Sheza diculik ketika usianya 7 tahun, dan bibinya meninggal diduga karena telah menyelamatkannya saat itu. Karena dianggap berhutang nyawa, dia benar-benar harus merelakan tempat dan posisinya digantikan sang sepupu Karen. Kedua orang tuanya mengabaikannya, memprioritaskan Karen.
Bahkan tunangannya Alex, juga melakukan hal yang sama. Hingga malam itu, satu minggu sebelum bertunangan, Sheza melihat Alex dan Karen berciuman di villa mereka, villa yang katanya dibeli Alex untuk Sheza.
Sejak saat itu, Sheza sudah tak berharap lagi pada keluarga dan tunangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Perusak Suasana
Vins berdiri di dekat Jendra. Dia mengatakan kalau kakak tirinya, William Fernando sudah kembali ke negara ini.
"Tuan William sudah kembali. Dari bandara dia langsung pergi ke kediaman Kenz. Tuan besar mengatakan, akan mengumumkan masalah pewaris itu bulan depan. Aku rasa tuan William sekarang sedang berusaha keras menarik simpati dan perhatian tuan besar!"
Jendra hanya terkekeh.
"Memangnya kenapa kalau dia menjilatt disana. Si Tua itu bahkan tidak sadar, dia hanya punya cangkang kosong sekarang! tapi, tetap awasi si licik itu. Dia benar-benar akan melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang seharusnya memang bukan miliknya. Daripada menyerahkan semua itu padanya. Aku lebih real memberikannya pada pengemis di jalan!"
"Baik tuan!"
"Bagaimana dengan penyelidikanmu tentang kejadian beberapa tahun yang lalu itu. Apa Sheza benar-benar di selamatkan oleh bibinya itu?" tanya Jendra.
"Kejadian itu sudah sangat lama tuan. Sudah lebih dari 15 tahun, kami masih butuh waktu. Paling lama satu minggu lagi!"
"Baiklah, pergilah sekarang. Ingat untuk terus jaga Sheza dari jauh!"
"Baik tuan!"
Pintu itu kembali tertutup, sebenarnya Jendra ingin sekali pergi ke kamar Sheza. Tapi, terlalu agresif bukankah tidak baik juga. Khawatirnya nanti Sheza malah takut pada Jendra.
Sementara di kamarnya, Sheza masih terdiam di atas tempat tidur. Menyelimuti seluruh tubuhnya sampai kepala dengan selimut.
'Pria itu sangat berbahaya! hampir saja, dia menyentuh...' Sheza tak berani memikirkannya lagi.
Tangan Jendra itu, jelas tadi hampir menyentuh perutnya. Benar-benar langsung bersentuhan antara kulit dengan kulit. Dan hal itu membuat dada Sheza berdebar begitu kencang.
**
Di tempat berbeda, di waktu yang juga sudah jauh berbeda dari kemarin. Alex masih berusaha mengetahui keberadaan Sheza.
"Mencari tempat tinggal satu orang saja, kalian benar-benar...!" Alex mengeram marah.
Dia menatap tidak senang ke arah anak buahnya yang bahkan sampai saat ini tidak bisa menemukan tempat tinggal Sheza.
"Maaf tuan, tapi nona tidak menggunakan transaksi apapun..."
"Kartu Sheza memang diblokir oleh paman!" sela Karen yang masuk ke kantor Alex bahkan tanpa mengetuk pintu.
Alex yang mendengar itu segera menoleh ke arah Karen.
"Di blokir? lalu Sheza akan tinggal dimana? bagaimana dia bisa..."
"Kamu lupa, bukannya dia sudah jadi simpanan pria kaya dan berkuasa?" sela Karen lagi.
Alex terdiam dengan tangan terkepal dan rahang yang terlihat berubah menjadi sangat tegas.
"Aku sudah membujuk paman dan bibi untuk mengembalikan kartu mereka. Tapi, sepertinya mereka tidak mau!"
"Aku akan cari dia...!"
"Alex, aku ikut. Mungkin saja dia ada di mall, sedang menghabiskan uang pria kaya itu! aku tahu dimana toko-toko favoritnya!"
Alex hanya mendengus pelan lalu berjalan keluar dari kantornya. Karen tersenyum licik dan mengikuti langkah Alex. Orang yang begitu pandai memanipulasi seperti Karen, sebenarnya tidak pernah punya niat untuk membantu siapapun. Semua yang dia lakukan, adalah untuk membantu dirinya sendiri.
Dan benar saja, karena memang tidak punya pekerjaan dan malas saja bersama dengan Jendra di rumah. Takutnya malah pria itu kembali menghipnotisnya, ya meski tidak dalam artian menghipnotis yang sebenarnya. Tapi pria itu bisa membuat Sheza tidak bisa mengalihkan pandangannya ke arah lain. Itu cukup berbahaya untuk wanita polos seperti Sheza.
Jadi, dengan alasan ingin cari baju baru. Dia keluar rumah. Dan yang lebih membuatnya senang, Jendra memberikan kartu tanpa batas untuknya.
Sheza sudah berada di toko pakaian dengan merek yang sangat berkelas. Dia sedang membeli sebuah gaun, dia sedang memilihnya.
Sampai dua manusia yang akan segera menyingkirkan senyumnya dan merusak mood belanjanya masuk ke toko itu.
"Aku benar kan? dia ada di sini!"
Karen bicara dengan nada sinis. Dan tanpa banyak menunggu lagi. Alex segera berjalan mendekati Sheza yang masih sibuk menentukan warna apa yang akan dia pilih untuk gaun yang sudah dia tetapkan harus menjadi miliknya itu.
"Sheza, pertunangan kita tinggal lusa. Dan kamu tidak memberiku kabar sama sekali? kenapa kamu blokir nomorku?"
Sheza yang mendengar suara Alex, segera mendengus kesal. Ketenangan dan kesenangannya akan hilang dalam sekejap.
"Sheza..."
"Aku tidak tulii!" kata Sheza yang berusaha menahan emosinya.
Dia sedang berada di toko besar, dimana tidak akan ada toleransi untuk orang-orang yang membuat keributan. Jadi, dia berusaha menahan emosinya.
"Sheza, kita akan bertunangan. Jangan menghindari aku terus. Buka blokir nomorku. Ayah dan ibuku terus menanyakan mu, kita bahkan belum fitting pakaian..."
"Ssttt!"
Sheza meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya sendiri. Memberikan isyarat, agar Alex diam.
"Sheza, kenapa bersikap seperti itu pada Alex. Dia calon tunangan mu!"
Dan suara cempreng yang paling dia benci di dunia ini semakin menguji kesabaran Sheza.
Sheza segera menoleh ke arah Karen.
"Sudah tahu dia calon tunanganku, kenapa malah menciumnya. Mengatakan kamu mencintainya. Sebenarnya siapa yang mau kamu bodohi?" tanya Sheza dengan tegas pada Karen.
"Sheza, aku tidak bermaksud begitu!"
"Kalian berdua itu sama saja. Lagian aku sudah bilang, aku merestui kalian. Kenapa juga masih menggangguku?" kesal Sheza memalingkan wajahnya.
"Sheza!"
Alex malah kembali berada di depan Sheza.
"Kita sudah di jodohkan sejak kecil. Satu-satunya wanita yang akan menjadi istriku hanya kamu. Kakek bilang, dia tidak akan menerima cucu menantu lain kecuali kamu. Apapun yang kamu inginkan, aku akan berikan. Kita pulang ya!" Alex terus membujuk Sheza.
"Apapun yang aku inginkan?" tanya Sheza.
Alex segera mengangguk tanpa ragu.
"Iya, apapun yang kamu inginkan!" tegas Alex.
Sheza menyeringai.
"Tampar dia 10 kali!" kata Sheza menunjuk ke arah Karen.
Karen spontan menutupi kedua pipinya dengan kedua telapak tangannya.
"Alex..." panggil Karen dengan tatapan memelas.
"Sheza, 10 kali..." Alex juga tidak tega kalau menampar Karen sebanyak itu.
"Sudah aku duga! bualan mu terlalu menyebalkan!"
Sheza melihat ke arah kasir.
"Mbak, saya mau gaun ini. Bungkus saja!"
"Sheza, aku akan membelikannya untukmu!"
Tapi Sheza sama sekali tidak mau mendengarkan ucapan Alex.
"Baiklah, nona. Ini gaunnya, silahkan pembayarannya!"
Sheza mengeluarkan kartu hitam tanpa batas dari tasnya.
"Sheza, itu..."
Kartu itu di gesekkan ke mesin.
'Pembayaran berhasil, 15 juta rupiah'
Mata Karen melebar. Satu gaun saja Sheza bisa membelinya dengan harga semahal itu.
'Siapa pria yang bersama Sheza itu sebenarnya? dia kaya sekali!'
"Terima kasih, mbak"
Sheza meraih paper bag itu dan kembali menyimpan kartunya.
"Sheza, kartu itu milik siapa? Sheza kamu tidak benar-benar menjual tubuhmu kan?"
Sheza menghentikan langkahnya, dia tadinya benar-benar tidak ingin berkelahi. Tapi ucapan Alex. Benar-benar membuat kesabarannya terkikis.
"Apa kamu bilang!" tanya Sheza dengan tatapan marah.
***
Bersambung...