Lima ratus tahun yang lalu, Lin Chen adalah Kaisar Pedang Ilahi yang berdiri di puncak Alam Dewa. Namun, saat ia mencoba menembus batas tertinggi kultivasi, ia dikhianati oleh tunangannya, Dewi Teratai Salju, dan saudara seperjuangannya, Kaisar Naga Hitam. Tubuhnya hancur, dan jiwanya tercerai-berai.
Kini, lima ratus tahun kemudian, jiwa Lin Chen terbangun di Benua Langit Biru, di dalam tubuh seorang pemuda dengan nama yang sama. Pemuda ini dikenal sebagai "Sampah Terbesar" di Kota Daun Musim Gugur karena meridiannya cacat sejak lahir. Namun, mereka tidak tahu bahwa di dalam lautan jiwanya, Lin Chen membawa Sutra Pedang Kehampaan, sebuah teknik kultivasi purba yang memungkinkannya menyerap energi alam semesta.
Dimulailah perjalanan Lin Chen untuk merangkai kembali takdirnya, menginjak jenius arogan, menaklukkan naga suci, dan kembali ke Alam Dewa untuk menuntut darah para pengkhianatnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Hutan Pedang Karat
Bau darah segar dari empat murid Perkumpulan Naga Sejati yang terpotong perlahan menguap, terdistorsi oleh angin gurun yang tajam. Lin Chen sama sekali tidak melirik mayat-mayat itu. Dengan lambaian tangan kanan yang santai, empat cincin penyimpanan milik para penyerang terbang ke telapak tangannya.
Ia memeriksa isinya sekilas: beberapa ratus Batu Spiritual Menengah dan obat-obatan tingkat fana.
"Hanya umpan murah untuk mengukur kekuatanku," gumam Lin Chen dingin sambil memasukkan cincin-cincin itu ke sakunya. "Jiang Wuya tidak akan sebodoh itu mengira empat tikus ini bisa membunuhku. Dia pasti sengaja menyebar anggotanya untuk melacak posisiku."
Lin Chen memandangi hamparan Makam Pedang di depannya. Di tempat ini, indra spiritual (Divine Sense) tersaring ketat oleh energi Intent pedang liar yang memenuhi udara. Seseorang yang memaksakan diri melepaskan indra spiritual terlalu jauh akan mendapati jiwa mereka tercabik-cabik oleh ilusi jutaan tebakan pedang kuno.
Namun, keterbatasan ini tidak berlaku bagi Lin Chen. Jiwanya adalah jiwa seorang Kaisar Pedang. Di matanya, aliran udara di tempat ini menceritakan segalanya; ke mana angin berhembus membawa karat, dan ke mana energi pedang yang hidup sedang bergerak.
Ia melangkah maju menuju Hutan Pedang Karat, area berhutan tiang batu raksasa yang puncaknya ditancapi pedang-pedang kuno berukuran masif.
Satu jam perjalanan dilewati dalam keheningan yang mencekam. Di sepanjang jalan, Lin Chen melihat sisa-sisa pertempuran murid-murid akademi lainnya. Ada bangkai Monster Kadal Besi yang terbelah dua, dan ada pula jasad murid luar yang tewas mengenaskan dengan dada berlubang—bukti bahwa Makam Pedang tidak memiliki belas kasihan bagi mereka yang serakah.
Tiba-tiba, telinga Lin Chen menangkap suara dentingan logam yang intens disertai dengan ledakan Qi elemen api dari balik tebing tiang batu di depannya.
BOOM!
Sebuah gelombang panas menyembur, melelehkan beberapa pedang karat di sekitarnya.
Lin Chen melompat ringan ke atas gagang pedang raksasa yang tertancap miring di tanah, menatap ke bawah tebing. Di sebuah pelataran batu yang luas, sesosok gadis bergaun sutra merah sedang dikepung oleh delapan orang pria bertopeng perak.
Gadis itu adalah Mu Hongling, sang Iblis Merah dari faksi Alkemis.
Saat ini, penampilan Mu Hongling tidak lagi seanggun di alun-alun akademi. Cambuk api di tangannya bergetar hebat, dan napasnya tersengal-sengal. Di sudut bibirnya yang indah, ada bercak darah segar. Gaun merahnya robek di beberapa bagian, memperlihatkan kulit putihnya yang kini ternoda jelaga dan luka sayatan.
Delapan pria bertopeng perak yang mengepungnya bukanlah murid biasa. Mereka mengenakan jubah abu-abu dengan bordiran rantai hitam—mereka adalah Pemburu Bayangan, unit pembunuh rahasia yang dibayar oleh faksi-faksi besar untuk membersihkan musuh di dalam ranah rahasia. Masing-masing dari mereka berada di Ranah Kondensasi Qi Tingkat 9 Puncak!
"Mu Hongling, menyerahlah," salah satu Pemburu Bayangan berkata dengan suara serak yang disamarkan. "Tugas kami hari ini hanya membunuh Lin Chen dan membersihkan jalurnya. Tapi Pangeran Xiao Tian telah membayar kami ekstra untuk mengambil Inti Api Teratai Merah yang ada di dalam Dantian-mu. Serahkan secara sukarela, dan kami akan memberimu kematian yang cepat tanpa menodai tubuhmu."
Mu Hongling meludah ke tanah, matanya menyala dengan api kemarahan. "Pangeran Xiao Tian... bajingan munafik! Dia selalu berpura-pura menjadi pria terhormat, tapi ternyata dia bersekutu dengan anjing-anjing pembunuh seperti kalian!"
"Hmph, di dunia ini, pemenang adalah orang suci. Mati!"
Kedelapan pembunuh itu melesat bersamaan. Mereka membentuk Formasi Jaring Rantai Jiwa. Rantai-rantai besi hitam yang dilapisi Qi gelap meluncur dari lengan baju mereka, mengunci pergerakan udara di sekitar Mu Hongling, menahan semburan api teratainya.
Mu Hongling menggertakkan giginya, bersiap untuk meledakkan Dantian-nya demi membawa beberapa pembunuh ini ke neraka bersamanya.
Namun, tepat sebelum rantai besi itu menyentuh lehernya, sebuah suara dengungan yang sangat berat dan memekakkan telinga merobek langit Hutan Pedang Karat.
WUUUUUUSSSHH!
Sebuah bayangan hitam raksasa jatuh dari atas tebing layaknya meteor yang runtuh dari langit.
BOOOOOOMMMM!!!
Bumi berguncang hebat. Lantai batu pelataran itu meledak, menciptakan kawah selebar lima meter. Gelombang kejut murni yang membawa serpihan batu dan angin tajam menghempas kedelapan Pemburu Bayangan hingga formasi rantai mereka hancur berantakan. Tiga di antaranya yang berdiri terlalu dekat bahkan terlempar sejauh belasan meter sambil memuntahkan darah.
Ketika debu tebal perlahan menipis, sesosok pemuda berjubah hitam berdiri tegak di tengah-tengah kawah.
Tangan kanannya memegang gagang Pedang Berat Penelan Bintang yang tertancap sedalam satu meter ke dalam batu padat. Di bawah topi bambunya, wajah Lin Chen tampak setenang air mati.
Mu Hongling membelalakkan matanya yang indah, tangannya yang memegang cambuk api gemetar. "L-Lin Chen...?"
Lin Chen tidak menoleh ke arah gadis itu. Ia hanya menghela napas tipis, melirik pedang raksasanya, lalu menatap kedelapan pembunuh bertopeng perak yang kini menatapnya dengan kewaspadaan penuh.
"Kalian tadi menyebut namaku," ucap Lin Chen datar, suaranya memotong keheningan lembah. "Aku sedang berjalan dengan tenang, dan kalian merusak mood-ku dengan menyebut namaku dari mulut kotor kalian."
Pemimpin Pemburu Bayangan itu bangkit, mengusap debu dari topengnya. Matanya berkilat kejam saat mengenali pedang hitam raksasa tersebut. "Lin Chen! Hahaha! Kami sedang mencarimu, dan kau justru mengantarkan nyawamu sendiri! Bagus, ini menghemat waktu kami untuk mengumpulkan hadiah dari Kakak Senior Jiang Wuya!"
"Hadiah dari Jiang Wuya?" Lin Chen menarik kembali Pedang Penelan Bintang dari dalam batu dengan satu tangan, membiarkan bilah hitam tumpul itu bertumpu di bahunya.
Sudut bibir Lin Chen melengkung ke atas, membentuk senyuman dingin yang sangat berbahaya.
"Sayang sekali. Jiang Wuya tidak memberi tahu kalian... bahwa hadiah yang dijanjikannya adalah sebuah tiket satu arah menuju neraka."