Di dunia yang kejam, tempat di mana yang lemah selalu diinjak, dia hanyalah sampah yang diremehkan. Namun, ketika nyawa nyaris terenggut dan pengkhianatan terasa di setiap sudut, sebuah sistem misterius muncul memberinya kesempatan untuk bangkit.
Dari titik terendah, ia memulai perjalanan menaklukkan dunianya, mengasah kekuatan, dan mengungkap rahasia di balik kekuasaan yang tersembunyi. Setiap pertarungan bukan hanya soal kekuatan, tapi strategi, kepercayaan, dan pengorbanan. Dari seorang yang hina, ia perlahan berubah menjadi sosok yang tidak bisa diremehkan, menantang dewa dan musuh yang lebih kuat dari imajinasi.
Apakah ia akan menjadi penakluk dunia atau korban dari permainan yang lebih besar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 - Dunia Yang Berbeda
Begitu langkahnya melewati batas cahaya, dunia di sekeliling Alverion Dastan berubah dengan cara yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan perbedaan tempat. Peralihan itu terasa halus namun dalam, seperti melewati lapisan tipis yang memisahkan dua kondisi yang sama sekali berbeda. Ia tidak kehilangan keseimbangan, tetapi tubuhnya langsung memberi respons terhadap sesuatu yang tidak terlihat.
Udara di dalam dungeon terasa lebih berat dari yang ia perkirakan, bukan sekadar dingin atau lembap seperti ruang bawah tanah biasa. Ada tekanan halus yang merayap dari segala arah, menekan tanpa benar-benar menyakitkan, tetapi cukup untuk membuat setiap tarikan napas terasa sedikit berbeda. Nafasnya tetap stabil, namun ia bisa merasakan bahwa lingkungan ini tidak sepenuhnya bersahabat dengan keberadaannya.
Tanah di bawah kakinya berwarna gelap dengan tekstur yang kasar, dipenuhi retakan tipis yang memancarkan cahaya redup seperti bara yang tertahan. Dinding batu menjulang tinggi di kedua sisi, membentuk lorong panjang yang tidak lurus, dengan belokan yang menyembunyikan apa pun di ujungnya. Tidak ada suara angin atau gema langkah yang biasa terdengar di ruang tertutup, hanya keheningan yang terlalu rapi untuk terasa alami.
Alverion berdiri diam beberapa saat, membiarkan indranya menyesuaikan diri tanpa terburu-buru bergerak. Ia tidak hanya melihat, tetapi juga mencoba merasakan aliran energi di sekitar, mencari pola yang bisa dipahami sebelum mengambil langkah berikutnya.
Sistem di dalam dirinya merespons lebih cepat dari biasanya.
Lingkungan tidak stabil terdeteksi. Kepadatan energi meningkat. Fluktuasi ritme teridentifikasi.
Rekomendasi: tingkatkan kewaspadaan dan batasi pergerakan awal.
Alverion menghela napas perlahan, menerima informasi itu tanpa perubahan ekspresi. Peringatan seperti ini bukan hal baru baginya, tetapi intensitasnya menunjukkan bahwa dungeon ini tidak bisa disamakan dengan tempat latihan biasa di akademi.
Langkah kaki terdengar dari belakang, memecah keheningan dengan suara yang pelan namun jelas. Lysera Virel muncul dari cahaya yang sama, diikuti oleh dua murid lain yang bergabung di saat terakhir sebelum pembagian kelompok selesai.
Eryndor Vale melangkah lebih dulu, sikapnya santai meskipun matanya tetap waspada. Tubuhnya menunjukkan kesiapan bertarung, sementara tangannya sudah dalam posisi yang mudah bergerak kapan saja. Di belakangnya, Serin Althaea berjalan lebih pelan, pandangannya tidak terfokus pada satu titik, melainkan menyapu sekeliling seolah mencoba memahami sesuatu yang tidak terlihat.
Formasi mereka tidak sempurna, tetapi cukup untuk tahap awal. Tidak ada yang benar-benar saling mengenal dalam situasi seperti ini, tetapi itu bukan hal yang bisa dihindari.
Lysera mengamati sekeliling dengan lebih serius, matanya menyipit saat mencoba membaca lingkungan.
“Tempat ini tidak stabil.”
Alverion mengangguk sedikit.
“Energinya tidak mengikuti pola yang tetap.”
Eryndor mengangkat bahu, seolah tidak terlalu peduli dengan detail seperti itu.
“Selama masih bisa dilawan, tidak ada bedanya.”
Serin menutup mata sejenak, menarik napas pelan sebelum membuka kembali dengan ekspresi yang lebih serius.
“Bukan soal bisa atau tidak. Ritme di sini terganggu, dan itu bisa memengaruhi cara sesuatu bergerak.”
Alverion meliriknya sekilas, menyadari bahwa pendekatan Serin lebih dekat dengan apa yang ia rasakan. Tidak semua orang memperhatikan hal seperti itu, tetapi di tempat seperti ini, detail kecil bisa menentukan hasil.
“Kalau terlalu lama membaca, kita tidak akan bergerak,” kata Eryndor.
Lysera menghela napas tipis, lalu mengambil keputusan tanpa memperpanjang perdebatan.
“Kita maju perlahan. Jaga jarak dan jangan bergerak sendiri.”
Tidak ada yang membantah, meskipun jelas tidak semua setuju sepenuhnya. Mereka mulai berjalan menyusuri lorong batu itu dengan langkah yang terukur, menjaga posisi tanpa terlalu rapat.
Setiap langkah terasa sedikit lebih berat dibandingkan di luar, bukan karena medan yang sulit, tetapi karena tekanan yang terus ada tanpa henti. Alverion tetap berada sedikit di belakang, memilih posisi yang memberinya sudut pandang lebih luas terhadap pergerakan tim.
Beberapa menit berlalu tanpa gangguan, dan justru itulah yang membuat suasana terasa tidak nyaman. Keheningan yang terlalu lama di tempat seperti ini biasanya bukan pertanda baik, melainkan tanda bahwa sesuatu sedang menunggu.
Langkah mereka terhenti ketika suara gesekan halus terdengar dari depan, cukup pelan untuk hampir tidak terdengar jika tidak diperhatikan. Semua langsung waspada tanpa perlu peringatan, tubuh mereka secara refleks mengambil posisi siap.
Dari balik bayangan lorong, sesuatu bergerak perlahan sebelum akhirnya menampakkan diri. Makhluk itu memiliki tubuh ramping dengan kulit abu gelap yang tampak seperti batu hidup, permukaannya tidak rata dan sedikit berkilau di bawah cahaya redup.
Matanya memancarkan cahaya samar, tidak terang, tetapi cukup untuk memberi kesan bahwa ia sepenuhnya sadar akan keberadaan mereka. Kuku di tangannya panjang dan tajam, dengan bentuk yang tidak alami.
Eryndor melangkah maju sedikit, sikapnya berubah lebih serius.
“Akhirnya ketemu juga.”
Lysera mengangkat tangannya sedikit sebagai tanda untuk menahan.
“Jangan gegabah.”
Namun makhluk itu tidak menunggu. Dalam sekejap, tubuhnya melesat maju dengan kecepatan yang melampaui perkiraan awal, langsung mengarah ke Eryndor tanpa ragu.
Benturan terjadi dengan suara yang tertahan. Eryndor berhasil menahan serangan itu, tetapi tubuhnya terdorong mundur beberapa langkah, menunjukkan bahwa kekuatan makhluk itu tidak bisa dianggap ringan.
“Cepat juga,” gumamnya sambil menyesuaikan posisi.
Lysera bergerak dari sisi kiri, mencoba mengalihkan perhatian dengan serangan yang lebih terarah. Serin mengangkat tangannya, energi mulai terkumpul di sekitarnya dengan pola yang lebih stabil.
Alverion mengamati tanpa langsung masuk. Gerakan makhluk itu lebih tajam dari yang ia perkirakan, tidak hanya cepat tetapi juga responsif terhadap perubahan posisi lawan.
Eryndor menyerang balik dengan lebih hati-hati, pukulannya mengenai tubuh makhluk itu dan meninggalkan goresan tipis. Namun tidak ada tanda bahwa serangan itu memberi dampak berarti.
Makhluk itu berbalik dengan kecepatan yang sama, menyerang lagi tanpa memberi jeda. Lysera hampir terkena jika tidak menarik diri tepat waktu, dan jarak yang sempit membuat koordinasi mereka sedikit terganggu.
Alverion bergerak, menarik Lysera sedikit ke belakang agar serangan itu meleset.
“Jangan anggap ini seperti latihan biasa.”
Lysera mengangguk tanpa membalas.
Pertarungan berlanjut dengan ritme yang mulai terbentuk, tetapi tidak stabil. Mereka mencoba menyesuaikan diri, namun makhluk itu tidak memberi ruang untuk kesalahan.
Alverion akhirnya ikut masuk, bergerak dengan kontrol yang tetap terjaga. Ia tidak menggunakan kekuatan penuh, hanya cukup untuk menjaga alur dan mencegah tekanan terlalu berat pada satu sisi.
Serangannya mengenai sisi tubuh makhluk itu, memaksanya mundur setengah langkah. Celah kecil itu langsung dimanfaatkan Eryndor dengan serangan lanjutan yang lebih kuat.
Makhluk itu mengeluarkan suara rendah sebelum mundur beberapa langkah.
“Tidak terlalu sulit,” kata Eryndor dengan nada percaya diri.
Alverion tidak langsung setuju. Ada sesuatu yang terasa tidak sesuai, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan hanya dari gerakan yang terlihat.
Makhluk itu tidak menunjukkan tanda melemah. Sebaliknya, pergerakannya justru menjadi lebih cepat, lebih presisi, seolah sedang menyesuaikan diri dengan pola serangan mereka.
Dalam hitungan detik, ia kembali menyerang dengan kecepatan yang meningkat. Serangan pertamanya mengenai bahu Eryndor, membuatnya terhuyung dan kehilangan ritme sejenak.
Lysera mencoba menahan dari sisi lain, tetapi arah serangan berikutnya berubah tanpa pola yang jelas. Serin membentuk penghalang energi, namun retakan langsung muncul di permukaannya, menunjukkan tekanan yang tidak biasa.
Alverion menyadari sesuatu yang penting. Ini bukan makhluk yang hanya bereaksi, melainkan sesuatu yang belajar dari setiap gerakan yang mereka lakukan.
Ia melangkah maju dengan perhitungan yang lebih dalam, mencoba menghentikan pergerakan makhluk itu sebelum ritmenya berubah lagi. Namun satu detail terlewat, dan perubahan arah yang terjadi lebih cepat dari yang ia perkirakan.
Serangan datang dari sudut yang tidak ia jangkau sepenuhnya.
Refleksnya bekerja, tubuhnya menghindar, tetapi tidak cukup bersih. Kuku tajam itu menggores lengannya, meninggalkan luka yang langsung terasa panas.
Alverion mundur satu langkah, matanya menyipit saat sensasi itu menjalar. Rasa panas itu tidak biasa, seolah ada energi asing yang ikut masuk bersama luka.
Lysera menatapnya dengan cepat.
“Kamu baik-baik saja?”
“Masih bisa bergerak.”
Jawabannya singkat, tetapi cukup.
Namun di dalam pikirannya, ia sudah mengambil kesimpulan yang berbeda. Itu bukan sekadar luka biasa, melainkan tanda bahwa ia telah salah membaca situasi.
Makhluk itu berdiri beberapa meter di depan mereka, tidak langsung menyerang lagi. Tatapannya tetap sama, tetapi sikapnya menunjukkan sesuatu yang lebih dari sekadar insting.
Seolah ia menunggu.
Seolah ia memahami.
Alverion menurunkan sedikit pusat gravitasinya, mengatur napasnya kembali ke ritme yang stabil. Ia tidak bisa lagi mengandalkan pendekatan yang sama seperti sebelumnya, karena lingkungan ini tidak mengikuti pola yang ia kenal.
Kesalahan kecil sudah terjadi, dan itu cukup untuk menjadi pengingat.
Dungeon ini tidak memberi ruang untuk setengah langkah, dan setiap keputusan yang diambil harus diperhitungkan dengan lebih dalam dari sebelumnya.