NovelToon NovelToon
My Husband Brondong

My Husband Brondong

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa Fantasi
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Naelong

Dunia Maya jungkir balik saat ia terbangun dan menyadari bahwa ia telah terikat pernikahan dengan adik tingkatnya yang paling populer di kampus. Perbedaan usia lima tahun membuat Maya merasa seperti sedang mengasuh seorang adik daripada melayani seorang suami.

​Lucunya, sang suami justru bersikeras ingin membuktikan bahwa dirinya adalah pria dewasa yang bisa diandalkan. Mulai dari kecanggungan di dapur hingga usaha-usaha romantis yang berakhir gagal total, Maya mulai melihat sisi lain dari si "brondong" yang membuat jantungnya berdebar tidak karuan. Menikahi pria yang lebih muda ternyata bukan tentang mengajari, tapi tentang belajar mencintai kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 13 - MHB

Apartemen yang biasanya dihiasi oleh perdebatan kecil atau suara televisi di ruang tengah, kini berubah menjadi hening yang menekan. Suasana itu bukan lagi berasal dari kecanggungan antara dua orang yang dipaksa menikah, melainkan dari sebuah kelelahan yang nyata.

​Minggu ujian semester telah tiba, dan bagi Arka, ini bukan sekadar tentang mendapatkan nilai A di transkrip nilai demi memenuhi poin nomor sepuluh dalam aturan Maya. Ini adalah tentang harga diri. Sejak pembicaraan mereka di mobil pasca acara kantor, Arka seolah memacu dirinya dua kali lebih kencang. Selain tumpukan buku makroekonomi yang tebalnya menyerupai bantal, Arka diam-diam mengambil proyek sampingan sebagai konsultan riset pasar untuk sebuah firma rintisan.

​Arka ingin membuktikan bahwa ia bukan sekadar "brondong" yang hidup dari fasilitas orang tua. Ia ingin menjadi pria yang punya pijakan kaki sendiri sebelum ia benar-benar melangkah lebih jauh ke dalam hati Maya.

​Namun, tubuh manusia punya batas.

​Sudah pukul dua pagi. Maya terbangun karena haus dan melangkah keluar kamar. Ia melihat cahaya lampu yang masih terang benderang merembes dari celah pintu kamar Arka. Maya terdiam di lorong yang gelap, menatap pintu itu dengan perasaan campur aduk.

​Sejujurnya, Maya merasa ada yang hilang. Ia merindukan ocehan nakal Arka yang biasanya mengganggunya saat ia pulang kerja. Selama tiga hari terakhir, Arka hampir tidak terlihat. Pemuda itu hanya keluar kamar untuk mengambil air putih, lalu kembali mengurung diri. Saat mereka berpapasan di lorong, Maya melihat perubahan yang mengkhawatirkan. Lingkaran hitam di bawah mata Arka semakin pekat, wajahnya yang biasanya segar kini pucat pasi, dan gerakannya tampak lamban, seperti mesin yang kehabisan pelumas.

​Dia terlalu memaksakan diri, pikir Maya sambil menuangkan air di dapur.

​Maya tahu rasanya ambisi. Ia tahu rasanya ingin membuktikan diri pada dunia. Tapi melihat Arka yang biasanya penuh energi kini layu seperti tanaman yang tak disiram, ada sesuatu yang perih di sudut hati Maya. Ia ingin mengetuk pintu itu, memarahi Arka karena tidak tidur, tapi ia tertahan oleh tembok gengsinya sendiri.

​Nanti dia pikir aku terlalu peduli, batinnya egois.

​Namun, nuraninya membantah. Memangnya salah kalau peduli? Dia suamimu, Maya. Dan dia melakukan ini untuk membuktikan kata-katanya padamu.

​Maya menghela napas panjang. Ia menatap ke arah mesin kopi. Dengan gerakan ragu, ia mulai menyeduh kopi hitam tanpa gula, jenis yang ia tahu Arka sukai untuk tetap terjaga. Sambil menunggu kopi itu menetes, ia membuka laci obat dan mengambil botol vitamin C serta suplemen saraf yang biasanya ia gunakan saat tenggat waktu kantor sedang menggila.

​Maya melangkah perlahan menuju pintu kamar Arka. Tangannya sedikit gemetar saat memegang nampan kecil. Ia berhenti tepat di depan pintu.

​Harus bilang apa? 'Ini kopi biar kamu nggak mati'? Terlalu kasar.

Atau, 'Semangat ya, Arka'? Terlalu manis.

​Setelah perdebatan batin selama satu menit penuh, Maya memutuskan untuk tidak mengatakan apa-apa. Ia memutar knop pintu perlahan. Pintunya tidak dikunci.

​Di dalam, udara terasa pengap oleh aroma kertas dan panas dari mesin laptop yang bekerja keras. Arka duduk di meja belajar dengan posisi membungkuk. Ia bahkan tidak menoleh saat pintu terbuka. Arka sedang fokus mengetik sesuatu di laptopnya, sementara tangan kirinya memijat pangkal hidung yang tampak sangat lelah. Di sampingnya berserakan tiga kaleng minuman energi kosong.

​Maya merasa dadanya sesak melihat pemandangan itu. Arka tampak begitu rapuh dalam usahanya untuk menjadi kuat.

​Maya berjalan tanpa suara, sehalus mungkin agar tidak memecah konsentrasi Arka. Ia meletakkan gelas kopi yang masih mengepulkan uap dan dua butir vitamin di satu sisi meja yang masih kosong.

​Arka tersentak kecil, ia menoleh dengan mata merah yang sangat sayu. "Kak... Maya?" suaranya serak, nyaris hilang.

​Maya tidak menatap matanya. Ia tetap memasang wajah datar, seolah-olah apa yang ia lakukan hanyalah sebuah kewajiban administratif. Ia tidak mengucap sepatah kata pun. Ia hanya merapikan sedikit tumpukan kertas yang miring di dekat gelas kopi itu, memastikan vitaminnya terlihat jelas, lalu berbalik pergi.

​"Kak," panggil Arka lirih.

​Langkah Maya terhenti di ambang pintu, tapi ia tidak menoleh.

​"Makasih... kopinya."

​Maya hanya mengangguk kecil, hampir tak terlihat, lalu menutup pintu dengan sangat pelan.

​Begitu sampai di kamarnya, Maya menyandarkan punggung di pintu dan memejamkan mata. Jantungnya berdegup aneh. Bukan karena malu, tapi karena rasa empati yang mendalam. Ia menyadari bahwa ia mulai kehilangan sosok "Senior" yang otoriter. Ia mulai melihat Arka sebagai rekan seperjuangan, bukan lagi objek yang harus diatur.

​Dia benar-benar bekerja keras, pikirnya. Semoga dia nggak jatuh sakit.

​Sementara itu, di dalam kamarnya, Arka menatap gelas kopi yang masih panas itu. Ia mengambil butir vitamin yang diletakkan Maya, lalu menelannya. Aroma kopi itu seolah membawa oksigen baru ke otaknya yang sudah hampir lumpuh.

​Arka tersenyum tipis. Ia tahu Maya bukan tipe wanita yang akan memberikan pelukan penyemangat atau kata-kata manis. Tapi segelas kopi tanpa kata-kata itu, bagi Arka, jauh lebih berharga daripada seribu sorakan mahasiswi di lapangan basket. Itu adalah bentuk perhatian paling jujur dari seorang Maya Clarissa—seorang wanita yang lebih suka menunjukkan kasih sayang melalui tindakan daripada pengakuan.

​"Sedikit lagi, Arka," bisiknya pada diri sendiri.

"Sedikit lagi, biar dia tahu kalau dia nggak salah pilih sandaran."

Malam itu, kopi buatan Maya tidak hanya membuat Arka tetap terjaga, tapi juga membuat hatinya tetap hangat di tengah dinginnya ambisi dan tumpukan tugas. Di apartemen itu, di bawah sunyinya malam, sebuah kesepahaman tanpa suara telah terbentuk. Bahwa dalam setiap perjuangan, tidak ada yang benar-benar berdiri sendiri.

Bersambung.....

1
Teh Fufah
keren bingits bukan lumayan keren mayaaaa
Ari Atik
ingat maya egoisnu akan membuat pecahnya bahtera samudra rumah tanggamu.😡
Teh Fufah
karena aku senang, aku kasih mvote nya hari ini buat maya 😍 arkaaaa
Naelong: makasi kak udah mampir😍🙏
total 1 replies
Teh Fufah
klw dah cemburu kayak gini mah otw unboxing hihi
Teh Fufah
otw bucin loe may...
Ari Atik
yap betul sekali.....

karena satu kebohongan,akan muncul seribu kebohongan lagi untuk menutupinya......

rumit hidupmu maya,tak tenang karena sebuah kebohongan....🤔
Teh Fufah
hadeh..... maya oh arka
Teh Fufah
senengnya hati ku
thanks neng otor... ku tunggu up ny lsgi
Ari Atik
mulai memahami satu sama lain....

good...😊
Ari Atik
arkanya gk jadi memperkenalkn diri,di kantornya maya kah?

memperjelas status pernikahan mereka...
Naelong: jadi tapi bukan sekarang ya😍
total 1 replies
Ari Atik
ya.. betul sekali langkah arka..
lebih baik blak2kan daripada di sembunyikn,biar gk jadi fitnah...
Ari Atik
kan...
setelah tau kebenarannya...
makanya jadi wanita jangan egois,merasa di atas,eh taunya kalah start....😡

lanjut thor....😊
Naelong: makasi udah mampir kak😍
total 1 replies
Ari Atik
muak dg egonya maya.....
Ari Atik
maya ...
jangan sok,terlalu egois dn merasa paling hebat....

ingat maya kesabaran sezeorang ada batasnya,jangan mandang susmimu sebelah mata,kalau gk nau menyesal kemudian....😡
Ari Atik
akting,sekaligus memanfaatkn keadaan....🤭😊😊
Ari Atik
ya sakitlah jadi arka....
suami yg tk di akui..😡
Ari Atik
sampai kapan maya bisa mempertahankn egonya....?
Naelong
makasi udah mampir kak🙏
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu, nggak pake lama... Semangat
Teh Fufah
mari kita berpetualang dengan kisah cinta ny sang berondong
Naelong: makasi udah mampir🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!