NovelToon NovelToon
Nano Machine Girl

Nano Machine Girl

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Anak Genius
Popularitas:262
Nilai: 5
Nama Author: [ Fx ] Ryz

Novelette

Di tengah keputusasaan, harapan datang dari masa yang belum terjadi.

Iris Astridewi, seorang siswi sekolah menengah atas yang hidup dalam keterbatasan di Makassar, harus menelan pil pahit kehidupan.

Di usianya yang baru menginjak 17 tahun, takdir memaksanya menjadi sebatang kara setelah sang ayah meninggal dunia, meninggalkan beban hidup dan hutang yang mengancam masa depannya.

Seorang pria tampan dengan penampilan yang tidak wajar bernama Kim, tiba-tiba muncul di hadapan Iris.

Ia mengaku sebagai Humandroid tipe RK800, ciptaan tahun 2109 yang dikirim melintasi dimensi waktu.

Kim membawa pesan yang sulit dipercaya

Di masa depan, dunia akan hancur oleh tangan Iris sendiri. Bisakah Iris merubah masa depan ataukah hancur di tangan nya sendiri.

Ini kisah Iris bersama Humanoid bernama Kim

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon [ Fx ] Ryz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 | Kebangkitan Sang Ratu

...■▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎■...

Suasana di dalam kelas yang tadinya hening perlahan mulai kembali sibuk, namun mata-mata siswa masih sesekali melirik ke arah Iris yang kini duduk di bangkunya. Di tengah keramaian itu, bayangan masa lalu yang kelam tiba-tiba melintas di benak Iris. Ingatan itu membawanya kembali ke beberapa hari yang lalu, sebelum segala perubahan ini terjadi.

 

Flashback...

Waktu itu, Iris sedang menunggu Faisal, pacarnya saat itu, di kantin sekolah. Namun, bukannya datang sendirian, Faisal datang bersama Siska, gadis yang selama ini dikenal sebagai saingan Iris. Wajah Faisal terlihat dingin, berbeda dari biasanya.

"Iris, kita putus," ucap Faisal singkat tanpa basa-basi.

Iris terkejut setengah mati. "Maksud kamu apa, Faisal? Apa aku buat salah?"

Siska yang berdiri di samping Faisal justru tertawa mengejek. "Hahaha, dasar polos sekali kamu ya, Iris. Kamu pikir Faisal benar-benar menyukaimu? Cih, jangan mimpi deh."

"Apa maksudnya, Siska?" tanya Iris mulai gemetar.

Faisal menghela napas kasar lalu berbicara dengan nada sinis. "Sebenarnya, ini semua hanya taruhan. Aku dan Siska sepakat kalau aku harus mendekati kamu, membuatmu jatuh cinta, lalu membuangmu begitu saja. Dan... taruhannya sudah selesai. Aku menang."

Mendengar pengakuan yang begitu menyakitkan, hati Iris terasa seperti dirobek-robek. Rasa malu, marah, dan kecewa bercampur aduk menjadi satu.

"Kalian... kalian jahat sekali!" teriak Iris sambil menampar pipi Siska sekuat tenaga.

Plak!

Tamparan itu terdengar sangat keras hingga seisi kantin menoleh. Pipi Siska seketika memerah menahan sakit dan malu.

"Kamu berani ya!" bentak Faisal dengan wajah merah padam karena marah. Ia langsung mendorong Iris hingga terjatuh.

Belum sempat Iris bangun, Sandra, sahabat Siska yang terkenal nakal dan pemimpin geng sekolah, datang bersama anak buahnya. Sandra menatap Iris dengan tatapan membunuh.

"Berani-beraninya kamu menyakiti sahabatku? Awas kamu!" ancam Sandra.

Sandra dan anak buahnya segera menyeret Iris ke belakang gedung sekolah yang sepi. Di sana, tanpa ampun mereka mengeroyok Iris. Tendangan dan pukulan menghantam tubuh Iris yang lemah. Sementara itu, Faisal dan Siska hanya melihat dari kejauhan sambil tertawa puas.

"Tolong... hentikan..." rintih Iris di antara pukulan yang menderanya. Ia merasa putus asa, dunia rasanya runtuh menimpanya. Tubuhnya penuh memar dan luka, sementara harga dirinya diinjak-injak habis-habisan hari itu.

 

Kembali ke Masa Sekarang...

Ingatan pahit itu membuat Iris tanpa sadar menggenggam tangannya erat-erat di atas meja. Namun, kali ini, tidak ada lagi rasa takut atau putus asa yang tersisa di matanya. Yang ada hanyalah ketenangan dan kekuatan.

Tiba-tiba, seseorang mengetuk pelan meja Iris. Saat mengangkat wajahnya, Iris melihat sosok Faisal berdiri di hadapannya dengan wajah menyesal dan memelas. Penampilan Faisal terlihat biasa saja, bahkan terlihat agak lusuh jika dibandingkan dengan aura keemasan yang dipancarkan oleh Iris saat ini.

"Iris... bisakah kita bicara sebentar?" tanya Faisal dengan nada lembut yang dibuat-buat.

Iris menatap Faisal dengan tatapan datar dan dingin, seolah menatap orang asing yang tidak berarti apa-apa baginya. "Ada apa?"

"Begini, Iris... Aku tahu aku sudah bersikap sangat buruk padamu dulu. Aku menyesal sekali, sungguh. Aku sadar sekarang kalau kamu itu sebenarnya wanita yang baik dan hebat. Bisakah kamu memaafkan aku? Mungkinkah kita memulai semuanya dari awal?" pinta Faisal dengan wajah berharap. Ia bahkan berani-beraninya ingin menggenggam tangan Iris.

Namun, dengan sigap Iris menarik tangannya menjauh. "Faisal, apa yang sudah terjadi sudah terjadi. Aku sudah memaafkanmu," jawab Iris tenang namun nada suaranya sangat dingin dan berjarak.

Mendengar kata 'memaafkan', wajah Faisal seketika bersinar lega. "Benarkah? Jadi, kamu mau kita balikan?"

Iris menggelengkan kepalanya perlahan sambil menatap tajam ke arah Faisal. "Aku memaafkanmu bukan berarti aku ingin kembali bersamamu atau menjadi temanmu lagi. Aku memaafkanmu hanya agar hatiku sendiri tidak terbebani dendam. Untukmu... kau hanyalah masa lalu yang tidak ingin aku ulangi. Tolong jangan ganggu aku lagi."

Ucapan Iris yang tegas itu membuat wajah Faisal pucat pasi. Ia terpaku di tempatnya, merasa sangat dipermalukan oleh wanita yang dulunya ia anggap 'mudah diatur'.

"Ba... baiklah. Aku mengerti," jawab Faisal terbata-bata lalu pergi meninggalkan Iris dengan kepala tertunduk.

Melihat kepergian Faisal, Iris hanya menghela napas pelan. Ia tidak ingin membuang energinya untuk hal yang tidak berguna.

Namun, di sudut lain ruangan, Siska yang melihat kejadian itu dari jauh menatap Iris dengan tatapan makin membara penuh kebencian. Ia menggeram kesal melihat Iris yang seolah-olah menang telak di hadapan Faisal.

"Dasar sombong! Baru sedikit berubah jadi cantik sudah berlagak kayak ratu dunia. Tunggu saja, aku tidak akan membiarkanmu hidup tenang," gerutu Siska dalam hatinya.

Siang itu, saat jam istirahat kedua berakhir, Iris memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar di belakang sekolah untuk mencari udara segar sebelum masuk ke kelas lagi. Namun, sesampainya di sana, jalan Iris terhalang.

Di depannya, Siska berdiri bersandar di tembok sambil menyilangkan tangan di dada. Di belakangnya, berdiri Sandra bersama lima orang anak buahnya yang terlihat berbadan besar dan garang. Wajah Sandra terlihat mengancam.

"Eh, lihat tuh siapa yang datang. Bukankah ini 'Wonder Girl' yang lagi viral itu? Atau lebih tepatnya... mantan pacar buangan yang sok cantik?" ledek Siska dengan nada tinggi.

"Kalian mau apa lagi?" tanya Iris santai, tidak menunjukkan sedikitpun tanda ketakutan di wajahnya.

"Mau apa? Kamu sudah mulai berlagak sombong sekarang ya? Berani sekali kamu menolak Faisal dan mempermalukannya di depan umum. Hari ini, kami akan memberimu pelajaran agar kamu tahu tempatmu," ancam Sandra.

Sandra memberi kode pada anak buahnya. "Tangkap dia! Dan beri dia pelajaran yang tidak akan dia lupakan seumur hidupnya."

Melihat gerombolan itu mulai bergerak mendekatinya, Iris hanya menghela napas panjang. "Apa kalian tidak bosan melakukan hal bodoh seperti ini?"

Tanpa menjawab, salah satu anak buah Sandra langsung menerjang Iris dengan tangan terkepal. Namun, bagi Iris yang kini memiliki kecepatan dan kekuatan di atas rata-rata manusia biasa, gerakan orang itu terasa sangat lambat.

Dengan tenang dan gerakan yang luwes, Iris mengelak dari pukulan itu, lalu dengan cepat memutar tubuhnya dan memberikan tendangan berputar yang presisi ke perut orang itu.

Bugh!

Orang itu langsung terlempar beberapa meter ke belakang dan jatuh terguling menahan sakit.

"APA?!" seru Sandra dan Siska bersamaan dengan mata terbelalak tak percaya.

Namun, Iris tidak berhenti di situ. Saat anak buah yang lain datang menyerang secara bersamaan, Iris dengan mudah menangkis, menghindar, dan membalas serangan mereka dengan gerakan bela diri yang sempurna, hasil dari fitur 'Salin & Tempel'. Dalam waktu kurang dari satu menit, seluruh anak buah Sandra sudah terkapar di tanah sambil mengerang kesakitan.

Kini, hanya tinggal Sandra dan Siska yang berdiri terpaku di tempat dengan wajah pucat pasi dan gemetar ketakutan.

Iris berjalan perlahan mendekati mereka dengan senyuman bangga dan sedikit mengejek di bibirnya. Ia menatap Siska tepat di matanya.

"Bagaimana? Apakah pelajaran yang mau kalian berikan itu sudah selesai? Atau kalian mau mencobanya sendiri?" tanya Iris dengan nada mengejek.

"Ka... kamu... kamu punya ilmu silat sejak kapan?!" tanya Siska terbata-bata karena kaget.

"Sejak kapan? Sejak aku sadar bahwa membiarkan diriku diinjak-injak oleh orang bodoh seperti kalian itu tidak ada gunanya," jawab Iris santai. "Saran saya, jangan cari masalah denganku lagi. Kalian tidak akan sanggup menanggung akibatnya. Sekarang, pergilah sebelum aku berubah pikiran."

Mendengar ancaman yang tersirat di dalam ucapan Iris, Sandra dan Siska tidak berani berkutik lagi. Mereka segera memanggil anak buahnya yang masih bisa berjalan lalu pergi meninggalkan tempat itu dengan terburu-buru karena malu dan takut.

Melihat kepergian mereka, Iris tersenyum puas. "Rasakan itu. Jangan remehkan aku lagi," gumamnya pelan.

................

Di tempat yang berbeda, jauh dari hiruk-pikuk sekolah, di dalam ruang kerja apartemen mewah milik Iris, Kim sedang duduk di depan deretan layar komputer canggih yang menampilkan berbagai grafik dan data angka yang terus bergerak.

Kim menatap layar itu dengan wajah serius. Ia baru saja mengecek laporan keuangan dan pengeluaran bulanan untuk menjaga apartemen mewah ini, kendaraan, serta kebutuhan hidup Iris yang layak. Angkanya terbilang sangat besar dan terus berkurang dari tabungan yang tersedia.

"Jika terus begini, dalam beberapa bulan ke depan aset yang ada akan habis. Aku harus mencari cara untuk memutar modal dan menambah pemasukan agar stabilitas keuangan Nona Iris tetap terjaga," gumam Kim pada dirinya sendiri.

Berkat pengetahuan luas yang dimilikinya tentang ekonomi, tren pasar, dan sistem bisnis yang didapatkan dari data masa depan serta analisis saat ini, Kim tahu persis langkah apa yang harus diambil.

Ia mulai mengetikkan perintah-perintah di keyboard dengan sangat cepat. "Sistem, akses pasar saham global. Lakukan analisis prediksi tren harga berdasarkan pola pasar dan data statistik. Fokus pada sektor teknologi dan energi yang memiliki potensi kenaikan signifikan dalam waktu dekat."

Di layar komputer, terlihat transaksi-transaksi saham mulai berjalan secara otomatis di bawah kendali Kim. Ia melakukan pembelian saham-saham potensial dengan perhitungan matang, memastikan bahwa investasi yang dilakukan akan memberikan keuntungan besar namun tetap minim risiko.

"Jika perhitungan saya benar, dalam waktu satu minggu saja aset kita bisa berlipat ganda," ujar Kim dengan nada yakin.

................

Sementara itu, di ruangan laboratorium bawah tanah milik Aegis Corporation yang dijaga sangat ketat, Stella sedang berdiri di depan sebuah mesin besar yang bercahaya redup. Ruangan itu dipenuhi dengan kabel-kabel rumit dan peralatan canggih yang menyala-nyala.

Di tengah ruangan itu, terdapat sebuah portal berbentuk lingkaran yang memancarkan energi berwarna ungu gelap. Ini adalah prototipe portal yang berhasil dibangun Stella menggunakan fasilitas dan teknologi perusahaan yang ia ambil alih.

"Sudah hampir selesai... Akhirnya aku berhasil mereplikasi teknologi ini meski dengan keterbatasan sumber daya masa kini," gumam Stella sambil mengamati data di layar kontrol di sampingnya.

"Energi sudah mencapai batas maksimal. Jalankan protokol pemanggilan!" perintah Stella.

Bzzzzzt!

Suara dengungan listrik yang keras terdengar memenuhi ruangan. Cahaya ungu di tengah portal itu semakin menyala terang, lalu tiba-tiba sebuah sosok robot kerangka yang mirip dengan sosok yang merasuki tubuh Stella keluar dari dalam pusaran energi itu dan jatuh terduduk di lantai laboratorium.

Stella tersenyum puas melihat keberhasilan itu. Namun, senyumnya segera lenyap saat melihat kondisi robot tersebut.

"Status unit?" tanya Stella.

[Peringatan. Struktur tubuh unit tidak stabil. Material yang digunakan tidak kompatibel dengan teknologi masa depan. Unit hanya berfungsi untuk satu kali pemakaian dan telah rusak total setelah melewati dimensi.]

Sosok robot itu bergetar hebat, lalu perlahan berubah menjadi debu logam dan komponen yang tidak berguna di hadapan Stella.

"Jadi, masih belum sempurna ya... Hahaha, tapi setidaknya ini adalah awal yang baik. Berhasil memanggil satu saja sudah membuktikan bahwa teoriku benar," ucap Stella sambil menatap sisa puing-puing robot itu.

"Ini baru permulaan. Selama aku memegang kendali atas Aegis, aku akan terus mengembangkan teknologi ini sampai sempurna. Saat itu tiba-tiba, pasukanku akan turun ke bumi dan tidak ada yang bisa menghentikanku," gumam Stella dengan tatapan tajam ke depan, memancarkan ambisi yang mengerikan.

...■▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎■...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!