NovelToon NovelToon
Aku Ini Istrimu

Aku Ini Istrimu

Status: sedang berlangsung
Genre:KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Penyesalan Suami
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author:

Aku nggak pernah membayangkan kalau gaun putih ini bakal terasa seberat rantai besi. Menikah dengan Bara Adiwangsa bukan mimpi indah yang jadi nyata, tapi awal dari sandiwara panjang yang nggak tahu kapan selesainya.

Bara itu suamiku, tapi dia yang paling sering bikin aku merasa nggak berharga. Dia bisa bersikap manis di depan orang tuanya, lalu berubah jadi orang lain yang kasar saat dia bersamaku.

Capek? Banget. Karena suamiku mungkin berpikir dia bisa menginjak-injak harga diriku hanya karena dia merasa telah "membeliku". Dia bisa saja menatapku dengan jijik, mengacuhkanku seolah aku hanyalah pajangan mati di pojok ruangan. Dia bisa memuja masa lalunya atau mencari pelarian pada orang lain, tapi ada satu kenyataan pahit yang tidak akan pernah bisa dia hapus, sekeras apa pun dia mencoba.

"Tatap aku, Bara. Hina aku sesukamu, tapi jangan pernah lupa satu hal... Aku Ini Istrimu."

Bab 6 Genggaman Tanpa Rasa

Setelah mobil Reno menghilang dari halaman depan, suasana ruang tamu kembali tenang, namun sisa-sisa ketegangan masih menggantung di udara. Baskoro menyesap kopi untuk terakhir kalinya, lalu menatap Bara yang masih betah merangkul bahu Renata.

"Bara, kamu nggak ke kantor hari ini? Tadi Reno bilang ada dokumen yang harus segera dibereskan," tanya Papah sambil melirik jam tangan mewahnya.

Bara menyandarkan punggungnya ke sofa, tampak santai seolah tidak ada beban pekerjaan sama sekali. "Nggak ada yang terlalu penting, Pa. Urusan kantor bisa didelegasikan. Hari ini aku mau me time saja di rumah," jawabnya acuh tak acuh.

Mendengar itu, Baskoro justru menjentikkan jarinya, seolah mendapatkan ide brilian. "Kebetulan sekali! Kalau kamu memang mau me time, jangan di rumah. Kamu ajak Renata keluar, jalan-jalan cari angin. Kasihan dia di rumah terus, kalian butuh waktu berdua buat ngobrol atau apa pun."

Bara langsung mengerutkan dahi, berniat menolak. "Pa, aku lagi malas nyetir mobil."

"Nggak ada kata malas, Bara," potong Baskoro tegas, namun tetap dengan nada kebapak-an yang sulit dibantah. "Papah juga butuh ketenangan. Sebentar lagi Papah mau ada meeting online penting soal ekspansi cabang baru. Papah butuh rumah ini sepi biar fokus. Jadi, kalian keluar sekarang juga."

Bara menatap Renata yang sejak tadi hanya diam. Sementara itu, Renata merasa serba salah. Dia masih merasa lemas dan perih di beberapa bagian tubuhnya akibat kejadian semalam, tapi menolak perintah mertuanya yang baik hati itu rasanya tidak sopan.

"Gimana, Renata? Mau ya temani suami kamu jalan-jalan?" tanya Papah dengan tatapan penuh harap.

Renata melirik Bara yang tampak tidak peduli, lalu kembali menatap Papah. "I-iya, Pa. Renata ikut saja kalau memang itu kemauan Papa."

"Nah, gitu dong!  Jadi istri yang baik harus selalu siap," puji Papah puas. Ia kemudian mengambil ponselnya, mengotak-atik layar sebentar sebelum akhirnya suara denting notifikasi terdengar dari ponsel yang berada di saku piyama Renata.

"Barusan Papa transfer uang jajan buat kamu jalan-jalan hari ini. Coba kamu cek, Renata, apa udah masuk? Kalo udah uangnya pakai saja sesukamu, buat beli baju atau perhiasan baru, Papa nggak mau lihat menantu Papa kaya nggak keurus."

Renata buru-buru merogoh sakunya dan membuka aplikasi perbankan. Matanya membelalak melihat deretan angka nol yang sangat banyak di layar ponselnya. Nominalnya jauh lebih besar dari gaji bulanan staf biasa.

"S-sudah masuk, Pa. Tapi ini... ini kebanyakan," ujar Renata terbata-bata.

"Nggak apa-apa itu buat kamu sendiri. Sudah, sana kalian siap-siap. Bara, jangan pelit sama istrimu sendiri, ya!" Papah terkekeh, lalu bangkit berdiri menuju ruang kerjanya, meninggalkan Bara dan Renata yang kini kembali terjebak dalam keheningan yang canggung di ruang tamu.

Kemudian mereka berdua ke atas, saat masuk ke kamar untuk siap-siap, disana terjadi percakapan. Setelah pintu kamar tertutup rapat, suasana hangat yang dipaksakan di bawah tadi langsung menguap, digantikan oleh hawa dingin yang menusuk. Bara menyentak tangannya ke atas meja rias dengan kasar, suaranya terdengar keras di tengah kesunyian kamar.

"Lo sengaja, kan?" semprot Bara, matanya menatap tajam Renata melalui pantulan cermin. "Kenapa lo iya-in waktu Papa nyuruh jalan-jalan? Gue udah bilang lagi malas, dan lo malah nurut!"

Renata yang sedang membenarkan letak blus panjangnya, ia tersentak. Lalu membalikkan badan, menatap Bara dengan lelah. "Gue harus gimana, Bara? Papa yang minta, Papa yang mau. Nggak mungkin gue bilang 'nggak mau' di depan muka Papah, sementara lo sendiri cuma diam aja tadi!"

"Lo harusnya bisa cari alasan! Bilang pusing, bilang capek. Pokonya alesan yang masuk akal." Ucap Bara dengan nada keras.

Kemudian Bara melangkah mendekat, memangkas jarak di antara mereka. "Dan soal duit itu... lo seneng banget ya langsung di-transfer? Segitu gampangnya lo dibeli sama keluarga gue?"

Dada Renata sesak mendengarnya. "Bara, jaga mulut lo! Gue nggak pernah minta uang itu.

"Lagian Papa yang kasih tiba-tiba. Dan lo seenaknya ngomong gitu, lo pikir gue serendah itu?" Renata kembali berbalik ke cermin, mencoba fokus mengancingkan bagian pergelangan tangan blusnya yang agak rumit. Namun, Bara belum selesai. Dengan langkah cepat, dia sudah berada di belakang Renata.

Sret!

Bara memutar bahu Renata dengan paksa, membuat wanita itu hampir kehilangan keseimbangan. Jemari Bara mencengkeram lengan Renata, matanya menatap tajam ke arah kerah tinggi yang menutupi leher istrinya.

"Dengerin gue ya... Jangan merasa  lo punya kuasa buat ngatur jadwal gue hari ini, karena Papah ada disini," desis Bara, suaranya rendah dan mengancam. "Kita keluar cuma buat formalitas di depan Papa. Begitu keluar dari rumah ini, seperti biasa apa yang harus lo lakuin."

Renata hanya bisa terdiam, menahan getaran di bahunya. Dia buru-buru merapikan pakaiannya, setelan blus dan celana kain yang terlihat elegan namun tetap sopan.

Tanpa sepatah kata lagi, mereka berdua keluar dari kamar. Atmosfer di antara mereka begitu berat, seolah ada bom waktu yang siap meledak kapan saja. Saat menuruni tangga, Bara memasang kembali wajah kepalsuannya.

Di bawah, Papah sudah bersiap dengan laptopnya di meja makan. "Nah, sudah rapi semua. Cakep! Hati-hati di jalan ya, Bara. Jaga menantu Papa baik-baik!"

"Iya, Pa. Kita berangkat dulu," jawab Bara datar, suaranya berubah drastis menjadi lebih tenang.

Renata hanya mengangguk kecil dan menyalami tangan mertuanya. "Aku pamit ya, Pa."

"Hati-hati! Sayang," seru Papah sambil melambaikan tangan, tak menyadari bahwa di balik pintu mobil yang tertutup nanti, drama yang sesungguhnya baru saja dimulai.

Pintu mobil tertutup dengan dentum yang berat, memutus udara dan menggantinya dengan keheningan yang menyesakkan. Bara menyalakan mesin, namun dia tidak segera menginjak gas. Dia mencengkeram kemudi, matanya menatap lurus ke depan.

"Jadi, lo mau ke mana?" tanya Bara, suaranya ketus dan datar. "Papa sudah kasih duit banyak, kan? Mau belanja sampai duit itu habis atau mau kemana kita hari ini?"

Renata menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi, memejamkan mata sejenak karena rasa pening yang tiba-tiba menyerang. Tubuhnya masih terasa lemas, dan suara sinis Bara hanya memperburuk keadaan.

"Terserah," jawab Renata pelan. "Gue nggak butuh belanja. Gue cuma mau keluar dari rumah itu biar Papa nggak curiga. Lo mau turunin gue di pinggir jalan juga terserah."

Bara mendengus kasar. "Jangan sok jadi martir, Renata. Gue nggak bakal turunin lo di jalan cuma buat bikin Papa marah kalau dia tahu. Kita cari tempat yang—"

Drrrtt... Drrrtt...

Getaran ponsel di dasbor mobil memotong kalimat Bara. Layar ponsel Bara menyala, menampilkan sebuah nama yang membuat suasana di dalam kabin mobil itu mendadak berubah seratus delapan puluh derajat.

Maya.

Mata Bara langsung terpaku pada layar itu. Ekspresi wajahnya yang tadinya penuh amarah dan sinis, tiba-tiba melunak, berganti dengan kilat kecemasan sekaligus kerinduan yang samar.

Renata melirik layar ponsel itu. Dia tahu siapa Maya—wanita dari masa lalu Bara yang namanya selalu menjadi hantu dalam pernikahan paksa mereka. Dadanya terasa sedikit mencelos, bukan karena cemburu, tapi karena dia tahu bahwa kehadiran nama itu biasanya berarti masalah baru baginya.

Bara tidak langsung mengangkatnya. Dia melirik Renata sekilas, seolah memastikan apakah istrinya itu memperhatikan.

"Kenapa nggak diangkat?" tanya Renata dingin, meski hatinya berdenyut aneh. "Angkat saja. Siapa tahu penting."

Tanpa menjawab, Bara menyambar ponselnya. Dia menekan tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.

"Halo, May?" suara Bara berubah. Tidak ada lagi nada tinggi atau ketus. Suaranya terdengar rendah, lembut, dan penuh perhatian—suara yang belum pernah didengarkan Renata sebelumnya, bahkan di saat-saat momen paling intim sekalipun tidak seramah itu.

Renata memalingkan wajahnya ke arah jendela, menatap deretan pepohonan yang mulai bergerak saat Bara akhirnya menjalankan mobil dengan satu tangan, sementara tangan satunya memegang ponsel dengan erat. Di balik kaca jendela, Renata hanya bisa menebak-nebak drama apa lagi yang akan menghampiri hidupnya setelah panggilan telepon ini.

Saat suara Maya mulai terdengar dari speaker ponsel.

"Bara... kamu lagi apa?" suara Maya terdengar manja.

Bara melirik Renata sekilas lewat ekor matanya, jemarinya mengetuk kemudi dengan gelisah. "Lagi di jalan, May. Mau keluar sebentar sama Renata," jawab Bara. Nada suaranya yang tadi membentak Renata kini melunak drastis, seolah dia sedang bicara dengan porselen yang mudah pecah.

Hening sejenak di seberang sana. Renata bisa merasakan perubahan atmosfer itu.

"Oh... gitu ya. Ya sudah, have fun ya kalian," ucap Maya singkat. Suaranya terdengar datar, namun penuh dengan muatan emosi yang tertahan.

Klik.

Sambungan terputus begitu saja. Bara menatap layar ponselnya yang kembali gelap dengan dahi berkerut. Dia tampak frustrasi, seolah ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.

Renata yang melihat itu hanya bisa mencibir dalam hati. Najis banget, dasar cewek drama. Baru denger nama istrinya saja langsung ngambek begitu, batin Renata kesal. Rasa mual yang tadi dia rasakan kini berganti dengan rasa muak.

"Kenapa? Dimatiin ya teleponnya sama dia?" tanya Renata dengan nada menyindir yang tidak bisa dia tahan.

Bara melempar ponselnya ke dasbor dengan kasar. "Gara-gara lo kali! Dia pasti nggak enak hati karena tahu gue lagi sama lo."

Renata tertawa hambar, kepalanya menoleh menatap Bara dengan tatapan tidak percaya. "Dih, kok jadi gara-gara gue? Gue dari tadi diam ya, Bara. Nggak ada angin, nggak ada hujan. Kok gue yang disalahin?"

Bara terdiam, rahangnya mengeras. Dia kembali fokus menatap jalanan di depannya dengan emosi yang kembali meluap.

"Coba call balik sana," lanjut Renata lagi, suaranya makin tajam. "Siapa tahu dia sebenarnya mau ngajak lo keluar juga. Daripada lo di sini cuma bisa marah-marah sama gue, mending lo temuin dia. Gue nggak masalah kalau harus turun di sini."

Mulut Renata memang bicara begitu, tapi di dalam hatinya, ada rasa sesak yang menghantam. Dia tidak terima. Dia benci kenyataan bahwa setelah apa yang mereka lalui semalam—setelah Bara meninggalkan jejak di seluruh tubuhnya—laki-laki itu masih bisa berubah selembut sutra hanya karena satu panggilan telepon dari wanita lain.

Bara tidak menjawab. Dia justru menginjak gas lebih dalam, membuat mobil itu melaju kencang membelah jalanan. Keheningan kembali merajai kabin mobil, namun kali ini jauh lebih menyakitkan daripada sebelumnya. Sedangkan Renata memalingkan wajah ke jendela, menatap jalanan yang kabur karena kecepatan tinggi. Hatinya mencelos.

Gila, batin Renata. Baru semalam dia menguasai tubuh gue seolah gue miliknya yang paling berharga, tapi sekarang? Satu telepon dari Maya dan gue langsung dianggap pengganggu.

"Lo nggak perlu pengertian dengan nyuruh gue tanya balik ke dia," ucap Bara akhirnya, suaranya rendah dan tajam. "Gue tahu apa yang gue lakuin."

"Oh ya? Kelihatannya nggak gitu," sahut Renata tanpa menoleh. "Lo kelihatan kayak pengecut yang nggak bisa milih. Lo mau main rumah-rumahan sama gue di depan Papa, tapi hati lo masih pengen lari ke dia. Terus gue di sini jadi apa, Bara? Cuma pelampiasan nafsu lo... apa yang kita lakuin semalam?"

Bara mendadak menginjak rem dengan sentakan hebat, membuat tubuh Renata terdorong ke depan. Beruntung sabuk pengaman menahannya. Mobil itu berhenti di bahu jalan yang sepi, di bawah deretan pohon peneduh yang rindang.

Bara melepas sabuk pengamannya dan berbalik menatap Renata dengan tatapan membunuh. Dia mendekat, mengurung Renata di kursinya dengan satu tangan bertumpu pada sandaran kepala.

"Jangan pernah bawa-bawa kejadian semalam buat ngepojokkin gue," ancam Bara. "Semalam itu transaksi, Renata. Lo milik gue karena kontrak, dan gue berhak ambil apa pun yang gue mau. Tapi jangan harap lo bisa ngatur gue."

Renata menatap balik mata gelap Bara. Dia tidak gentar, meski jantungnya berdegup kencang. "Gue nggak ngatur lo. Gue cuma minta... kalau lo mau sama dia pergi aja... Jangan bawa gue ke dalam drama kalian. Turunin gue di sini sekarang."

Tangan Renata sudah menyentuh tuas pintu mobil, siap untuk keluar. Namun, sebelum dia sempat menariknya, tangan Bara sudah lebih dulu mencengkeram pergelangan tangannya.

"Belum saatnya lo pergi," kata Bara pelan, namun penuh penekanan. "Papa sudah transfer duit itu, kan? Kita selesaikan sandiwara ini sampai sore. Setelah itu, lo mau hilang ditelan bumi pun gue nggak peduli."

Bara kembali menghidupkan mesin, lalu memacu mobilnya menuju pusat perbelanjaan terbesar di kota itu. Di dalam kabin yang dingin itu, Renata hanya bisa terdiam, merasakan perih di pergelangan tangannya yang kini senada dengan perih di hatinya. Dia tahu, hari ini tidak akan menjadi "jalan-jalan" yang menyenangkan seperti yang dibayangkan Papah Baskoro.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang mencekik sebelum akhirnya Bara berhasil menemukan celah kosong di area parkir basement mal yang hari ini padat dengan mobil. Di saat mesin mobil mati, menyisakan suara detak jantung Renata yang masih tak beraturan.

Renata tidak segera bergerak. Dia menatap lurus ke depan, enggan menatap pria di sampingnya. Namun, Bara sudah lebih dulu membuka pintu dan keluar, lalu berputar untuk membukakan pintu di sisi Renata.

Begitu Renata menapakkan kaki, dia merasakan jemari besar Bara mencengkram di antara jemarinnya dengan erat. Sangat erat, hingga Renata bisa merasakan panas dari kulit pria itu.

Karena itu Renata tersentak, mencoba menarik tangannya secara naluriah. "Lepasin, Bara. Nggak ada Papa di sini."

Bara tidak melepasnya. Dia justru menarik Renata lebih dekat ke sisinya, memaksa wanita itu berjalan seirama dengannya menuju pintu masuk mal.

"Diam," desis Bara tanpa menoleh, suaranya rendah namun penuh penekanan. "Gue nggak mau ada orang yang kita kenal lihat kita jalan berjauhan kayak orang musuhan. Terus nggak enak juga dilihat orang-orang."

Renata mencibir pahit. "Nggak enak-an? Lo bahkan nggak bisa bedain mana akting mana kenyataan."

"Gue tahu bedanya, Renata. Dan sekarang, kenyataannya adalah lo harus ikutin permainan gue sampai kita pulang ke rumah," balas Bara dingin.

Mereka melangkah masuk ke dalam mal mewah itu dengan tangan yang bertautan erat. Dari luar, mereka tampak seperti pasangan pengantin baru yang sempurna, Bara yang gagah dengan ekspresi datarnya yang protektif, dan Renata yang cantik dengan balutan pakaian elegan serta syal yang melilit manis di lehernya.

Orang-orang yang berpapasan sesekali melirik, mengagumi keserasian mereka. Namun, tak ada yang tahu bahwa di balik genggaman tangan itu, ada kuku yang menancap karena emosi, dan di balik syal indah itu, ada bekas-bekas merah yang menjadi saksi bisu betapa kasarnya "cinta" yang mereka bagi semalam.

Renata hanya bisa pasrah, membiarkan dirinya ditarik masuk ke dalam keramaian, sambil terus bertanya dalam hati: Sampai kapan sandiwara ini harus membunuh perasaannya?

1
Nanda
salam kenal yah...
neng aja
bintang 5 buat renata hehehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!