NovelToon NovelToon
Batas Pintu Jati

Batas Pintu Jati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Romansa Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: penavana

Laras Kusuma Widjaya adalah definisi gadis sempurna: ningrat, cantik, dan sangat penurut. Hidupnya adalah deretan protokol kaku. Masalahnya hanya satu, Laras tidak tahu cara bilang "tidak"—bahkan saat Bara, cowok paling pembuat masalah di sekolah, mengajaknya melakukan hal paling gila dalam hidupnya.

Semua hal nyeleneh yang dilarang keras oleh keluarganya, justru menjadi pintu keluar bagi jiwa Laras yang selama ini terkekang. Namun, saat perasaan mulai tumbuh melampaui batas kasta, tembok tradisi menuntut ketaatan yang mustahil ia sanggupi. Di antara tuntutan keluarga dan debaran jantung yang tak masuk akal, Laras harus memilih: tetap menjadi putri mahkota yang sempurna, atau membiarkan gelar ningratnya hancur berantakan demi satu-satunya kebebasan yang pernah ia rasa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penavana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sebotol Berdua

Angin sepoi di rooftop gedung lama sekolah selalu terasa berbeda—lebih tenang, jauh dari hiruk-pikuk kantin yang menyesakkan. Bagi Laras dan Bara, beton abu-abu yang mengelupas itu sudah menjadi semesta kecil milik mereka berdua. ​Laras membuka kotak bekalnya, aroma manis gurih langsung menguar ke udara.

"Hari ini aku bawa nasi gudeg," ucapnya antusias, matanya berbinar menatap potongan nangka muda, paha ayam goreng dan krecek di dalam wadah plastik itu.

Bara yang duduk di sampingnya, hanya menoleh sekilas lalu mengulas senyum tipis—jenis senyum yang sulit diartikan, namun selalu berhasil membuat detak jantung Laras sedikit berantakan.

Laras menyendok nasi, namun gerakannya terhenti saat menyadari Bara kembali hanya membawa sebotol air mineral.

"Kenapa kamu nggak pernah bawa bekal?" tanya Laras hati-hati.

Bara menatap langit yang mulai terik, sorot matanya tampak menerawang jauh.

"Karena Mamaku sibuk kerja," jawabnya tenang, suaranya nyaris tenggelam oleh deru angin.

"Setelah bangunin aku dan salat subuh, Mama langsung berangkat kerja."

​Laras mengernyit, ada rasa penasaran yang mendesak di dadanya.

"Kerja apa kok pagi banget?"

"Mamaku itu caregiver," jawab Bara singkat.

​Ia kembali menatap kosong ke arah lapangan basket di bawah sana.

"Makanya Mama kadang nggak pulang. Kalaupun pulang, Mama langsung sibuk beresin rumah terus tidur lebih awal biar besok pagi-pagi buta bisa berangkat kerja lagi. Aku... jarang banget interaksi sama Mama."

Kalimat itu meluncur begitu saja, hambar dan tanpa nada protes, namun Laras bisa merasakan kesepian yang mengendap di sela-selanya. Bibir Laras membentuk huruf O tanpa suara. Ia menunduk, menatap kotak bekalnya yang masih penuh, lalu beralih menatap Bara.

Tanpa banyak bicara, Laras menyendokkan nasi, gudeg, dan potongan ayam goreng. Ia mengarahkan sendok itu tepat di depan bibir Bara. Bara tertegun. Tubuhnya menegang sedikit, matanya yang tadi sayu kini membola menatap sendok dan wajah Laras bergantian.

​Laras tidak menarik sendoknya. Ia justru memberikan isyarat dengan kepalanya, seolah berkata tanpa suara: Ayo, buka mulutmu.

​"Makan," bisik Laras akhirnya, senyum tipis terukir di sudut bibirnya.

Bara masih diam seribu bahasa, namun perlahan, ia membuka mulutnya. Saat kunyahan pertama mendarat di lidahnya, ekspresi tenang cowok itu mendadak berubah drastis. Matanya melotot, dan sedetik kemudian...

​(Hic!)

​(Hic! Hic!)

Suara cegukan yang cukup keras memecah keheningan.

Bara tidak berkata apa-apa. Lidahnya terasa seperti terbakar hebat, namun harga dirinya masih berusaha menahan teriakan. Meski mulutnya terkunci rapat, raut wajahnya bicara lebih keras dari kata-kata: Tolong aku! Wajah Bara memerah sampai ke telinga. Dengan gerakan patah-patah dan sisa tenaga yang ada, ia menunjuk botol air mineral di sampingnya dengan telunjuk yang gemetar—sebuah kode darurat tingkat tinggi.

Laras panik luar biasa. Tangannya bergerak secepat kilat mengambil botol minum itu. Dengan gerakan yang hampir membuat airnya tumpah, ia langsung membuka tutupnya dan menyodorkan botol itu tepat ke depan mulut Bara.

Bara langsung menyambar botolnya, menenggak airnya sampai habis setengah dalam sekali teguk.

"Tersedak?" tanya Laras dengan nada panik sekaligus bingung.

​Bara tidak menjawab, dia justru sibuk mengeses—suara desisan khas orang yang lidahnya terbakar hebat. Cowok yang biasanya tampil badboy itu kini mendadak kehilangan image; ia menjulurkan lidahnya berkali-kali, berusaha mencari udara dingin untuk meredakan rasa panas yang menyengat.

Mata Laras beralih ke kotak bekal. Alamak! Ternyata tanpa sengaja ia menyendok sebongkah besar sambal krecek yang tersembunyi di balik gumpalan nasi.

​"Eh! Aduh, Bara! Maaf, maaf banget!" seru Laras.

Laras tidak bisa menahan sudut bibirnya yang berkedut. Suara tawanya hampir saja meledak melihat pemandangan langka di depannya.

​"Jangan ketawa!" protes Bara dengan suara sengau karena lidahnya masih terasa kebas.

​Laras menutup mulutnya dengan tangan, bahunya terguncang-guncang menahan tawa yang akhirnya pecah juga.

Bara akhirnya bisa bernapas lega. Sensasi terbakar di lidahnya perlahan surut, dan yang paling penting, rentetan suara (Hic!) dari kerongkongannya sudah berhenti total. Namun, pemandangan di depannya kini berbalik seratus delapan puluh derajat. ​Laras, yang tadi menertawakannya, kini duduk kaku dengan bahu yang tersentak-sentak setiap beberapa detik.

​(Hic!)

​"Aduh... (Hic!)... " keluh Laras sambil memegangi lehernya sendiri. Wajahnya yang mungil tampak menggemaskan saat ia mencoba menahan napas untuk menghentikan kontraksi tersebut.

Tawanya Bara meledak—membuat bahunya ikut terguncang. Suaranya berat dan renyah, bergema di antara pilar-pilar beton gedung lama.

​"Kualat," ujar Bara di sela tawanya yang belum reda.

​"A-aku... (Hic!)... kalau ketawa... (Hic!)... emang suka begini," bela Laras sambil memegang dadanya, berusaha menahan napas agar cegukannya berhenti.

Bara yang baru saja meredakan tawanya, langsung mengambil botol minum milik Laras yang ada di samping kotak bekal.

"Minum," ucapnya singkat sambil menyodorkan botol itu tepat ke depan wajah Laras.

Laras segera menyambarnya dan meminumnya. Namun, suara itu masih terdengar.

​(Hic!)

Cegukannya menang telak melawan beberapa teguk air tadi.

"Minumnya... (Hic!)... habis, Bar," keluh Laras lemas. Matanya melirik nanar ke arah botol mineral di genggaman Bara yang isinya tinggal separuh—sisa perjuangan Bara memadamkan rasa pedas tadi.

Bara terdiam sejenak, menatap botolnya, lalu menyodorkannya tanpa ragu.

"Minum aja," ucapnya singkat dengan mata menunjukkan perhatian yang tidak bisa ia sembunyikan.

Laras menerima botol itu dengan tangan sedikit gemetar. Jantungnya mendadak berdegup lebih kencang daripada hentakan cegukannya. Pikirannya melayang. Meminum air dari botol yang baru saja menyentuh bibir Bara? Itu berarti... ah, Laras segera menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran aneh yang mendadak muncul. Ia sedang darurat cegukan, bukan waktunya untuk salah tingkah!

Dengan ragu, Laras menempelkan bibir botol itu ke mulutnya. Air mineral dingin itu mengalir melewati kerongkongannya, membawa rasa sejuk yang amat sangat ia butuhkan. Ia menenggak air itu dalam beberapa tegukan panjang, berusaha menenangkan saraf-saraf di dadanya yang terus saja tersentak.

Sementara Bara berdiri mematung, mendadak kehilangan kata-kata. Matanya yang tajam tanpa sengaja tertuju di bibir Laras yang meminum botol mineral miliknya.

Dia... beneran minum dari botol itu? batin Bara bergejolak membuat telinganya memerah.

Setelah botol itu menjauh dari bibirnya, Laras menarik napas panjang. Ia menunggu dengan was-was. Atap gedung itu mendadak sunyi senyap, hanya suara embusan angin yang menerpa rambut mereka.

​Satu detik... dua detik... tiga detik...

​Hening.

"Alhamdulillah," bisik Laras lega.

Suara cegukannya akhirnya benar-benar hilang, digantikan oleh napas yang kembali teratur. Ia menoleh ke arah Bara, bermaksud mengembalikan botol yang kini sudah kosong melompong itu. Namun, Laras mendapati Bara sedang terpaku. Cowok itu mematung seperti tugu, matanya menatap botol di tangan Laras dengan tatapan yang sulit diartikan.

​"Kenapa, Bar?" tanya Laras polos. Ia menyeka sisa air di sudut bibirnya dengan punggung tangan, tidak menyadari bahwa gerakan sederhana itu justru membuat Bara makin salah tingkah.

Bara tersentak, seolah baru saja ditarik paksa dari lamunannya. Ia segera membuang muka ke arah deretan gedung di kejauhan.

​"Nggak apa-apa," jawab Bara.

Laras mengernyit, merasa aneh dengan perubahan nada bicara Bara yang mendadak defensif. Ia tidak menyadari kalau telinga cowok di depannya itu sudah memerah padam.

"Makasih ya" ucap Laras sambil menyodorkan botol kosong itu kembali.

​Bara menerimanya, namun ia tidak berani menatap mata Laras langsung.

"Ya. Ayo turun, sebelum bel bunyi," gumamnya pelan sambil berjalan menuju tangga.

Laras hanya bisa melongo menatap punggung Bara yang berjalan cepat meninggalkannya. Ia bertanya-tanya dalam hati, apa ada yang salah dengan caranya minum tadi? Atau jangan-jangan... Bara sepemikiran dengannya sebelum minum tadi? Wajah Laras memerah.

​"Bar, tungguin! Jangan ditinggal!" seru Laras sambil terburu-buru menutup kotak bekalnya dan berlari kecil mengejar Bara.

Bara tidak berhenti, namun langkah kakinya sedikit melambat—cukup untuk membiarkan Laras berjalan di sampingnya. Ia tidak tahu bahwa Laras, yang kini terengah-engah di sisinya, sebenarnya sedang mengalami badai yang sama. Jantung berdentum keras, rasanya sesak, panas, dan ada jutaan kupu-kupu yang mendadak terbang di perutnya.

Setiap kali lengan mereka tanpa sengaja bersentuhan di ruang tangga yang sempit, keduanya kompak tersentak kecil, seolah ada aliran listrik yang menyengat kulit mereka.

​"Pelan-pelan jalannya, nanti jatuh," gumam Bara akhirnya. Suaranya rendah, nyaris menyerupai bisikan, namun berhasil membuat langkah Laras terhenti sejenak.

Begitu sampai di lantai dasar, suasana riuh koridor sekolah langsung menyambut mereka, memecah keheningan intim yang baru saja tercipta di tangga.

​"Aku... ke kelas duluan ya, Bar," pamit Laras.

Ia tidak berani menatap mata Bara terlalu lama, takut detak jantungnya yang masih menggila itu terbaca lewat tatapan matanya. ​Bara mengangguk pelan. Keduanya pun berpisah, berjalan menjauh menuju kelas masing-masing.

1
Ros 🍂
semangat ya Thor 💪🏽
Ijin mampir🙏
penavana: thankyouuuu
total 1 replies
Faeyza Al-Farizi
Kaaaaan.... bah ternyata bukan kulkas pintu seratus, tapi manusia yang perlu penakhluk. mana si putri lagi
Faeyza Al-Farizi
modus....modus.... gak usah dipinjemin ndoro... 😌😌😌😌
Faeyza Al-Farizi
Nah kan.... yang waras gitu loh
Faeyza Al-Farizi
ya bukan berarti dia yang godain bujang..... bisa-bisanya, makanya gak usah pacaran, 😌
Faeyza Al-Farizi
Heh sabun Wing gak usah ngadi-ngadi, kamu yang pertama bangunin macan tidur, udah tau lawannya membara, malah di pancing 🫵, lagian gak bisa gitu anteng orang sekola kok nantang2
Faeyza Al-Farizi
sumpah seru bagian ini, berasa kembali ke jaman pas awal-awal demen novel. seger banget hawanya 😌😌
Faeyza Al-Farizi
cupu amat make nama bapak, HUUUUUUUUUU 🫵🫵🫵🫵🫵🫵
Faeyza Al-Farizi
ngebayangin Laras, lari buat nolongin. 😌
Faeyza Al-Farizi
sumpah habis ini kamu kemana-mana punya pengawal pribadi😌
Faeyza Al-Farizi
ketahuan bohong kau 😌😌
Faeyza Al-Farizi
😭😭😭😭 bisa-bisanya ada kebetulan model gini 😭😭
penavana: fakta nih kaak 🤭
total 1 replies
Faeyza Al-Farizi
Bara, heh... tapi paham sih aku, emang modelan kamu paling hapalnya nama guru BK, gadis unceran sama pak satpam 😌
Faeyza Al-Farizi
heeeee preman nyuruh ndoro agung buat ndatengin, berani amat 🫵
Faeyza Al-Farizi
buseeeet ini intuisinya kuat banget 😱
Adi Lima
ya kalo gitu pesan ayam geprek online aja, suruh kurir taroh di sekuriti, terus numpang makan di situ 😄🤣🤣🤣🤣
Adi Lima
Biar bapak yang kasih Tips & Trik untuk ngelawan secara intelek 😄🤣
Adi Lima
oooooh, jadi berani melawan itu pertanda kedewasaan
Adi Lima
yaaaah, shutdown lagi... mungkin dipandang soal ini si Laras gak perlu tau detilnya 🤣
Adi Lima
eh, surprise, ternyata ibunya penuh pengertian
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!