NovelToon NovelToon
Nelayan Miskin Dengan Sistem Pengumpul Emas

Nelayan Miskin Dengan Sistem Pengumpul Emas

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Epik Petualangan
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Sistem One

“[Ikan Langka! Hadiah 100 Emas!]”

Beni hanyalah nelayan miskin yang hidup penuh penderitaan. Ia dikhianati istrinya, dijebak hingga terlilit hutang, dan hampir kehilangan harapan hidup.

Namun saat berlayar di tengah badai, ia malah tersesat ke lautan misterius yang dipenuhi bahaya. Di sanalah sebuah sistem aneh tiba-tiba muncul di hadapannya.

Dengan bantuan sistem pengumpul emas, bisakah Ye Fan mengubah nasibnya dan menjadi orang terkaya di lautan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Ikan Level 1

Tarikan itu bukan main-main. Detik saat kail menyambar sesuatu di bawah sana, tubuh Beni tersentak ke depan hingga dadanya membentur pinggiran perahu dengan keras. BRAK!

​"ARGH! Sialan! Tenaga apa ini?!" teriak Beni.

​Joran pancing perunggu yang ia beli di kota yang seharusnya mampu menahan beban ikan besar kini melengkung nyaris membentuk huruf U.

Bynyi derit bambu dan serat tali yang merenggang terdengar seperti jeritan logam yang akan putus. Beni segera menjejakkan kedua kakinya kuat-kuat di lantai dek, punggungnya membungkuk, dan otot-otot di lengannya menonjol seperti akar pohon beringin.

​ZRRRRTTTT!

​Ikan itu tidak sekadar menarik, ia berenang melawan arah dengan kecepatan yang brutal.

Perahu nelayan Beni yang sudah di-upgrade pun ikut terseret, membelah permukaan air dengan suara wush yang nyaring, meninggalkan jejak buih putih panjang di belakangnya.

​"Sistem! Apa yang kupancing ini?! Kenapa tarikannya terasa seperti menarik jangkar kapal besar?!" seru Beni sambil menggertakkan gigi.

​DING!

[Peringatan! Target: Ikan Arus Perak (Spiritual Level 1). Kekuatan fisik 5x lipat dari Ikan Petir Bertanduk. Disarankan segera lepaskan tali jika tidak ingin perahu hancur!]

​"Melepasnya? Jangan bercanda! Aku tidak akan melepas satu keping emas pun setelah membuang waktu semalaman!"

​Beni memutar tuas kailnya dengan tangan yang bergetar hebat. Setiap putaran terasa seperti mengangkat beban seberat dua kuintal.

Keringat dingin bercucuran di wajahnya, bercampur dengan percikan air laut yang menghantam wajahnya karena ikan itu sesekali melompat ke permukaan, menciptakan gelombang kecil yang membasahi dek.

​Setiap kali ikan itu menarik, perahu bergoyang liar. Beni hampir kehilangan keseimbangan berkali-kali. Tiba-tiba, ikan itu melakukan manuver gila. Ia berenang memutar di bawah perahu, mencoba melilitkan tali pancing pada baling-baling mesin atau struktur kapal.

​"Oh, tidak akan kubiarkan kau melakukan itu!" Beni melompat, berpindah posisi dengan gesit di atas dek yang basah, berusaha menjaga sudut tarikan tali pancing agar tidak tersangkut di badan kapal.

​KRETEK!

​Suara itu datang dari jorannya. Sebuah retakan kecil muncul di gagang bambu.

​"Jangan sekarang! Ayolah, bertahanlah sedikit lagi!" Beni berteriak pada pancingnya. Ia merasa jantungnya hampir meledak. Tekanan aura dari ikan di bawah sana begitu kuat hingga membuat Beni merasa sesak, seolah ada tangan tak terlihat yang mencekik lehernya.

​Beni menyadari satu hal: ia tidak bisa menang hanya dengan mengandalkan otot. Ia harus menggunakan otaknya. Ia sengaja mengendurkan sedikit tarikan tali, membiarkan ikan itu merasa menang dan meluncur ke arah dangkal.

Saat ikan itu mengira ia akan bebas dan melesat maju, Beni justru mengunci rem tuas kailnya dengan sentakan kaki yang sangat keras.

​PLAK!

​Tubuh ikqn itu terhenti mendadak. Karena momentum yang tertahan, Ikan Arus Perak itu terpaksa melompat keluar dari air karena bingung dan kaget.

​Di udara, ikan itu terlihat menakjubkan. Tubuhnya yang panjang, tertutup sisik perak yang bersinar seperti cermin, melengkung indah.

Ekornya mengibaskan air, menciptakan serpihan es yang tajam. Saat melihat Beni, mata ikan itu yang berwarna emas menyala, seolah menatap balik dengan kebencian yang mendalam.

​"Dapat kau!" Beni tidak membuang sedetik pun.

​Ia tidak lagi menarik dengan joran. Ia langsung menerjang ke arah sisi perahu, tangannya yang kosong meraih jaring yang sudah ia beri beban besi di ujungnya. Sambil menahan joran dengan ketiaknya, ia melemparkan jaring itu tepat saat ikan tersebut hendak jatuh kembali ke air.

​BYURRR!

​Ikan itu terjebak di udara dan membentur sisi kapal. Namun, ikan itu belum menyerah. Ia mengeluarkan energi perak dari sisiknya yang membuat udara di sekitar perahu menjadi dingin membeku.

Es mulai merambat di dek perahu, membuat tempat berpijak Beni menjadi licin seperti arena ice skating.

​Beni jatuh lagi. BRUK! Kali ini tulang rusuknya menghantam pinggiran kayu dengan sangat keras. Napasnya terhenti sejenak, matanya berkunang-kunang karena rasa sakit yang luar biasa.

​"Sial... sakit sekali..." Beni terbatuk, darah segar keluar dari sudut bibirnya.

​Ikan itu masih menggelepar, duri-duri peraknya yang tajam mulai merobek jaring. Ia mencoba menembakkan bilah es ke arah leher Beni.

​Beni berguling menghindari serangan itu, lalu tanpa berpikir panjang, ia mengambil pisau kecil yang dibelinya di kota. Ia menerjang maju, mengabaikan rasa sakit di rusuknya.

Ikan itu mencoba melompat untuk menggigit, tapi Beni sudah siap. Ia tidak menusuk secara acak, melainkan menghunjamkan pisau itu tepat ke titik pusat energi yang berpendar di antara kedua mata ikan tersebut sebuah titik yang ia pelajari dari analisis sistem tadi.

​CRAAAK!

​Pisau itu menembus kerasnya sisik perak. Cairan dingin yang bercahaya kebiruan menyemprot keluar, membasahi tangan Beni.

Ikan itu bergetar hebat untuk terakhir kalinya, mengeluarkan suara melengking tinggi yang memekakkan telinga, sebelum akhirnya tubuhnya lemas dan cahayanya perlahan meredup.

​Beni terkapar di lantai perahu, napasnya tersengal-sengal seperti orang yang baru saja lari maraton sepuluh kilometer. Seluruh tubuhnya basah kuyup, memar, dan berdarah, tapi ia tertawa. Tawa yang pecah, gila, dan penuh kemenangan.

​"Ha... hahaha! Lihat... aku... aku berhasil membunuhmu..."

​DING!

[Selamat! Anda telah membunuh Ikan Arus Perak (Spiritual Level 1)!]

[Misi Terselesaikan: Hadiah 100 Emas dan 500 EXP diterima!]

[Tuan Rumah telah naik ke Level 2!]

​Cahaya keemasan menyelimuti tubuh Beni sekali lagi, menyembuhkan luka-luka yang ia dapatkan selama pertarungan tadi. Ia menatap ikan perak yang kini tak berdaya di depannya.

"Skiil mancingku lebih hebat darimu ikan..."

1
Jerry K-el
up-nya harus konsisten biar pembaca tambah dan yg sdh baca gak kabur 😅
Manusia Biasa
utamakan mancing
Manusia Biasa
dimas udah punya wife ternyata 🗿
Manusia Biasa
/Scream/
Manusia Biasa
konsepnya menarik bosku. punya potensi naik rangking fiksi pria ini lanjutkan
Manusia Biasa
nice jangan mau balikan. cuma jadi lingkaran setan nanti
Manusia Biasa
mampus
Manusia Biasa
bro memilih rute membuat restoran 🤣
Manusia Biasa
jenius
Manusia Biasa
ada manusia setengah ikan kagak nanti? lawan mc grade s gitu🗿
Manusia Biasa
ada fantasi battle juga kah
Maul: Dikit-dikit
total 1 replies
Manusia Biasa
jir kirain emas batangan asli🗿
Manusia Biasa
gaz solo vs squad
Manusia Biasa
hindari cewek modelan gini aminn🙏
Manusia Biasa
sad ending😭 mana banyak yang demen genre ginian🗿
Manusia Biasa
wih novel sistem pecah telur gacor😘
Agen One
🤣
Agen One
ada apa nih di kejer
Agen One
🤕
Agen One
🤣🤣jadi seratus juta
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!