karena Ayahnya tewas di tangan Arya saat melakukan Pemberontakan Nirmala pergi ke negeri Bharat, guna belajar ilmu kanuragan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menguburkan Coa Lin
Han le duduk di hadapan jenazah Coa Lin menemaninya, sampai Biksu Shaolin datang, ia akan ikut bertanggung jawab karena Ia yang meminum pil obat yang di curi oleh Coa lin
srak
srak
srak
setelah sedikit lama, di luar goa terdengar langkah kaki beberap orang di atas salju
" Jejaknya kemari, lihat ada goa" dari luar terdengar beberapa suara
" Tunggu Sam Te ( Adik Ketiga) kita jangan gegabah mahluk itu sangat kuat, senjata kita kemarin tak ada yang mempan, hanya pukulan tetua ke empat yang mampu melukainya" cegah seorang lagi, Han le yang mendengar percakapan itu, berdiri dan keluar dari goa. melihat seorang pemuda tanggung keluar dari goa jelas membuat mereka heran
" Amitaba, anak muda mengapa kau berada di sini, kami sedang mengejar Yeti, jangan sampai kau bertemu dengannya" salah satu biksu kaget dan mengingatkan
" Totiang ( panggilan biksu di kalangan pendekar tiongkok) , masuk lah dulu" sahut Han Le sopan, salah satu dari biksu itu memperhatikan Han Le dengan seksama
" maaf anak muda, kami sedang mengejar Yeti" sahut seorang biksu
" dia ada di dalam, masuklah dulu totiang" ucap Han le
" Amitaba" ketiga biksu itu mengangguk dan mengikuti Han Le, tetapi mereka memasang sikap waspada.
" tenang , totiang, ia telah tiada" ucap Han Le melihat sikap para biksu itu
" Maksudmu?" tanya biksu itu
" ia datang dalam keadaan terluka, dan sekarang telah tewas" Jawab Han le sambil menunduk ia merasa sedih telah kehilangan orang yang berkorban untuk kesembuhan dirinya.
" Amitaba " Biksu itu berseru saat melihat di dalam goa Yeti sedang duduk , namun tanda kehidupannya telah hilang.
" Saya minta maaf jika Locianpwe Coa Lin menyinggung dan melakukan kesalahan pada totiang, ia melakukan itu demi saya" ucap Han Le sambil memberi penghormatan pada ketiga biksu Shaolin itu
" Amitaba...!, maksudmu dia manusia yang memakai kulit Yeti?" Tanya biksu itu kaget dan tak percaya
" Iya Totiang, ia terperangkap di kulit itu sebagai hukuman karena dosanya" jawab Han Le
" Amitaba" ketiganya serentak berseru bersamaan
" Amitaba....! Pantas saja ia memiliki kesaktian dan pola pikir, aku tak menyangka jika di dalam dirinya adalah sosok manusia" ucap salah satu biksu itu
Ketiga biksu Shaolin saling berpandangan. Wajah mereka yang semula tegang kini berubah menjadi muram dan penuh rasa duka.
“Anak muda,” ujar biksu yang paling tua dengan suara berat, “jika benar ia seorang manusia yang di kutuk dalam kulit Yeti, maka jasadnya tidak layak dibiarkan seperti ini.”
Han Le mengangguk perlahan. Ia melangkah mendekati sosok besar yang kini tak lagi bernyawa itu.
“locianpwe memang meminta satu hal terakhir sebelum menghembuskan napas terakhir,” ucap Han Le lirih. “Ia ingin dikuburkan sebagai manusia… bukan sebagai mahluk Yeti.”
“Amitaba…” desah salah satu biksu, menundukkan kepala.
Han Le mengeluarkan Belati Meteor dari balik ikat pinggangnya. Han Le menarik napas panjang, menenangkan batin, lalu berlutut di hadapan jasad Lin Coa.
Dengan hati-hati, Han Le menggoreskan belati itu pada kulit Yeti
srek…
srek…
Suara kulit Yeti yang di iris dengan belati Meteor, menggema di dalam goa, hati mereka juga seperti teriris. Kulit tebal itu perlahan terbelah, terlepas dari tubuh yang selama puluhan tahun terperangkap di dalamnya.
Saat lapisan terakhir tersingkap, ketiga biksu Shaolin terhenyak.
Di hadapan mereka kini terbaring seorang pria berwajah tegas, dengan garis-garis ketampanan yang telah dimakan usia. Rambutnya memutih, namun rautnya masih menyimpan wibawa yang menggetarkan. Bekas luka panjang melintang di dada kirinya, tanda pertempuran masa lalu.
“Amitaba…!” salah satu biksu tersentak, suaranya bergetar.
“Tak mungkin aku salah mengenali wajah itu,” ujar biksu tertua sambil menggenggam tasbihnya erat. “Pendekar Pedang Naga…”
“Amitaba…” Ketiganya serempak berseru, kali ini bukan karena kaget, melainkan penuh rasa hormat.
Pendekar Pedang Naga, nama yang pernah mengguncang rimba persilatan puluhan tahun silam. Seorang pendekar legendaris yang menghilang tanpa jejak, meninggalkan kisah pertarungan, yang gagah
“Jadi inilah akhir perjalananmu,” gumam biksu tertua lirih. “Terjebak dalam kutukan sebagai penebus kesalahan.”
Han Le menunduk dalam-dalam. “Ia menyelamatkan hidup saya, Totiang. Meski tubuhnya terkutuk, hatinya tidak sepenuhnya gelap.”
Ketiga biksu Shaolin saling mengangguk. Tanpa berkata-kata lagi, mereka membantu Han Le membawa jasad Coa Lin keluar dari goa. Mereka membuat satu liang dengan kedalaman 2 meter, liang makam itu dibuat menghadap pegunungan sunyi.
Setelah jasad Coa Lin diletakkan dengan rapi, Han Le menimbun tanah perlahan. Ketiga biksu melantunkan doa doa sutra, suara mereka menggema lembut di antara hembusan angin salju.
Terasa menentramkan perasaan Han le yang sedih di tinggal Coa Lin
“ Amitaba.....,” ucap biksu tertua setelah makam tertutup sempurna. “Semoga jiwamu terbebas dari belenggu dosa, dan terlahir kembali di jalan yang terang.”
Han Le berdiri di depan makam itu, mengepalkan tangannya memberi penghormatan terakhir
Setelah menguburkan mereka kembali ke goa, Biksu Shaolin itu membagi bekal makanan pada Han le
"Kotak itu!?" Salah satu biksu melihat kotak dari kuilnya ada di dalam goa, berseru kaget ia dengan cepat mengambil kotak itu
" Ini kotak pil yang di curi Coa Lin," Ucapnya saat memperhatikan kotak itu. Ia segera membuka kotak itu
" Pilnya sudah tidak ada!" seru biksu itu saat melihat kotak itu sudah tak ada isinya
" Totiang. Pilnya sudah ku makan" Han Le maju dan berkata dengan jujur
" Amitaba.....!, anak muda apa kau tahu pil apa yang kau minum?" tanya biksu itu
" Han le menggeleng, karena memang ia tak tahu kasiatnya, ia hanya merasa kekuatan tenaga dalamnya meningkat beberapa kali lipat
“Anak muda,” ujar biksu tertua dengan suara dalam dan tenang, “apa pun yang telah terjadi di sini bukanlah perkara kecil. Pil obat yang kau minum, kematian Coa Lin, serta kutukan Yeti, semuanya berkaitan dengan sebab dan akibat yang panjang.”
Han Le mengatupkan kedua tangannya memberi hormat. “ Karena saya yang meminum pil obat itu, Saya bersedia bertanggung jawab atas perbuatannya.” Ucap Han Le tegas
Ketiga biksu itu saling berpandangan. Akhirnya, biksu yang dipanggil Sam Te, biksu yang termuda di antara mereka berkata pelan, “Masalah ini tak bisa kami putuskan sendiri.”
“Benar,” sahut biksu kedua. “Kami harus membawamu ke Biara Shaolin di Henan. Hanya para tetua di Gunung Songshan yang berhak menentukan nasibmu.”
“Saya ikut keputusan Totiang.” Ucap Han le menyetujui
" Baiklah kalau begitu besok pagi kita akan berangkat ke Gunung Songshan" ucap biksu yang paling tua