"Pe-periksa Hadiah Aktivasi Sistem…" kata Liam dengan sedikit keraguan dalam suaranya.
Ding!
[Selamat telah berhasil memperoleh Sistem Tamparan Wajah. Berikut adalah hadiah aktivasi satu kali]
[1.000.000 Dolar (Silakan periksa sakumu untuk detailnya)]
Liam, seorang mahasiswa miskin yang hidup sederhana dan sering dipandang rendah oleh orang lain. Hidupnya berubah drastis setelah ia dikhianati oleh pacarnya, Bella, yang memilih pria kaya dan berkuasa. Dalam kondisi hancur dan putus asa, Liam tiba-tiba mendapatkan sebuah sistem misterius yang memberinya kekuatan untuk membalas hinaan orang lain dengan cara mempermalukan mereka.
Dengan bantuan sistem tersebut, Liam memperoleh kekayaan, kekuatan, dan berbagai kemampuan luar biasa. Dari seorang pemuda lemah yang diremehkan, ia perlahan bangkit menjadi sosok yang percaya diri, kuat, dan bertekad untuk mengubah nasibnya serta membalas semua orang yang pernah merendahkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZHRCY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 - Foto Bersama
Melihat lampu neon yang berkedip pada merek ponsel itu, Liam tidak bisa menahan senyum penuh antisipasi.
Kali ini, ia tidak bersemangat karena ponsel baru yang akan ia beli, melainkan karena ia menantikan kejadian mempermalukan orang berikutnya.
Tanpa disadari oleh Liam, ia sudah mulai berharap dipermalukan di depan umum agar ia bisa melakukan itu.
Sayangnya, kali ini Liam harus kecewa.
Saat mereka masuk ke dalam toko, karyawan toko langsung menyambut mereka dengan senyum profesional dan mulai memperkenalkan produk kepada mereka berdua.
Liam merasa aneh. ‘Kenapa toko ini sangat… sopan? Kenapa tidak seperti toko jam tadi? Sekarang aku tidak bisa mempermalukan orang di sini.’
Liam hanya bisa menangis dalam hati saat karyawan wanita yang memperkenalkan dirinya sebagai Kelly, membawa mereka ke etalase terdekat sambil menjelaskan detail produk kepada Liam dan Sylvie.
"Spesifikasi ponsel seperti apa yang kau inginkan?" tanya Sylvie.
Ia membawa Liam ke sini tanpa benar-benar tahu apa yang ia cari. Namun, ini adalah merek ponsel terbaik di pasaran saat ini, jadi ia pikir tidak masalah membiarkan Liam berbelanja di sini.
Liam menahan rasa kecewanya sambil berpikir.
"Apa model terbaru?" tanyanya.
Ponsel Liam yang ia tinggalkan di kamar sewanya adalah salah satu model paling lama. Hanya memiliki jaringan 2G. Spesifikasinya juga sangat biasa dan sangat lambat bahkan hanya untuk membuka aplikasi ringan.
Sebenarnya, Liam tidak terlalu sering menggunakan ponselnya. Ia hanya memakainya untuk mengirim pesan atau mengobrol dengan Bella, jadi tidak ada alasan untuk membeli yang baru selama masih bisa digunakan.
Yah, sebagian alasannya juga karena ia sangat miskin saat itu.
"Kalau yang terbaru di pasaran, itu Iphone 18. Punya banyak fitur bagus," kata Sylvie setelah berpikir sejenak, memperkenalkan dunia baru kepada Liam.
Di tengah penjelasan, Kelly menggantikan Sylvie dan menjelaskan semua detail Iphone 18 dengan lebih rinci.
Mendengar semua spesifikasi itu membuat Liam terdiam.
'Apakah kau benar-benar sedang membicarakan ponsel sekarang, bukan komputer? Bukankah spesifikasinya sedikit berlebihan?'
"32GB RAM? 1TB ROM? Apa ini?"
Yang lebih mengejutkan lagi, 1TB itu baru awal. Jika mau, ia bahkan bisa membeli versi 2, 4, 6, 8, bahkan 12TB.
Liam berpikir, file apa yang disimpan orang sampai butuh kapasitas sebesar itu?
Ponsel lamanya hanya punya 2GB, dan itu saja masih tersisa untuk digunakan sekitar 400MB.
Namun yang paling membuat Liam kagum adalah layarnya yang sangat besar. Ia memperkirakan ukurannya dua kali lipat dari ponsel lamanya. Selain itu, ponsel ini juga sangat tipis, tapi tetap kuat menurut Kelly.
Saat ini, Liam sudah benar-benar terpikat.
Karena ia punya uang, ia tidak ragu lagi dan langsung memutuskan untuk membeli.
Harganya 3000 Dollar. Namun, Liam tidak merasa keberatan setelah membayarnya karena menurutnya itu sepadan. Dan dengan perubahan pola pikirnya belakangan ini, dia tidak lagi merasa perlu berhemat pada dirinya sendiri, terutama ketika uang itu berasal dari Sistem.
Setelah membayar dengan kartu atm hitam, Sylvie dan Liam keluar dari toko.
Karena Liam tidak sabar lagi, dia memutuskan untuk mengeluarkannya dari kotaknya untuk menggunakannya.
Ponsel itu terasa ringan dan halus. Ia bahkan merasa seperti memegang kapas. Ia memilih warna hitam krom karena menurutnya warna itulah yang paling terlihat premium di antara semua ponsel yang dipajang di lemari kaca.
Setelah menggunakan ponsel tersebut, Sylvie dan Liam langsung menguji kameranya dan, yang membuatnya senang, hasilnya benar-benar tidak mengecewakan. Foto yang dihasilkan memiliki kualitas sangat tinggi sehingga dia merasa seolah-olah sedang melihat dirinya sendiri secara langsung.
Karena Liam masih malu di depan kamera, Sylvie lah yang mengambil banyak foto dirinya, serta selfie bersama keduanya. Baru setelah mengambil puluhan foto, Sylvie dan Liam merasa puas.
Di akhir sesi foto, rasa percaya diri Liam meningkat berkat dorongan Sylvie.
Setelah selesai sesi pemotretan, Sylvie menyarankan agar ia juga membeli kartu SIM baru dengan paket data terpasang agar tidak mengalami masalah terkait internet.
Liam memang sudah memiliki kartu SIM di rumah, tetapi setelah menyadari bahwa kartu tersebut hanya berisi beberapa kontak dengan Bella sebagai yang paling penting, ia memutuskan untuk membeli yang baru dan memulai dari awal sekali dan untuk selamanya.
Setelah mencari-cari sebentar, Liam akhirnya memilih paket bulanan seharga 25 dolar. Paket tersebut mencakup internet tanpa batas serta SMS dan panggilan tanpa batas ke semua jaringan. Kartu SIM yang ia beli juga dapat mengakses internet 5G, yang merupakan generasi internet terbaru saat ini.
Mengenai kecepatannya, penjual mengatakan bahwa hal itu tergantung pada lokasi, tetapi kecepatan minimumnya seharusnya sekitar 5 Mb per detik, yang menurut Liam sudah cukup cepat. Yah, kecepatan di atas 1 Mb per detik sudah cukup cepat bagi Liam mengingat sebelumnya dia hanya memiliki akses internet 2G.
Setelah memasang kartu SIM, Sylvie dengan mudah menambahkan kontaknya ke ponsel Liam dan bahkan mengirim pesan teks ke dirinya sendiri, untuk menguji apakah paket tersebut benar-benar berfungsi.
Setelah itu, mereka berkeliling lagi di mall. Liam membeli berbagai hal yang ia sukai.
Sylvie merekomendasikan banyak barang, termasuk jenis pakaian baru untuk dia kenakan. Dia membantunya memilih banyak barang yang paling cocok untuknya.
Beberapa jam kemudian, Liam tersenyum lebar sambil menikmati es krim yang dibeli Sylvie untuknya.
Selama beberapa jam ini, dia cukup banyak berinteraksi dengan Sylvie. Dia berpikir bahwa meskipun Sylvie belum membeli barang apa pun selain es krim yang sedang dia makan, pengetahuannya tentang barang-barang yang direkomendasikannya sangatlah mumpuni. Seolah-olah dia sudah mengetahui semuanya sebelumnya atau telah mempelajarinya secara khusus sejak lahir.
Saat itu, Liam tidak bisa menahan diri untuk mengamati Sylvie dengan lebih serius.