NovelToon NovelToon
Gadis Desa Milik CEO Tampan

Gadis Desa Milik CEO Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: HegunP

Ayu pikir jadi istri dari CEO tampan hidupnya akan bahagia seperti di film-film, nyatanya malah selalu direndahkan dan diperlakukan kasar.

Sang CEO, bernama Arvin, memandang Ayu hanyalah gadis dari desa yang tak pantas bersanding dengan dirinya, yang berkelas dan premium. Arvin menikahi Ayu memang bukan karena cinta.

Hingga datanglah hari dimana kesabaran Ayu telah habis. Dia hendak mengakhiri rumah tangganya, namun perilaku Arvin malah berubah menjadi sosok yang tidak ingin lepas dari Ayu.

Sebenarnya apa yang terjadi dengan isi hati Arvin? Dan bisakah Ayu tetap mempertahankan rumah tangganya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HegunP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 Ayu dan Arvin

Ayu Saraswati, wanita muda berasal dari desa beruntung mendapatkan suami tampan bergelar CEO. Tapi siapapun yang melihatnya pasti akan berseru miris, karena Ayu justru diperlakukan lebih mirip seperti pembantu.

Pagi ini seperti biasa, Ayu baru selesai menyetrika kemeja dan jas kerja milik sang suami. Dia baru tiba di depan pintu kamar suaminya lalu mengetuk pintu itu hati-hati dengan sebelah tangannya menenteng jas dan kemeja.

Setelah beberapa kali mengetuk, pintu kamar terbuka. 

Sosok pria tampan tinggi bernama Arvino, yang tidak lain adalah suami Ayu, menyembulkan kepala, sedikit keluar dari ambang pintu.

“Pak, pakaiannya sudah—”

Ucapan Ayu terpotong secepat Arvin tiba-tiba merampas kemeja dan jasnya dari tangan Ayu, tanpa sepatah katapun. 

Pintu kembali didorong dan ditutup rapat-rapat oleh pria itu.

Hanya begitu saja.

Ayu tertunduk pasrah. Dia kemudian beralih menuju sofa ruang tengah dengan langkah lesu.

Di sofa sana, Ayu duduk termenung. Kepalanya sedikit menyamping, menatap pemandangan gedung-gedung pencakar langit dari balik dinding kaca lebar.

Ayu dan suami tinggal di penthouse mewah lantai tertinggi. Tinggal di puncak kemegahan tapi hidupnya setiap hari terasa direndahkan.

“Apa rumah tanggaku akan seperti ini terus?” desisnya lirih.

Helaan napasnya terdengar lelah, seperti sedang memikul beban mental yang berat.

Jelas saja. Sudah satu bulan lebih berstatus istri tapi tak pernah mendapatkan perlakuan yang layak. Padahal Ayu hanya ingin dicintai layaknya istri pada umumnya.

Arvin sendiri memang belum bisa menganggap Ayu sebagai istrinya.

Dan mungkin selamanya tidak akan pernah bisa.

Beberapa menit berlalu, Arvin muncul, keluar dengan balutan jas kerja khas pria CEO. Balutan kemeja putih dibungkus jas hitam mewah. Tangan satunya menenteng tas kerja berwarna selaras dengan jasnya.

Postur pria itu tegap-tinggi dengan setiap langkahnya yang lebar. Sangat berwibawa.

Ayu sontak berdiri. Reflek tersentak seolah sedang menyambut kedatangan raja yang akan lewat di jalurnya.

“Jangan lupa tugas bersih-bersih rutinmu!” pesan Arvin sambil tetap mengayunkan langkah. Suaranya tegas mengintimidasi.

“Baik Pak,” sahut Ayu, gugup. 

Ayu mengikuti langkah Arvin yang menuju pintu keluar rumah. Ketika Arvin sudah menyeberangi ambang pintu dan hendak menutup pintu kembali, Ayu tiba-tiba memanggil.

“Pak Arvin!”

Arvin menoleh, menatap Ayu dengan sudut mata yang tajam menusuk. 

“Ada apa?”

Ayu membeku. Suaranya tiba-tiba nyangkut di ujung leher. Padahal hanya ingin bilang ‘hati-hati di jalan’ layaknya ucapan normal istri kepada suami yang akan berangkat kerja.

“Ti–tidak ada …” lirih Ayu, menunduk.

Arvin menarik kembali matanya, lekas menutup pintu, dan berangkat kerja.

Melihat pintu sudah tertutup rapat, Ayu segera menumpahkan semua napas kakunya. Seolah berhasil lolos dari keadaan mencekam.

Ayu kembali duduk di sofa. Kembali memandangi pemandangan ibu kota dengan mata yang sendu.

Ada sedih yang jelas terlihat menggantung di mata cantiknya. Mata sendu yang seakan berbisik; sudah waktunya berhenti berharap bisa dicintai layak oleh Arvino Pradipta.

Sebuah kata sakral lalu terlintas di otaknya.

Cerai.

Ayu dan Arvin sendiri bisa menjadi pasutri memang bukan karena saling mencintai, tapi karena perjodohan yang tidak bisa dihindari.

Kalau dulu bukan karena perintah sang kakek, Arvin tidak akan pernah sudi menikahi Ayu.

Arvin sudah mati-matian protes keras kepada kakeknya, tapi sang Kakek yang punya kuasa tidak bisa dibantah. Arvin tidak bisa melawan.

Sementara Ayu … dia mengikuti arus. 

Toh dia sendiri diam-diam jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Arvin yang tampan nan dingin.

Ayu kala itu merasa seperti menjadi tokoh utama dalam dongeng atau film. Gadis biasa dari desa yang tiba-tiba dipaksa menikah dengan CEO tampan. 

Wanita mana yang tidak tergoda dengan kisah hidup seperti itu?

Tapi nyatanya setelah menikah, hidup Ayu tidak seindah yang ia bayangkan. Setiap hari diperintah bersih-bersih, mengepel, mencuci, dan lain-lain. Jika melakukan kesalahan dibentak-bentak. 

Mereka di rumah ini juga tidur beda kamar. Artinya Ayu yang berusia dua puluh tahun masih berstatus gadis.

Niat cerai semakin muncul di kepala, namun Ayu tiba-tiba teringat dengan pesan dari ibu-bapaknya di desa;

‘Jadilah istri yang baik, ya Nak. Berbaktilah kepada suami, biar rumah tangga kalian langgeng.’

Gara-gara ingat itu, sontak Ayu bangkit berdiri dari sofa.

“Benar. Aku tidak boleh cepat menyerah. Pak Arvin memperlakukanku buruk karena dia tidak tahu kalau aku juga bisa menjadi istri yang pantas.” Ayu mengepal tangannya kuat-kuat. Semangatnya kembali bersinar.

Wanita muda dengan rambut panjang diikat ala kadarnya itu pun bergegas keluar, menuju supermarket untuk belanja bahan makanan.

Ayu mau membuat hidangan makan malam spesial. Dia yakin rasa masakannya akan merubah Arvin menjadi suami yang hangat, serta mau menerimanya menjadi istri yang seharusnya.

...****...

Malamnya.

“Tugas bersih-bersih rutinmu sudah selesai?” Arvin langsung bertanya tegas ke Ayu saat baru melewati pintu masuk rumah dan disambut oleh Ayu yang berdiri merapatkan kaki.

“Su-sudah, Pak.”

Arvin hanya sebentar menatap Ayu. Dia belok berjalan menuju kamar sembari melonggarkan dasi di lehernya.

Agar sampai ke kamar, perlu melewati ruang makan di sisi kiri. Melihat Arvin tak menyadari sudah ada hidangan tersaji di meja makan sana, Ayu yang mengekor cepat-cepat memanggil.

“Pak … Anu, di meja makan ada hidangan makan malam.”

Arvin seketika berhenti melangkah, menoleh sekilas ke meja makan, lalu memutar badan ke belakang.

“Saya yang membuatnya. Jika Bapak belum makan malam, mungkin bisa—”

“Bukankah aku sudah pernah bilang. Tugasmu hanya menjadi istri pendiam dan mengurus rumah, kecuali memasak,” potong Arvin, datar tapi tegas.

Arvin sejak awal menikah memang memerintah Ayu mengurus rumah, kecuali menghidangkan masakan untuknya karena yakin wanita kampung seperti Ayu tidak akan pernah bisa membuat masakan seenak orang kota.

“Ingat, Pak. Tapi izinkan saya untuk sekali ini saja memberi sesuatu—”

“Tidak perlu repot-repot! Aku tak akan pernah mau memakan masakan dari tangan orang kampung sepertimu!”

Arvin mengeluarkan raut malas, kembali putar badan menuju tujuannya.

Ayu yang tidak mau menyerah, dengan sekali tarikan napas kuat, berseru sembari merapatkan mata kuat-kuat, “Masakan saya jauh lebih enak daripada yang bapak kira. Lebih enak dari masakan restoran!”

Seruan itu berhasil mengunci langkah Arvin. Bahkan kini pria itu berbalik lagi, lalu perlahan mendekati Ayu hingga jarak mereka hanya sejengkal.

Harusnya Ayu jadi senang, namun wujud Arvin di matanya berubah menyeramkan. Tatapan pedang serta tubuh tinggi lebar Arvin sangat menekan Ayu.

Sekujur tubuh Ayu menegang. Tak berani mendongak ke atas.

“Berani sekali kamu bicara begitu! Apa kamu paham artinya?” Arvin bertanya dengan suara rendah tapi tetap terasa keras.

Ayu menggeleng kaku.

“Aku orang yang cinta masakan enak. Terutama masakan restoran mewah. Dan kau tadi beraninya bilang masakanmu lebih enak dari buatan restoran. Artinya kau telah menantang seleraku.”

Ayu secepat mungkin mundur satu langkah, melambai-melambaikan dua tangan, sambil memberi tatapan melas ke Arvin.

“Tidak pak. Saya sama sekali tidak bermaksud begitu. Sumpah! Saya hanya … ingin membuktikan bisa jadi istri yang baik.”

Arvin diam sejenak sebelum akhirnya menyeringai.

“Kamu tak perlu berusaha seperti itu. Masih belum bisa sadar diri? Kau itu cuma gadis kampung yang kebetulan beruntung menjadi istriku. Kalau bukan karena suruhan kakekku, sudah dari dulu kutendang kamu dari rumah ini!”

Ayu tertusuk dalam dengan kata-kata Arvin. Perih, tapi harus diakui itu memang fakta.

Bahu Ayu jatuh melemas. Saat ingin mundur dan pergi, Arvin melanjutkan ucapannya.

“Tapi setelah aku pikir-pikir, baiklah. Aku akan cicipi sedikit.” Arvin menurunkan jasnya. “Tapi kalau rasanya tidak enak, siap-siap buat sakit!”

Ayu menelan salivanya bulat-bulat. Jarinya saling meremas. Ancaman itu terasa seperti taruhan besar, namun Ayu memilih mengangguk.

Akhirnya, Arvin pergi ke meja makan, menggulung ujung kemejanya, duduk, dan menilai semua hidangan dengan tatapan meremehkan.

Ada tempe goreng, tahu goreng, sayur lalapan, ikan gurame goreng, sambal terasi. Semua khas masakan pedesaan.

“Silahkan, Pak Arvin,” ucap Ayu seramah mungkin, duduk di seberang meja.

Secara hati-hati, Arvin memilih beberapa menu yang menurutnya layak dimakan, lalu diletakkan di piringnya.

Arvin mulai mencicipi hidangan di piringannya, mengunyah pelan.

Dan hanya perlu sesaat, makanan di mulut dilepehkan ke piring dengan sedikit terbatuk-batuk.

Arvin secepat kilat berdiri menantang.

Sekali ayunan tangan, Arvin mengibas semua makanan di meja makan hingga jatuh berhamburan ke lantai.

Prang!

Krak!

Bruk!

Bunyi-bunyi piring-mangkuk dan peralatan makan menghantam lantai, menggema kacau.

Makanan hangat berserakan. Pecahan beling kemana-mana.

Ayu tersentak dan menjerit seraya menutup telinga. Matanya menatap Arvin penuh takut tak menduga.

Tak cukup sampai situ, Arvin melangkah murka mendekati Ayu, menarik paksa pergelangan tangan wanita itu.

“Sini kamu!”

“Bapak mau apa? Arggh!”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!