Namanya Anna.. Dia anak yang polos namun tangguh, berjiwa bebas dan baik hati.. ia terlahir di sebuah gubuk sederhana di dalam hutan yang jauh dari pemukiman warga, meski hidup sederhana, ia merasa hari harinya selalu dipenuhi kebahagiaan.
Hingga sampai suatu waktu, tragedi menimpa keluarga kecilnya dengan tragis.. Ternyata ayahnya adalah seorang putra mahkota, dan Anna pun tiba tiba menjadi seorang Putri.
bisakah Anna beradaptasi di kehidupan barunya??
Lika liku percintaannya dimulai..inilah kisah Princess Anna..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diyah_ell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari berkabung
"Jelas itu adalah perbuatan Count Angelos untuk membungkam orang orangnya, seharusnya aku langsung menebas lehernya begitu dia membahas pernikahan dulu. Dia menghilangkan nyawa orang lain dengan begitu mudah..dasar biadab!!" Nicholas mengepalkan kedua tangannya.
"Tapi tidak ada bukti langsung Yang Mulia, apa yang harus kita lakukan?" ucap Deryl.
"Yaa.. Penjahat kelas kakap sepertinya tidak akan meninggalkan bukti sedikit pun, jadi ayo amati lebih teliti.. Jika memang benar benar tidak ada bukti, aku yang akan menciptakan bukti itu!"
.
Pagi itu butiran kecil salju mulai turun dari langit, kekaisaran Brivantyum mulai memasuki musim dingin. Anna yang baru saja terbangun duduk menatap keluar jendela, melihat salju pertama di tahun ini. Udara yang dingin itu mengingatkannya dengan mendiang Ibunya, masa masa bahagia yang ia habiskan bersama ayah dan ibunya dengan begitu hangat kini menjadi kenangan yang sangat berharga baginya.
"Yang Mulia sudah bangun?" ucap Daisy begitu masuk ke kamar.
"Iya Daisy"
"Hari ini dingin sekali Putri, untunglah seharian ini semua kelas anda diliburkan, tidurlah lagi setelah sarapan Yang Mulia"
"Iya Daisy.."
"Yang Mulia, dihari yang damai ini semua akan sempurna jika tak ada keributan kan?"
"Memangnya ada keributan apa Daisy?"
"Yang Mulia Putri Maria kembali berulah karena rombongan delegasi dari kerajaan Razz sudah tiba tadi malam, rencananya Putri Maria akan ikut saat mereka kembali"
"Oh sudah tiba.. Aku dengar dari Kaisar pihak Razz tidak mau mengadakan pernikahan disini karena adat istiadat yang berbeda, seharusnya calon suami Bibi menjemputnya sendiri bukan malah mengirim orang lain, pasti itu yang membuat harga diri Bibi terluka"
"Iya Yang Mulia, anda selalu berpikir dengan bijaksana, padahal usia anda baru 10 tahun, saya sangat bangga hehe"
"Syukurlah Daisy menyukaiku.. Tapi Sepertinya aku harus menemui Bibi sebelum keberangkatannya"
"Jangan Yang Mulia.. Temperamennya sangat buruk, anda hanya akan mendengar hal hal buruk jika menemuinya"
"Tidak apa apa Daisy, bagaimanapun Bibi adalah keluargaku"
.
Setelah bersiap Anna berjalan ke istana putri Maria. Dari kejauhan sudah terlihat betapa kacaunya situasi di istana Putri.
"Tidak bisakah Putri bersikap sedikit lebih tenang? Aku lelah setengah mati meladeninya yang banyak mau" bisik bisik keluhan para pelayan yang sedang berlalu lalang.
Begitu sampai Anna melihat pemandangan yang mengejutkan, disana terlihat Putri Maria sedang bersimpuh dan menangis dihadapan Kaisar.
"Aku tidak mau menikah dengan orang itu Ayah! Aku lebih baik mati daripada pergi ke tempat itu!!" ucap Putri sembari terisak.
Raut wajah Kaisar terlihat pucat dan sedih melihat putrinya seperti ini.
"Jika Ayah tidak mengirimmu kesana perbatasan akan diserang, Ayah sudah tua dan lelah untuk peperangan, kau juga sudah berumur dan terlambat menikah"
"Kenapa ayah berbicara seperti orang lemah? mereka hanyalah kerajaan kecil, hanya mengutus puluhan ribu prajurit pasti kita akan memenangkan peperangan!!"
"Maria.. Ini bukan tentang siapa yang lebih kuat, Raja yang sudah tua ini hanya ingin melindungi nyawa rakyatnya dan membuat rakyat hidup dengan makmur itu adalah keinginan terakhir ayah sebagai seorang Raja, kau adalah Putriku satu satunya, sudah menjadi tugas seorang Putri menerima lamaran pernikahan demi perdamaian antar kerajaan.. Apa kamu masih tidak mengerti?" ucap Raja dengan lembut.
Akhirnya Putri Maria menjadi lebih tenang meski wajahnya masih kalut.
Saat itu Kaisar dan Maria menyadari keberadaan Anna.
"Kemarilah cucuku.." ucap Kaisar memanggil Anna.
"Apa nanti saat dia sudah dewasa dia juga akan dikirim untuk menikahi orang asing?" ucap Maria menunjuk Anna.
Anna yang mendengar itu cukup terkejut.
"Sylvanna baru berusia 10 tahun, itu bukan perkataan yang pantas kau katakan sekarang!" jawab Kaisar tegas.
"Hah.. Hei bocah kecil! Ingat ini kau akan bernasib sama sepertiku, begitu kau dewasa kau hanya akan dinikahkan demi kepentingan Kerajaan!" ucap Maria dengan sinis.
"Maria!!" teriak Kaisar.
"Bibi.. Aku tahu Bibi berkata seperti itu bukan karena anda orang yang jahat, Bibi sedang sedih dan tidak ada yang menghiburmu kan, biarkan aku memeluk Bibi.." Anna memeluk Maria dengan lembut, tanpa sadar Maria semakin menangis sejadi jadinya di pelukan tubuh kecil itu.
Kaisar melihat Putrinya yang menangis seperti saat ia kecil dulu, tangisan kejujuran, tangisan tanpa beban.. Kaisar menyadari ia memiliki sangat banyak kekurangan dalam mengisi kekosongan yang istrinya tinggalkan.
"Kenapa anak baik sepertimu harus datang ke tempat ini? Maafkan aku yang selalu berkata kasar padamu Anna" ucap Maria seraya terisak.
Anna menepuk nepuk punggung Maria "Iya Bibi.. Bibi harus menenangkan diri dulu sebelum meminta maaf dengan benar"
Beberapa hari pun berlalu.. Selama itu Maria menjadi lebih tenang, lebih dewasa dan akhirnya menerima pernikahannya dengan lapang dada. Maria sering kali menemui Anna si sela sela kesibukannya.
Maria menyadari betapa berharganya seorang keluarga berkat Anna yang menghabiskan waktu lebih banyak dengannya, hingga ia merasa sayang dan terlambat karena tidak memperlakukannya dengan baik sejak awal kedatangannya.
Saat tumpukkan salju sudah mulai mencair, seluruh anggota keluarga raja mengantar kepergian Maria. Putri Maria pergi dengan senyuman sekaligus tangisan haru karena akan berada jauh dari keluarganya diwaktu yang lama. Mereka tetap berdiri di sana hingga kereta kuda Putri Maria tidak terlihat lagi.
Kaisar kembali dengan perasaan hampa.. Ia sudah kehilangan istrinya dan sekarang ia harus mengirim kepergian putrinya dengan tangannya sendiri.
Namun saat itu Anna mengulurkan tangannya, menggandeng tangan Kaisar dan mengantarnya kembali ke kediaman.
...****************...
8 Tahun kemudian...
Saat ini istana cukup ramai karena hari ini adalah hari peringatan tahun ke 3 meninggalnya Kaisar George Hayden Maximilian. Para bangsawan dan semua anggota Keluarga kekaisaran hadir mewakili keluarga mereka masing masing, semua orang tanpa terkecuali mengenakan pakaian serba hitam.
"Baginda Kaisar Nicholas Hayden Maximilian dan Yang Mulia Putri Sylvanna Hayden Maximilian memasuki ruangan" ucap penjaga aula doa.
Ruangan yang awalnya riuh seketika menjadi tenang karena kehadiran tokoh utamanya, meski semua mulut diam namun tatapan mereka semua begitu menusuk, itulah yang dirasakan gadis cantik yang telah menginjak usia 18 tahun ini yaitu Putri Sylvanna.
Setiap hari peringatan seperti ini Sylvanna selalu teringat pesan terakhir Kakeknya yang meninggal karena penyakit kronis yang sudah lama dirahasiakannya.
"Cucuku tersayang, mungkin aku tidak bisa mendukungmu lebih lama lagi.. Tapi ingatlah satu hal ini, kau adalah Sylvanna Hayden Maximilian, cucuku yang paling kusayangi, jangan hiraukan orang yang meragukan asal usul ibumu, kau harus menjadi dirimu sendiri dengan percaya diri, dan tolong maafkanlah kesalahan Ayahmu, saat kau lahir mungkin dia belum sepenuhnya menjadi dewasa, itu karena kekuranganku sebagai seorang Ayah yang lebih mementingkan kepentingan negara daripada keluargaku sendiri, jadilah tempat bersandar untuknya karena setelah kehilangan ibumu dia juga kehilangan tempat bersandar. Satu lagi.. Tolong maafkan kakek yang sampai akhir tetap membebanimu banyak hal seperti ini Sylvanna sayangku.." itu adalah kata-kata terakhir mendiang raja sesaat sebelum ajalnya.
Bersambung.