Aca Latasya Anesia dikenal sebagai badgirl yang tak pernah tunduk pada siapa pun. Mulutnya tajam, sikapnya liar, dan hidupnya selalu penuh masalah. Tidak ada yang berani mengusiknya sampai sebuah kecelakaan mengubah segalanya. Motor kesayangannya menabrak mobil mewah milik Aron Darios Fernandes. Bukan sekadar CEO muda yang dingin dan berkuasa, Aron adalah sosok di balik organisasi mafia paling berbahaya di kota pria yang namanya saja sudah cukup membuat orang gemetar. Mobilnya rusak. Situasi penuh ketegangan. Namun alih-alih takut, Aca justru menatapnya tajam dan melawan tanpa ragu. Di detik itulah sesuatu yang gelap dan berbahaya tumbuh dalam diri Aron sebuah obsesi. Bukan amarah bukan dendam melainkan keinginan untuk memiliki. Sejak saat itu, hidup Aca tak lagi sama. Ia menjadi target perhatian seorang pria yang tak pernah gagal mendapatkan apa pun yang diinginkannya. Dan yang lebih mengerikan Aron tidak mengenal kata menyerah “Aku tidak tertarik jadi milik siapa pun,” Aca mendesis dingin. Aron hanya tersenyum tipis, matanya penuh dominasi. “Sayangnya kamu tak lagi punya pilihan. Baby girl.” Dalam dunia yang penuh kekuasaan, bahaya, dan permainan gelap, satu hal menjadi pasti. Sekali Aron terobsesi, tidak ada jalan keluar lagi bagi Aca untuk bebas pergi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pandaimut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ciuman Manis
Langit malam menggantung rendah di atas kota, seolah menekan setiap napas mereka yang terlibat dalam permainan berbahaya ini.
Hujan mulai turun bukan deras, tapi cukup untuk membuat suasana semakin dingin dan mencekam.
Sandra masih terduduk di lantai, tubuhnya belum pulih dari rentetan pukulan yang ia terima.
Rambutnya berantakan, riasan mahal yang biasa ia banggakan kini luntur bercampur air mata dan darah di bibirnya. Namun, matanya tidak lagi kosong.
Hendro berdiri membelakanginya, menatap layar besar yang menampilkan kehancuran bisnisnya secara real-time. Tangannya terkepal kuat di sisi tubuhnya.
“Berapa total kerugian sementara?” tanyanya dingin.
Seorang pria paruh baya di sudut ruangan menjawab dengan tangan gemetar, “S-sementara ini sekitar 480 miliar, Pak. Itu belum termasuk aset yang dibekukan serta jalur distribusi yang lumpuh total.” Hening udara terasa sangat berat.
BRAKK!
Hendro menghantam dinding hingga lukisan mahal di sana jatuh dan pecah berkeping-keping. “DALAM SATU MALAM! SATU MALAM DIA HANCURKAN SEMUANYA!”
Sandra perlahan mengangkat tubuhnya meski rasa sakit menjalar dari perut hingga bahu. “Kalau Papa berhenti panik dan mulai berpikir…”
“DIAM!” potong Hendro tanpa menoleh.
“Kalau Papa terus-terusan kayak gini, kita malah makin kalah. Maafin Sandra Pah, Sandra janji bakal cari cara buat dapetin Aron Pah.” balas Sandra tajam.
Hendro akhirnya berbalik dengan tatapan berbahaya. “Kamu masih punya keberanian untuk bicara? Coba pikirkan Sandra kalau kamu gagal kamu bakal di bunuh sama Aron. Dasar anak bodoh!”
Sandra berdiri perlahan, meski sedikit limbung.
PLAK!
Tamparan keempat mendarat di wajahnya. Kali ini Sandra tidak jatuh; ia hanya menoleh ke samping, lalu perlahan kembali menatap ayahnya. Tidak ada tangisan, hanya kemarahan.
“Udah puas?” gumamnya dingin.
Ruangan itu seketika sunyi.
Hendro menyipitkan mata, “Jaga mulutmu.”
Sandra tertawa kecil, suara serak namun tajam. “Papa yang ngajarin aku jadi kayak gini. Papa pikir aku kenapa ke sana? Karena aku bodoh? Atau karena Papa terlalu lama diam dan takut sama dia?!”
BRAKK!
Hendro menghantam meja. “JANGAN BALIK MENUDUH KU!”
“Fakta aja, Pa. Dia terus berkembang,” lanjut Sandra tanpa mundur. “Kita berhenti main di bayangan. Perang terbuka. Kita hancurkan dia secara langsung.”
Hendro menatapnya lama, lalu perlahan tertawa kecil. “Perang terbuka? Kamu benar-benar belum mengerti siapa yang kamu hadapi.”
Monster, kan?” Sandra menyeringai tipis. “Bagus. Karena aku juga bukan manusia baik-baik.”
Suasana jauh lebih terkendali. Monitor besar menampilkan grafik, angka, dan jalur distribusi yang terus diperbarui. Aca berdiri di depan layar dengan wajah serius.
“Gudang mereka di Surabaya udah mulai kosong,” lapor Aca. “Supplay terhenti total.”
Bara bersandar di meja, memperhatikan dengan tajam. “Reaksi pasar?”
“Masih turun. Investor belum berani masuk lagi. Koneksi anda memang gak main main Tuan.”
Aron duduk tenang, jari-jarinya mengetuk meja dengan ritme teratur. “Bagus. Sekarang mereka masih fokus bertahan, itu bikin mereka lengah.”
Aca mendekat. “Target berikutnya?”
Aron menekan beberapa tombol hingga muncul daftar rekening investor bayangan berjumlah besar. “Kalau dana mereka kita potong, mereka nggak bisa bergerak,” jelas Aron dingin.
Aca tersenyum lebar. “Dan akhirnya mati pelan-pelan.”
Bara menghela napas. “Ini bukan cuma serangan. Ini pembantaian.”
Aron menatapnya tajam. “Dia punya kesempatan untuk diam, dan dia sudah menutup semua pilihan itu. Berhenti itu pilihan, tapi gue selalu tahu apa yang gue lakukan.”
Pintu ruang kerja Hendro terbuka lebar. Seorang pria muda masuk dengan wajah pucat. “Pak! Rekening utama dibekukan! Dana tidak bisa ditarik dan beberapa investor besar mulai menarik diri.”
Sandra mengepalkan tangan. “Dia lagi…”
Hendro tertawa kecil yang mengerikan.
“Cepat dia terlalu cepat. Kita tidak akan diam. Siapkan tim, kita balik serang.”
Sandra menatap penuh harap. “Target?”
“Orang-orang terdekatnya,” jawab Hendro lurus ke depan.
Di markas Aron, salah satu layar tiba-tiba berbunyi bip. “Ada aktivitas pergerakan di jaringan mereka. Mereka mulai mobilisasi,” lapor Aca.
Aron berdiri dengan aura yang lebih berat dan gelap. “Bagus. Kalau mereka mulai bergerak, berarti mereka panik. Dan orang panik selalu bikin kesalahan. Ini baru mulai.”
Malam semakin larut dan hujan semakin deras. Sandra berdiri di depan cermin, menyeka darah di bibirnya dengan mata dingin.
“Aron lo pikir cuma lo yang bisa hancurin orang? Gue bakal buktiin siapa yang lebih dulu jatuh.” lanjutnya penuh kekesalan karna emang cintanya lagi lagi di tolak sama Aron.
Di sisi lain, Aron berdiri di depan jendela besar menatap hujan. Aca berdiri di sampingnya.
“Perang resmi dimulai ya?” tanya Aca pelan.
“Iya,” jawab Aron singkat. Ia menoleh ke Aca, lalu menggenggam tangannya dengan erat. “Pegang aku. Karena setelah ini semuanya bakal lebih kacau.”
Aca tersenyum, bukan karena takut, melainkan merasa tertantang. “Gue nggak ke mana-mana.”
Aron mengangguk. Untuk pertama kalinya malam itu, senyum dingin dan mematikannya benar-benar terlihat. Perang sudah dimulai, dan tidak akan ada yang keluar tanpa kehancuran.
“Berhenti di sana jangan pegang pegang adek gue!” tegas Bara dengan raut wajah kesalnya.
Gilanya Aron malah narik leher Aca langsung melumat bibir Aca di depan calon kakak iparnya itu.
“DAMN IT, GUE BUNUH LO ARON!” teriak Bara sambil melempar sendalnya ke arah tubuh Aron.
BUGH!