NovelToon NovelToon
MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Saniaa96

Membelenggu Liarmu dengan Mahar

​Shania Ayunda Salsabilla, gadis remaja berusia 18 tahun yang hidup liar dan pemberontak, dipaksa menikah oleh ayahnya dengan seorang pria religius bernama Zain Malik Muammar. Bagi Shania, pernikahan ini adalah penjara, sementara bagi Zain, ini adalah amanah untuk membimbing jiwa yang tersesat.

​Di malam pertama yang dingin, ketegangan memuncak saat Shania menabuh genderang perang dan menolak tunduk pada aturan agama.

Namun, ia justru dihadapkan pada ketegasan Zain yang tak tergoyahkan oleh provokasinya. Dimulai dari paksaan bangun Subuh hingga aturan berpakaian, Shania bertekad membuat Zain menyerah dan menceraikannya dalam sebulan.

Di sisi lain, Zain memulai misi besarnya: menundukkan keliaran hati Shania bukan dengan kekerasan, melainkan dengan kekuatan prinsip dan keteguhan iman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

​BAB 19: "Sujud di Kota Pahlawan"

​Pagi di Surabaya menyapa dengan hawa panas yang mulai menyengat sejak pukul tujuh. Deru kendaraan di jalanan seolah berpacu dengan degup jantung Shania yang duduk gelisah di kursi belakang mobil milik pondok. Di sampingnya, Umi Zainab tampak tenang, jemarinya tak berhenti memutar biji tasbih, sementara bibirnya basah oleh dzikir yang lirih.

​Shania berkali-kali membetulkan posisi cadarnya. Ia mengenakan gamis berwarna cokelat muda, warna yang pernah dipuji Zain secara tersirat saat mereka masih di Jombang. Di pangkuannya, sebuah tas jinjing berisi nasi kebuli dan beberapa potong pakaian ganti milik Zain ia peluk erat, seolah tas itu adalah pegangan hidupnya.

​"Tenang, Nak," bisik Umi Zainab tanpa membuka mata. "Allah itu Maha Membolak-balikkan hati. Sejauh apa pun Zain pergi, dia tetap suamimu. Dan sejauh apa pun kamu merasa berdosa, ampunan Allah lebih luas dari samudera."

​Shania hanya mampu mengangguk kecil. Pikirannya melayang pada kejadian malam itu. Bayangan Zain yang bertelanjang dada, otot-ototnya yang mengeras karena amarah, dan binar matanya yang sempat menggelap oleh nafsu yang meledak... semuanya masih terekam jelas. Namun, yang paling menyiksa adalah bayangan saat Zain mundur perlahan setelah ditampar, wajahnya yang hancur karena rasa malu, lalu keluar kamar dengan langkah gontai.

​"Kita sudah sampai," suara sopir membuyarkan lamunan Shania.

​Mobil berhenti di depan sebuah hotel bernuansa syariah yang cukup besar. Di depan gedung itu, sebuah baliho besar terpampang nyata: “Seminar Nasional: Membangun Keluarga Sakinah di Era Milenial. Pembicara: Ustadz Zain Malik Muammar.”

​Melihat nama suaminya bersanding dengan gelar-gelar kehormatan, Shania merasa semakin kerdil. Di mata dunia, Zain adalah panutan, mutiara ilmu yang sangat dihargai. Namun di matanya, Zain adalah pria yang ia sakiti, pria yang ia tantang harga dirinya hingga batas terakhir.

"​Pertemuan yang Tak Terduga"

​Seminar baru saja usai. Puluhan peserta masih tampak mengerumuni Zain di lobi hotel untuk sekadar bersalaman atau meminta nasihat singkat. Dari kejauhan, di balik pilar besar, Shania memperhatikan suaminya.

​Zain tampak lebih kurus. Wajahnya terlihat lelah, dengan lingkaran hitam di bawah mata yang tidak bisa disembunyikan oleh senyum sopannya kepada para jamaah. Ia mengenakan jubah abu-abu dan sorban yang senada, terlihat begitu berwibawa namun sekaligus terasa begitu jauh dari jangkauan Shania.

​"Zain," panggil Umi Zainab dengan suara yang tidak terlalu keras, namun cukup untuk membuat Zain menoleh seketika.

​Zain mematung. Matanya melebar saat melihat ibunya berdiri di sana. Namun, detak jantungnya seolah berhenti saat matanya bergeser ke sosok wanita di samping Umi. Sosok mungil bercadar dengan mata yang terlihat sembab.

​"Umi? Shania?" suara Zain tercekat di tenggorokan.

​Zain segera berpamitan kepada para jamaah dengan sopan, lalu melangkah lebar mendekati mereka. Ia langsung mencium tangan Umi Zainab dengan takzim. Namun, saat ia berhadapan dengan Shania, langkahnya tertahan. Ada jarak sekitar dua meter yang terasa seperti jurang tak berdasar di antara mereka.

​"Assalamualaikum, Mas," bisik Shania pelan, hampir tak terdengar di tengah kebisingan lobi.

​"Waalaikumussalam," jawab Zain datar, namun matanya tak bisa berbohong; ada kerinduan yang sangat dalam di sana, bercampur dengan rasa canggung yang luar biasa.

​Umi Zainab, dengan kebijaksanaannya, segera mengambil alih situasi.

"Zain, Umi ada perlu sebentar dengan panitia di lantai atas. Kamu bawa Shania ke kamarmu atau ke tempat yang lebih tenang. Dia sudah membawakan makanan untukmu. Kasihan, dia belum makan sejak pagi karena sibuk menyiapkan ini."

​Tanpa menunggu jawaban, Umi Zainab melenggang pergi, meninggalkan dua jiwa yang sedang dilanda perang batin itu dalam keheningan yang menyesakkan.

"​Di Dalam Kamar: Ruang Pengakuan"

​Zain membukakan pintu kamar hotel. Kamar itu rapi, namun terasa dingin. Al-Qur'an terbuka di atas meja kecil samping tempat tidur, menunjukkan bahwa penghuninya menghabiskan waktu luangnya dengan mengaji.

​Zain masuk dan duduk di kursi tunggal dekat jendela, sementara Shania tetap berdiri di dekat pintu, masih memeluk tas makanannya.

​"Duduklah, Shania," ucap Zain lembut, namun tanpa nada kemesraan yang biasanya.

​Shania melangkah perlahan, meletakkan tas makanan di atas meja, lalu—di luar dugaan Zain—ia justru bersimpuh di lantai, tepat di depan kaki suaminya.

​"Shania, apa yang kamu lakukan? Bangunlah."

Zain mencoba menarik tangan istrinya, namun Shania menolak.

​"Jangan, Mas. Biarkan aku di sini," isak Shania mulai pecah. "Aku, ke sini bukan untuk minta dilayani sebagai istri. Aku, ke sini untuk minta maaf. Aku... aku sudah keterlaluan. Tamparan itu, kata-kataku tentang Fatimah... aku benar-benar istri yang durhaka, Mas."

​Zain terdiam. Ia memejamkan matanya rapat-rapat. Rasa nyeri di pipinya saat ditampar sudah lama hilang, tapi rasa perih di hatinya saat melihat Shania ketakutan malam itu masih membekas.

​"Bangun, Shania Ayunda. Kamu tidak pantas bersimpuh begini."

Zain akhirnya berdiri, lalu dengan lembut namun tegas, ia memegang bahu Shania dan membimbingnya untuk duduk di tepi tempat tidur.

​Zain berlutut di depan Shania, menyamakan tinggi mereka. Ia menatap mata Shania yang basah. Dengan gerakan perlahan, Zain membuka cadar istrinya. Saat kain itu luruh, tampaklah wajah Shania yang pucat dan bibir yang bergetar.

​"Kamu, tahu kenapa saya tidak pulang dua minggu?" tanya Zain lirih.

​Shania menggeleng pelan.

​"Karena saya takut."

Pengakuan Zain membuat Shania tertegun.

"Saya, takut melihat wajahmu. Saya, takut setiap kali saya melihatmu, saya hanya akan teringat betapa hampir saja saya menjadi laki-laki bejat yang menggunakan kekuatan fisik untuk menundukkan wanita. Saya, malu pada sorban ini, Shania. Saya, malu pada ayahmu yang menitipkanmu pada, saya."

​"Enggak, Mas... Mas Zain itu orang baik. Aku, yang memancing, Mas Zain. Aku, yang bilang Mas Zain nggak menginginkan, aku. Aku, yang merasa Mas Zain jijik padaku..."

​Zain menghela napas panjang, lalu meraih kedua tangan Shania, menggenggamnya erat.

"Dengarkan saya baik-baik. Saya tidak pernah jijik padamu. Demi Allah, Shania... setiap kali saya melihatmu belajar mengaji, setiap kali saya melihatmu berusaha memakai hijabmu, hati saya meluap oleh rasa syukur. Tapi saya ini pria biasa. Saya punya gairah, saya punya nafsu. Saya menjagamu karena saya ingin saat kita 'bersatu' nanti, itu karena kamu sudah siap mencintaiku, bukan karena kamu merasa berutang budi atau karena paksaan mahar ini."

​Air mata Shania mengalir semakin deras. Ia merasakan hangatnya tangan Zain, kehangatan yang selama dua minggu ini hilang dari hidupnya.

​"Malam itu... saat saya melihat rambutmu tergerai."

Zain menjeda, suaranya bergetar.

"Kamu, begitu cantik. Tapi amarah saya mengotori kecantikan itu. Saya, yang harusnya minta maaf, bukan, kamu."

"​Meleburkan Ego"

​Shania memberanikan diri. Ia menarik tangannya dari genggaman Zain, lalu perlahan menyentuh pipi Zain—pipi yang dulu ia tampar dengan keras. Ia mengusapnya dengan ibu jari, seolah ingin menghapus bekas trauma di sana.

​"Mas, masih benci padaku?" bisik Shania.

​Zain tersenyum tipis, sebuah senyuman yang akhirnya kembali mencapai matanya.

"Bagaimana bisa saya membenci wanita yang sudah menjadi separuh agama, saya? Kamu, itu ujian sekaligus anugerah terbesar dalam hidup saya, Shania."

​Zain menarik Shania ke dalam pelukannya. Kali ini, tidak ada kekasaran. Tidak ada paksaan. Hanya sebuah pelukan protektif yang membuat Shania merasa benar-benar pulang. Shania membenamkan wajahnya di dada Zain, menghirup aroma parfum sandalwood yang bercampur dengan aroma khas suaminya.

​"Mas, jangan pergi lama-lama lagi," gumam Shania di balik dada bidang Zain. "Rumah sepi. Nggak ada yang marahin aku kalau aku bangun siang. Nggak ada yang benerin bacaan Al-Fatihah-ku."

​Zain terkekeh rendah, suara yang sangat dirindukan Shania.

"Jadi kamu rindu dimarahi, hm?"

​"Aku, rindu, Mas Zain," jujur Shania, membuat detak jantung Zain berpacu lebih kencang.

"​Makan Siang yang Berbeda"

​Zain akhirnya membuka bungkusan nasi kebuli yang dibawa Shania. Meskipun sudah agak dingin, Zain memakannya dengan lahap. Shania duduk di sampingnya, memperhatikan setiap suapan suaminya dengan perasaan lega yang luar biasa.

​"Enak?" tanya Shania.

​"Sangat enak. Apalagi kalau disuapi," goda Zain, membuat pipi Shania merona merah.

​Shania dengan malu-malu mengambil sendok dan mulai menyuapi Zain, Zain juga menyuapi Shania. Suasana dingin di kamar hotel itu perlahan mencair, digantikan oleh kehangatan yang lebih jujur daripada sebelumnya. Tidak ada lagi sindiran, tidak ada lagi perdebatan soal Fatimah atau masa lalu.

​"Mas," panggil Shania di sela-sela suapan.

​"Ya?"

​"Soal Fatimah... aku benar-benar minta maaf. Aku cuma cemburu. Dia begitu sempurna, sedangkan aku..."

​Zain meletakkan sendoknya, lalu menatap Shania dengan serius.

"Shania, Fatimah adalah masa lalu, tapi kamu adalah istri, saya. Tidak ada istilah 'sempurna' dalam pernikahan. Yang ada adalah dua orang yang tidak sempurna, namun memutuskan untuk saling menyempurnakan. Saya, tidak butuh Fatimah di rumah, saya. Saya, butuh Shania Ayunda Salsabilla yang berisik, yang susah dibangunkan subuh, tapi yang selalu berusaha menjadi lebih baik demi Allah."

​Shania tersenyum lebar, senyuman pertama yang benar-benar tulus setelah berminggu-minggu.

"​Kepulangan dan Harapan Baru"

​Sore harinya, udara Surabaya terasa lebih bersahabat saat mereka bersiap untuk kembali ke Kediri. Zain mengemasi barang-barangnya ke dalam koper kecil dengan bantuan Shania. Tidak ada lagi kecanggungan yang membeku; yang ada hanyalah koordinasi lembut antara suami dan istri yang baru saja menemukan kembali ritme mereka.

​Saat mereka berjalan menuju lobi hotel, ponsel Zain berdering. Wajah Zain yang tenang sempat berubah serius sesaat saat melihat nama "Abah" di layar ponselnya. Ia menepi sejenak untuk mengangkat telepon tersebut, sementara Shania dan Umi Zainab menunggu di dekat pintu keluar.

​"Assalamualaikum... nggih, Abah? Kami sudah di lobi, ini baru mau berangkat," ucap Zain.

​Shania memperhatikan dari jauh, sedikit cemas jika ada kabar buruk dari pondok. Namun, tak lama kemudian, ia melihat senyum tipis terukir di bibir suaminya. Rahang Zain yang biasanya tegas kini tampak rileks. Setelah menutup telepon, ia kembali mendekat dengan langkah ringan.

​"Ada apa, Zain?" tanya Umi Zainab lembut.

​Zain menatap Shania, lalu beralih ke Ibunya.

"Abah, hanya memastikan kita pulang jam berapa. Beliau bilang, santri-santri baru saja panen buah di kebun belakang. Abah, minta kita segera pulang karena ada acara makan bersama. Beliau ingin menyambut kepulangan, kita."

​Mendengar itu, Shania bernapas lega. Rasa was-was yang sempat menyelinap langsung sirna.

​Perjalanan pulang di tol Surabaya-Kertosono sore itu terasa sangat berbeda dari keberangkatannya yang penuh air mata. Shania duduk di kursi belakang bersama Umi Zainab, sementara Zain duduk di depan di samping sopir. Sesekali, melalui kaca spion tengah, mata Shania dan Zain bertemu. Zain tidak lagi membuang muka, ia justru memberikan tatapan teduh yang seolah meyakinkan Shania bahwa semuanya akan baik-baik saja.

​Matahari terbenam di ufuk barat, membiaskan warna jingga yang cantik di langit Jawa Timur. Shania menyandarkan kepalanya di bahu Umi Zainab yang hangat.

​'Terima kasih, Ya Allah, sudah memulangkan hatiku,' batin Shania.

​Ia menatap punggung Zain yang kokoh di depannya. Perjalanan ini bukan lagi tentang melarikan diri dari kenyataan, melainkan tentang pulang menuju sebuah pengabdian. Shania menyadari bahwa mahar yang mengikat mereka bukan lagi sebuah belenggu yang menyiksa, melainkan sebuah simpul kuat yang menuntunnya menjadi wanita yang lebih berarti.

​Mobil terus melaju kencang menembus temaram senja menuju Kediri. Di balik jendela yang mulai berembun, Shania tersenyum kecil. Ia siap menghadapi hari esok, siap menghafal lagi, dan siap menjadi makmum yang baik di belakang punggung Zain Malik Muammar.

​Bersambung ....

1
Indah Agustini 383
terimakasih udah nulis cerita yg sangat baguss dan banyak ilmu yg bisa didapat 😍
sehat-sehat kakak penulis cerita inii❤️❤️
Dian Fitriana
up lg thor
falea sezi
katanya ustadz istrinya di gantung klo mau cerai ya cerai malah kabur g bgt sifat ne laki
falea sezi
ustadz kok didikan nya pake kekerasan alon2 talah ustadz hadeh
partini
saling cinta tapi Ego setinggi langit
pak ustadz kamu agak salah caranya secara wanita tuh gampang banget nething
Saniaa96: benar. makasih udah luangkan waktu untuk baca 🙏🙏🙏 semoga sehat selalu. aamiin🤲
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!