Semua sudah berakhir. Aku yang sulit dalam bergaul, pasti akan mudah dilupakan oleh orang – orang. Tidak dekat dengan siapapun, mau itu teman atau bahkan keluarga, pasti membuat kematianku sama seperti angin yang berlalu. Tidak dikenang oleh siapapun. Hanya kesendirianan yang tersisa. Akhir yang pantas bagi orang sepertiku. Seharusnya begitu, tapi …,
Kenapa aku bisa merasakan tetesan air mata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shourizzz BP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEHIDUPAN SEKOLAH
Tidak kusangka, perpisahan sekolah yang kuhadiri merupakan hari yang sama dengan perpisahanku pada dunia. Aku masih bisa mengingat dengan jelas. Hawa dingin yang menyelimuti tubuhku, terasa semakin kuat. Cairan merah yang awalnya cuma tetesan, mulai mengalir sedikit demi sedikit, membasahi lantai tempatku terjatuh. Suasana, latar, tempat, bahkan tatapan ketakutan yang ditujukan orang – orang ketika melihat keadaanku tersimpan rapat dalam memoriku. Tidak ada satupun yang kulupakan.
Dalam kegelapan, muncul perasaan yang aku sendiri bahkan tidak bisa menjelaskannya. Perasaan yang terpampang nyata, namun sulit dimengerti. Perasaan yang terdiri dari campuran warna kehidupan. Hanya satu hal yang aku tau pasti, itu adalah penyesalan yang terasa begitu kuat dibandingkan semuanya.
Semua sudah berakhir. Aku yang sulit dalam bergaul, pasti akan mudah dilupakan oleh orang – orang. Tidak dekat dengan siapapun, mau itu teman atau bahkan keluarga, pasti membuat kematianku sama seperti angin yang berlalu. Tidak dikenang oleh siapapun. Hanya kesendirianan yang tersisa. Akhir yang pantas bagi orang sepertiku. Seharusnya begitu, tapi …,
Kenapa aku bisa merasakan tetesan air mata?
Kesedihan berasal dari rasa sakit akan sesuatu. Perasaan yang juga bisa muncul karena kehilangan hal berharga. Seseorang baru saja menangisi kepergianku. “Mungkinkah aku memiliki nilai dalam kehidupannya?” pertanyaan pertama yang tiba – tiba terlintas dalam benakku, menciptakan sedikit rasa hangat dibalik dinginnya tubuhku. Kalau saja bisa kubuka kedua mataku untuk melihat orang tersebut – Tidak. Bahkan jika hanya salah satu mataku yang bisa melihatnya, itu tidak masalah. Selama aku bisa melihat sosok dari orang tersebut, itu sudah lebih dari cukup. Aku mulai mengerti. Penyesalan tercipta dari orang yang peduli padaku. Aku berharap bisa dipertemukan kembali dengannya untuk sekedar mengucapkan kata, terimakasih.
Aneh. Padahal aku yakin kalau sedang terbaring kaku. Tapi, tidak tau mengapa, tubuhku tidak terasa sakit. Aku merasa bisa menggerakkan seluruh anggota tubuhku, baik itu kepala, tangan, badan, hingga kaki tanpa ada masalah. Hanya saja, tidak ada yang bisa kulihat. Tidak ada warna yang masuk ke dalam bola mataku. Aku bahkan tidak bisa mendengar atau mengatakan apapun. Kesunyian yang tidak pernah terbayangkan olehku sebelumnya. Aku sendiri.
Gelap.
Kosong.
Hampa.
Ketakutan. Perasaan yang harusnya kurasakan sekarang. Emosi yang seharusnya dimiliki oleh manusia, tidak lagi bisa kurasakan. Satu – satunya tindakan yang aku lakukan dalam situasi yang tidak bisa dimengerti adalah berlari. Kedua kakiku terus melangkah tanpa henti. Semakin lama, semakin cepat. Aku tidak tau kemana langkah tersebut akan membawaku. Bahkan, aku tidak tau mengapa kakiku memilih untuk berlari.
Konsep waktu tidak lagi berlaku. Satu detik, satu menit, satu jam, atau bahkan satu bulan terasa sama. Aku merasa sudah berlari cukup lama. Disatu sisi, aku juga merasa kalau itu baru saja terjadi. Sebentar dan lama tidak lagi menjadi relevan. Langkah demi langkah yang mungkin tidak berarti, tapi juga mungkin berarti, membawaku pada sebuah cahaya. Meskipun terlihat kecil, cahaya tersebut memiliki dampak yang besar untukku. Perasaan yang tidak bisa kurasakan, perlahan – lahan mulai mengisi hatiku. Semakin aku bisa merasa, cahayanya juga semakin besar. Sampai – sampai sinarnya memenuhi seluruh pandanganku. Bukan hanya itu, sinar tersebut bahkan terasa menembus seluruh anggota tubuhku. Membuatku tidak kuat menahan sesuatu yang begitu besar hingga tidak sadarkan diri.
Perlahan – lahan, aku bisa merasakan sesuatu yang seharusnya memang bisa dirasakan. Meskipun bukan sesuatu yang bagus, tapi aku pikir hal tersebut merupakan pertanda baik. Aku merasakan pusing.
Pandanganku masih sedikit gelap. Samar – samar, aku melihat banyak orang disekitarku. Aku juga mulai mendengar suara orang – orang yang sedang berbincang. Kucoba memokuskan diri untuk benar – benar bangkit dari pikiranku. Saat tersadar, aku sudah berada di ruang kelas.
Bangku dan meja yang terbuat dari kayu, tempat dimana aku duduk sekarang. Banyak coret – coretan dimeja menandakan seberapa lama meja tersebut sudah diteruskan. Terdapat papan tulis besar yang berada ditengah ruangan sebagai alat pembelajaran, foto presiden dan wakil presiden yang agak miring tepat berada diatasnya, meja guru juga berada disebelah papan tulis. Jendela – jendela yang tersusun rapi disebelah kiri dan kanan ruangan, sama sekali tidak berubah. Bahkan, salah satu jendela tetap kehilangan penguncinya. Satu hal terakhir yang tetap sama adalah tempat duduk teman – temanku yang tersusun satu persatu menghadap papan tulis. Ruang kelas 12 IPA 3.
Aku tidak tau tanggal berapa sekarang. Jangankan tanggal, aku tidak tau apakah yang kujalani sekarang adalah kenyataan atau hanya ilusi setelah kematian? Aku benar – benar tidak tau. Tempat belajar yang kupernah ingat, sama persis seperti tempatku berada sekarang. Mungkin saja sekarang aku ada ditepian. Perbatasan yang menghubungkan alam kehidupan dan kematian. Menurut buku yang kubaca, menceritakan kalau setelah kematian masih ada alam berikutnya. Tidak dijelaskan secara detail bagaimana bentukan dunianya. Kemungkinan dibuat semirip mungkin dengan kehidupan sebelum kematian agar terasa familiar. Cuman dugaanku, tidak ada keyakinan didalamnya saat aku membayangkannya.
Pikiranku mulai tergoyahkan ketika salah satu temanku mengajak bicara, “Melamun lagi?” katanya seraya melemparkan dua buah roti keatas mejaku dan ikut duduk diseberangku. “Mayan nih, gratis. Ada yang Ultah disebelah.”
Aku merasa kejadian sekarang pernah terjadi sebelumnya, meski samar – samar. Aku ingat ada seseorang yang memberikan roti dan bicara padaku. Kejadian berikutnya, dia akan memakan roti miliknya dengan lahap sampai pada akhirnya dia sadar bahwa terdapat angka aneh dibungkus roti miliknya, “14/06/2024.” Tanggal kadaluarsa yang baru saja lewat sehari. Dia kesal dan –
“Bangke! Baru sadar. Coba periksa roti punyamu. Tanggalnya udah lewat juga?”
Kata yang sama persis dengan ingatanku. Aku mulai meragukan pemikiran soal pendapatku sebelumnya. Aku tidak yakin kalau yang kujalani saat ini adalah alam perbatasan. Alam kematian yang kutau, tidak mengembalikanku ke sebuah tempat kejadian yang sama persis. Meskipun ada pendapat yang mengatakan kalau sebelum mati, ingatan manusia selama hidup akan terulang, tapi tidak juga berfokus pada suatu kejadian. Dibandingkan perjalanan menuju alam berikutnya, sekarang aku merasa seperti kembali ke masa lalu.
Tidak mendengar jawab dariku. Awan, satu – satunya orang yang masih betah bicara padaku meski tidak mendapat tanggapan, memastikan sendiri secara langsung tanggal yang terletak dibungkus roti milikku. Tanggalnya sama persis seperti miliknya. Dia membawa kedua bungkus roti dimeja menuju luar kelas. Kalau kejadiannya masih sama, dia pergi ke kelas sebelah untuk protes. Alih – alih ditanggapi dengan serius, dia malah ditertawakan oleh orang – orang dikelas tersebut. Bukan tawa jahat, tapi candaan yang wajar terjadi disekolah. Meski tertawa, orang yang memberikan roti tersebut meminta maaf dan memberikan gantinya beserta tambahan minuman botol. Ternyata hanya dua roti yang sudah kadaluarsa, roti yang dibawa oleh Awan. Benar – benar tidak beruntung. Aku tidak melihat atau mendengar kejadian tersebut secara langsung, Awan menceritakannya setelah kembali ke kelas. Dan, kejadian tersebut benar – benar terjadi. Sama persis, dengan detail Awan yang tertawa sendiri setelah menceritakannya.
Aku sudah yakin. Aku kembali beberapa minggu sebelum kematianku. Aku tidak tau penyebab atau alasannya. Semua masih abu – abu. Aku mencubit pipiku, berusaha bangun dari kemungkinan mimpi yang tidak berdasar. Aku merasakan sakit. Artinya kejadian sekarang adalah kenyataan. Berusaha kabur dari pemikiran liar, aku mengambil roti yang sudah diganti oleh Awan. Memakannya secara perlahan dan merasakan kenikmatan disetiap gigitannya. Rasa daging slice dicampur keju mengingatkanku dengan kenikmatan dunia. Aku merasa hidup. Tidak lupa kuucapkan, “makasih” pada Awan yang telah repot – repot mengantarkan cemilan padaku.
Keadaan kelas cukup berisik. Sebenarnya bukan hanya kelas, bahkan satu sekolah terasa sangat ramai. Keadaan tersebut bisa tercipta karena ulangan baru saja berakhir. Tidak ada lagi beban berat yang harus dihadapi, setidaknya dalam lingkup sekolah. Jika ingin melanjutkan kuliah atau langsung bekerja, pasti masih banyak tahapan yang perlu dilalui. Tapi, bagi kami yang sudah melalui 3 tahun bersekolah di SMA, rasanya berhak untuk istirahat sejenak. Menikmati masa – masa kosong sebelum akhirnya kembali dan menghadapi dunia luar.
Sayangnya, kedamaian yang diharapkan tidak berlangsung lama. Ketua dan bendahara kelas datang dengan tergesa - gesa, bersama guru perwakilan kelas. Suasana bahagia seketika berubah menjadi hening. Pembukaan yang dilakukan Bu Mika agar semua duduk pada tempatnya, membuat seisi kelas menyadari kalau ada sesuatu yang ingin disampaikan. “Pengumuman perpisahan nih!” mungkin kebanyakan dari mereka beranggapan seperti itu. Setidaknya itulah yang kupikirkan sebelum tau kebenarannya.
Kenyataan sangat berbanding terbalik dengan perkiraan. Ketua kelas menjelaskan maksud kedatangan mereka. “Tadi, kami ada rapat kecil – kecilan. Kami mau kasih opsi buat kalian. Soalnya uang kas kayaknya lumayan jarang kepakai. Awalnya mau dikembaliin aja semuanya. Cuman ada saran, gimana kalau buat jalan – jalan? Kitakan sebentar lagi libur panjang. Pasti seru dong? Daripada diam dirumah. Nah! Waktu mau mastiin jumlah uangnya, Nadhifa harus cek uang kas dulu, kan?” ketua kelas terdiam sebentar, ekspresi yang dia tunjukkan juga mulai berubah. “Uang kasnya hilang ….”
Berita buruk soal kehilangan tersebut, membuat seisi kelas mulai heboh. Mereka berbisik dan menatap satu sama lain ketika mendengarnya. Dalam kehebohan, bendahara yang merasa bersalah meminta maaf dan minta saran pada teman – teman sekelas untuk mendapatkan pilihan terbaik. Perhatian mereka yang awalnya hanya setengah – setengah, sekarang benar – benar terfokus pada bendahara, ketika dia mulai meneteskan air mata. “A – aku gak tau dimana uangnya. Pagi tadi aku taroh di tas. Tapi pas aku cek, udah gak ada … Aku siap kok, gantiin uangnya kalau memang gak ketemu ….”
Kalimat yang dikatakan Nadhifa berdampak besar pada seisi kelas. Sebagian dari mereka diam termenung, sebagian lagi berusaha menenangkan Nadhifa. “Gimana kalau kita cek tas masing – masing?” saran Yasmine ketika semua sibuk dengan urusannya. Sebagai cewek yang memiliki pengaruh besar dikelas, masukan yang dia berikan disetujui. Lagipula itu saran yang paling masuk akal untuk sekarang.
Bu Mika mengarahkan seisi kelas untuk mengeluarkan seluruh barang dalam tas keatas meja dan meminta untuk menunjukkan tas yang sudah kosong jika namanya disebut. Beliau menyebutkan nama satu persatu sesuai dengan daftar hadir kelas. Mulai dari nama yang berawalan abjad “A” sampai dengan “Y.” Tidak ada murid di kelas ini yang awalan abjadnya dimulai dengan huruf “Z.” Beberapa nama telah disebutkan, mereka menurut ketika disuruh untuk mengangkat tas keatas dan membuktikan kalau tidak ada lagi isi didalamnya. Hingga sampai pada absen nomor 8 dengan abjad yang dimulai dari huruf “C.”
“Clarissa,” nama seorang cewek dengan tinggi yang lumayan, serta rambut pendek sebahu. Nama yang dipanggil oleh Bu Mika. Dia, Clarissa sempat tidak menyahut ketika namanya dipanggil. Membuat Bu Mika menyebutkan namanya lebih dari sekali, sampai akhirnya mendapat respon berupa acungan salah satu tangan. Beliau berjalan mendekat setelah melihat tindakan tersebut. Berusaha memastikan dari dekat, sama seperti beberapa yang sudah - sudah. Sikap yang Clarissa tunjukkan cukup aneh. Dia terlihat gugup. Hal itu disadari oleh banyak orang, termasuk Bu Mika. “Kenapa?” tanya beliau mencoba memastikan. Clarissa hanya menggelengkan kepala tanpa ada sepatah katapun. Dia secara perlahan mengangkat tas yang ada diatas pahanya, menghamburkan isi dalam tas tersebut satu persatu, dan amplop tebal pun terlihat. Uang kas ditemukan.