NovelToon NovelToon
Cinta Zaenab

Cinta Zaenab

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Romantis / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:487
Nilai: 5
Nama Author: ANGWARUL MUJAHADAH

Sebuah kisah wanita cantik yang rela di ajak sang suami hidup di negeri perantauan, yaitu ke negeri Arab Saudi di Makkah dan ingin meninggal dunia disana

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANGWARUL MUJAHADAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pembersihan Nama

Setelah beberapa minggu... Kabar mengenai keadilan yang akhirnya tegak sampai ke telinga Sidik saat ia sedang mengajar beberapa santri muda di pesisir Jepara.

Langit sore itu seakan ikut merayakan kemenangan kebenaran; warna oranye yang teduh menyelimuti bumi seiring dengan deburan ombak yang tenang.

Tiba-tiba, sebuah iring-iringan kendaraan militer dengan plat pusat memasuki desa. Warga sempat tegang, mengira pengejaran masa lalu kembali lagi. Namun, kali ini tidak ada moncong senjata yang mengarah ke luar. Bendera Merah Putih berkibar gagah di setiap sudut mobil.

Seorang Jenderal tinggi dari markas besar Jakarta turun dengan seragam kebesarannya. Ia tidak datang dengan amarah, melainkan dengan kepala tertunduk penuh hormat. Di hadapan Sidik—yang saat itu hanya mengenakan sarung dan baju koko putih—sang Jenderal memberikan hormat militer yang paling sempurna.

"Komandan Sidik," suara Jenderal itu bergetar melalui pengeras suara di depan balai desa. "Kami datang membawa pengakuan. Jenderal yang dulu memfitnah Anda telah terbukti melakukan pengkhianatan berat dan kini telah mendekam di penjara. Pusat meminta maaf yang sedalam-dalamnya atas ketidakadilan ini."

Pihak Jakarta membawa sepucuk surat resmi berisi pembersihan nama baik dan piagam penghormatan sebagai Veteran Pejuang Kemerdekaan. Mereka menawarkan Sidik untuk kembali memimpin pasukan besar di pusat sebagai penghargaan.

Anak buah Sidik yang selama ini menyamar sebagai nelayan dan kuli panggul berkumpul dengan mata berkaca-kaca. Nama mereka bersih. Mereka bukan lagi pemberontak, melainkan pahlawan resmi negara. Namun, Sidik menatap Maryam, lalu menatap anak-anak desa yang menunggunya mengaji.

"Terima kasih atas kehormatan ini," jawab Sidik dengan nada yang sangat tenang namun berwibawa. "Nama baik lebih berharga daripada pangkat. Tapi izinkan saya tetap di sini, di Jepara. Sekarang tugas saya adalah membangun jiwa-jiwa merdeka di tanah ini."

Pihak pusat tak kuasa memaksanya. Sebagai tanda penghormatan terakhir, mereka memberikan tunjangan veteran dan hadiah bagi sisa anak buah Sidik yang memilih untuk menetap. Sejak hari itu, Sidik resmi menjadi bagian dari Tentara Nasional Indonesia yang dihormati.

Fitnah itu seperti kabut yang menutupi mentari,

Namun ia akan hilang saat fajar kebenaran berdiri.

Jakarta datang dengan maaf yang tertulis di atas kertas,

Membasuh luka lama yang sempat terasa sangat membekas.

Kini nama Sidik bukan lagi bisikan di balik kegelapan,

Tapi terpahat sebagai ksatria dalam setiap kenangan.

Pangkat dan jabatan bukan lagi yang kukejar,

Sebab di sini, aku telah menemukan tempat untuk berakar.

Ahmad, kebenaran mungkin jalannya berliku dan jauh,

Tapi ia akan selalu sampai pada hati yang teguh.

Bapak telah kembali menjadi tentara yang diakui,

Tapi bapak lebih memilih menjagamu di setiap sunyi.

Mbah Sidik menghela napas lega, seolah beban berat yang ia pikul selama berpuluh tahun benar-benar telah luruh. "Itulah akhir dari pelarian Bapak, Ahmad. Kebenaran tidak perlu dikejar, ia akan menemukan jalannya sendiri jika kita tetap berada di jalan Gusti Allah."

Ahmad memeluk Bapaknya dengan bangga. "Berarti Bapak sekarang resmi jadi pahlawan ya?"

Mbah Sidik tertawa renyah sambil mengacak-acak rambut Ahmad. "Pahlawan sejati itu bukan yang fotonya ada di kantor-kantor, Ahmad. Tapi yang bisa membuat keluarganya tidur nyenyak dan perut rakyatnya kenyang. Sekarang, mari kita lanjut belajar... bapak ingin kau hafal juz ini sebelum bulan depan."

**

Setelah suasana haru di depan para petinggi militer itu mereda, Sidik membawa Maryam duduk di bawah pohon mangga di depan rumah mereka. Ia menggenggam tangan istrinya yang selama ini hanya mengenalnya sebagai "Rosyid", si pembuat celengan tanah liat yang nekat jadi santri.

"Nyai," bisik Sidik dengan nada yang sangat jujur. "Nama Rosyid itu adalah tamengku saat badai fitnah menghantam. Kini, di bumi yang sudah merdeka ini, aku ingin kau memanggilku dengan nama pemberian orang tuaku. Namaku adalah Sidik."

Maryam hanya tersenyum teduh, tidak terkejut sedikit pun. Seolah batinnya sudah lama tahu bahwa pria di hadapannya adalah seorang ksatria besar yang sedang menyamar. "Apapun namamu, Kang, kau tetaplah orang yang membawakan doa dalam celengan tanah liat untukku."

***

Tiga bulan setelah kemerdekaan, Sidik memutuskan untuk memboyong Maryam dan bayi mereka silaturahmi ke Purwodadi. Perjalanan yang dulu ditempuh dalam lima hari penuh ketakutan dan penyamaran, kini terasa begitu singkat dan damai.

Jepara menuju Purwodadi kini berubah menjadi pemandangan yang menggetarkan sukma. Di sepanjang jalan, bendera Merah Putih berkibar di setiap gubuk bambu. Kebahagiaan rakyat meledak di mana-mana.

Sidik tersenyum lebar melihat gerombolan anak-anak kecil di pinggir jalan. Mereka memakai ikat kepala kain merah putih, baju yang disobek-sobek menyerupai seragam pejuang, dan memanggul senapan dari pelepah pisang. Dengan lantang, mereka menyanyikan lagu Indonesia Raya sambil berbaris rapi. Pemandangan itu jauh lebih indah bagi Sidik daripada parade militer manapun yang pernah ia ikuti.

***

Sesampainya di pesantren, KH Mansur menyambut mereka dengan tangan terbuka. Namun, saat Sidik turun dengan sikap tegap dan didampingi beberapa mantan anak buahnya yang kini berpakaian rapi, KH Mansur tertegun.

Sidik langsung bersimpuh dan mencium tangan mertuanya. "Maafkan saya, Abah. Selama ini saya menyembunyikan identitas. Nama saya bukan Rosyid, saya adalah Sidik, seorang prajurit yang kemarin sempat terbuang namun kini telah kembali pulang."

KH Mansur tertawa bangga hingga janggut putihnya bergetar. Ia menepuk bahu Sidik dengan keras. "Aku sudah tahu sejak hari pertama kau datang meminta restu dengan napas seorang singa! Aku bangga, Maryam tidak salah memilih pendamping. Kau bukan hanya menaklukkan murid-muridku di medan silat, tapi kau telah menaklukkan musuh bangsa ini!"

Malam itu, pesantren Purwodadi mengadakan syukuran besar. Bukan hanya untuk merayakan kemerdekaan, tapi juga untuk merayakan kembalinya sang "Santri Gadungan" yang ternyata adalah pahlawan pembela negara.

Tak ada lagi ketakutan di sepanjang jalan,

Hanya ada senyum dan doa yang saling bersahutan.

Anak-anak kecil berbaris dengan senapan pisang,

Mewarisi semangat pejuang yang takkan pernah lekang.

Kutinggalkan nama Rosyid di liang kenangan,

Kembali menjadi Sidik dalam pelukan kemenangan.

Purwodadi menyambut dengan ridha yang tak terhingga,

Tentang menantu ksatria yang menjaga kehormatan keluarga.

Ahmad, lihatlah betapa manisnya akhir sebuah kejujuran,

Setelah pahitnya fitnah dan jauhnya pelarian.

Kemerdekaan ini bukan hanya tentang bangsa yang bebas,

Tapi tentang hati yang tulus yang akhirnya terlepas.

Mbah Sidik menutup ceritanya dengan senyuman yang sangat lega. "Itulah indahnya merdeka, Ahmad. Kita bisa berjalan tegak tanpa perlu takut ditanya siapa kita. Bapak bangga menjadi Sidik, dan Bapak lebih bangga lagi karena kejujuran itu membuat ibu Maryam dan Abah Mansur tersenyum."

Ahmad mengangguk, ia membayangkan dirinya ikut berbaris dengan senapan pelepah pisang itu. "Berarti, kejujuran itu adalah strategi terakhir Bapak ya?"

"Benar, Ahmad. Strategi manusia bisa habis, tapi kejujuran adalah jalan yang akan menuntun mu langsung kepada pertolongan Tuhan."

1
Ariasa Sinta
q yakin ini cerita asli, begitupun mbah sidik, iya kan thor ?
SANTRI MBELING: makasih kak
total 1 replies
Ariasa Sinta
ya Allah ...
thor q merinding sekaligus ke inget sama mbah mansyur (Kh.Tubagus Mansyur) yg d ceritain sama guru aku
Ariasa Sinta
loh loh loh ....
q berasa kaya lagi ngaji thor

siapa kah sebenarnya kang sidik ?
SANTRI MBELING: hehe he. makasih mampir disini juga
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!