Oma frustasi memikirkan di dunia yang sudah berusia 33 tahun, mapan dalam pekerjaan tetapi tidak kunjung menikah. Melihat sekretaris Emir yang memiliki kepribadian yang baik membuat Oma kepikiran untuk menjodohkan mereka.
Sudah pasti Emir menolak, Oma melakukan berbagai hal sampai akhirnya Emir dengan Ayana pilihan Oma bersatu dalam jeratan pernikahan.
Bagaimana keduanya menjalani pernikahan dan hubungan pekerjaan yang cukup dekat?
Apakah pada akhirnya keduanya sama-sama memiliki perasaan atau justru pernikahan mereka tidak ada bedanya dan hanya sebatas pekerjaan saja.
Mari untuk membaca Novel Saya dari bab 1 sampai akhir, dan terus ikuti jawabannya di setiap bab.
Terimakasih....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25 Cantik
Meski mengatakan tidak untuk menemani Ayana dan justru menyuruh Ayana untuk melakukan fitting sendiri tetapi, Emir ternyata tetap menepati janjinya bertemu dengan desainer yang akan mengurus baju pengantin mereka.
Di dalam ruang fitting yang tenang, Emir berdiri di depan cermin besar. Jas hitam yang ia kenakan masih setengah dirapikan oleh desainer.
Tangannya sesekali merapikan kerah, mencoba memastikan semuanya terlihat sempurna, meski sebenarnya pikirannya melayang ke banyak hal tentang hari yang akan segera ia jalani.
"Coba dibalik sedikit, Pak," ujar penjahit itu pelan.
Emir mengangguk, lalu memutar tubuhnya perlahan.
"Bagaimana tuan? Apa warna dan model jas ini sudah cocok untuk tuan?" tanya pria yang sejak tadi membantu Emir fitting.
"Ya, saya rasa ini cocok. Saya ambil ini saja," jawab Emir tidak perlu repot untuk soal pakaian yang harus mencoba sana-sini.
Karena yang dia coba sudah pasti yang dia inginkan. Arash juga terlihat begitu tampan menggunakan jas putih itu.
"Syukurlah, saya memang merancang sesuai dengan permintaan tuan," ucap pria itu merasa lega.
"Nona Ayana ternyata sudah selesai juga," ucap pria itu dengan arah pandangnya tertuju pada pintu tempat ganti pakaian.
Mendengar nama istrinya disebut Emir perlahan membalikkan tubuh. Untuk beberapa detik, dunia seakan membisu ketika melihat istrinya sudah mengenakan gaun pengantin.
Ayana mengenakan gaun pengantin berwarna putih lembut, jatuh anggun mengikuti lekuk tubuhnya. Hijab yang membingkai wajahnya terpasang rapi, dihiasi detail halus yang berkilau lembut terkena cahaya.
Wajahnya tenang, namun sorot matanya menyimpan kehangatan yang selama ini selalu Emir kenal, hanya saja hari ini terasa berbeda, lebih dalam, lebih berart
Emir terpaku.
Benar-benar terpaku.
Matanya tak berkedip, seolah takut momen itu akan hilang jika ia bergerak sedikit saja. Tangannya yang tadi sibuk merapikan jas kini jatuh begitu saja di samping tubuhnya.
Tatapan atasan yang sudah menjadi suaminya itu membuat Ayana seketika menjadi gugup, merasa penampilannya diperhatikan begitu lama seolah ada yang salah dan membuatnya tidak percaya diri.
"Bagaimana tuan Emir?" tanya pria botak itu.
Tidak ada jawaban, karena masih fokus menatap istrinya yang kecantikannya tidak bisa diucapkan. Pria tersebut justru merespon dengan senyum, sungguh dia sangat paham bahwa kliennya itu sedang memandangi bidadari yang jatuh dari surga, kecantikan yang tidak bisa diucapkan hanya dengan satu kalimat saja.
Emir masih diam, menatapnya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan, antara tak percaya, kagum, dan haru yang menumpuk menjadi satu.
"Pa_ pak!" tegur Ayana semakin gugup dengan remasan tangannya pada bagian bawah gaun tersebut.
Seolah baru tersadar, Emir menghela napas pelan. Bibirnya sedikit terbuka, tapi kata-kata tak kunjung keluar.
"Ha_ iya kenapa? Ya cantik..." kata-kata spontan itu seketika keluar dari mulut.
Tetapi ekspresi wajahnya mendadak sadar dengan apa yang diucapkan.
"Maksud ya, ya gaun wanita cocok untuk kamu," Emir dengan cepat merevisi kata-katanya. tidak ingin ada kesalahpahaman di antara mereka.
Ayana seketika menjadi bingung hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
Emir menghela nafas, ruangan ber-ac itu terasa begitu panas, bahkan terlihat mengusap keringat di bagian dahinya.
"Ada apa denganku?" batin Emir benar-benar tidak mengerti.
"Nona Ayana benar-benar sangat cantik dan cocok menggunakan gaun pengantin ini," desainer tersebut memulai pembicaraan untuk menghilangkan kecanggungan yang tiba-tiba saja terjadi.
Ayana hanya mengangguk dengan tersenyum tipis, jarak keduanya hanya sekitar beberapa meter dengan berhadapan lurus, sesekali Emir masih melihat ke arah Ayana.
Layaknya seorang pria yang memperhatikan secara diam-diam, gengsi di wajahnya terlihat jelas dengan mulutnya tertutup rapat untuk hidup mengatakan cantik. Kata cantik itu hanya bisa diucapkan secara spontan dan harus ditarik kembali, karena takut Ayana akan salah paham.
******
Ayana dan Emir berada di dalam mobil yang tepat berhenti di kediaman rumah Ayana. Setelah dari butik masih banyak hal yang harus mereka lakukan bersama di luar pekerjaan.
"Kamu yakin akan masuk sendiri?" tanya Emir terlihat lagu melihat ke arah rumah Ayana.
Rumah itu dari luar memang selalu terlihat tampak sepi, berada di pinggir jalan dengan pagar rendah.
"Hmmmmm, sebelumnya saya sudah menghubungi Mama dan mengatakan berada di rumah," jawab Ayana.
"Baiklah, kalau memang kamu yakin, masuklah!" ucap Emir.
"Baik. Pak," sahut Ayana menganggukkan kepala, turun dari mobil.
Ayana sebenarnya masih dipenuhi dengan rasa kegugupan. Ini pertama kali dia kembali datang ke rumahnya setelah kejadian pelecehan itu, sesungguhnya dia masih takut, tetapi ibunya meminta untuk bertemu di rumah.
Ayana tidak mungkin tidak melibatkan satu-satunya orang tuanya pada acara pernikahan.
Ayana menarik nafas dan membuang perlahan ke depan, baru saja melangkah tiba-tiba Emir sudah keluar dari mobil membuat Ayana mengerutkan dahi.
"Ada apa? Pak?" tanyanya dengan penuh kebingungan.
"Ayo masuk!" ajak Emir ternyata tidak membiarkan istrinya untuk masuk sendiri.
Dia juga masih mengingat bagaimana ayah tiri Ayana yang ingin melecehkan Ayana.
Akhirnya mereka berdua masuk, duduk di ruang tamu, bersama dengan Dewi yang terlihat duduk di depan mereka.
Dengan tidak adanya Ayana di rumah itu, sudah pasti rumah tidak akan sebersih dan serapi seperti biasa. Tampak berantakan dan kotor, meja saja dipenuhi dengan kulit kacang, mulut Emir sudah tidak tahan ingin mengomentari ruangan tersebut, tetapi harus menyadari bahwa itu bukan rumahnya dan terlebih lagi Ibu mertuanya ada di sana.
"Jadi kalian akan kembali menikah?" tanya Dewi ketika Ayana menyampaikan tujuannya datang ke rumah itu.
"Benar. Ma, tetapi pernikahannya tetap privat," jawab Ayana.
"Mama hanya perlu datang sendiri," lanjutnya memberi syarat.
"Ayana, Mama sudah menikah dan memiliki suami, jika Mama ingin pergi ke acara pernikahan dan maka kamu juga harus mengundang suami Mama yang tak lain juga Ayah kamu sendiri," ucap Dewi.
"Ma, Ayana tidak bisa menerima apa yang telah dia lakukan kepada Ayana. Tolong jangan bawa dia di acara suci yang Ayana jalankan," ucap Ayana dengan sedikit penegasan kepada ibunya itu untuk menuruti permintaannya.
"Jadi kamu hanya mengundang Mama dan tidak dengan suami Mama?" tanyanya kembali membuat Ayana menganggukkan kepala.
"Saya berharap bisa datang sesuai dengan ketentuan dan bukan menimbulkan masalah atau drama apapun," Emir juga ikut mengambil suara.
"Oke, baiklah," sahut Dewi terdengar begitu santai.
"Hmmm, pak, tunggu sebentar, saya mau mengambil pakaian yang tertinggal sebentar di rumah," ucap Ayana membuat Emir menganggukkan kepala.
Ayana kemudian memasuki kamarnya, memang masih banyak sekali pakaian yang tertinggal karena yang dia bawa ke rumah itu hanya satu koper yang berisi pakaian saat di bawah ke desa.
"Emir, kamu memiliki uang yang banyak? Kamu tidak berniat untuk memberikan saya uang?" tanya Dewi.
Emir mengerutkan dahi dengan ibu mertuanya yang memang sudah tidak heran sangat matre.
"Apa Ibu saat ini sedang memanfaatkan saya?" tanya Emir.
"Kenapa kamu mengambil keputusan bahwa saya memanfaatkan kamu. Saya hanya meminta sedikit saja uang kamu yang mungkin tidak ada apa-apanya bagi kamu, apa salah ibu mertua meminta bantuin kepada menantunya?" tanya Dewi.
"Tidak salah, tapi semua cara yang Anda lakukan salah, jangan pikir saya tidak tahu bahwa Anda bekerja sama dengan Oma untuk menciptakan pernikahan kami dan Anda juga menerima bayaran yang banyak dari Oma," ucap Emir.
Bersambung....