NovelToon NovelToon
Gadis Tulalit Jadi Pengantin Pengganti MR. AROGAN

Gadis Tulalit Jadi Pengantin Pengganti MR. AROGAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Pengganti / Identitas Tersembunyi / Crazy Rich/Konglomerat / Pengasuh
Popularitas:29.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mom Ilaa

Demi mengejar cinta masa kecilnya, Raynara rela meninggalkan statusnya sebagai putri mafia Meksiko. Ia menyamar menjadi babysitter sederhana di Jakarta dan bersekolah di tempat yang sama dengan sang pujaan hati.

Namun, dunianya seolah hancur mengetahui Deva telah dijodohkan dengan sahabatnya sendiri.

Sebuah insiden di hari pernikahan memaksa Rayna maju sebagai pengantin pengganti. Mimpi yang jadi nyata? Tidak. Bagi Deva, Rayna hanyalah gadis ambisius yang haus harta.

"​Tugas kamu itu urus Chira, bukan urus hidupku. Jangan mentang-mentang kita satu sekolah dan sekarang kamu pakai cincin ini, kamu bisa atur aku. Di sekolah kita asing, di rumah kamu cuma pengganti yang mencuri posisi orang lain."

Di antara dinginnya sikap Deva dan tuntutan perjodohan di Meksiko, sanggupkah Rayna bertahan? Ataukah ia akan kembali menjadi ratu mafia yang tak punya hati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Preman

Mobil hitam Harris berhenti mulus di depan gerbang. Rayden turun, memutari kap mesin, lalu membukakan pintu dengan gerakan sigap.

Rayna dan Isabella melangkah keluar. Chira tidak terlihat; bocah itu sedang asyik belanja bersama Maria. Udara pagi yang sejuk menyapu wajah, tapi Rayna justru menyenggol lengan kakaknya sambil nyengir jahil.

"Kak... pindah sekolah ke sini aja, yuk? Biar aku punya pengawal gratis tiap hari," godanya menaik-turunkan alisnya.

Rayden hanya melirik datar tanpa menoleh. "Enggak tertarik."

"Yah, pelit banget!" cibir Rayna sambil mengerucutkan bibir.

Rayden menghela napas pendek, lalu menatap adiknya lurus-lurus. "Aku masih ada urusan." Suaranya tenang, tapi jemarinya mengepal di balik saku celana.

Erica. Satu nama itu melintas sedingin es di benaknya. Prioritasnya cuma satu, melenyapkan gangguan bernama Erica sebelum wanita itu menyentuh adiknya.

"Aku jemput nanti ya," tambahnya singkat, lalu kembali masuk ke mobil tanpa menunggu balasan.

Rayna mengangguk kecil, menatap mobil itu melaju menjauh. Namun, baru saja ia berbalik hendak masuk, suara raungan mesin motor memecah suasana. Seorang siswa turun, melepas helm dengan gerakan tangkas.

Itu Asha.

Mata Rayna berbinar. "Kak Asha!" serunya sambil melambaikan tangan.

Asha menoleh, tapi hanya sekilas. Tatapannya dingin, tak ada lengkungan senyum di bibirnya. Tanpa sepatah kata pun, cowok itu melangkah lebar melewati Rayna dan Isabella seolah mereka hanyalah angin lalu.

Senyum Rayna perlahan luruh. Bahunya merosot. "Aneh..." gumamnya. "Aku sudah baikan sama Deva... tapi kenapa Kak Asha malah menjauh?"

Isabella di sampingnya hanya menunduk sambil menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Ia tahu apa yang dirasakan Asha, karena Cloe yang memberitahukan soal perasaan Asha pada Rayna. Kebenaran itu terlalu berat untuk dilemparkan sekarang.

"Ayo masuk, Ray," potong Isabella berusaha menstabilkan suaranya.

Mereka kemudian berpisah di persimpangan lorong. Saat Rayna sampai di depan kelas, ia kembali berpapasan dengan Asha. Rayna mencoba peruntungannya sekali lagi.

"Kak Asha..." panggilnya lembut.

Sayangnya Asha bahkan tidak menoleh. Langkahnya lurus, melewati pintu kelas menuju arah ruang klub seni. Rayna terpaku, dadanya mulai terasa sesak oleh tanda tanya. 

Apa salahku?

Dengan langkah berat, ia pun masuk ke kelas yang mulai berisik. Ia berjalan menuju bangkunya, namun langkahnya mendadak mati.

Deg.

Rayna terkesiap. Matanya membelalak menatap meja dan kursinya yang tak lagi bersih. Coretan spidol hitam, merah, dan biru tumpang tindih menciptakan kekacauan visual. Kata-kata kasar menusuk matanya:

GADIS PENGGODA! SOK CANTIK! KELAS KAMI TIDAK BUTUH PREMAN! PERGI DARI SINI!

Tangan Rayna gemetar hebat. Suara tawa dan obrolan di sekelilingnya mendadak senyap, tertutup oleh gemuruh di telinganya sendiri. Mau di Meksiko atau di sini, polanya selalu sama. Penindasan itu seolah mengekorinya.

Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menguasai oksigen yang terasa menipis. Perlahan, ia mengangkat kepala. Ia tidak menunduk. Ia menyapu pandangan ke seisi kelas.

Beberapa murid langsung memalingkan wajah, pura-pura sibuk dengan ponsel. Tapi bisik-bisik itu tetap sampai ke telinganya.

"Ternyata dia preman di sekolah lamanya, ya?"

"Muka doang lugu, aslinya gatel deketin cowok-cowok tajir."

Tatapan Rayna berhenti pada seorang siswi yang berdiri di dekat pintu. Gadis itu tidak bersembunyi. Ia justru bersedekap, melempar senyum licik yang penuh kemenangan.

Rayna tidak menangis. Ia justru membalas tatapan itu dengan mata yang tajam dan dingin. Tanpa kata, ia menarik kursi dengan bunyi decit yang keras, lalu duduk dengan tenang di atas meja penuh hinaan itu.

Senyum licik siswi di depan pintu itu memudar, digantikan raut kesal karena reaksinya tak sesuai harapan.

"Ck, nggak tahu diri. Masih berani duduk di sana seolah ini kelas bapaknya," gerutu siswi itu cukup keras. "Harusnya dia di kelas buangan, bareng para berandalan! Bukan di samping Asha!"

Bel olahraga berbunyi. Murid berhamburan ke ruang ganti. Para siswi mulai sibuk berganti pakaian, kecuali Rayna yang mematung di depan lokernya.

Ia menatap tumpukan kain di dalamnya. Baju olahraganya telah tercacah, robek-robek tak berbentuk seolah baru saja melewati mesin penghancur kertas.

Rayna menoleh perlahan ke arah siswi yang tadi, yang kini sedang tertawa bersama kawan-kawannya sambil berjalan keluar. Bukannya panik, Rayna menutup pintu loker dengan dentuman keras. Ia tetap melangkah ke lapangan, masih menggunakan seragam putih-abu-abunya yang rapi.

Di lapangan, semua mata tertuju padanya. Termasuk Asha, yang sempat melirik dengan kening berkerut.

"Rayna! Mana baju olahragamu?" seru Pak Dul, Guru Olahraga sambil berkacak pinggang. "Sekolah ini menjunjung disiplin! Cepat ganti! Pemanasan mulai lima menit lagi, atau kamu saya anggap bolos!"

Rayna tetap berdiri tegak di tengah barisan. Tangan kirinya mengepal kuat di samping tubuh, sementara di barisan belakang, terdengar tawa penghinaan padanya.

"Baru masuk sudah bikin Pak Dul marah," bisik seseorang sinis. 

"Emang dasarnya murid bermasalah!"

Rayna hanya menatap lurus ke depan tapi rahangnya mengeras menahan gejolak emosi dalam dirinya.

_____

Bersambung…………..

Mohon dukungannya, like, komen, vote supaya author semangat nulisnya. Maaf ya kalau sering telat update pagi. Sinyal di sini kurang stabil. Terima kasih.

1
Lisa Halik
makasih thor...rajin2 ya
tia
semangat thor ,, dn sukses karya nya.
Annabelle
mmm...deva romantis banget ..
tia
lanjut thor ,,belom lengkap kalo gk ada cedal
Mom Ilaa: di bab barunya nanti kak😆
total 1 replies
Gita ayu Puspitasari
lucu🤣
Lisa Halik
mmmmm
AltaeAT
lanjut thor
Heni Mulyani
lanjut
Riana
🤭
Lisa Halik
sudah bagi gift thir...lagi2 updatenya...makin seru/penasaran sebab kalendra bakal turun ke jarkarta indonesia
Mom Ilaa: siap-siap Dev disidang ayah mertua 🤭, trima kasih dukungannya ♥️
total 1 replies
ovi eliani
bagus rayna kasih pelqjarqn tuh Deva
Virenneluplup
nih bocah, kirain napa tadi
Heni Mulyani
lanjut
Jj^
terimakasih Thor 🤗
semangat update trs ya sampai tamat💪🤗
Nurjannah Rajja
Kurkas rusak mana dingin, panas malah....😁
Nurjannah Rajja
Salah duga😁
Adinda
lanjut thor sampai 5bab lagi😄
Lisa Halik
sudah beri gift thor...lagi thor di lanjut updatenya......biar deva galau&betul2 nyesal atas perbuatannya
Lisa Halik
makasih updatenya thor...
tia
lanjut thor 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!