Hari yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Humairah berubah menjadi mimpi buruk saat Abraham, calon suaminya, melarikan diri tepat sebelum akad nikah dimulai karena ketidaksiapan mental. Demi menutupi aib besar keluarga, ayah Abraham—seorang Kyai terpandang—mengambil keputusan nekat untuk menikahkan putranya, Ustadz Fathan Kareem,yang sekaligus kakak Abraham untuk menggantikan posisi mempelai pria.
Fathan akhirnya mengucap ijab kabul. Namun, di balik wajah tenangnya, Fathan menyimpan luka masa lalu yang belum sembuh akibat pengkhianatan mantan kekasihnya. Ia membangun tembok tinggi di hatinya dan menegaskan sebuah janji dingin kepada Humairah di malam pertama mereka:
"Kita menikah hanya di atas kertas. Jangan harapkan hati, apalagi cinta."
Kini, Humairah harus berjuang dalam pernikahan tanpa kasih sayang, sementara Fathan terus berperang dengan traumanya. Akankah ketulusan Humairah mampu meruntuhkan dinding ustadz.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Suara deru mobil yang berhenti di depan gerbang pesantren membuat jantung Humairah berdegup kencang.
Itu suara mobil Abi Sasongko. Kerinduan yang sudah membubung tinggi di dada seolah ingin meledak saat itu juga.
Di tengah uap nasi kebuli yang harum, Humairah terburu-buru mematikan kompor.
Ia segera mengambil kain hitam yang tersampir di dekatnya, mengikat tali cadar itu dengan tangan sedikit gemetar.
Ia tahu Nyai Latifah tidak suka, tapi ia merasa lebih aman menyembunyikan wajah sembapnya di balik kain itu.
Fathan muncul di ambang pintu dapur, menatap istrinya dalam diam sejenak.
"Abi dan Umi sudah di depan. Ayo keluar," ucapnya singkat, datar tanpa emosi.
Humairah mengangguk patuh, berjalan di belakang Fathan menuju ruang tamu yang sudah sangat rapi.
Begitu ia melangkah masuk, sosok Abi Sasongko dan Umi Mamik langsung tertangkap matanya.
"Assalamualaikum," lirih Humairah.
Kedua orang tuanya berdiri seketika, namun langkah mereka terhenti.
Mata Abi Sasongko membelalak, sementara Umi Mamik menutup mulutnya dengan tangan.
Mereka terkejut melihat putri satu-satunya, yang saat berangkat menikah masih menampakkan wajah cantiknya, kini tertutup rapat oleh cadar hitam.
"Sayang, apakah kamu baik-baik saja?" tanya Umi Mamik dengan suara bergetar, matanya mulai berkaca-kaca menatap sosok putrinya yang tampak asing namun sangat dirindukannya.
Tanpa mampu berkata-kata lagi, Humairah langsung berlari kecil dan menghambur ke dalam pelukan kedua orang tuanya.
Ia memeluk Abi Sasongko dan Umi Mamik dengan sangat erat, seolah tak ingin melepaskan mereka lagi. Isak tangis tertahan pecah di dada Abinya.
"Humairah baik-baik saja Abi... Umi... Humairah baik-baik saja," bisik Humairah di balik cadar.
Ia berusaha keras menetralkan suaranya agar tidak terdengar seperti orang yang sedang menderita, meski batinnya menjerit sebaliknya.
Di sudut ruangan, Nyai Latifah yang sedang menata gelas mendengus kesal.
Suara dengusannya cukup keras untuk didengar semua orang.
Abi Sasongko perlahan melepaskan pelukan itu, matanya menatap tajam ke arah Fathan yang berdiri mematung tak jauh dari sana.
"Apakah semuanya baik-baik saja, Fathan? Apakah kamu memaksa Humairah memakai cadar ini? Mengapa ia berubah drastis?"
Suasana menjadi tegang. Fathan hendak menjawab, namun Abi Sasongko melanjutkan dengan suara yang tenang namun berwibawa, menerangkan sebuah hadis tentang cadar dan bagaimana syariat tidak pernah memberatkan seorang wanita secara paksa jika bukan karena ketulusan hati.
"Abi, Ustadz Fathan tidak memaksaku," potong Humairah cepat, mencoba menyelamatkan suaminya.
Ia berbohong demi menjaga martabat keluarga Kyai Umar.
"Ini murni keinginan Humairah sendiri agar lebih tenang di pesantren."
Nyai Latifah kembali bersuara dengan sindiran yang menusuk, "Istri itu memang harus ikut apa kata suami. Kalau memang keberatan atau merasa tidak sanggup dengan aturan di rumah ini, ya bisa kok cerai. Tidak usah dipaksakan kalau merasa terbebani."
"Astaghfirullah!" Umi Mamik mengelus dadanya, syok mendengar kata 'cerai' keluar begitu mudah dari mulut seorang mertua di pertemuan pertama mereka.
Kyai Umar yang sejak tadi menyimak langsung berdehem keras, sebuah teguran tanpa kata yang membuat Nyai Latifah seketika bungkam dan memilih kembali ke dapur dengan wajah bersungut-sungut.
Kyai Umar menatap Humairah dengan lembut. "Nak, lepaskan saja cadarmu jika kamu merasa tidak nyaman di depan orang tuamu sendiri. Rumah ini adalah tempatmu pulang."
Lalu, Kyai Umar dengan penuh kearifan membacakan ayat Al-Qur'an tentang batasan wanita dalam menutup aurat serta kelapangan dalam beragama. Suasana yang tadinya panas kembali mendingin.
Dengan perlahan dan tangan yang masih sedikit gemetar, Humairah melepas tali cadarnya.
Saat kain itu luruh, tampaklah wajah ayu yang terlihat sedikit lebih tirus dan mata yang memerah.
Abi Sasongko dan Umi Mamik tersenyum pilu, setidaknya mereka bisa melihat kembali wajah putri kesayangan mereka, meski mereka tahu ada sesuatu yang disembunyikan di balik senyuman itu.
Sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan kediaman Kyai Umar.
Sarah turun dengan gaya anggun, mengenakan pakaian bermerek yang mencolok.
Ia melangkah masuk dengan penuh percaya diri, seolah rumah itu adalah wilayah kekuasaannya.
Nyai Latifah yang melihat kedatangan Sarah langsung memasang wajah terkejut yang dibuat-buat, meski sebenarnya beliaulah yang merancang pertemuan ini.
"Aduh, masya Allah! Gadis lulusan S2 kita sudah datang!" seru Nyai Latifah dengan suara lantang, sengaja agar didengar oleh Abi Sasongko dan Umi Mamik.
"Fathan, cepat temani Sarah duduk. Kasihan dia sudah jauh-jauh datang ke sini, pasti lelah."
Fathan hanya terdiam, namun ia tak membantah perintah ibunya.
Sementara itu, Kyai Umar yang menyadari suasana mulai tidak nyaman segera beralih pada Fathan.
"Fathan, ambilkan pastel buatan Humairah dan berikan kepada mertuamu. Biar mereka mencicipi masakan putri mereka sendiri."
Fathan mengangguk patuh, beranjak menuju meja untuk mengambil piring berisi pastel hangat.
Di ruang tamu, Abi Sasongko menyesap tehnya perlahan.
Matanya yang tajam menatap Sarah yang duduk di depan mereka dengan sikap angkuh.
"Nak Sarah, tadi Nyai bilang kamu lulusan S2 Mesir?" tanya Abi Sasongko membuka percakapan.
Sarah tersenyum bangga, membetulkan letak tas mewahnya.
"Iya, Pak. Saya baru saja menyelesaikan magister saya di sana."
"Ooh, di Mesir," Abi Sasongko mengangguk-angguk kecil.
"Berarti seharusnya kamu mengenal Humairah. Dia juga lulusan S2 di sana, bahkan meraih predikat cumlaude."
Mendengar itu, Sarah yang sedang menyesap tehnya tiba-tiba terbatuk-batuk hebat.
Wajahnya yang tadi penuh riasan mendadak pias. "S2? Cumlaude? Bukannya Humairah ini hanya lulusan SMA dari kampung?"
Abi Sasongko tertawa kecil, suara tawa yang tenang namun penuh wibawa.
Ia menoleh ke arah putrinya yang duduk menunduk di samping Umi Mamik.
"Humairah, kamu belum memberitahu Kyai Umar dan keluarga di sini kalau kamu bukan lulusan SMA?" tanya Abi Sasongko dengan nada lembut namun menyelidik.
Humairah menggelengkan kepalanya perlahan. "Belum, Abi. Humairah rasa itu tidak perlu dibanggakan di depan orang lain."
Kyai Umar tertegun. Beliau menatap menantunya dengan pandangan yang sulit diartikan—antara bangga dan sesal yang amat mendalam.
Beliau teringat bagaimana selama ini Humairah hanya dibiarkan di dapur seolah ia wanita tak berilmu.
"Masya Allah. Jadi selama ini kami memiliki seorang cendekia di rumah ini?" lirih Kyai Umar. Beliau kemudian mendesah panjang.
"Abi sangat menyesalkan ini. Mengapa Abraham, adikmu itu, bisa-bisanya membuang permata sepertimu? Dia membuang wanita yang sesempurna ini hanya karena ketidakpahamannya."
Kyai Umar lalu melirik ke arah Fathan yang mematung dengan piring pastel di tangannya.
"Fathan, lihatlah istrimu," ucap Kyai Umar dengan nada menyindir yang halus namun menusuk.
"Ternyata kamu tidak hanya mengabaikan seorang istri, tapi kamu juga sedang menyia-nyiakan seorang alimah yang ilmunya mungkin jauh lebih luas daripada egomu. Kamu sibuk mencari yang 'berpendidikan' di luar, padahal mutiara itu sudah ada di dalam kamarmu sendiri."
Fathan terpaku. Piring pastel di tangannya terasa sangat berat.
Ia menatap Humairah yang tetap diam, menyadari bahwa selama dua bulan ini, ia telah memperlakukan seorang lulusan terbaik Mesir seperti seorang pelayan kasta rendah.
gak usah toleh lagi laki modelan begitu...
kau berhak bahagia....
dari pada dari pada..
lanjut thor🙏
apalagi anaknya sifatnya sama tidak jauh dari Mak lampir
ayo humaira kabur aja jangan tahan dipenjara sok suci ini
melawan si..
bantah sesekali Maklampir....
dan tinggalin Ajja si laki yg model begituan... GK adahatinya sama sekali...
sempah akubacanya sambil nangis 😭😭😭