NovelToon NovelToon
Archive Zero

Archive Zero

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Action / Tamat
Popularitas:291
Nilai: 5
Nama Author: sena himura

Di dunia tempat takdir manusia tercatat dalam sebuah Arsip, seorang pemuda terbangun tanpa data apa pun tentang dirinya.
Saat rahasia dunia mulai terbuka, ia menjadi satu-satunya orang yang tidak seharusnya ada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sena himura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 — Di Balik Kabut Pegunungan

Archive Zero

Bab 14 — Di Balik Kabut Pegunungan

Jalan tanah yang mereka lalui semakin lama semakin sempit dan berkelok, menanjak perlahan mendekati kaki pegunungan yang menjulang tinggi di hadapan mereka. Kabut tipis yang tadi hanya terlihat samar di kejauhan, kini semakin tebal dan turun rendah, membungkus segala sesuatu dalam selimut putih kelabu yang dingin dan lembap. Suara mesin kendaraan tua buatan Kai terdengar bergema di antara tebing-tebing batu, menjadi satu-satunya penanda keberadaan mereka di tengah keheningan alam yang kembali tumbuh liar.

Di dalam kendaraan, udara terasa sejuk. Kai memegang kemudi dengan teliti, matanya menyipit berusaha menembus pandangan yang kini hanya sejauh beberapa meter saja.

"Aneh sekali," gumam Kai sambil mengerutkan kening, matanya tak lepas dari alat pemindai yang ia pasang di dasbor. Alat itu dulu berfungsi memetakan seluruh wilayah Elarion dengan akurat, tapi sekarang layarnya hanya menampilkan garis-garis acak dan pola-pola yang tidak dikenal. "Semua data yang kumiliki habis di sini. Tidak ada catatan, tidak ada peta, tidak ada informasi apa pun tentang apa yang ada di balik kabut ini. Seolah... alam di sini sengaja menyembunyikan dirinya dari siapa pun."

Di sampingnya, Ren duduk di kursi penumpang depan, tangannya menempel pada jendela kaca yang dingin. Matanya meneliti setiap pohon, setiap bebatuan, dan setiap rumpun semak yang mereka lewati. Ada rasa asing namun juga rasa akrab yang kuat di dada pemuda itu. Energi yang dulu mengalir kencang di dalam tubuhnya sebagai sisa kekuatan kunci, kini merespons lingkungan sekitar dengan lembut, bergetar halus seolah mengenali tempat ini.

"Energinya berbeda," kata Ren pelan, suaranya rendah namun jelas terdengar di dalam kabin kendaraan. "Di Elarion, energi itu terasa teratur, terstruktur, dan kaku — sisa buatan sistem Archive. Tapi di sini..." Ia menunjuk ke arah kabut tebal di luar. "...energinya liar, bebas, dan sangat tua. Rasanya seperti kembali ke masa sebelum Aran membuat segalanya teratur."

Di kursi belakang, Anya duduk bersandar tenang, namun panca indranya bekerja sepenuhnya. Kekuatan es yang kini hidup damai di dalam dirinya membuatnya sangat peka terhadap perubahan suhu dan kelembapan udara. Ia menatap kabut yang berarak perlahan melewati sisi kendaraan dengan pandangan tajam.

"Kabut ini bukan sekadar uap air biasa," ucap Anya tiba-tiba. "Ada sihir, atau apa pun yang kau sebut kekuatan energi itu, yang menjalin kabut ini. Ia tidak menghalangi pandangan saja... tapi juga menyamarkan jejak, dan mungkin juga mengacaukan arah. Kalau kita salah jalan, kita bisa berputar di tempat selamanya tanpa sadar."

Kai menoleh sebentar dengan wajah sedikit pucat. "Kau tidak bikin aku makin was-was saja ya?"

Ren tersenyum tipis, lalu menepuk bahu bahu temannya itu. "Tenang saja. Selama aku bisa merasakan aliran energinya, aku bisa tahu ke mana arah yang benar. Ingat? Tubuhku dulu adalah wadah bagi semua ini. Aku tahu jalannya, sama seperti darah tahu jalan di dalam pembuluh."

Ren menunjuk lurus ke depan, ke arah celah sempit di antara dua bukit batu besar yang hampir menyatu, tempat kabut tampak sedikit lebih renggang.

"Lewat sana. Itu jalan masuk utamanya."

Kai mengangguk, mempercepat sedikit laju kendaraan. Mesin menderu lebih keras saat kendaraan itu mulai menanjak jalan yang curam dan berbatu.

Semakin tinggi mereka naik, semakin dingin udara di sekitar. Kabut kini begitu tebal hingga mereka hampir tidak bisa melihat ujung hidung masing-masing. Hanya petunjuk halus dari Ren dan insting tajam Anya yang memandu perjalanan mereka melewati tikungan-tikungan berbahaya dan jurang tersembunyi.

Lalu, di sebuah tikungan tajam yang membelok ke kanan, pemandangan di depan mereka tiba-tiba terbuka sepenuhnya.

Kendaraan Kai meluncur keluar dari selimut kabut, dan mereka bertiga serentak menahan napas.

Di hadapan mereka, terbentang sebuah lembah luas yang tersembunyi di antara pegunungan tinggi yang berderet rapat seperti tembok alami. Lembah itu berbentuk bulat sempurna, seolah dibuat dengan sengaja oleh tangan raksasa. Dan di tengah-tengah lembah itu, berdiri sebuah kota — atau lebih tepatnya, sebuah kompleks bangunan kuno yang megah dan misterius.

Arsitekturnya sama sekali berbeda dengan bangunan kaku dan fungsional milik Elarion. Bangunan-bangunan di sini menjulang tinggi dengan bentuk melengkung indah, terbuat dari batu berwarna putih keemasan yang bersinar lembut meski tertutup bayangan pegunungan. Di antara bangunan-bangunan itu, mengalir sungai-sungai kecil yang airnya berkilauan biru jernih, dan di atas atap-atap melengkung itu, tumbuh tanaman-tanaman hijau rimbun yang mekar dengan bunga-bunga berwarna-warni cerah.

Namun yang paling mencolok adalah bangunan utama yang berdiri tepat di tengah kompleks itu. Sebuah menara tinggi yang ujungnya menembus awan, dibangun dengan pola lingkaran bertingkat, dan di puncaknya... terdapat simbol besar berupa Mata Terbuka yang sama persis dengan yang mereka temukan di mana-mana.

"Ini..." Kai bergumam takjub, matanya berkedip-kedip cepat merekam segala pemandangan di depan, otaknya bekerja keras mencerna keajaiban ini. "Ini bukan reruntuhan. Tempat ini utuh. Terawat. Dan... ada kehidupan di sini."

Benar. Asap tipis mengepul dari beberapa cerobong bangunan. Di jalan-jalan setapak yang membelah kompleks itu, terlihat siluet-siluet kecil bergerak. Makhluk-makhluk yang berjalan tegak, berpakaian jubah panjang berwarna putih dan perak, bergerak dengan tenang dan anggun di antara bangunan-bangunan kuno itu.

"Ini markas besar para Pengamat," ucap Anya pelan, suaranya bergetar karena kagum dan sedikit rasa hormat. Ia menatap menara di tengah itu dengan mata berbinar. "Tempat yang diceritakan dalam legenda. Tempat di mana sejarah ditulis dan diamati sejak ribuan tahun lalu."

Ren menatap tempat itu lekat-lekat. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena takut, tapi karena rasa panggilan yang begitu kuat hingga hampir menyakitkan. Seluruh energi di dalam tubuhnya bergetar hebat, menariknya ke bawah sana, ke arah menara pusat itu.

"Elara ada di sana," kata Ren yakin. "Dia menunggu kita. Dan mungkin... dia bukan satu-satunya yang tahu segalanya."

Kai menarik napas panjang, lalu mengembuskan napasnya perlahan sambil menatap kendaraannya yang sedikit penyok dan berdebu. Ia membetulkan letak kacamatanya, lalu tersenyum penuh semangat.

"Kalau begitu, tidak ada gunanya berhenti di sini, kan? Kita sudah menempuh jalan sejauh ini, menembus kabut, menaklukkan gunung... rasanya sayang sekali kalau kita tidak mampir untuk menyapa tuan rumah."

Kendaraan itu kembali melaju, kini menuruni lereng bukit yang landai menuju dasar lembah, mendekati gerbang utama kompleks kuno itu. Semakin dekat mereka, semakin jelas mereka melihat keindahan sekaligus keagungan tempat itu. Bangunan-bangunan itu memancarkan aura damai namun juga sangat berwibawa, seolah tempat ini berdiri di luar waktu dan sejarah biasa.

Saat mereka sampai di depan gerbang utama yang tingginya puluhan meter, terbuat dari logam perak yang diukir rumit dengan pola lingkaran dan mata, gerbang itu terbuka sendiri perlahan dengan suara berat dan dalam, seolah sudah menunggu kedatangan mereka.

Di ambang gerbang itu, berdiri dua sosok tinggi berbalut jubah putih bersih. Wajah mereka muda, tenang, dan tampak hampir sama persis satu sama lain. Di dada jubah mereka, tersulam simbol mata berwarna emas. Salah satu dari mereka melangkah maju sedikit, lalu berbicara dengan suara yang jernih dan tenang, terdengar seperti paduan suara kecil.

"Selamat datang, Pejalan dari Elarion. Kami sudah menunggu kedatanganmu, Ren si Pewaris, Anya si Pembawa Es, dan Kai si Pencatat. Masuklah... Dewan Pengamat telah bersiap menyambutmu."

Mereka bertiga saling pandang sejenak, kaget namun juga tidak terlalu terkejut. Nama-nama mereka, asal-usul mereka... semuanya sudah diketahui sepenuhnya oleh penghuni tempat ini. Tidak ada lagi rahasia bagi mereka.

Ren melangkah turun dari kendaraan, menyeka debu perjalanan dari pakaiannya, lalu mengangkat kepalanya tinggi-tinggi. Di sampingnya, Anya dan Kai mengikutinya, berdiri tegak dengan sikap percaya diri yang sama.

Ren menatap kedua penjaga itu lurus-lurus.

"Terima kasih," jawab Ren tegas. "Kami datang mencari kebenaran. Dan kami berharap, di sini... kami akhirnya akan mendapat jawaban lengkap, tanpa ada lagi yang disembunyikan."

Penjaga itu tersenyum tipis, lalu memberi isyarat tangan untuk melangkah masuk.

"Segala pertanyaanmu akan terjawab di Ruang Pusat. Ikuti kami."

Mereka pun melangkah masuk melewati gerbang besar itu, menapaki jalan setapak beraspal batu halus yang mengarah ke jantung kota kuno itu. Di sekeliling mereka, penduduk tempat itu — para Pengamat — berhenti sejenak untuk menatap kedatangan mereka. Tatapan mereka tidak penuh rasa ingin tahu atau curiga, melainkan tatapan tenang, penuh penghormatan, namun juga sedikit berat... seperti tatapan seseorang yang sedang menonton babak akhir dari sebuah cerita panjang yang telah mereka saksikan berlangsung selama ribuan tahun.

Saat mereka berjalan semakin jauh ke dalam, Ren melihat sesuatu yang membuat langkahnya terhenti sejenak. Di sisi jalan, terdapat deretan patung-patung indah yang berdiri di atas alas batu. Patung-patung itu berbentuk orang-orang yang memegang kunci, bola energi, atau senjata. Dan di urutan paling akhir, patung yang baru saja selesai dibuat, masih terlihat segar dan berkilau... adalah patung dirinya sendiri, berdiri di antara Anya dan Kai, dengan langit terbuka dan matahari di belakangnya.

Kai ikut melihat, lalu berbisik sambil terkekeh pelan.

"Lihat itu... kita sudah jadi monumen sebelum kita mati saja. Hebat juga karier kita ini ya."

Namun Ren tidak tertawa. Ia menatap patung itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan.

Perjalanan mereka belum selesai. Bahkan, setelah mengalahkan Dewan Tertinggi, setelah membuka langit Elarion... mereka baru saja sampai di tempat di mana segalanya benar-benar dimulai. Di sini, di kota tersembunyi para Pengamat, nasib dunia sekali lagi akan dipertaruhkan. Dan kali ini, taruhannya bukan hanya kebebasan satu kota, tapi keseimbangan seluruh energi dunia.

Di ujung jalan itu, menara pusat berdiri menjulang gagah, pintu utamanya terbuka lebar menantikan kedatangan mereka. Di dalam sana, Elara dan para pemimpin tertinggi lainnya sedang menunggu, membawa kebenaran terakhir yang selama ini tertutup kabut sejarah.

Mereka bertiga melanjutkan langkah mereka, masuk ke dalam bayangan menara itu, siap menghadapi babak terakhir dari perjalanan panjang yang tak terbayangkan ini.

Bersambung...

1
Protocetus
Mampir ya ke novelku Remontada
sena himura
siap
sena himura
ok,
Uday
semangat mas, alur ceritanya bagus.

jangan lupa berkunjung ke novelku mas judulnya "Ovrien"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!