Maira, seorang istri yang harus membagi penghasilan nya untuk istri dari kakak ipar nya yang sudah meninggal dunia.
Sang suami dan mertua hanya memanfaatkan uang nya, demi kepentingan mereka semua.
Tidak hanya itu, Suami nya, Azam malah menjalin hubungan dengan kakak ipar nya dengan alasan mau membantu janda kakak nya tersebut.
Mereka semua kelimpungan saat Maira memutuskan untuk tidak mau membantu lagi, dan menyerahkan semua nya pada Azam, suami nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
08
Hari ini Maira membawa mobil nya sendiri, sudah lama sekali Maira tidak membawa mobil ini.
"Syukurin berangkat kerja naik ojek!" Guman Maira sambil tersenyum.
Sementara itu di rumah, semua orang uring- uringan, karena Maira tidak memasak untuk sarapan semua orang. Azam juga sangat kesal, karena hari ini Maira pergi dengan membawa mobil.
"Zam, bagai mana ini? Masa Ayu ke sekolah belum sarapan sih?" Tanya Nia dengan wajah cemberut nya.
"Mbak, kan kemarin aku udah kasih uang sama mbak. Jadi mbak beli aja sarapan buat Ayu!" Azam memberi usul pada janda kakak nya tersebut.
"Ya gak bisa gitu lah Zam, kan makan kami di tanggung kalian loh!" Nia menolak mengeluarkan uang, sekalipun itu untuk anak nya sendiri.
"Mbak, uang itu dari aku juga kan? Jadi sekarang mbak gunakan saja buat beli makanan!" Ujar Azam lagi.
"Itu kan uang buat aku Zam, buka buat kebutuhan nya Ayu. Istri kamu tuh nyebelin banget, masa dia belum kirim uang sih sama aku!" Omel Nia dengan kesal.
"Terserah deh, jika mbak gak mau beli sarapan dengan uang itu, silahkan mbak lihat anak mbak kelaparan!" Azam mulai jengah dengan sikap ipar nya tersebut.
"Ibu juga laper Zam, biasa nya jam segini udah sarapan!" Mama Wina berkata sambil mengusap perut nya.
"Mama juga, aku udah kasih uang pas gajian kemarin, jangan bilang uang nya udah habis?" Azam berkata sambil menatap mata Mama nya.
"Uang itu mau Mama simpan buat beli perhiasan lah, lagian kan saat ini Maira belum kirim uang sama Mama!" Sama seperti Nia, bu Ana tidak mau mengeluarkan uang nya walaupun sekedar membeli sarapan.
"Ya udah deh, terserah jika kalian sanggup menahan lapar!" Azam pun segera memakai sepatu nya.
Dia ingin segera berangkat ke kantor, keadaan di rumah nya pagi ini benar - benar telah menguras emosi nya. Gara - gara Maira yang tidak mau memasak, semua orang harus ribut prihal makanan hari ini.
Azam langsung berangkat ke kantor nya, karena jika dia tetap di rumah, maka semua orang pasti meminta uang pada nya untuk membeli sarapan. Padahal mereka semua sudah mendapat kan jatah nya masing - masing saat dia gajian kemarin, hanya Maira yang sama sekali tidak dia berikan uang gaji nya.
Maira saat ini sudah tiba di kantor nya, keadaan masih sepi karena memang jam kerja belum di mulai. Marsya yang tadi memang belum sarapan di rumah, langsung pergi ke kantin. Dia memesan seiring nasi goreng dan segelas teh hangat, dia menikmati sarapan nya dengan santai karena tidak ada yang mengganggu nya.
Saat ini Arini, sang sahabat sudah tiba di kantor. Dia heran melihat mobil Maira sudah nangkring di parkiran, karena selama ini Maira hampir tidak pernah lagi membawa mobil nya lagi setelah dia menikah dengan Azam.
"Wah, tumben ni anak bawa mobil sendiri?" Arini bertanya pada diri nya sendiri.
Karena merasa penasaran, Arini langsung pergi ke ruangan nya Maira tapi dia tidak menemukan Maira di sana.
"Kemana dia? Mobil nya udah ada di parkiran tapi orang nya tidak ada!" Guman Arini lagi.
Arini langsung menelepon Maira untuk menanyakan di mana dia selarang.
"Hallo Mai, kamu di mana?" Tanya Arini dengan suara keras.
"Aku di kantin Rin, aku belum sarapan. Ayo ke sini, kita sarapan bareng!" Terdengar suara Maira di seberang sana.
"Ya udah deh, aku susul kesana!" Arini pun memutuskan sambungan telepon nya dan langsung menemui Maira.
Arini bergegas menyusul sahabat nya, dia penasaran dengan kejadian nya. Karena tidak biasa nya Maira ke kantor membawa mobil sendiri.
"Mai, tumben kamu bawa mobil?" Tanya Arini dengan heran.
"Aku pengen ke rumah Mama sepulang kerja nanti!" Jawab Maira sambil menyuapkan nasi goreng ke dalam mulut nya.
"Gimana reaksi Azam dan mertua mu saat mobil kau bawa?" Tanya Arini lagi dengan antusias.
"Ya gak gimana - gimana, cuma sedikit syok aja. Kan gak biasa nya aku bawa mobil, ku minta aja dia naik ojek ke kantor nya!" Jelas Maira sambil tersenyum.
"Ha ha ha, gak bisa ku bayangkan gimana muka nya. Pasi seru banget ya, suami mu kan gengsi orang nya, sekarang turun derajat naik ojek!" Arini tertawa membayangkan muka kesal Azam.
Sementara Maira sedang menghabiskan sarapan nya, di rumah sedang kesal. Nia dengan sangat terpaksa mengeluarkan uang nya untuk membeli sarapan putri nya, karena memang tidak ada sarapan seperti biasa nya.
"Ma, Mama harus tegas sama Maira, lihat lah sekarang dia berbuat sesuka hati nya. Mana belum transfer lagi!" Nia mulai menghasut ibu mertua nya.
"Iya Ma, mbak Nia bener. Masa dia biarkan kita semua kelaparan seperti ini!" Lara yang baru saja bangun tidur ikut menimpali.
"Kalian semua benar, Maira sudah sangat keterlaluan. Harus nya sebagai istri nya Azam, dia melayani kita semua. Tapi sekarang Maira udah berubah dan Mama tidak akan biarkan itu terjadi!" Mama Wina geram dengan Maira.
"Ma, sekarang sebaik nya Mama telepon Maira dan paksa dia kirim kan uang buat kita, aku tidak percaya dia bilang belum gajian. Dia pasti mau menguasai gaji nya sendiri!" Nia tidak nisa menunggu lagi, bagi nya uang Maira juga milik nya.
"Baik, sekarang juga Mama akan telepon Maira!" Mama Wina langsung mengambil ponsel nya dan menelepon sang menantu.
Panggilan pertama, panggilan kedua tidak di jawab oleh Maira, Mama Wina semakin kesal karena Maira mengabaikan panggilan dari nya.
"Dasar mantu sialan, dia pasti sengaja gak mau angkat panggilan dari ku!" Omel Mama Wina dengan geram.
Mama Wina kembali mencoba, dan pada panggilan ketiga baru di jawab oleh Maira.
"Heh, kamu sengaja ya gak mau angkat panggilan dari Mama?" Bentak Mama Wina saat panggilan nya di jawab oleh Maira.
"Mama ngapain lagi telpon aku pagi - pagi begini? Aku sibuk, may kerja!" Balas Maira dengan ketus.
"Berani nya kamu bicara seperti itu, aku ini Mama mertua mu!" Semprot Mama Wina yang tidak terima dengan ucapan Maira.
"Katakan Ma ada apa? Jangan bertele - telepon, aku mau kerja!" Ujar Maira dengan tegas dari seberang sana.
"Maira, Mama tidak mau tahu, hari ini juga kamu harus mengirimkan uang pada kami seperti biasa nya. Buat Mama, buat Lara dan juga Nia, tidak ada alasan lagi!" Mama Wina memaksa Maira.
"Maaf Ma, mulai hari ini Mama bisa minta langsung uang nya sama Mas Azam. Dia kan anak Mama, jadi dia lah yang bertanggung jawab terhadap kalian semua nya!" Jawab Maira tegas dari seberang sana.
"Maira, jangan kurang ajar kamu. Cepat kirim kan uang nya sama kami sekarang juga!" Bentak Mama Wina lagi.
"Ma, aku ini cuma staf biasa jadi gaji nya tidak seberapa, sedang kan mas Azam kan seorang manager, jadi sudah pasti gaji nya besar dan Mama sama yang lain nua bisa minta sama mas Azam!" Ujar Maira lagi.
Tut, tut, tut, panggilan telepon pun langsung di putus kan secara sepihak oleh Maira.
rasa sakit itu akan menjadi dasar balas dendam mu, kau harus bangkit berdiri dan lawan semua musuh mu.. TATAKAE TATAKAE
LAKNATULLAH... AYO SEMUA NYA TERIAK LAKNATULLAH