Lin Feng, seorang Kaisar Abadi yang tak tertandingi di generasinya, yang dikenal sebagai "Penguasa Abadi," tewas dalam sebuah pengkhianatan keji. Murid terdekat dan wanita yang paling dicintainya bersekongkol untuk merebut Kitab Suci Kekacauan Abadi miliknya, sebuah teknik kultivasi tertinggi, tepat saat ia mencoba naik ke Alam Dewa. Meskipun raganya hancur, seutas jiwa ilahinya berhasil lolos dan bereinkarnasi ke dalam tubuh seorang pemuda yang baru saja mati di dunia fana yang terpencil.
Tubuh baru ini, yang juga bernama Lin Feng, dianggap sebagai "sampah" dengan meridian yang hancur, dikucilkan oleh klannya sendiri, dan dihina oleh tunangannya. Berbekal ingatan dan pengetahuan dari kehidupan masa lalunya yang gemilang, Lin Feng harus memulai segalanya dari nol. Dia akan menggunakan pemahamannya yang tak tertandingi tentang Dao agung untuk menempa kembali takdirnya, menantang langit, dan menapaki jalan menuju puncak kekuasaan sekali lagi, sambil merencanakan balas dendam yang akan m
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Langit Kedelapan dan Kembalinya Sang Naga
Lin Feng tidak langsung melanjutkan. Setelah terobosan yang begitu keras, dia menghabiskan satu hari penuh hanya untuk menstabilkan fondasinya. Dia duduk dalam meditasi, membiarkan Qi Kekacauan tingkat ketujuh yang baru mengalir dengan lancar di seluruh Meridian Tulang Naga miliknya. Dia bisa merasakan setiap otot, tulang, dan organ di tubuhnya diremajakan oleh energi baru ini. Kekuatan fisiknya saja sudah cukup untuk menyaingi ahli tingkat delapan biasa.
Dia bisa merasakan dunia di sekitarnya dengan lebih jelas. Tetesan air dari langit-langit gua, pergerakan ikan kecil di kolam di bawah air terjun, bahkan desiran angin yang menerpa dedaunan jauh di luar sana—semua terasa begitu jernih di dalam benaknya. Ini adalah tanda bahwa kekuatan spiritualnya telah mencapai tingkat yang baru.
Setelah yakin fondasinya sekeras batu abadi, dia menatap sepuluh pil terakhir yang tersisa. Waktu kompetisi tinggal dua hari lagi.
"Lin Tian, puncak tingkat delapan," gumam Lin Feng, senyum dingin tersungging di bibirnya. Dia tidak tahu tentang konspirasi itu, tetapi dia secara naluriah tahu siapa saja yang menjadi ancaman potensial di generasinya. "Aku ingin melihat ekspresimu ketika kau menyadari bahwa tingkat kultivasimu yang kau banggakan tidak ada artinya."
Dia tidak ingin hanya menang. Dia ingin mendominasi. Dia ingin menanamkan citra tak terkalahkan di hati setiap anggota Klan Lin, sehingga tidak akan ada lagi yang berani mengganggunya di masa depan.
Dengan pemikiran itu, matanya berkilat dengan tekad gila yang sama seperti sebelumnya. Dia tidak lagi ragu-ragu.
Dia menuangkan sepuluh pil terakhir ke telapak tangannya dan memasukkannya semua ke dalam mulutnya sekaligus.
BOOOOOOM!
Kali ini, ledakan energinya bahkan lebih mengerikan. Rasanya bukan lagi seperti sepuluh matahari, melainkan seperti galaksi kecil yang meledak di dalam perutnya. Tsunami energi spiritual yang murni namun liar mengamuk, jauh lebih dahsyat daripada saat ia menerobos ke tingkat ketujuh.
Meridian Tulang Naga-nya yang baru saja diperkuat mengerang di bawah tekanan yang luar biasa. Pembuluh darah di seluruh tubuhnya kembali menonjol, dan lapisan tipis kabut darah mulai menyelimuti tubuhnya.
Tetapi Lin Feng sudah siap.
"Datang!" raungnya dalam hati.
Dia tidak panik. Sebaliknya, dia menyambut gelombang energi itu. Kitab Suci Kekacauan Abadi berputar dengan kecepatan yang menakutkan, berubah menjadi bintang lapar yang menyedot segalanya.
Proses pemurnian dimulai. Energi yang cukup untuk membuat sepuluh ahli tingkat enam meledak, kini ditarik, dikompres, dan disaring tanpa ampun. Kotoran demi kotoran dibuang, hanya menyisakan esensi energi paling murni yang kemudian diubah menjadi Qi Kekacauan.
Qi Kekacauan di Dantiannya yang semula berwarna emas pucat, kini mulai bersinar dengan cahaya keemasan yang lebih dalam dan lebih murni. Setiap utasnya tampak lebih berat dan lebih kuat.
Selama satu hari dan satu malam penuh, Lin Feng berjuang melawan gelombang energi ini. Dia menggunakannya untuk berulang kali membenturkan belenggu menuju Alam Penempaan Tubuh tingkat kedelapan. Penghalang ini sepuluh kali lebih kuat dari yang sebelumnya.
Setiap benturan terasa seperti palu raksasa yang menghantam jiwanya, tetapi tekad Kaisar Abadi miliknya tetap tak tergoyahkan.
Pada fajar hari kedua, tepat satu hari sebelum kompetisi, energi dari sepuluh pil itu akhirnya hampir habis diserap. Semua energi yang tersisa dikumpulkan menjadi satu serangan terakhir yang menakutkan.
"HANCURKAN UNTUKKU!"
"KRAAAAAAAK... BOOOOOOOOOOM!"
Sebuah ledakan yang jauh lebih keras dari sebelumnya mengguncang seluruh gua. Belenggu menuju tingkat kedelapan akhirnya hancur berkeping-keping!
Aura yang begitu kuat hingga hampir terlihat oleh mata telanjang meledak dari tubuh Lin Feng. Tekanannya begitu kuat hingga tirai air terjun di luar gua terdorong mundur selama beberapa detik, memperlihatkan gua yang tersembunyi sebelum kembali menutup. Debu dan kerikil berjatuhan dari langit-langit gua.
Alam Penempaan Tubuh, Tingkat Kedelapan!
Lin Feng membuka matanya perlahan. Tidak ada lagi cahaya keemasan yang tajam. Pupil matanya kini tampak dalam dan gelap seperti langit malam yang tak berujung, tetapi siapa pun yang menatapnya akan merasa jiwa mereka tersedot ke dalamnya.
Dia menghela napas panjang. Kabut darah di sekelilingnya tersedot kembali ke dalam tubuhnya, dan kulitnya kembali bersinar seperti giok. Dia berdiri, dan suara retakan yang memuaskan terdengar dari setiap persendiannya.
Dia mengepalkan tangannya. Dia tidak merasakan kekuatan yang meledak-ledak. Sebaliknya, dia merasakan ketenangan. Ketenangan dari kekuatan absolut yang terkendali sepenuhnya. Dia merasa seolah-olah bisa menghancurkan gunung dengan satu pikiran.
"Puncak tingkat delapan... Aku bahkan melewatinya dan langsung mencapai tahap lanjut," bisiknya, merasakan kekuatan yang melimpah di Dantiannya.
Dua minggu.
Dalam dua minggu, dia telah berubah dari seorang pemuda dengan meridian hancur menjadi seorang ahli tingkat delapan yang kekuatannya jauh melampaui tingkatannya.
Dia berjalan ke mulut gua dan menatap tirai air yang mengalir deras di depannya. Matanya tenang, tetapi di kedalamannya, seekor naga purba yang telah tidur selama ribuan tahun kini telah sepenuhnya terbangun.
Dia melangkah maju, melewati tirai air tanpa setetes pun air menyentuh tubuhnya, seolah-olah air itu dengan sendirinya menghindarinya.
Dia berdiri di bawah sinar matahari pagi, menghirup udara segar dunia luar untuk pertama kalinya setelah hampir dua minggu.
"Kompetisi Klan Lin," katanya dengan suara tenang yang terbawa oleh angin. "Aku datang."