NovelToon NovelToon
Pesona Murid Baru

Pesona Murid Baru

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Teen
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Vina Melani Sekar Asih

Bagi semua siswi di SMA 1 Nusa Bangsa, kedatangan Rian adalah sebuah anugerah. Cowok pindahan bertampang dingin itu punya pesona yang menyihir siapa saja. Namun tidak bagi Cinta.

Melihat seragamnya yang berantakan dan tatapannya yang tajam, Cinta yakin Rian hanyalah tipikal anak nakal yang harus dihindari. Di saat teman-temannya sibuk memuja Rian, Cinta justru memilih menjauh.

Namun, sebuah tugas kelompok memaksa Cinta mengenal Rian lebih dekat. Di balik kesan urakan yang selama ini ia benci, ada sisi Rian yang tak pernah terlihat oleh orang lain. Kini, Cinta dihadapkan pada satu kenyataan. Apakah ia akan tetap pada prasangkanya, atau justru ikut luluh pada pesona sang murid baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 Debaran yang Terbaca

Selasa pagi terasa jauh lebih berat bagi Cinta. Meski ia sudah berusaha menata hatinya semalaman, bayangan Clarissa yang menangis di depan gerbang sekolah tetap saja menghantui setiap langkahnya menuju kelas XI MIPA 1. Ia terus bertanya-tanya, apakah pembicaraan mereka semalam berakhir dengan kata damai, atau justru membangkitkan kembali perasaan yang seharusnya sudah mati?

Cinta masuk ke kelas dengan langkah pelan. Ia melirik ke arah bangkunya. Rian sudah ada di sana. Cowok itu tampak sedang membaca sebuah buku, wajahnya setenang air di danau, seolah kejadian dramatis kemarin sore tidak pernah terjadi.

Cinta meletakkan tasnya dengan gerakan kaku. Ia duduk di sebelah Rian tanpa menyapa. Ia ingin terlihat acuh, namun rasa penasaran di dalam dadanya justru semakin memberontak.

"Pagi, Cinta," sapa Rian tanpa mengalihkan pandangan dari bukunya.

"Pagi juga," jawab Cinta singkat. Ia mulai mengeluarkan buku cetak dan alat tulisnya, sengaja membuat suara gaduh agar Rian menyadari ada yang tidak beres dengan perasaannya.

Rian menutup bukunya, lalu menoleh sepenuhnya ke arah Cinta. Ia menyadari gurat-gurat kelelahan dan kegelisahan di wajah gadis itu. "Kamu tidak bisa tidur semalam ya?"

Cinta terdiam sejenak. Ia memaksakan dirinya untuk menatap balik mata tajam Rian. "Rian... soal kemarin. Clarissa... kenapa dia sampai nekat datang jauh-jauh ke sini hanya untuk bertemu denganmu?"

Rian menghela napas panjang. Ia sudah menduga pertanyaan ini akan muncul. "Dia bilang dia tidak bisa terima keputusanku waktu itu. Dia ingin penjelasan langsung karena dia merasa hubungannya denganku belum benar-benar selesai secara resmi di matanya."

"Lalu? Kamu memberinya penjelasan hal itu?" tanya Cinta, suaranya sedikit bergetar meski ia berusaha menekannya.

Rian mengangguk. "Aku sudah bilang padanya, semua sudah selesai sejak aku meninggalkan Jakarta. Tapi dia adalah orang yang keras kepala. Dia tidak mau mendengar logika, dia hanya mau mendengar apa yang ingin dia dengar."

Cinta menunduk, memainkan ujung pulpennya. "Terus... sekarang dia ada di mana?"

"Semalam dia menginap di hotel dekat pantai. Aku yang mengantarnya ke sana karena sudah terlalu malam untuk dia mencari tempat sendiri di kota yang asing baginya," jawab Rian jujur.

"Tapi aku tidak tahu apakah dia sudah pulang ke Jakarta pagi ini atau belum. Aku tidak menghubunginya lagi setelah mengantarnya ke lobi."

Mendengar kalimat "aku yang mengantarnya," dada Cinta terasa seperti diremas. Ia membayangkan Rian membonceng Clarissa di motor besar itu, menyusuri jalanan malam Pelabuhanratu yang romantis, sementara dirinya sendiri pulang dengan angkot dalam kondisi hati yang berantakan.

Cinta hanya diam, tidak sanggup menanggapi. Ia berpura-pura sangat tertarik dengan bab di buku Fisikanya, padahal tidak ada satu pun kata yang masuk ke otaknya.

Rian memperhatikan diamnya Cinta. Ia menyadari ada atmosfer yang berbeda, sebuah kecanggungan yang belum pernah ada di antara mereka. Rian menarik sudut bibirnya, sebuah senyum menggoda muncul di wajahnya yang biasanya kaku.

"Kenapa kamu sangat penasaran dengan keberadaannya, Cinta?" tanya Rian, suaranya kini merendah, terdengar begitu dekat di telinga Cinta.

Cinta tetap membisu, matanya masih terpaku pada buku.

"Jangan-jangan..." Rian menggantung kalimatnya, membuat Cinta secara refleks menoleh. "Kamu cemburu ya?"

Jantung Cinta rasanya ingin meloncat keluar. Wajahnya yang tadinya pucat kini berubah menjadi merah padam seperti kepiting rebus. "Apa? Aku cemburu? Tidak, itu sangat konyol, Rian. Aku cuma... aku cuma merasa tidak enak saja kalau dia masih di sini dan mengganggu ketenanganmu."

"Benarkah?" Rian sedikit memiringkan kepalanya, memperpendek jarak di antara mereka. "Logika dasarnya, orang tidak akan bertanya sedetail itu kalau dia tidak punya kepentingan emosional. Kamu terlihat sangat... tidak senang."

"Aku tidak cemburu, Rian! Berhenti menggodaku," tukas Cinta dengan nada yang sedikit lebih tinggi dari yang ia rencanakan.

Rian tertawa pelan, tawa yang terdengar sangat renyah. "Wajahmu tidak bisa berbohong, Bu Sekretaris. Merah sekali."

Tiba-tiba, tanpa aba-aba, Rian mengangkat tangannya. Dengan gerakan yang sangat lembut dan perlahan, ia mengusap puncak kepala Cinta, merapikan beberapa helai rambut yang berantakan dengan jemarinya. Sentuhan itu terasa hangat dan protektif, seolah Rian sedang mencoba menenangkan badai yang ada di dalam hati Cinta.

Cinta terpaku selama dua detik. Namun, kesadarannya segera kembali. Ia teringat mereka sedang berada di kelas, dan ia takut jika ia membiarkannya lebih lama, rahasia hatinya akan terbongkar sepenuhnya.

"Jangan begini, Rian," bisik Cinta. Ia menangkis tangan Rian dengan pelan, sebuah penolakan halus yang penuh keraguan.

"Kenapa? Kamu takut jatuh cinta padaku?" tanya Rian lagi, masih dengan nada menggoda yang membuat pertahanan Cinta runtuh.

Cinta segera berdiri, menggeser kursinya dengan kasar hingga menimbulkan suara decitan yang nyaring di lantai kelas. Beberapa murid yang sudah datang mulai menoleh ke arah mereka.

"Aku... aku harus ke ruang OSIS sekarang. Ada laporan yang harus diselesaikan sekarang!" seru Cinta tanpa berani menatap mata Rian.

Ia segera menyambar buku catatannya dan berjalan setengah berlari keluar kelas. Langkahnya terasa sangat ringan namun jantungnya berdegup sangat kencang. Ia tidak berbohong soal laporan, tapi sebenarnya ia hanya butuh oksigen. Ia butuh menjauh dari Rian sebelum ia benar-benar mengakui di depan cowok itu bahwa ya, ia sangat cemburu sampai-sampai rasanya sesak.

Cinta bersandar di tembok koridor yang sepi, menghirup napas dalam-dalam. Ia menyentuh puncak kepalanya, tempat di mana tangan Rian tadi mendarat. Sentuhan itu masih tertinggal di sana, hangat dan mendebarkan.

"Bodoh kamu, Cinta. Kamu baru saja menunjukkan pada dia kalau kamu menyukainya," batinnya merutuk.

Namun, di balik rasa malunya, ada satu hal yang ia sadari. Rian tidak menyebut Clarissa dengan penuh rasa sayang. Rian justru menyebut namanya dengan nada yang biasa saja, bahkan cenderung lelah. Dan fakta bahwa Rian lebih memilih menggodanya daripada membahas mantannya, memberikan sedikit percikan harapan di tengah kabut yang sempat menutup hatinya kemarin sore.

Cinta tahu, bab ini mungkin akan menjadi yang paling sulit ia tulis dalam novelnya nanti. Karena di bab ini, sang penulis sendiri sedang kehilangan kendali atas plotnya sendiri. Ia sedang jatuh, dan ia tidak yakin apakah Rian akan menangkapnya, atau justru membiarkannya terbentur pada kenyataan masa lalu yang belum benar-benar usai.

Dengan langkah yang masih sedikit gemetar, Cinta memaksakan diri menuju ruang OSIS, berusaha mengubur debaran yang kian tak terkendali itu di bawah tumpukan dokumen administratif. Namun, ia tahu satu hal bahwa hari ini, di bangku kelas XI MIPA 1, segalanya sudah tidak akan pernah sama lagi.

1
EvhaLynn
Luar Biasa😉
clarisa
Ayo lanjut lagi, eh jgn lupa mampir di karyaku permen kopi edisi spesial yaaaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!