NovelToon NovelToon
Dihina Tanpa Bakat, Ternyata Aku Pewaris Teknik Dewa Kuno

Dihina Tanpa Bakat, Ternyata Aku Pewaris Teknik Dewa Kuno

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Fantasi Isekai / Akademi Sihir
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: naramas_

Aku mati karena terlalu percaya pada cinta dan persahabatan. Kini, aku terlahir kembali di dunia baru sebagai anak yang dibenci kerajaan. Mereka menyebutku sampah tanpa bakat? Silakan. Saat kalian memohon pada Dewa, aku melatih tinjuku untuk menghancurkan takhta kalian. Aku Arlan, dan kali ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun hidup setelah mengkhianatiku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naramas_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Badai Didalam Lingkaran

Debu putih yang berasal dari pasir arena beterbangan ke udara, menciptakan kabut tipis yang menghalangi pandangan para penonton di barisan depan. Suara benturan keras dari serangan sembilan peserta yang saling bertabrakan tadi masih terngiang di telinga mereka. Semua orang mengira bahwa Arlan sudah hancur menjadi serpihan di bawah tekanan serangan api, angin, dan kekuatan fisik yang besar. Namun, saat debu mulai mengendap, kenyataan yang jauh lebih mengejutkan tersaji di depan mata mereka. Arlan tidak berada di tengah lingkaran. Dia berdiri dengan tenang di belakang Rico, pemuda yang memiliki Berkah Angin yang tadi memimpin serangan.

Rico merasakan hawa dingin yang menusuk tulang belakangnya. Dia ingin berbalik dan menyerang, namun tubuhnya seolah tidak mendengarkan perintah otaknya. Kecepatan Arlan tadi berada di luar nalar manusia. Arlan tidak menggunakan mana, sehingga tidak ada peringatan energi yang diterima oleh indra sihir Rico. Sebelum Rico sempat menggerakkan pedang kayunya, Arlan sudah mendaratkan serangan telapak tangan terbuka tepat di bagian tengah punggungnya. Pukulan ini tidak bertujuan untuk mematahkan tulang, melainkan untuk mengirimkan getaran energi langsung ke arah paru-paru dan diafragma Rico.

Bugh!

Rico tersungkur ke depan, wajahnya mencium pasir putih dengan keras. Dia mencoba menarik napas, namun paru-parunya seolah terkunci. Dia terbatuk hebat, mengeluarkan butiran pasir dari mulutnya, lalu pingsan karena kekurangan oksigen yang mendadak. Satu orang tumbang hanya dalam hitungan detik setelah lonceng pertandingan dimulai. Delapan peserta lainnya yang tadi saling bertabrakan kini segera memisahkan diri dengan wajah penuh kepanikan. Mereka tidak lagi meremehkan Arlan. Mereka menatap Arlan seolah melihat monster yang menyamar di dalam tubuh seorang anak kecil.

"Jangan berpencar! Kelilingi dia!" teriak salah satu peserta bertubuh besar yang memegang kapak kayu. "Dia hanya cepat, dia tidak mungkin bisa menahan serangan kita jika kita menyerang dari segala arah secara bersamaan!"

Delapan orang itu kembali mengatur formasi. Mereka belajar dari kesalahan pertama. Kali ini, mereka bergerak lebih lambat dan hati-hati, mencoba mempersempit ruang gerak Arlan. Dua pengguna elemen api berdiri di barisan belakang, menyiapkan bola-bola api yang lebih besar, sementara enam orang lainnya yang memiliki berkah penguatan fisik maju sebagai barisan depan. Mereka mengepung Arlan dalam lingkaran yang sangat rapat, menyisakan hanya sedikit ruang untuk menghindar.

Arlan tetap berdiri dengan tangan kosong. Dia membiarkan matanya mengamati setiap pergerakan kaki musuh musuhnya. Di kehidupan lamanya sebagai Adit, dia pernah terjebak dalam situasi di mana delapan perusahaan kompetitor bersatu untuk menjatuhkan harga saham perusahaannya. Strateginya saat itu bukan melawan mereka satu per satu, melainkan mencari satu titik lemah di antara aliansi mereka dan membuatnya hancur dari dalam. Di arena ini, prinsipnya tetap sama. Kekuatan kelompok terletak pada koordinasi mereka. Jika koordinasi itu dirusak, mereka hanya akan menjadi beban bagi satu sama lain.

"Serang!" teriak si pemegang kapak kayu.

Enam orang barisan depan maju secara serentak. Mereka melayangkan pukulan dan tendangan dengan tenaga penuh. Arlan menggunakan Teknik Tanpa Bayangan untuk bergerak di dalam ruang sempit tersebut. Dia tidak melakukan gerakan besar. Dia hanya menggeser tubuhnya beberapa sentimeter ke kiri atau ke kanan, membiarkan serangan lawan lewat hanya seujung rambut dari pakaiannya. Arlan bergerak dengan sangat efisien, menghemat energinya sementara lawan-lawannya mulai membuang tenaga karena emosi yang tidak stabil.

Saat pengguna kapak kayu mengayunkan senjatanya dari atas ke bawah, Arlan tidak menghindar ke samping. Dia justru melangkah maju ke dalam jangkauan serangan lawan. Arlan menangkap pergelangan tangan pria itu dan menggunakan momentum ayunan kapak tersebut untuk menariknya ke arah peserta lain yang sedang menyerang dari sisi kiri.

Brakkk!

Pria berkapak itu menabrak rekannya sendiri dengan keras. Mereka berdua jatuh terguling di pasir. Arlan tidak membuang waktu. Dia menggunakan punggung kedua pria yang jatuh itu sebagai pijakan untuk melompat ke arah dua pengguna elemen api di barisan belakang. Para penyihir api itu terkejut melihat Arlan tiba-tiba terbang ke arah mereka. Mereka mencoba melepaskan bola api mereka, namun karena panik, bidikan mereka meleset dan justru mengarah ke rekan-rekan mereka sendiri yang berada di tengah.

"Awas! Api!" teriak peserta lain.

Kekacauan pecah di dalam arena. Sesuai dengan strategi Arlan, para peserta mulai saling menyalahkan dan bertabrakan satu sama lain. Arlan mendarat dengan sangat ringan di depan salah satu pengguna api. Sebelum anak itu bisa merapal kan mantra berikutnya, Arlan sudah mendaratkan pukulan dua jari tepat ke arah saraf lehernya. Anak itu seketika jatuh lemas seperti kain basah. Arlan kemudian berputar dan memberikan tendangan melingkar ke arah pengguna api kedua, mengirimnya terbang keluar dari lingkaran pembatas arena.

Kini hanya tersisa enam orang di dalam arena, dan mental mereka sudah hancur sepenuhnya. Mereka melihat rekan-rekan mereka jatuh satu per satu tanpa bisa menyentuh pakaian Arlan sedikit pun. Di panggung penguji, Penyihir Agung berdiri dengan wajah yang dipenuhi ketidakpercayaan. Dia melihat Arlan bergerak dengan ritme yang sangat aneh, seolah-olah Arlan bisa meramalkan masa depan.

"Dia tidak menggunakan mana, tapi dia menggunakan aliran udara untuk membaca gerakan lawan," gumam Penyihir Agung itu. "Ini adalah teknik bela diri kuno yang sudah punah ribuan tahun lalu. Bagaimana mungkin seorang anak di desa terpencil bisa menguasainya?"

Gort meremas pinggiran kursi kayunya hingga retak. Dia melihat rencananya untuk melenyapkan Arlan berbalik menjadi panggung bagi Arlan untuk memamerkan kehebatannya. Gort menoleh ke arah Julian, berharap pemuda jenius itu akan melakukan sesuatu. Namun Julian justru terlihat sangat marah, wajahnya memerah dan tangannya mengepal sangat kuat hingga kuku kukunya memutih. Julian merasa sangat terhina karena sampah yang dia benci ternyata mampu mempermainkan pengikut pengikutnya.

Kembali ke arena, enam peserta yang tersisa memutuskan untuk melakukan pertaruhan terakhir. Mereka menggabungkan sisa mana mereka ke dalam satu serangan terpadu. Mereka berdiri berdekatan, menciptakan perisai mana gabungan dan menyerang Arlan secara frontal dengan formasi baji. Ini adalah serangan yang sangat berat dan sulit untuk dialihkan dengan teknik biasa.

Arlan menyadari bahwa dia tidak bisa lagi bermain-main. Dia harus mengakhiri pertarungan ini sebelum tubuhnya mencapai batas penggunaan Gerbang Keempat. Arlan mengambil napas dalam-dalam, membiarkan energi kehidupan berputar dengan sangat cepat di dalam jantungnya. Dia memusatkan seluruh kekuatannya ke kaki kanannya.

"Taijutsu: Penghancur Formasi!"

Arlan melesat maju dengan kecepatan yang menciptakan ledakan udara kecil di belakangnya. Dia tidak menghindar, melainkan menabrakkan dirinya langsung ke tengah perisai mana gabungan tersebut. Para penonton menahan napas, mengira Arlan akan hancur saat menabrak perisai sihir itu.

Duar!

Suara ledakan energi terdengar sangat keras. Perisai mana yang dibangun oleh enam orang itu pecah berkeping keping seperti kaca yang dihantam palu godam. Arlan menembus formasi mereka dan mendaratkan serangkaian pukulan cepat ke dada setiap peserta hanya dalam hitungan detik. Kekuatan fisik murni Arlan yang didorong oleh Gerbang Keempat terlalu besar untuk ditahan oleh pertahanan mana tingkat rendah mereka.

Enam peserta itu terpental ke segala arah. Beberapa dari mereka jatuh di luar lingkaran, dan sisanya tergeletak pingsan di atas pasir. Seluruh alun-alun desa seketika menjadi sangat sunyi, hanya terdengar suara desiran angin dan napas Arlan yang mulai teratur kembali. Debu perlahan menghilang, memperlihatkan Arlan yang berdiri sendirian di tengah arena, dikelilingi oleh sembilan peserta yang tidak lagi berdaya.

Sesuai aturan, dua orang yang masih berdiri dinyatakan lulus. Namun, karena hanya Arlan yang masih sanggup berdiri, wasit arena tampak kebingungan sejenak sebelum akhirnya memberikan isyarat kepada para medis untuk masuk ke arena.

"Pemenang tunggal untuk grup pertama, Arlan Vandermir!" teriak wasit dengan suara yang gemetar.

Elena, yang tadinya menutup mata, kini membuka matanya dan melihat anaknya berdiri tegak sebagai pemenang. Dia menangis tersedu sedu, namun kali ini adalah air mata kebahagiaan. Penduduk desa yang tadinya menghujat Arlan kini tidak berani mengeluarkan suara sedikit pun. Mereka melihat Arlan bukan lagi sebagai anak pengkhianat, melainkan sebagai sosok yang mengerikan dan tidak tersentuh.

Arlan berjalan keluar dari arena tanpa menunjukkan ekspresi bangga. Dia melihat ke arah panggung penguji, tepat ke arah mata Gort dan Julian. Dia memberikan tatapan yang sangat tajam, seolah memberikan peringatan bahwa giliran mereka akan segera tiba. Arlan kemudian menghampiri kakek tua yang berdiri di dekat tiang kayu.

"Aku melakukan kesalahan di serangan terakhir," bisik Arlan pada kakek itu. "Aku terlalu banyak menggunakan tenaga sehingga pakaianku sedikit sobek di bagian bahu."

Kakek itu tertawa terbahak bahak, tawanya yang keras memecah keheningan alun-alun. "Hahaha! Kamu baru saja menghancurkan sembilan pengguna sihir sendirian, dan kamu hanya mengkhawatirkan pakaianmu? Kamu benar-benar muridku yang paling aneh, Arlan."

Kakek itu menepuk bahu Arlan. "Istirahatlah. Babak final akan segera dimulai. Julian tidak akan membiarkanmu menang semudah ini. Dia pasti akan menggunakan kartu as yang selama ini dia sembunyikan."

Arlan mengangguk. Dia tahu bahwa apa yang baru saja terjadi hanyalah pemanasan. Musuh yang sesungguhnya masih duduk dengan tenang di atas sana, menunggu saat yang tepat untuk menerkam. Di kehidupan keduanya ini, Arlan sudah siap untuk menghadapi apa pun, karena dia tahu bahwa di balik kepalan tangannya, terdapat tekad yang lebih kuat dari sihir dewa mana pun.

Arlan duduk di bawah pohon besar, memejamkan matanya untuk memulihkan energi. Dia menyadari bahwa dunia kini sudah mulai memperhatikan keberadaannya. Dan mulai hari ini, nama Vandermir akan kembali bergema di seluruh kerajaan, bukan sebagai pengkhianat, melainkan sebagai nama yang akan membawa ketakutan bagi para penguasa yang zalim.

1
Nanda 123
trus ga bls dendam ama shabat ny tu??
M Agus Salim II: oke siap, masih dalam proses 😅
total 1 replies
Aqil Septian
UDAHLAH KEBANYAKAN NOVEL KAYAK GINI BUATAN CHATGPT, HALAH TAIK AUTHOR TAIK
Jerry K-el: gass keun💪💪💪💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!