NovelToon NovelToon
KEY

KEY

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:364
Nilai: 5
Nama Author: DAN DM

AKU ADALAH KEY.
AKU HIDUP BERSAMA TUKANG KAYU DARI PENJAG KUIL

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DAN DM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sapu gila

Siang itu, latihan Deon Key berjalan sangat intens.

WUSH! TING! PLAK! WUSH!

Deon bergerak secepat kilat, berkeringat deras, dan tubuhnya dipukuli habis-habisan oleh Sapu Naga Penyapu Langit. Tapi anehnya, setiap kali dipukul, otot dan tulangnya terasa semakin kuat dan ringan.

"Bagus! Fokus! Jangan lengah!" teriak Deon pada dirinya sendiri, sementara sapu itu berputar seperti badai di sekelilingnya.

 

Di sisi lain, di teras gubuk yang teduh...

Kakek Genpo duduk dengan sangat santai dan bergaya. Ia bersandar di dinding, kakinya diselonjorkan, tangan kanannya memegang gelas teh manis jumbo, dan tangan kirinya memegang piring berisi gorengan pisang yang masih hangat.

"Hahaha, rajin sekali cucu Kakek," gumamnya sambil nyeruput teh dengan sluuurp yang sangat memuaskan. "Mendingan Kakek nikmati hari tua sambil ngawasin. Biar Deon yang capek-capek."

Genpo sama sekali tidak merasa terancam. Baginya, sapu itu kan "anak buahnya". Dia yang pegang wewenang, jadi mana mungkin sapu itu berani menyentuhnya.

Tiba-tiba...

Saat Deon melakukan gerakan menghindar ke samping dengan sangat cepat...

DOR!

Sapu itu melesat dengan kecepatan tinggi menyambar ke arah yang dituju Deon. Tapi...

Deon menghindar terlalu cepat!

Dan posisi Kakek Genpo yang sedang duduk santai itu... tepat berada di jalur belakangnya!

PLAK!!! BUG!!

"AAAAADUUUUUUHHHHH!!!"

Suara teriakan melengking dan memilukan mengguncang seluruh lembah!

Genpo yang mulutnya penuh gorengan, langsung melompat tinggi setinggi pohon kelapa! Gelas tehnya terlempar tinggi, airnya tumpah membasahi baju barunya yang mahal!

BRUK!

Kakek Genpo jatuh meringkuk di tanah, memegangi pantatnya yang terasa panas dan bergetar!

"SIAPA?! SIAPA YANG BERANI PUKUL KAKEEEEK?!" teriaknya histeris, matanya melotot mencari musuh.

Dan apa yang dilihatnya?

Sapu itu melayang diam di udara, bergoyang-goyang sedikit seolah berkata: "Eh... salah sasaran nih bos."

 

"HEH!! KAMU!!" Genpo menunjuk sapu itu dengan tangan gemetar, wajahnya merah padam campur malu dan kesakitan.

"Kamu kan sapu Kakek! Kenapa mukul Kakek?! Gila ya?! Kakek kan majikanmu!!"

Sapu itu bergerak maju sedikit, lalu gagangnya menunjuk ke arah Genpo, lalu menunjuk ke arah Deon yang sedang latihan, seolah memberi peringatan:

"Jangan malas! Jangan cuma nonton! Ikut gerak juga!"

BRAK!

Genpo jatuh terduduk lagi.

"Ih... jahat sekali! Baru dipuji kemarin, hari ini sudah main pukul!" rengek Kakek sambil mengusap-usap pantatnya yang perih. "Padahal Kakek cuma mau minum teh... masa iya minum teh juga dilarang?!"

 

Aku berhenti latihan, napasku terengah-engah tapi aku harus menahan tawa sekuat tenaga melihat pemandangan di depan mata.

Kakek Genpo duduk mengaduh di tanah, baju basah kena air teh, rambut berantakan, dan wajahnya cemberut seperti anak kecil yang disabet guru.

"Hahaha! Hahaha!" akhirnya aku tidak tahan dan tertawa terbahak-bahak sampai perut sakit! "Sakit Kek?! Hahaha maaf! Maaf! Tadi gerakanku terlalu cepat jadi sapunya nyasar kena Kakek!"

"Kamu masih bisa ketawa?!" Genpo menatapku tajam tapi matanya berkaca-kaca. "Pantat Kakek rasanya mau copot Nak! Itu sapu galak! Dia tidak memandang bulu! Dia tidak hormat sama orang tua!"

 

Aku mendekati Kakek, lalu memeriksa sapu itu yang kini melayang tenang di hadapan kami.

"Tunggu Deon cek dulu ya..."

Aku menyentuh gagang sapu itu, mencoba membaca pesan energinya.

"SISTEM KESELAMATAN AKTIF. SIAPA PUN YANG BERADA DI ZONA LATIHAN ATAU BERADA DI JALUR SERANGAN... AKAN DIANGGAP SASARAN. TERMASUK PENJAGA RUMAH YANG SEDANG MALAS DAN DUDUK DITEMPAK."

Aku mengangguk-angguk paham, lalu menoleh ke Genpo.

"Jadi gini Kek..."

"Gini apanya?!"

"Sapu ini kan buatan zaman Q yang super canggih. Dia tidak kenal Kakek sebagai majikan kalau lagi mode latihan. Dia cuma kenal Tugas."

Aku menahan tawa lagi.

"Jadi aturannya:

1. Kalau Deon latihan, jangan berdiri diam di sekitar. Nanti kena tembak.

2. Kalau mau nonton, harus ikut jalan-jalan atau gerak dikit. Jangan duduk kaku kayak patung. Nanti dikira rintangan atau musuh."

Genpo mengelus dada, napasnya memburu.

"Ya ampun... teknologi yang aneh sekali..." gumamnya kesal tapi tidak bisa berbuat apa-apa. "Jadi sekarang Kakek mau minum teh aja harus lari-lari keliling lapangan biar nggak dipukul?!"

"Hahaha kurang lebih begitu Kek! Atau... Kakek ikut latihan bareng Deon aja gimana? Biar badan Kakek jadi segar dan awet muda!" tawarku ceria.

"ENGGAK MAU!!" teriak Genpo langsung menolak keras.

"Kakek cukup jadi pelatih mental aja! Kalau Kakek ikut masuk ring, nanti Kakek yang jadi sasaran empuk dipukulin sapu itu terus! Nanti tulang Kakek pada copot satu-satu!"

 

Genpo berdiri dengan susah payah, membetulkan bajunya yang basah, lalu mengambil sapu itu dengan hati-hati (dan sedikit takut).

"Ya sudah... perjanjian baru ya," kata Genpo serius sambil menepuk-nepuk sapu itu.

"Kamu itu hebat, kamu itu sakti, tapi tolonglah... bedain mana cucu, mana kakek. Cucu boleh dipukul biar jago. Kakek... cukup disapu debunya aja ya. Jangan dipukul! Nanti meninggal duluan siapa yang masakin?"

Sapu itu bergoyang-goyang di udara seolah mengangguk setuju.

"Hahaha! Ayo Kek, masuk ganti baju! Nanti masuk angin! Deon janji bakal kontrol gerakannya lebih teliti!"

"Dasar sapu durhaka! Ayo masuk! Kakek mau bikin teh lagi! Kali ini minumnya di dalam kamar terkunci!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!