NovelToon NovelToon
DHAHAR : Jangan Mati Di Rantau Naya

DHAHAR : Jangan Mati Di Rantau Naya

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:475
Nilai: 5
Nama Author: Mia AR-F

Ini cerita tentang rumah makan yang menu spesialnya, tumbal manusia.
Kabur enggak bisa. Resign taruhannya nyawa.

" Selamat bekerja dirumah makan Dermawan." Seru Pak Dermawan selaku pemilik usaha yang suaranya masih terngiang-ngiang layaknya mimpi buruk yang terus berulang.

Namaku Naya. Umur 21. Anak rantau. Dan inilah kisahku.

_

Tayang : 16 mei 2026
Tamat : 06 juni 2026

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mia AR-F, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13: Sunyi hari

RM DERMAWAN - 07:02 PAGI.

Langit mendung tapi nggak ujan.

Rumah makan sengaja dibuka lebih awal karena akan ditutup lebih awal juga, setiap tanggal 12 selama 3 bulan sekali. Sudah rutin.

Agus akan pulang ke rumah orang tuanya untuk berjumpa dengan sang istri. Zuan menginap di rumah temannya. Dan Nesya, di kontrakannya. Tak ada yang boleh di rumah makan setiap malam penumbalan.

Di papan tulis yang sengaja diletakkan, Zuan menulis dengan kapur.

'MENU SPESIAL HARI INI: SOTO DAGING- RP 13.000'

Tulisan "13.000" nya tebel. Digaris bawahin 3x.

Selalu ada menu spesial. Setiap tanggal 12 selama 3 bulan sekali yang sudah berlangsung selama hampir satu dekade.

Agus nge-lap meja no. 2. Gerakannya pelan. Muter-muter. Lap-nya itu-itu aja, tak pernah dicuci, atau dibersihkan. Meja udah bersih dari tadi. Matanya nggak ngedip. Pikirannya melayang jauh memikirkan sesuatu, sesuatu yang lebih rumit yang Agus sendiri tak bisa jelaskan. Perasaan rumit saat dia tahu seseorang akan terbunuh malam ini.

Zuan membuka buku bon, memegang pulpen tapi nggak nulis. Sesekali dia melirik ke laci karna ada energi aneh yang dia sendiri mulai bisa rasakan.

Nesya di dapur. Ngaduk kuah soto. Entah daging apa yang di gunakan, Nesya tahu jika itu bukanlah daging sapi, atau hewan lain.

Asepnya ngebul, tapi Nesya nggak batuk. Wajahnya datar. Kayak lagi ngaduk air doang, bukan kaldu. Hatinya terasa mati rasa. Beginilah hidupnya. Terlalu menyedihkan untuk dijelaskan.

Tak ada percakapan.

Cuma suara kipas angin gantung.

Pelanggan pertama dateng. Dan pelanggan yang lain juga mulai berdatangan.

Di luar ada yang ngetok meja membuat Agus sadar dari lamunannya yang belum juga pindah dari meja nomor 2.

"Soto daging satu, pake nasi. Menu spesial kan?" Tanya Bapak itu.

"Siap, Pak. Minumnya mau apa?" Tanya Agus.

"Teh anget aja gak pake gula." Jawab Bapak itu.

Agus mengangguk, lalu pergi ke dapur untuk memberitahu pesanan.

Pintu dapur di buka. Pandangannya bertemu dengan pandangan Nesya. Mereka sama-sama merasa canggung padahal biasanya tidak.

"Soto daging 1 pake nasi, teh tawar anget 1." Jelas Agus.

Nesya mengambil note lalu mencatat pesanannya.

Agus narok sendok, "Monggo."

Bapak itu tersenyum.

Nesya nyendok kuah. Tangannya agak gemetar. Dia tau betul daging apa yang sedang dia hidangkan. Dan soto itu udah pasti akan habis hari ini.

Semua pelanggan dan jual beli terjadi seperti biasa.

Rosa yang baru sampai di rumah makan Dermawan masuk ke dapur. Bau kuah soto sama anyir daging kecampur jadi satu.

"Aku mau review makanan mbak, buat promosi hari ini." Ujar Rosa. Suaranya santai, kayak nggak ada yang mati hari ini.

"Soto daging?" Tanya Nesya. Matanya nggak ngangkat dari panci.

Rosa mengangguk, "Aku juga sebenarnya jijik tapi itu kerjaku. Mbak juga kan? Sama-sama kerja."

Nesya diem. Tangan yang ngaduk kuah berhenti sedetik.

"Mbak, hidangkan satu buat aku bikin konten." Ujar Rosa.

Nesya naruh centong. Pelan. "Siapa tumbalnya, Sa?"

Senyum Rosa hilang. Diganti sama alis naik. "Yang jelas bukan, Mbak. Nggak usah kepo. Takutnya Mbak malah nggak bisa tidur. Kasihan."

Nesya ketawa kecil. Pahit. "Kamu pikir aku tidur, Sa? Sejak kamu dateng, yang tidur nyenyak cuma Pak Dermawan. Kita? Kita jaga neraka."

Rosa maju selangkah. Suaranya masih pelan, tapi tiap kata kayak ditimbang. "Mbak Nesya... Mbak sama Mang Agus itu dikasih gaji paling gede di sini. Duduk manis, masak, ngaduk. Nggak perlu nyari orang buat mati. Nggak perlu nanggung dosa kematian mereka."

Nesya menengadah. Matanya merah. "Terus? Kamu bangga jadi anj1ng yang nyari tumbal?"

Rosa senyum lagi. Kali ini dingin. "Aku bangga karena aku kepake, Mbak. Mbak sama Mang Agus cuma dipelihara. Kalau gentong enggak laper, Mbak kira Pak Dermawan masih butuh Mbak?"

Hening.

Suara kuah soto mendidih. Blubuk... blubuk...

Rosa ngambil mangkok sendiri dari rak. Naruh di meja. "Jadi mending Mbak ngaduk aja. Yang rajin. Biar besok-besok nama Mbak nggak ada di dalam mangkok itu."

Nesya nelen ludah. Tangannya gemeter, tapi dia nyendok kuah buat Rosa. Penuh. Meluber.

Rosa nerima mangkoknya. "Makasih ya, Mbak. Oh iya..."

Rosa noleh ke pintu dapur, terus balik lagi ke Nesya. Bisik. "Kalau Mbak mau ngelawan, ajak Mang Agus. Biar matinya rame-rame. Gentong juga suka yang borongan."

Nesya nggak jawab. Dia balik badan, ngaduk kuah lagi. Lebih kenceng. Kayak mau ngancurin pancinya sekalian.

Rumah makan terasa makin ramai karna menu spesial hari ini. Banyak pembeli baru yang datang karna melihat postingan yang Rosa posting di akun sosial media Rumah Makan Dermawan yang memang sudah punya basis pengikut ratusan ribu.

Sore harinya Pak Dermawan pake batik, sarungan, peci item. Di meja depan, Pak Dermawan duduk dengan Pak Kaji Solikin dan Cak Tarmidi, marbot masjid. Dua mangkok soto daging sudah kosong di depan mereka.

"Gimana, Pak Kaji? Cocok sama sotonya?" Tanya Pak Dermawan sambil nuang teh ke gelas.

"Wah, Pak Dermawan. Ini kok bisa gurih begini ya? Kuahnya kentel, dagingnya empuk. Bukan daging sapi biasa, ya?" Jawab Pak Kaji Solikin sambil ngusap kumis.

Pak Dermawan ketawa, "Ha... ha... ha... Itu resep keluarga, Pak Kaji. Dari kakek saya. Namanya juga 'Soto Daging Spesial'. Cuma keluar tiga bulan sekali. Hari ini aja."

Cak Tarmidi nimbrung, "Betul, Pak Kaji! Saya baru pertama kali nyoba ini. Ketagihan! Kalau masjid bikin acara, pesen ini aja gimana?"

"Silakan, Cak. Mau pesen berapa porsi? Saya kasih harga saudara." Tawar Pak Dermawan.

"Buat tasyakuran masjid, kira-kira 200 porsi, Pak. Kalau bisa." Jawab Pak Kaji Solikin.

"Bisa, Pak Kaji. 200 porsi." Pak Dermawan manggut-manggut, lalu melirik ke arah dapur. "Kalau mau nyicip dulu lagi, saya suguh. Gratis. Biar mantep."

Cak Tarmidi langsung noleh, "Wah, mantap itu! Ini soto yang masak siapa, Pak? Kok enak banget rasanya."

Pak Dermawan melambaikan tangan, "Sa, Rosa!"

Rosa nyamperin dengan senyum.

"Iya, Pak?" Sapa Rosa.

Cak Tarmidi langsung salah tingkah langsung menarik tangan Rosa lalu mengelusnya, "Eh... ini ya Mbak yang masak? Pantesan sotonya enak. Tangannya halus pasti kalau masak."

Rosa tetap senyum namun menarik tangannya, "Silakan, Pak. Saya Rosa. Kalau ada yang kurang, maaf ya."

"Enggak, Mbak. Sudah enak. Semoga berkah." Kata Pak Kaji Solikin.

Tiba-tiba Cak Tarmidi nepuk paha sendiri,"Pak Dermawan, maaf... saya ini udah lama merhatiin Mbak Rosa. Orangnya baik, masaknya enak. Saya mau ngelamar Mbak Rosa jadi istri saya yang keempat. Biar bisa saya cukupi lahir batin. Gimana, Pak?"

Hening. Kipas angin gantung bunyi ngiiing... tapi kerasa kayak jerit.

Agus di pojok berhenti ngelap meja.

Zuan di kasir meremas pulpen sampai patah. Krek.

Pak Dermawan noleh ke Rosa. Senyumnya nggak hilang, tapi matanya dingin, "Gimana, Sa? Kamu mau dijadiin istri ke 4 nya Pak Marbot?"

"Maaf, Pak. Saya nggak cari suami. Saya cuma kerja di sini."

"Lho, Mbak? Saya serius ini. Saya tanggung jawab dunia akhirat." Goda Cak Tarmidi lagi.

Pak Kaji Solikin langsung nyenggol lengan Cak Tarmidi, "Udah, Mid. Jangan ngawur. Istrimu 3 aja gak ke urus."

Pak Dermawan ketawa lagi, tapi kali ini pendek. "Ha... ha... Nggak apa-apa, Pak Kaji. Namanya orang laki."

"Rosa izin pamit, Pak."

Pak Dermawan mengangguk.

"Cantik bener si Mbak Rosa itu." Kagum Cak Tarmidi masih kesemsem.

Rosa balik badan, ninggalin meja. Sudah banyak yang memuji kecantikannya namun hatinya tetap tertuju kepada pacarnya yang kerja di Jakarta.

Cak Tarmidi masih mesem-mesem bodoh, nggak ngerti dia baru aja nawar istri ke penjaga neraka.

Rosa lewat, pandangannya ketarik ke pojok ruangan. Kosong. Tapi bulu kuduknya berdiri. Kayak ada yang ngintip dari dalem tembok.

Pelan, Rosa noleh ke etalase di sampingnya. Kaca etalase itu ngembun dari dalem, padahal nggak ada uap. Dingin.

Embunnya netes pelan, ngebentuk huruf. Satu-satu. Kayak ada jari mati yang nulis dari balik kaca.

N E R A K A

T E M P A T M U,

R O S A.

Di bawahnya, tanggal sama nama:

Sari 12/08

Rosa diem. Rosa tau siapa itu.

Dia nggak langsung ngelap. Dia deketin muka ke kaca. Nafasnya bikin embun baru, tapi tulisan itu nggak ilang. Malah makin jelas. Kayak Sari sengaja nahan napas Rosa biar kebaca semua.

Rosa bisik, datar, "Hantu penasaran itu... masih belum juga nerima kematiannya ya?"

Terus Rosa senyum. Tipis. Senyum orang yang udah kalah, tapi nggak mau keliatan kalah.

Rosa ngelap pake telapak tangannya, "Tidur, Sari. Jatah panggung kamu udah abis dari dulu, sekarang giliran Abel."

"Aku harus siap-siap untuk ritual Slametan gentong malam ini."

1
Sarah
Noooo! Abelllll Jangan matiiii! 🙅‍♀️😃
Sarah
Dari bahasa Sunda kah referensi kalimat dan nama tempat makannya sendiri? Atau bukan?
Sarah: Yahh... bahasa Jawa sama Sunda kayaknya emang banyak kata yang agak mirip deh. Dan kalau gak salah juga akar bahasanya sama sih. Meski tetep beda. Kalau di Sunda sih “Dhahar Kudu Wareg” itu kayak, “Makan Harus Kenyang” atau kalau konteksnya emang nama ya “Dhahar Harus Kenyang”. Meskipun di Sunda tulisan “Dhahar”-nya gak ada ‘H’-nya sih. “Dahar” aja, tapi bunyinya sama. Kalau di Jawa “Dhahar Kudu Wareg”-nya artinya apa tuh kak?
total 2 replies
Sarah
Kakaknya Naya menarik juga. Aku emang belum baca sampai jauh tapi jujur ada sedikit harapan dia bisa terlibat jugalah di cerita meskipun mungkin gak bisa bener-bener bantu tapi bisa disebut atau diceritakan lagi sih. Kayaknya dia tokoh yang potensial deh. Gimana dia yang cuek banget sama orang lain kayak gak ada ramah-ramahnya. (yang jujur agak curiga itu karena perjalanan merantau yang sulit juga. Selain entah karena mungkin itu emang sikap dasarnya.)
Mia AR-F: kk salsa mah udah tau dunia rantau sekeras apa 🥹
total 1 replies
Sarah
Maksudnya? Simak kah kak?
Mia AR-F: iya kk simak 🤭
total 1 replies
Sarah
Nama adalah doa. 😃
Sarah
Ngakak 😂
Sarah
Suasananya beneran hangat dan akrab banget yah? Biasanya kan seri horor atau thriller selalu ngasih suasana yang udah mencurigakan dan lingkungan orang-orang di sekitar yang sepi, individualis, dll. Tapi ini enggak, jadi makin serem karena yang terlihat aman ternyata ada sesuatu dibaliknya. Apalagi kalau terjadi di dunia nyata. 💀
Menarik sih, kalau ada waktu aku akan lanjut. 👍
Semangattt. 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!