Langit Elarion tidak pernah benar-benar diam.
Ia bernapas.
Bukan seperti makhluk hidup—tidak dengan paru-paru atau denyut nadi—melainkan dengan ritme kosmik yang tak terlihat, gelombang halus yang mengalir di antara bintang-bintang seperti bisikan yang terlalu tua untuk diingat. Warna ungu kebiruan yang membentang di ufuk fajar bukan sekadar fenomena cahaya, melainkan residu dari hukum-hukum yang terus menulis ulang dirinya sendiri, detik demi detik, tanpa pernah berhenti.
Di dunia manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vi nhnựg nười Nĩóđs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPILOG: CAHAYA YANG TAK PERNAH PADAM
Waktu adalah sungai yang tak pernah berhenti mengalir. Ia membawa serta kenangan, mengubah peristiwa besar menjadi legenda, dan legenda menjadi mitos yang tersimpan rapi di lipatan sejarah.
Bertahun-tahun telah berlalu sejak hari di mana langit kembali utuh.
Di dunia fana, di desa kecil yang tersembunyi di balik pegunungan, cerita tentang gadis berambut merah muda yang bisa membuat bunga mekar hanya dengan sentuhan kini telah berubah menjadi dongeng pengantar tidur. Para orang tua menceritakannya kepada anak-anak mereka, tentang malaikat yang turun dari langit, tentang cinta yang mengalahkan kegelapan, dan tentang perjalanan pulang yang indah.
Penduduk desa tidak lagi melihat sosok itu berjalan di antara mereka. Tidak ada lagi jejak kaki yang ditumbuhi bunga. Tidak ada lagi senyum teduh yang menenangkan hati.
Namun, mereka tahu dia bahagia.
Di sebuah rumah kayu sederhana di pinggiran desa, seorang wanita tua duduk di kursi goyang di beranda. Rambutnya telah memutih seluruhnya, wajahnya dipenuhi kerutan waktu, namun matanya masih tetap teduh dan penuh cinta.
Itu adalah Bunda Mira.
Ia menatap langit malam yang bertabur bintang. Angin malam berhembus lembut, membawa aroma rumput liar yang familiar.
“Dia baik-baik saja di sana, kan…?” gumamnya pelan, lebih kepada angin daripada kepada siapa pun.
Dan seolah menjawab pertanyaannya, sebuah bintang di langit timur tiba-tiba bersinar jauh lebih terang dari yang lain. Warnanya keemasan, berkedip-kedip lembut seolah sedang mengedipkan mata.
Bunda Mira tersenyum. Air mata kebahagiaan menetes di sudut matanya.
“Iya… Bunda tahu kau baik-baik saja, Nak.”
Jauh di atas sana, di ketinggian di mana awan menjadi lantai dan bintang menjadi hiasan, Istana Celestia tetap berdiri megah dan abadi.
Warna langit yang ungu dan biru safir itu tetap indah memukau, namun ada sesuatu yang berbeda pada cahayanya. Cahaya itu kini terasa lebih hangat, lebih hidup, dan lebih dekat dengan hati siapa saja yang memandangnya dari bawah.
Myrrha berdiri di balkon tertinggi istana, ditemani oleh saudara-saudaranya.
Ia tidak lagi gadis kecil yang bingung, dan juga bukan lagi hanya dewi yang dingin dan jauh. Ia telah menjadi sosok yang sempurna, jembatan antara dua dunia. Sayap emasnya terbentang anggun, berkilauan di bawah sinar bulan abadi.
“Besok adalah hari penciptaan galaksi baru,” kata Altharion, suaranya berat dan penuh wibawa namun lembut. “Kami menunggumu di Aula Penciptaan, Myrrha.”
Myrrha mengangguk dengan senyum manis. “Aku akan datang. Aku ingin menanam beberapa bunga kehidupan di planet-planet baru itu.”
Para Seraph lainnya tertawa riang. Suasana di istana kini selalu dipenuhi tawa dan musik. Tidak ada lagi ketakutan, tidak ada lagi bayangan Nihilum yang mengintai. Luka di langit telah sembuh total, meninggalkan bekas yang kuat namun indah, seperti garis pertemuan antara dua lempengan kekuatan yang saling mengunci.
Nyxarion, yang kini berdiri paling dekat dengan Myrrha, menatap saudarinya itu dengan pandangan bangga.
“Kau mengubah segalanya, tahu?” bisik Nyxarion. “Dulu, kami hanya memerintah dari atas. Sekarang, kami belajar untuk merasakan apa yang dirasakan oleh mereka yang kami jaga.”
“Karena kita semua sama,” jawab Myrrha lembut. “Baik dewa maupun manusia, kita sama-sama memiliki hati yang perlu dicintai, dan mimpi yang perlu diperjuangkan.”
Kebenaran itu kini telah tertanam kuat di dalam jiwa setiap penguasa langit.
Mereka sadar bahwa kekuatan terbesar bukanlah terletak pada petir yang menyambar atau gempa yang menghancurkan. Kekuatan terbesar ada pada hati yang mampu memaafkan, tangan yang siap menolong, dan kerelaan untuk mengorbankan sebagian dari diri demi keutuhan bersama.
Itulah pelajaran yang dibawa oleh Myrrha. Itulah harga yang pernah dibayarnya dengan “kematian” dan kelahirannya kembali.
Malam itu, sebelum tidur, Myrrha melakukan kebiasaannya.
Ia menutup matanya, dan membiarkan kesadarannya melayang turun, menembus lapisan demi lapisan awan, menembus atmosfer bumi, hingga sampai ke desa kecil yang ia rindukan.
Ia melihat Bunda Mira yang sudah tua, sedang duduk termenung. Ia merasakan kerinduan wanita itu. Dan dengan kekuatannya, Myrrha mengirimkan sebuah pesan lewat angin, sebuah pelukan tak kasat mata yang penuh cinta.
“Aku selalu di sini, Bunda. Di setiap hembusan napas, di setiap sinar matahari, dan di setiap bunga yang mekar. Aku tidak pernah benar-benar pergi.”
Dan di sudut lain dunia, di mana ada orang-orang yang sedih, yang sakit, atau yang putus asa, mereka juga merasakannya.
Sebuah kehangatan samar menyentuh hati mereka. Sebuah keyakinan tiba-tiba muncul bahwa segalanya akan baik-baik saja. Bahwa langit tidak akan runtuh, bahwa malam pasti akan berganti pagi, dan bahwa di atas sana, ada seseorang yang sedang menjaga dan mencintai mereka.
Itu adalah aura Myrrha. Itu adalah cahayanya yang menyebar ke segala arah, tak terbatas oleh ruang dan waktu.
Kisah tentang langit yang retak telah usai. Buku ini telah ditutup.
Namun cerita tentang cinta, pengorbanan, dan penebusan itu akan terus hidup. Ia akan mengalir seperti sungai abadi, menginspirasi hati-hati yang lelah, menguatkan jiwa-jiwa yang rapuh, dan mengingatkan semua makhluk di semesta ini bahwa:
Tidak ada kegelapan yang terlalu pekat untuk tidak bisa ditembus oleh seberkas cahaya pun. Dan tidak ada hati yang terlalu retak untuk tidak bisa disatukan kembali oleh kekuatan kasih sayang.
Langit kini utuh.
Dan cahaya itu… akan bersinar selamanya.
TAMAT~