NovelToon NovelToon
Penantian 7 Tahun

Penantian 7 Tahun

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:562
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Airellia Kaivena hidup dalam penantian yang tak pernah benar-benar ia pahami. Selama tujuh tahun, ia setia menunggu seseorang dari masa kecilnya yang berjanji akan kembali.

Ketika akhirnya sosok itu muncul kembali dalam wujud Zevarion Hale, harapan yang lama terkubur perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam.

Namun di balik pertemuan yang seharusnya indah, tersembunyi kebenaran yang mampu menghancurkan segalanya, mengubah penantian menjadi luka yang tak pernah ia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6 - Kemunculan Rave

Pagi itu berjalan seperti biasa, setidaknya di permukaan, dan tidak ada hal yang tampak berbeda bagi siapa pun yang melihat dari luar. Kampus mulai ramai sejak jam pertama, suara langkah kaki memenuhi koridor, dan obrolan ringan terdengar dari berbagai sudut tanpa jeda yang berarti. Airel Virellia berjalan melewati lorong dengan ritme yang sama seperti hari-hari sebelumnya, tas di bahunya tergantung rapi, wajahnya tenang, nyaris tanpa perubahan.

Ia melewati beberapa kelompok mahasiswa yang sedang berbincang, sesekali harus menghindar karena ada yang berjalan berlawanan arah dengan tergesa. Udara di dalam gedung terasa sedikit pengap, bercampur dengan aroma kertas dan pendingin ruangan yang tidak sepenuhnya dingin. Airel tetap berjalan tanpa terburu, langkahnya terukur seperti seseorang yang sudah hafal setiap sudut tempat itu tanpa perlu melihat sekeliling terlalu lama.

Di mata orang lain, ia tampak baik-baik saja dan tidak ada yang perlu dipertanyakan dari sikapnya. Ia masuk kelas tepat waktu, duduk di tempat yang hampir selalu sama, lalu mengeluarkan buku catatan dengan gerakan yang rapi dan tanpa suara. Dosen mulai menjelaskan materi, dan Airel mengikuti dengan fokus yang cukup, mencatat poin penting dan sesekali mengangkat kepala untuk memastikan ia tidak melewatkan sesuatu.

Namun ada satu hal yang tetap tidak berubah, sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak pernah benar-benar coba hentikan. Tangannya bergerak pelan, melirik jam di pergelangan, dan tatapannya tertahan lebih lama dari sekadar memastikan waktu.

09.17.

Ia mengalihkan pandangan kembali ke depan, tapi pikirannya sempat tertinggal beberapa detik lebih lama dari yang terlihat. Gerakan itu kecil dan hampir tidak menarik perhatian siapa pun, karena kebanyakan orang sibuk dengan urusan masing-masing. Namun ada satu orang yang tidak melewatkannya begitu saja.

Di barisan kursi sedikit ke belakang, seorang pria bersandar dengan santai sambil memutar pulpen di jarinya. Raveon Arkhalis tidak terlihat terlalu fokus pada papan tulis, tapi juga tidak sepenuhnya mengabaikan penjelasan dosen. Matanya bergerak sesekali, dan ketika sempat tertuju pada Airel, ia menangkap kebiasaan kecil itu tanpa perlu berusaha keras.

Ia tidak menunjukkan reaksi apa pun dan tidak langsung menyimpulkan sesuatu yang berlebihan. Pandangannya kembali ke depan, seolah apa yang ia lihat hanyalah detail kecil yang tidak perlu dibahas. Namun di dalam pikirannya, hal itu tetap tersimpan, seperti potongan yang menunggu untuk disusun dengan bagian lain.

Kelas berakhir setelah beberapa waktu, ditandai dengan suara kursi yang bergeser dan mahasiswa yang mulai berdiri satu per satu. Suasana yang tadinya tenang berubah menjadi ramai dalam hitungan detik, dipenuhi percakapan dan langkah kaki yang saling bersahutan. Airel merapikan bukunya tanpa tergesa, memastikan semuanya masuk ke dalam tas sebelum ia benar-benar berdiri.

“Airel.”

Ia menoleh ketika mendengar namanya dipanggil, dan mendapati Rave sudah berdiri di dekat mejanya dengan ekspresi yang santai seperti biasa.

“Kamu enggak ke kantin?” tanyanya.

“Enggak.”

Jawaban itu singkat dan tidak membuka ruang percakapan lebih jauh, tapi Rave tidak langsung pergi. Ia menyandarkan satu tangannya ke meja, menatap Airel dengan cara yang tidak mengintimidasi, tapi cukup jelas menunjukkan bahwa ia belum selesai.

“Kamu selalu lihat jam di jam-jam tertentu,” ucapnya.

Airel berhenti sebentar sebelum akhirnya menutup tasnya dengan tenang. Ia mengangkat pandangan, menatap Rave tanpa ekspresi yang berubah.

“Kamu perhatiin?”

“Kebetulan.”

Nada suaranya ringan, tapi tidak asal bicara. Airel bisa melihat itu, meski ia tidak mengatakannya secara langsung. Ia berdiri, mengangkat tasnya, lalu mulai berjalan keluar kelas tanpa menunggu percakapan itu berkembang lebih jauh.

Rave mengikuti di sampingnya tanpa diminta, menjaga jarak yang tidak terlalu dekat tapi juga tidak jauh. Koridor sudah mulai lebih lengang, hanya menyisakan beberapa mahasiswa yang berjalan santai atau berdiri di sudut untuk berbicara.

“Kalista pernah cerita,” ucap Rave setelah beberapa langkah.

Airel melirik sekilas, lalu kembali menatap ke depan.

“Apa?”

“Katanya kamu sering ke satu tempat tiap sore.”

Langkah Airel tidak berhenti, tapi ada sedikit perubahan pada ritmenya yang sulit ditangkap jika tidak benar-benar memperhatikan. Ia tidak langsung menjawab, membiarkan beberapa detik berlalu sebelum akhirnya membuka suara.

“Itu urusan aku.”

“Iya.”

Rave tidak memaksakan, tapi juga tidak benar-benar berhenti. Ia berjalan tetap di sampingnya, seperti seseorang yang tahu batas, tapi tetap ingin melangkah sedikit lebih jauh.

“Tapi aku penasaran.”

Airel menghela napas pelan, bukan karena kesal, melainkan karena percakapan ini terasa terlalu familiar. Ia berhenti di depan tangga, menatap ke arah halaman kampus yang mulai lebih sepi dibandingkan pagi tadi.

“Kamu enggak harus tahu semuanya.”

“Aku enggak harus, tapi aku mau.”

Jawaban itu membuat Airel diam beberapa saat, mempertimbangkan sesuatu yang tidak ia ucapkan. Ia akhirnya berkata tanpa menoleh,

“Aku nunggu seseorang.”

Kalimat itu sederhana dan tidak diberi penjelasan tambahan, tapi cukup jelas untuk memberi arah. Rave tidak langsung merespon, hanya berdiri di sampingnya sambil menatap ke arah yang sama.

“Sudah lama?”

Airel mengangguk.

“Tujuh tahun.”

Rave menarik napas pelan, lalu menghembuskannya tanpa suara. Ia tidak menunjukkan reaksi berlebihan, tapi jelas memahami bahwa angka itu bukan sesuatu yang ringan.

“Lama juga.”

Mereka kembali berjalan, turun tangga menuju area parkir yang mulai dipenuhi kendaraan yang keluar satu per satu. Matahari sudah bergeser, menciptakan bayangan panjang yang mengikuti langkah mereka di permukaan aspal.

“Aku boleh tanya sesuatu?” ucap Rave.

Airel tidak menjawab, tapi tidak menghentikannya juga.

“Orang itu masih ada?”

Airel menatap lurus ke depan, tidak langsung memberi jawaban. Ia menarik napas pelan, lalu berkata,

“Iya.”

“Kamu yakin?”

“Iya.”

Jawaban itu tidak berubah, tidak goyah, dan tidak memberi ruang untuk diragukan. Rave menoleh sedikit, mencoba membaca sesuatu dari ekspresinya, tapi tidak menemukan celah yang jelas.

Mereka sampai di depan gerbang kampus, dan suara kendaraan bercampur dengan percakapan orang-orang yang mulai pulang. Airel berhenti, dan tanpa perlu dijelaskan, Rave tahu ke mana arah berikutnya.

“Kamu ke sana lagi?”

“Iya.”

“Aku ikut.”

Airel mengernyit sedikit, menatapnya dengan ekspresi yang tidak sepenuhnya menolak, tapi jelas mempertanyakan.

“Buat apa?”

“Penasaran.”

Jawaban itu terdengar santai, tapi tidak asal. Airel terdiam sejenak, lalu akhirnya mengangguk kecil tanpa menambahkan apa-apa.

Mereka berjalan bersama melewati jalan yang semakin sepi, suara kota perlahan meredup seiring waktu yang bergeser. Tidak banyak percakapan di antara mereka, tapi keheningan itu tidak terasa canggung. Rave tidak mencoba mengisi setiap jeda, dan Airel tidak merasa perlu menjelaskan lebih dari yang sudah ia katakan.

Beberapa menit kemudian, mereka sampai di halte itu. Tempat yang sama, bangku yang sama, dan suasana yang tidak pernah benar-benar berubah.

Airel duduk di ujung seperti biasa, sementara Rave berdiri sebentar, melihat sekeliling sebelum akhirnya ikut duduk di sampingnya. Ia tidak langsung bicara, hanya memperhatikan bagaimana Airel kembali melakukan hal yang sama seperti sebelumnya.

Tangannya bergerak.

17.44.

Rave memperhatikan tanpa mengomentari, membiarkan waktu berjalan sebagaimana mestinya. Kendaraan lewat, beberapa orang datang dan pergi, dan tidak ada yang benar-benar berubah.

“Setiap hari?”

“Iya.”

“Di jam yang sama?”

“Iya.”

Rave mengangguk pelan, lalu menatap ke depan. Ada banyak hal yang ingin ia katakan, tapi ia memilih menahannya karena tahu ini bukan sesuatu yang bisa diselesaikan dengan logika sederhana.

“Kalau dia nggak pernah kembali gimana?”

Pertanyaan itu keluar dengan nada yang tenang, tanpa tekanan yang berlebihan. Airel tidak langsung menjawab, matanya tetap tertuju ke jalan seperti sedang menunggu sesuatu yang mungkin muncul di detik berikutnya.

17.45.

Ia menarik napas pelan.

“Dia pasti kembali.”

Rave menoleh, memperhatikan jawaban itu dengan lebih serius dari sebelumnya.

“Kenapa kamu bisa seyakin itu?”

Airel akhirnya menoleh, menatapnya dengan ekspresi yang tidak berubah.

“Karena dia janji.”

Dua kata itu cukup untuk menjelaskan semuanya tanpa perlu tambahan. Rave tidak langsung menjawab, hanya mengalihkan pandangan kembali ke depan dengan pikiran yang berjalan lebih jauh dari yang ia tunjukkan.

Ia bukan orang yang mudah percaya pada hal yang tidak bisa dibuktikan, tapi melihat Airel membuatnya memahami bahwa ini bukan soal benar atau salah. Ini soal sesuatu yang tidak bisa digantikan oleh logika.

Ia menghela napas pelan.

“Kalau begitu… aku harap dia benar-benar kembali.”

Airel tidak menjawab, tapi ada perubahan kecil yang nyaris tidak terlihat di wajahnya. Sore perlahan berganti malam, lampu jalan menyala satu per satu, dan halte itu kembali menjadi tempat yang lebih sunyi dari sebelumnya.

Rave berdiri, merapikan bajunya sebelum melangkah mundur sedikit.

“Aku pulang dulu.”

Airel mengangguk.

Namun sebelum benar-benar pergi, Rave berhenti dan menoleh.

“Rel.”

Airel mengangkat pandangan.

“Kalau suatu hari kamu capek, kamu enggak harus nunggu sendirian.”

Kalimat itu sederhana, tapi tidak terasa ringan. Airel tidak langsung menjawab, hanya mengangguk pelan setelah beberapa detik.

“Iya.”

Rave tersenyum tipis, lalu berbalik dan berjalan pergi, langkahnya perlahan menghilang di antara cahaya lampu jalan yang semakin terang.

Airel kembali sendiri di halte itu, seperti hari-hari sebelumnya, namun suasana terasa sedikit berbeda meski sulit dijelaskan dengan jelas. Ia menatap ke jalan sekali lagi, membiarkan waktu berjalan tanpa ia percepat.

Tangannya kembali diam di atas tas, dan napasnya perlahan mengikuti ritme yang sama seperti biasanya. Ia tidak berpikir terlalu jauh, tidak juga mencoba mencari jawaban yang belum datang.

Ia hanya menunggu, seperti yang selalu ia lakukan, dengan keyakinan yang tidak pernah benar-benar berubah sejak awal.

1
𝐀⃝🥀Weny
wah jangan² itu orang yang ditunggu selama ini.. tapi mereka sudah lupa dengan wajahnya😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!