Yvone Larasati, seorang desainer interior freelance yang keras kepala dan mandiri, terpaksa menelan harga dirinya dan menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Dylan Alexander Hartono, CEO Alexander Group yang dingin dan tak tersentuh. Pernikahan ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan ayah Yvone dari jerat penjara akibat jebakan korupsi politik. Di sisi lain, Dylan membutuhkan citra "pria beristri yang sempurna" untuk mengamankan mega-proyek infrastruktur dan pariwisata pemerintah senilai triliunan rupiah.
Berawal dari selembar kertas yang didasari kebencian dan pragmatisme, batasan antara sandiwara dan kenyataan mulai mengabur. Dikelilingi oleh intrik mematikan dari pejabat korup, ancaman masa lalu keluarga, dan empat rival cinta yang mematikan, Dylan dan Yvone menemukan tempat berlindung pada satu sama lain. Di bawah matahari Bali yang hangat, dinding es Dylan runtuh, dan ketakutan Yvone sirna, melahirkan gairah yang tak terbendung dan pengorbanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 28
Cahaya matahari pagi menyelinap malu-malu dari balik tirai sutra yang tersingkap sebagian di Master Suite Villa Karang Putih. Udara masih menyisakan hawa sejuk sisa embun, namun di atas ranjang raksasa yang kini dipenuhi kelopak mawar merah yang berantakan, suhu terasa jauh lebih hangat.
Yvone terbangun perlahan. Hal pertama yang ia rasakan adalah rasa pegal yang menyenangkan di sekujur tubuhnya, sebuah pengingat akan gairah liar yang menguasai mereka semalaman suntuk. Hal kedua adalah lengan berat dan berotot yang melingkar posesif di pinggang telanjangnya, menahannya erat menempel pada dada bidang suaminya.
Yvone mendongak sedikit. Dylan masih tertidur pulas. Wajah pria itu yang biasanya kaku dan dipenuhi garis-garis ketegangan kini terlihat begitu damai. Tarikan napasnya teratur, menyapu puncak kepala Yvone. Luka di bahunya sudah sepenuhnya menutup, hanya menyisakan bekas luka tipis yang menambah kesan maskulin pada sang tiran korporat.
Dengan hati-hati, Yvone mengangkat tangannya, menelusuri garis rahang Dylan dengan ujung jarinya.
"Jika kau terus menatapku seperti itu, Nyonya Hartono, kita tidak akan keluar dari kamar ini sampai besok pagi."
Suara yang serak dan berat itu mengejutkan Yvone. Mata kelam Dylan perlahan terbuka, menatap langsung ke dalam manik mata istrinya dengan kilat kelaparan yang tak pernah terpuaskan.
Yvone tertawa pelan, wajahnya merona. Ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Dylan. "Kau sudah bangun sejak tadi?"
"Sejak setengah jam yang lalu," Dylan mempererat pelukannya, menarik tubuh Yvone hingga tak ada satu milimeter pun jarak di antara kulit mereka. Pria itu mencium puncak kepala Yvone, menghirup aroma istrinya dalam-dalam. "Aku sedang mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa ini bukan mimpi. Bahwa kau benar-benar di sini, dengan cincin di jarimu, sebagai istriku yang sesungguhnya."
"Ini bukan mimpi, Dylan," Yvone mendongak, mengecup dagu pria itu. "Tapi kita harus bangun. Penerbangan kita kembali ke Jakarta dijadwalkan siang ini."
"Batalkan penerbangannya," gumam Dylan, bibirnya mulai menelusuri leher Yvone, memberikan kecupan-kecupan basah yang membuat napas wanita itu kembali tersengal. "Aku CEO-nya. Aku bisa memindahkan jadwal jet pribadiku kapan pun aku mau."
"Dylan..." Yvone mengerang tertahan saat tangan besar suaminya mulai menjelajah menuruni punggungnya, membelai kurva tubuhnya dengan kepemilikan mutlak. "Kita punya tanggung jawab. Proyek Uluwatu sudah mulai masuk tahap konstruksi, dan kau punya... sidang vonis Menteri Hadi besok pagi."
Mendengar nama Hadi, gerakan Dylan terhenti. Pria itu membuang napas berat, menempelkan dahinya di dahi Yvone. Tatapan posesifnya berubah menjadi kelembutan yang membius.
"Kau benar. Ratu harus kembali ke kerajaannya," ucap Dylan, mencium bibir Yvone dengan dalam. "Tapi setelah urusan di Jakarta selesai, aku akan membawamu kembali ke sini. Hanya kita berdua."
Dua Bulan Kemudian. Jakarta.
Langit ibu kota tampak cerah. Di dalam ruang sidang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, ketukan palu hakim menggema dengan keras, menandai akhir dari sebuah dinasti politik yang kelam.
"Mengadili, menyatakan Terdakwa Hadi Suwarno terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi, penyalahgunaan wewenang, dan tindak pidana pencucian uang... Menjatuhkan pidana penjara selama dua puluh tahun dan denda sebesar lima ratus miliar rupiah..."
Di bangku pengunjung VIP, Dylan Alexander Hartono duduk dengan postur tegap, menyilangkan kaki dengan elegan. Tidak ada sorak sorai darinya. Hanya senyum tipis yang mematikan. Ia menatap wajah Hadi Suwarno yang pucat pasi dan menua drastis, diseret keluar oleh petugas.
Di sebelahnya, Marco berbisik. "Nadia Pramudya dijatuhi hukuman dua belas tahun penjara kemarin sore, Bos. Ayahnya resmi dicopot dari kabinet oleh Presiden tadi malam. Dan Rangga Susilo... bironya resmi dinyatakan bangkrut, dan dia sedang menjalani masa tahanan empat tahunnya."
"Bagus," ucap Dylan datar. Ia melirik arloji Patek Philippe di pergelangan tangannya. "Papan catur sudah bersih. Ayo kembali ke kantor. Istriku pasti sudah menungguku untuk makan siang."
Mendengar kata 'istriku', Marco hanya bisa tersenyum simpul. Selama dua bulan terakhir, seluruh staf Menara Alexander telah menjadi saksi bagaimana sang tiran berdarah dingin berubah menjadi pria yang bucin (budak cinta) tanpa ampun jika sudah menyangkut Yvone.
Begitu tiba di lantai 60 Menara Alexander, Dylan tidak menuju ruang kerjanya sendiri. Ia langsung melangkah menuju sebuah ruangan baru berlapis kaca smart-glass di seberang ruangannya. Pintu ruangan itu bertuliskan: Yvone Larasati Hartono - Direktur Utama Divisi Desain & Arsitektur Alexander Group.
Ya, Yvone tidak lagi bersembunyi. Ia mengambil alih divisi desain yang membawahi proyek triliunan rupiah dengan tangan besi berbalut beludru. Karyanya di Uluwatu dan Senopati menuai pujian internasional. Ia adalah sang Ratu yang berdiri sejajar dengan Rajanya.
Dylan membuka pintu tanpa mengetuk.
Di dalam ruangan yang elegan itu, Yvone sedang berdiri di depan meja draf besar, berdiskusi dengan dua orang asisten arsitek. Ia mengenakan blazer putih tulang yang chic, rambutnya digulung rapi.
Melihat kedatangan Dylan, kedua asisten itu langsung menegang dan menunduk hormat. "S-Selamat siang, Bapak Dylan."
Dylan hanya mengangguk pelan, matanya tak lepas dari istrinya. "Tinggalkan kami."
Tanpa banyak bicara, kedua asisten itu membereskan dokumen mereka dan bergegas keluar, menutup pintu rapat-rapat.
Yvone meletakkan pensilnya dan tersenyum melihat suaminya. "Bagaimana sidangnya?"
"Hadi tamat," Dylan berjalan menghampiri meja draf, namun ia tidak peduli pada sketsa di atasnya. Ia merengkuh pinggang Yvone, menarik wanita itu dan langsung mencium bibirnya dengan posesif. "Sekarang, aku hanya peduli pada jadwal makan siang kita."
Yvone tertawa di sela ciuman itu, mendorong dada Dylan pelan. "Dylan, ini kantor."
"Kantorku," koreksi Dylan, mencium leher Yvone. "Dan kau adalah istriku."
"Aku baru saja memesan katering makanan sehat ke ruangan," Yvone mengelus rahang suaminya. "Ada salad salmon dan sup jagung..."
Tiba-tiba, kalimat Yvone terhenti. Wajah wanita itu seketika memucat. Ia menelan ludah dengan susah payah, tangannya mencengkeram lengan jas Dylan kuat-kuat.
Dylan yang langsung merasakan perubahan drastis itu mengerutkan kening. Insting pelindungnya langsung menyala. "Sayang? Ada apa? Kau sakit?"
"Aku..." Yvone menutup mulutnya dengan satu tangan. Bau parfum vetiver Dylan yang biasanya memabukkan mendadak membuat perutnya bergejolak hebat. "A-Aku mual..."
Sebelum Dylan sempat bertanya lebih lanjut, Yvone melepaskan diri dari pelukan suaminya dan berlari kecil menuju kamar mandi pribadi di sudut ruang kerjanya. Suara pintu ditutup dengan keras, disusul oleh suara Yvone yang muntah di wastafel.
Wajah Dylan seketika kehilangan warnanya. Kepanikan murni yang tidak pernah ia rasakan bahkan saat menghadapi peluru di Lembang, kini menghantam dadanya.
"Yvone!" Dylan menerobos masuk ke dalam kamar mandi.
Ia menemukan istrinya membungkuk di depan wastafel, tubuhnya bergetar, wajahnya sangat pucat dan dipenuhi keringat dingin. Dylan segera meraih pinggang Yvone, menahan tubuh wanita itu agar tidak ambruk, sementara tangan kanannya mengusap tengkuk Yvone dengan lembut.
"Bernapaslah," bisik Dylan panik. Ia menatap pantulan Yvone di cermin dengan ngeri. Apakah sisa-sisa anak buah Nadia berhasil meracuni makanan istrinya?! "Marco! Panggil Dr. Amanda sekarang juga!" raung Dylan ke arah luar ruangan, suaranya menggelegar hingga menembus kaca kedap suara.
Yvone membasuh mulutnya dengan air, napasnya terengah. "D-Dylan, aku tidak apa-apa... mungkin hanya salah makan..."
"Salah makan tidak membuatmu pucat seperti mayat," geram Dylan protektif. Ia mengangkat tubuh Yvone ala bridal style tanpa meminta persetujuan. "Aku akan membawamu ke klinik VVIP di lantai bawah."
Satu jam kemudian, klinik VVIP di Menara Alexander terasa sepi dan menegang.
Dylan mondar-mandir di depan ranjang pemeriksaan layaknya singa yang terkurung dalam kandang. Jasnya sudah dilempar entah ke mana. Kemejanya berantakan. Ia tidak berhenti menatap Yvone yang sedang duduk bersandar di ranjang, masih terlihat sedikit pucat namun jauh lebih tenang.
Dr. Amanda keluar dari ruang lab kecil dengan membawa sebuah map. Dokter wanita paruh baya itu tersenyum simpul melihat kepanikan sang CEO yang tak terkendali.
"Bagaimana hasilnya, Amanda? Keracunan? Infeksi lambung?" tuntut Dylan, berhenti melangkah dan menatap dokter itu tajam. "Jika ada yang berani menyabotase makanannya, aku akan meratakan dapur—"
"Bapak Dylan, tenanglah," Dr. Amanda tertawa pelan. Ia menyerahkan map itu kepada Yvone. "Tidak ada racun. Tidak ada infeksi. Dan tolong jangan meratakan dapur kantor Anda sendiri."
Dylan mengerutkan kening, bingung. "Lalu kenapa dia muntah-muntah dan pingsan?"
Yvone membuka map tersebut. Matanya menelusuri deretan angka hasil uji laboratorium. Napasnya tiba-tiba tertahan. Matanya membelalak tak percaya. Ia menatap Dr. Amanda, lalu kembali menatap kertas itu, air mata langsung menggenang di pelupuk matanya.
"Vone? Sayang?" Dylan mendekat, duduk di tepi ranjang dan menggenggam tangan istrinya yang gemetar. "Katakan padaku, apa yang salah?"
Yvone mendongak menatap suaminya. Tangis bahagia pecah bersamaan dengan senyum paling indah yang pernah Dylan lihat.
"Tidak ada yang salah, Dylan," bisik Yvone, menarik tangan besar suaminya dan meletakkannya tepat di atas perutnya yang masih datar. "Aku... aku hamil. Tujuh minggu."
Waktu seakan berhenti berdetak di ruang klinik itu.
Dylan Alexander Hartono pria yang tak pernah gentar menghadapi kehancuran pasar saham, pria yang tak berkedip saat mencabut nyawa musuhnya kini membeku di tempatnya. Mulutnya sedikit terbuka, matanya menatap tangan Yvone yang menahan tangannya di atas perut wanita itu.
"H-Hamil?" suara bariton Dylan bergetar, nyaris tak terdengar.
Dr. Amanda mengangguk mengonfirmasi. "Selamat, Bapak dan Nyonya Hartono. Anda berdua akan menjadi orang tua. Janinnya sehat, mual yang dialami Nyonya Yvone adalah morning sickness yang sangat normal."
Dylan tidak merespons dokter itu. Seluruh fokusnya tersita pada wanita di hadapannya dan kehidupan kecil yang mulai tumbuh di dalam sana. Sebuah keluarga. Keluarga sesungguhnya yang tumbuh dari darah dagingnya dan wanita yang paling ia cintai.
Pria itu jatuh berlutut di lantai klinik, tepat di samping ranjang.
Ia membenamkan wajahnya di pangkuan Yvone. Kedua lengannya memeluk pinggang istrinya dengan posesif yang luar biasa lembut. Bahu sang miliarder yang selalu tegang itu kini bergetar hebat. Untuk pertama kalinya sejak kematian ayahnya lima belas tahun lalu, Dylan Alexander Hartono menangis.
Yvone membelai rambut hitam suaminya, air matanya sendiri terus mengalir. "Kita akan punya bayi, Dylan."
Dylan mendongak. Matanya merah dan basah, namun memancarkan kebahagiaan yang melampaui segala harta di dunia. Ia berdiri, merengkuh wajah Yvone dan mencium bibirnya dengan penuh pemujaan, air mata mereka menyatu dalam ciuman itu.
"Kau memberiku segalanya, Yvone," bisik Dylan dengan suara serak, mencium kening istrinya dalam-dalam. "Kau memberiku kehidupan. Aku bersumpah... aku akan menjadikan dunia ini tempat yang paling aman untuk kalian berdua."