Kartini berparas ayu tapi gemuk bekerja sebagai perawat kakek jompo yang bernama Chandresh. Walaupun berbadan gendut, Kartini bekerja dengan gesit dan merawat kakek seperti orang tuanya sendiri. Ketulusan hati Kartini membuat Chandresh kakek kaya raya itu ingin menjodohkan Kartini dengan cucunya yang bernama Arga Dhiendra Chandresh.
Arga menolak tegas karena ia sudah mempunyai kekasih yang bernama Nadine, tetapi ancaman kakek akan menggantikan posisi jabatan Ceo yang Arga emban kepada saudara sepupunya bila tidak mau menikahi Kartini membuat Arga Dhirendra bingung untuk ambil keputusan.
Nah, apakah Arga akhirnya menerima Kartini sebagi Istri? Kita ikuti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Pagi itu Kartini mendengar rintihan Arga. Ia naik ke tempat tidur memegang dahi suami kontraknya itu. "Panas sekali" batin Kartini cemas.
Kartini menarik tangannya dari dahi Arga hendak turun mengambil obat dan kompres, namun tanpa Kartini duga, tangan Arga merangkul tengkuknya.
Dag dig duk der dada Kartini. "Awas Bos," Dia hendak melepas tangan Arga, tapi Kartini kali ini merasa tidak berdaya, bukan tenaganya yang lemah, tapi perasaan yang tidak menentu itulah penyebabnya. Apa lagi wajah mereka kini hanya berjarak beberapa sentimeter. Napas Arga memburu dan terasa hangat menerpa wajah Kartini. Mata Arga masih terpejam rapat, rupanya sedang mengigau.
"Nadine... Jangan pergi..." bisik Arga parau, terdengar sangat lembut dan memohon.
Jantung Kartini serasa berhenti berdetak, tentu saja semakin kesal karena pria itu mengira dirinya adalah Nadine.
"Jangan tinggalkan aku... Aku sayang sama kamu, Nadine..." lanjut Arga lagi, kali ini ia menarik tengkuk Kartini hingga wajah Kartini membentur wajah Arga.
"Bos... Bangun..." Kartini berteriak tepat di telinga Arga agar tersadar dari mimpinya.
Namun, Arga tak kunjung sadar. Ia justru mencium bibir Kartini dengan rakus. "Kamu cantik sekali hari ini, Nadine... Maafin aku ya..."
"Duh!" Arga merasakan bibirnya digigit.
Kesempatan itu Kartini gunakan untuk lepas dari Arga.
"Saya Kartini, bukan Nadine, istri kontrak yang selalu kamu hina!" Sewot Kartini, sembari bangkit dari tempat tidur. Dia merapikan bajunya yang berantakan lalu turun. Kartini memeganggi bibirnya penuh sesal kenapa ciuman pertama dirampas pria yang sama sama sekali tidak mencintainya? Dengan perasaan campur aduk, Kartini keluar kamar untuk mengambil air hangat dan obat penurun panas, meninggalkan Arga yang masih terus memanggil nama wanita lain dalam tidurnya.
Tidak lama kemudian Kartini mengompres dahi Arga, walau kesal ia tetap melakukan dengan lembut. Pria itu diam pasrah ketika Kartini mengurusnya.
Hingga akhirnya demam Arga sedikit turun dan kembali tidur nyaman, Kartini berjalan keluar kamar, menutup pintu perlahan agar suaranya tidak mengganggu tidur pria itu.
Kartini ke dapur dengan sigap mengambil segengam beras, mencucinya bersih, lalu memasukkannya ke dalam panci berisi air mendidih hendak membuat bubur untuk sarapan Arga dan juga kakek.
"Kartini masak apa?" Tanya Milah yang membawa bak hendak menjemur pakaian ke loteng, melihat Kartini sedang sibuk di dapur lalu berhenti.
"Aku membuat sarapan untuk Mas Arga yang lagi sakit, Mbak," jawab Kartini sambil mengiris bumbu hendak membuat bawang goreng.
"Tuan Arga sakit?" Milah terkejut.
"Masuk angin sepertinya," Kartini menceritakan jika tadi malam Arga pulang kehujanan.
"Kan, aku bilang apa, Den Arga sakit beneran," Bibi yang baru dari kamar mandi menyela. Ia sudah mengira sejak malam tadi ketika membuka pagar, wajah Arga tampak pucat dan kedinginan. Bibi tahu bahwa tuan muda itu sejak kecil tidak pernah main hujan-hujanan.
"Sudah saya kompres kok Bi," Kartini minta bibi jangan khawatir.
"Aku titip Kakek dulu ya, Mbak," Kartini minta Milah untuk mengurus kakek terlebih dahulu, karena ia sedang mengurus Arga.
"Tentu saja," jawab Milah lalu naik tangga.
Kartini melanjutkan memasak, tentu saja bukan hanya membuat bubur biasa, tapi bubur yang enak agar nafsu makan Arga dan kakek meningkat.
Dengan terampil tangan Kartini mengaduk adonan bubur di atas kompor. Api dikecilkan, membiarkan beras itu hancur menjadi lembut. Tak lupa ia merebus dada ayam, lalu menyuwirnya halus sebagai taburan. Ditambahnya sedikit jahe agar hangat di tenggorokan. Sedikit garam, kaldu bubuk, dan bawang goreng agar rasanya pas.
Aroma harum masakan segera memenuhi dapur. Kartini tersenyum kecil melihat hasil masakannya. Bubur itu terlihat sangat menggugah selera, hangat, dan pas untuk orang sakit.
"Aku pastikan kamu akan ketagihan, Bos," gumamnya sambil mematikan kompor. Kartini berharap Arga lama-lama sadar siapa yang ia butuhkan saat seperti ini. Kartini tidak berharap dicintai karena dihatinya pun sudah ada Teguh, tapi yang Kartini inginkan Arga tidak terus menghina.
Ia menuangkan bubur panas itu ke dalam mangkuk, menata suwiran ayam dan daun bawang di atasnya dengan rapi, lalu berjalan kembali ke kamar dengan nampan di tangan. Tiba di kamar, ia meletakkan nampan di meja samping tempat tidur, lalu mendekat ke arah Arga.
"Bos, bangun, sarapan dulu," Kartini membangunkan Arga dengan cara menggoyang kakinya pelan.
"Nggak mau... nggak lapar..." gumam Arga, lalu memalingkan wajah ke samping, perutnya sama sekali tidak merasakan lapar.
"Makan dulu sedikit, bukankah Bos butuh tenaga? Kalau nggak makan tidak bisa marah-marah lagi," Kartini menyindir.
"Apa kamu bilang?!" Arga mencengkeram pergelangan tangan Kartini tapi tidak terasa sakit.
"Sudah saya bilang kan, Bos tidak punya tenaga, makannya sarapan dulu," Kartini membantu Arga bangun, belakangannya ia ganjal bantal hingga posisi duduk bersandar.
Kartini mengambil mangkuk menyendok bubur yang masih panas meniupnya agar tidak terlalu panas, lalu mendekatkan ke bibir Arga.
"Nggak mau, kamu jorok banget, ludah kamu itu masuk ke bubur, gue bukan sembuh malah tambah sakit!" Arga marah-marah aeolah jijik.
"Halah, Bos, belum lama tadi kamu kan menyedot ludah saya!" Kartini ingat ketika Arga mencium bibirnya tadi.
"Apa kamu bilang?" Arga tentu marah karena ia melakukan itu di luar kesadaran.
"Sudahlah Bos. Buka mulut," perintah Kartini tidak mengganti bubur di sendok, jika Arga tetap menolak, ia akan meninggalkan kamar, lebih baik mengurus kakek.
"Aku bilang nggak mau..." Arga mencoba menolak lagi.
"Ya sudah, saya mau ke kamar Kakek saja," Kartini akhirnya menyerah menata mangkuk di dalam nampan hendak pergi, tapi baru dua langkah Arga berseru.
"Mau," Arga merasa tubuhnya terlalu lemah untuk bergerak, apa salahnya mendengarkan nasehat Kartini. Dengan berat hati, ia akhirnya membuka mulutnya dan menelan suapan pertama. Awalnya ia mengira rasanya akan hambar seperti makanan orang sakit pada umumnya, tapi lidahnya langsung menangkap rasa gurih dan hangat sangat nikmat. Aroma jahe dan kaldu ayam terasa pas di tenggorokannya yang kering.
Kartini terus menyuapi dengan sabar. Tangan gemuknya bergerak lincah, satu suapan demi suapan masuk ke mulut Arga.
Dalam waktu singkat, mangkuk berisi bubur pun tandas tak bersisa. Arga bahkan terlihat sedikit lebih segar setelah perutnya terisi.
"Tuh kan, habis juga," celetuk Kartini sambil menyeka sisa bubur di sudut bibir Arga dengan tisu.
"Kamu tidak ikhlas," Arga mendengus kesal, memejamkan matanya kembali.
"Ikhlas lah," Kartini menyuruh Arga untuk istirahat.
"Badan gue sakit semua," ucap Arga sembari meringis.
"Sini, aku pijat," Kartini meluruskan kaki Arga.
"Nggak usah, nanti badan gue tambah sakit lagi!" Arga yang sudah tahu bagaimana tenaga Kartini pun merasa ngeri, bukan enak justru bertambah sakit.
"Coba dulu, kalau nggak nyaman kamu baru boleh protes," Kartini pun mulai memijit betis Arga. Mereka tidak tahu, jika di pintu kamar itu seorang wanita memperhatikan sejak lama.
...~Bersambung~...
lnjut kk👍
siapa.tuh yg datang jangan bilang itu Nadine yah
atau....gundik mu Arga...🤣🤣🤭🤭🤭 entahlah hy emak yg tau