tahun ini, aku dihukum hanya karena aku seorang laki-laki? Hanya karena kamu takut aku akan menjadi bayangan ayahmu?" 

Ibu segera bangkit dari kursinya, melangkah perlahan menuju ke arah kami. Ia berdiri tepat di antara aku dan Farez, menjadi penengah di tengah ketegangan yang mulai menguras oksigen di dalam butik. Ibu meletakkan satu tangannya di bahu Farez dan tangan lainnya di lenganku.

"Farez," panggil Ibu dengan suara yang sangat lembut, namun penuh wibawa seorang ibu. "Tante minta maaf. Tante minta maaf atas luka yang Rana berikan padamu selama lima tahun ini. Tante tahu kamu tidak bersalah, tapi saat itu, Rana hanya seorang gadis kecil yang dunianya baru saja kiamat."

Ibu melirikku sekilas, matanya menyiratkan kesedihan yang mendalam. Beliau tahu betul bahwa aku menyimpan luka ini begitu rapat hingga membusuk di dalam, hanya agar beliau tidak perlu ikut memikulnya.

"Rana belum benar-benar siap, Farez. Dia membawa beban yang seharusnya tidak dia pikul sendirian di usia semuda itu," lanjut Ibu, suaranya sedikit bergetar. "Beri dia waktu sedikit lagi. Jangan paksa dia menjawab semua malam ini."

Farez terdiam. Rahangnya yang tadi mengeras perlahan melunak. Ia menatap Ibu dengan sorot mata yang penuh hormat, lalu beralih menatapku sejenak. Amarah di matanya perlahan padam, digantikan oleh rasa lelah yang sangat nyata.

"Sudah malam, Rez," ucap Ibu sembari mengusap lengan Farez. "Pulanglah. Kamu sudah banyak membantu hari ini. Beristirahatlah di rumahmu. Biarkan Rana juga menenangkan pikirannya."

Farez menarik napas panjang, mencoba menguasai kembali emosinya. Ia mengangguk pelan pada Ibu. "Maafkan saya, Tante. Saya tidak bermaksud menyudutkan Rana di rumah ini."

Ia mengambil jasnya yang tersampir di kursi, lalu berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia berhenti sejenak, namun tidak menoleh padaku. "Aku pulang, Tante. Terima kasih tehnya."

Begitu pintu butik tertutup dan suara langkahnya menjauh, kakiku terasa lemas. Aku terduduk di kursi meja potong, menutup wajahku dengan kedua telapak tangan. Sunyi kembali menyergap, namun kali ini terasa jauh lebih berat.

Ibu mendekat, memeluk bahuku dari belakang. Beliau tidak bertanya apa-apa, tidak memintaku menjelaskan lebih lanjut. Beliau hanya ada di sana, menemaniku dalam diam, membiarkan kebenaran yang baru saja diledakkan Farez meresap perlahan ke dalam sanubariku. Malam itu, aku sadar bahwa melarikan diri ternyata tidak pernah benar-benar menjauhkanku dari masalah; ia hanya membuat lubang lukanya semakin dalam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!