NovelToon NovelToon
Teror Maut Di Pabrik Karet

Teror Maut Di Pabrik Karet

Status: sedang berlangsung
Genre:Kumpulan Cerita Horror / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Hantu / Horor
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: UncleHoon

Bambang, pengangguran yang jadi bulan-bulanan tetangganya, nekat tanda tangan kontrak satpam di pabrik karet Kalimantan. Gaji lima belas juta. Kamar mewah. Tapi denda lima ratus juta jika berhenti sebelum setahun. Malam pertama ia dengar suara karet diregangkan dari gudang produksi.

Malam kedua ia lihat bayangan tanpa tubuh di dinding pos satpam. Malam ketiga ia sadar: pabrik ini tak pernah menghasilkan karet. Yang keluar dari gerbang setiap subuh adalah sesuatu yang meniru wajah manusia. Dan kontrak yang ia tanda tangan bukan kontrak kerja. Tapi daftar korban berikutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UncleHoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aturan Aneh

Bambang tidak tahu persis kapan dia akhirnya tertidur. Yang dia ingat hanyalah matanya yang terasa perih karena terus menatap pintu, dan tubuhnya yang gemetar bukan karena dingin tapi karena rasa takut yang tidak bisa dia jelaskan. Suara itu tidak kembali setelah menjauh perlahan, tapi bayangannya tetap melekat di kepalanya. Suara seperti karet diregangkan. Terlalu keras. Terlalu berirama. Suara yang tidak seharusnya keluar dari pabrik karet.

Pagi menyelinap masuk melalui celah-celah jendela kamar yang tertutup rapat. Bambang membuka mata dengan tubuh yang terasa lebih berat dari biasanya. Lehernya kaku. Punggungnya sakit. Tidurnya tidak nyenyak. Setiap kali dia hampir terlelap, ingatan tentang suara itu kembali dan membangunkannya.

Dia duduk di ranjang dan memandangi sekeliling kamar. Dinding lembab. Lampu mati. Bau jamur yang semalam sudah tercium, sekarang semakin kuat. Mungkin memang tidak pernah ada yang membersihkan kamar ini. Atau mungkin kamar ini sudah lama tidak dihuni.

Bambang berdiri dan membuka jendela kecil itu. Daun jendela berdecit keras. Di luar, langit berwarna abu-abu. Mendung menggantung rendah. Halaman pabrik terlihat suram dalam cahaya pagi yang redup. Rumput-rumput tinggi bergoyang pelan ditiup angin. Tidak ada orang. Tidak ada suara. Hanya kesunyian yang tebal.

Dia menutup jendela kembali dan berjalan ke pintu. Tangannya berhenti di gagang pintu. Dia ingat suara tadi malam. Sesuatu yang merayap di lorong. Sesuatu yang tidak berani dia lihat.

Bambang menghela napas dan membuka pintu.

Lorong kosong. Lampu-lampu redup masih menyala meskipun sudah pagi. Lantai lorong terbuat dari semen yang kasar dan dingin di telapak kaki. Dindingnya sama lembabnya dengan dinding kamarnya. Beberapa pintu lain tertutup rapat. Pintu kamar nomor satu sampai enam. Bambang bertanya-tanya siapa yang tinggal di kamar-kamar itu. Semalam dia hanya bertiga orang di ruang tamu. Herman, Joni, Ucok. Satu nama lagi, Dul, tidak ada. Mungkin Dul sedang tugas malam.

Dia berjalan menyusuri lorong menuju ruang tamu. Suara langkah kakinya bergema di kesunyian. Begitu sampai di ruang tamu, dia melihat Joni sedang duduk di sofa sambil memegang cangkir kopi. Wajah Joni masih segar, berbeda dengan semalam. Matanya bersinar. Senyumnya lebar.

"Eh, Bang Bambang! Selamat pagi. Udah sarapan?"

"Belum."

"Ya udah, ikut gue. Kantin di belakang."

Bambang mengikuti Joni keluar dari blok satpam. Mereka berjalan melewati halaman yang sama seperti semalam. Rumput tinggi. Genangan air. Bau tanah dan lumut. Kantin ternyata bangunan kecil di belakang blok satpam, hanya berjarak sekitar lima puluh meter. Bangunan itu terbuat dari kayu, dengan atap seng. Di dalamnya ada beberapa meja dan kursi plastik.

Seorang perempuan tua berdiri di belakang meja dapur. Wajahnya keriput. Rambutnya sudah putih semua. Matanya sayu, seperti orang yang sudah melihat terlalu banyak hal dalam hidupnya.

"Ini Mbah Yem," kata Joni memperkenalkan. "Yang masak buat kita semua."

Mbah Yem mengangguk ke arah Bambang tanpa tersenyum. "Nasi udang, ya. Udangnya habis. Nasi telur aja."

"Iya, Mbah. Dua porsi," kata Joni.

Mereka duduk di meja plastik. Bambang melihat sekeliling kantin. Dindingnya penuh dengan coretan. Ada nama-nama, ada tanggal, ada kalimat-kalimat pendek yang tidak jelas artinya. Beberapa coretan sudah pudar. Beberapa masih terlihat baru.

"Joni," panggil Bambang pelan.

"Iya, Bang?"

"Yang tadi malam... ada suara aneh di lorong. Suara kayak karet diregangkan. Itu suara apa?"

Joni berhenti tersenyum. Wajahnya berubah serius dalam sekejap. Dia menunduk, memandangi meja di depannya. "Lu dengar suara itu?"

"Iya. Dari balik pintu kamar gue. Terus merayap pelan-pelan. Gue nggak berani buka pintu."

Joni mengangkat wajahnya. Matanya tidak lagi bersinar. Yang ada hanya kegelisahan. "Itu mesin, Bang. Mesin produksi. Kadang bunyi aneh."

"Jam segitu mesin masih nyala? Bukannya produksi cuma siang?"

"Kadang... ada shift malam."

Bambang tidak percaya. Jawaban Joni terdengar seperti hafalan. Seperti sudah dilatih untuk diucapkan. Tapi dia tidak mau memaksa. Ini baru hari pertama. Tidak baik langsung curiga pada orang yang baru dikenal.

Mbah Yem datang membawa dua piring nasi telur. Telur dadar tipis di atas nasi putih, dengan sedikit kecap dan irisan mentimun. Sederhana, tapi baunya menggiurkan. Bambang belum makan enak sejak dari rumah. Kemarin dia hanya makan bekal Ibu di pesawat.

Mereka makan dalam diam. Sesekali Joni melirik ke arah pintu kantin, seperti sedang menunggu seseorang. Atau mengawasi sesuatu.

Pintu kantin terbuka. Herman masuk dengan langkah gontai. Wajahnya lebih lelah dari semalam. Lingkar hitam di bawah matanya tebal. Dia langsung berjalan ke meja Bambang dan Joni tanpa memesan makanan.

"Bambang," sapa Herman.

"Pagi, Herman."

"Kamu sudah baca aturan?"

"Sudah. Tadi malam."

"Bagus. Sekarang saya jelaskan satu per satu."

Herman duduk di kursi seberang Bambang. Joni langsung berdiri. "Gue ke luar dulu, ya. Ada urusan."

Joni pergi dengan cepat. Bambang curiga Joni sengaja menghindari pembicaraan ini. Herman tidak mempedulikan kepergian Joni. Matanya tertuju pada Bambang.

"Aturan nomor satu. Dilarang membuka gudang produksi jam sebelas malam sampai jam empat pagi. Kenapa? Karena di jam-jam itu, proses produksi mencapai puncaknya. Suhu di dalam gudang sangat tinggi. Tekanan uapnya juga tinggi. Kalau pintu dibuka, tekanan bisa meledak. Kamu bisa tewas. Orang lain juga bisa tewas. Paham?"

Bambang mengangguk. Penjelasan itu masuk akal. Tapi kenapa Joni tidak menjelaskan seperti ini tadi?

"Aturan nomor dua. Dilarang berbicara dengan pengunjung malam. Maksudnya, kadang ada orang dari luar yang datang ke pabrik malam hari. Mereka biasanya kurir atau petugas pengiriman. Tugas kita bukan bicara dengan mereka. Tugas kita hanya lapor ke saya. Saya yang urus. Kalau kamu bicara dengan mereka, kamu bisa kena masalah. Mereka tidak suka diajak bicara."

"Lalu aturan nomor tiga. Dilarang menggunakan senter ke arah hutan belakang. Kenapa? Karena hutan belakang itu kawasan lindung. Ada satwa liar. Beruang, babi hutan, ular. Kalau kamu pakai senter ke arah sana, satwa-satwa itu bisa terganggu dan masuk ke area pabrik. Kita tidak mau satwa liar berkeliaran di sini."

"Aturan nomor empat. Dilarang merekam apapun di dalam area pabrik. Ini masalah keamanan perusahaan. Proses produksi kami adalah rahasia. Tidak boleh bocor ke publik. Kalau ketahuan merekam, bisa dipecat dan dituntut."

Herman berhenti bicara. Dia menatap Bambang seperti menunggu reaksi.

Bambang berpikir sejenak. Semua aturan itu terdengar logis. Mungkin dia terlalu paranoid tadi malam. Mungkin suara yang dia dengar memang hanya mesin. Mungkin tidak ada yang perlu ditakuti.

"Paham," kata Bambang akhirnya.

"Bagus. Sekarang tugas kamu mulai malam ini. Kamu dapat shift pukul dua belas malam sampai jam enam pagi. Jaga pos satpam di pintu gerbang utama. Jangan tidur. Jangan main ponsel. Jangan makan di pos. Cuma duduk dan pantau CCTV."

"Sendirian?"

"Sendirian. Tapi tim lain ada di sekitar. Kalau ada masalah, kamu tekan tombol di bawah meja. Itu bel untuk panggil tim. Kami akan datang."

Herman berdiri. Sebelum berjalan keluar, dia menoleh sekali lagi. "Satu pesan, Bambang. Jangan melanggar aturan. Apapun yang terjadi, jangan melanggar aturan. Lebih baik kamu diam dan takut daripada melanggar dan menyesal."

Herman pergi. Bambang duduk sendirian di kantin. Piringnya sudah kosong. Nasi telur habis dalam beberapa menit. Tapi perutnya tidak kenyang. Yang ada hanya perasaan aneh yang menggelitik di dadanya.

Dia memandangi coretan-coretan di dinding kantin. Kali dia perhatikan lebih teliti. Beberapa coretan bertuliskan nama dengan tanggal di sampingnya.

"Ucok, 12 Maret 2021."

"Dul, 3 Januari 2022."

"Joni, 15 Juli 2022."

"Agus, 20 September 2022."

"Rudi, 5 November 2022."

"Sumanto, 1 Desember 2022."

"Bambang?"

Tidak. Namanya belum ada. Tapi tanggal-tanggal itu... Bambang menghitung. Ada dua belas nama. Dua belas coretan. Dua belas tanggal yang berbeda.

Dua belas satpam sebelumnya.

Tapi semalam, Herman bilang hanya ada empat satpam yang bertugas sekarang. Herman, Joni, Dul, Ucok. Itu empat. Ditambah Bambang jadi lima. Lalu siapa nama-nama di dinding ini?

Bambang berdiri dan mendekati dinding. Dia menyentuh coretan nama Agus dengan ujung jarinya. Tinta spidol itu sudah pudar, tapi masih bisa dibaca. Agus, 20 September 2022. Itu hampir setahun yang lalu.

Dia melihat coretan lain. Rudi, 5 November 2022. Sumanto, 1 Desember 2022. Semua dalam rentang beberapa bulan.

Kemana mereka sekarang? Apakah mereka pindah? Apakah mereka dipecat? Atau...

Bambang tidak ingin melanjutkan pikirannya.

Mbah Yem muncul dari balik meja dapur. Dia membawa lap tangan dan mulai mengelap meja di sebelah Bambang. Tanpa menoleh, dia berkata dengan suara parau, "Jangan terlalu banyak lihat, Nak. Nanti kamu ikut-ikut jadi coretan."

Bambang menoleh ke Mbah Yem. "Maksud Mbah?"

Mbah Yem berhenti mengelap. Dia menatap Bambang dengan mata sayu itu. Matanya berbicara lebih keras dari mulutnya. "Kamu baru datang, ya? Wajahmu masih segar."

"Iya, Mbah. Baru semalam."

"Semoga kamu kuat."

"Kuat apa, Mbah?"

Mbah Yem tidak menjawab. Dia kembali mengelap meja, lalu berjalan ke dapur. Pintu dapur ditutup. Bambang ditinggal sendirian dengan coretan-coretan di dinding dan pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab.

Dia kembali duduk di kursinya. Matanya tidak lepas dari dinding itu. Dua belas nama. Dua belas tanggal. Mungkin hanya kebetulan. Mungkin hanya orang-orang yang keluar karena alasan pribadi.

Tapi kenapa perutnya mual? Kenapa tangannya dingin? Kenapa pikirannya terus kembali ke suara tadi malam?

Bambang bangkit dari kursi dan keluar dari kantin. Udara pagi yang dingin menyambutnya. Dia berdiri di halaman, memandangi bangunan utama pabrik di kejauhan. Gudang produksi. Tempat yang tidak boleh dibuka jam sebelas malam sampai jam empat pagi.

Dia bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi di balik pintu gudang itu. Apa yang membuat tekanan uap begitu tinggi. Apa yang membuat suhu begitu panas.

Atau mungkin... tidak ada tekanan uap. Tidak ada suhu panas.

Mungkin ada sesuatu yang lain.

Sesuatu yang tidak ingin diketahui oleh siapa pun.

Sesuatu yang membuat dua belas orang menghilang.

Bambang menggigit bibirnya. Dia harus mencari tahu. Tapi tidak sekarang. Sekarang dia harus istirahat. Malam ini dia akan mulai bertugas. Malam ini dia akan duduk sendirian di pos satpam, ditemani kamera CCTV dan kegelapan.

Malam ini mungkin dia akan mendengar suara itu lagi.

Dan kali ini, suara itu mungkin tidak hanya lewat di lorong.

Mungkin suara itu akan datang menemuinya.

1
Mega Arum
semoga segare terpecahkan misteri apa sbnrnya yg ada di pabrik karet,
Mega Arum
lanjut kak...
Astuti Puspitasari
jangan lupa sholat nak 👍
Astuti Puspitasari
Hati2 mbang, kamu hanyalah anak yang ingin berbakti/Whimper/
Mega Arum
sereem
Mega Arum
mampir thor.. semoga cerita nya bagus
Ma Vin
seru,,,, bikin deg_deg'n tpi pnasaran
Seindah Senja
lanjut Thor,ceritanya seruu bangeet,😍ikut deg² kan bacanya😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!