Agus adalah seorang pemuda yang hidup dalam jeratan ekonomi. Di rumahnya yang sederhana, ia harus berbagi beban dengan ayahnya, Marjuki, yang mulai sakit-sakitan, dan ibunya, Asmah, yang hanya bisa pasrah pada keadaan. Di tengah rasa sepi, Agus mengunduh sebuah aplikasi jodoh dan bertemu dengan Nor Rahma.
Bagi Agus, Rahma adalah sosok yang terlalu sempurna. Rahma memiliki pekerjaan tetap, pendidikan yang baik, dan paras yang menawan. Hubungan mereka yang bermula dari layar ponsel berlanjut ke arah yang lebih serius. Namun, tantangan muncul saat Rahma meminta bukti keseriusan berupa komitmen untuk melamar dan membangun masa depan yang stabil.
Agus terjepit. Di satu sisi, ia sangat mencintai Rahma. Di sisi lain, pendapatannya sebagai pekerja serabutan tidak pernah cukup untuk menabung, apalagi membiayai pernikahan yang layak. Keluarga Agus tidak memiliki simpanan sama sekali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Lampu merkuri di area bongkar muat Pasar Induk berkedip-kedip, menciptakan bayangan panjang yang tidak beraturan di atas aspal yang becek. Udara malam itu terasa sangat dingin, membawa bau busuk dari sisa sayuran yang terinjak dan aroma solar dari knalpot truk-truk besar. Agus berdiri di pinggir area parkir, menyandarkan tubuhnya pada tiang listrik beton. Kayu penyangga yang tadi sore ia gunakan sebagai kruk ia sembunyikan di balik tumpukan keranjang kosong. Ia tidak ingin mandor di pasar ini melihatnya sebagai orang cacat, atau ia tidak akan diberi kerja sama sekali.
Pergelangan kaki kirinya terasa panas, seolah-olah ada bara api yang ditempelkan di sana. Bengkaknya sudah melebar hingga ke betis, membuat celana jinsnya terasa sangat sesak. Setiap kali ia mencoba menumpu berat badan pada kaki itu, rasa sakitnya menusuk hingga ke ubun-ubun. Namun, di dalam kepalanya, suara mesin motor Mas Totok si penagih utang terus terngiang dipikirkan Agus.
"Kamu yang tadi sore tanya kerjaan?" seorang pria bertubuh gempal dengan handuk kecil melilit di leher menghampiri Agus. Namanya Bang sani, mandor bongkar muat di sektor sayuran.
"Iya, Bang. Saya Agus," jawab Agus sambil berusaha berdiri tegak, menyembunyikan pincangnya.
Bang Sani melihat ke arah truk fuso yang baru saja parkir. "Itu truk kol. Satu truk isinya sekitar dua ratus karung. Per karung beratnya tiga puluh kilo. Saya bayar seribu lima ratus rupiah per karung yang masuk ke gudang. Kalau kamu kuat sampai subuh, ada tiga truk lagi yang datang. Mau?"
Seribu lima ratus rupiah per karung. Agus menghitung cepat. Jika ia bisa memindahkan seratus karung, ia akan mendapat seratus lima puluh ribu. Ditambah lima puluh ribu dari Pak RT tadi sore, ia sudah punya dua ratus ribu. Masih kurang seratus ribu lagi untuk membayar koperasi besok sore.
"Saya ambil, Bang," ucap Agus mantap.
Agus mulai melangkah menuju bak truk. Langkah pertamanya terasa seperti menginjak paku-paku tajam. Ia memanjat bak truk dengan susah payah. Di atas sana, udara terasa lebih sesak oleh debu tanah yang menempel pada karung-karung kol. Satu karung diletakkan di atas pundak kanannya. Beratnya memang hanya tiga puluh kilo, lebih ringan dari sak semen di gudang biasanya, namun kondisi kakinya membuat berat itu terasa berkali-kali lipat.
Ia turun dari truk satu per satu anak tangga besi. Saat kakinya menyentuh aspal, ia mendesis pelan. Satu karung.
Ia kembali lagi. Dua karung.
Pada karung ke sepuluh, keringat dingin mulai membasahi punggungnya. Kaosnya yang tadi sudah kering kini kembali basah kuyup. Agus merasa kepalanya sedikit pening. Ia belum makan nasi sejak pagi tadi, hanya sisa teh tawar di rumah. Namun, setiap kali ia merasa ingin ambruk, ia teringat wajah ibu agus yang ketakutan saat Mas Totok datang. Ia teringat bapak agus yang sedang tertidur karena pengaruh obat. Dan yang paling menyakitkan, ia teringat Nor Rahma.
Di tengah kesunyian malam, saat ia berjalan mengangkut karung ke-lima puluh, ponsel di saku celananya bergetar. Agus berhenti sejenak di pojok gudang yang gelap, menurunkan karungnya ke lantai semen dengan suara berdebam. Ia merogoh ponselnya dengan tangan yang kotor dan bergetar.
Ada sebuah pesan foto dari Nor Rahma.
Agus membuka pesan itu. Foto itu memperlihatkan Rahma yang sedang duduk di atas tempat tidur dengan piyama berbahan satin yang terlihat sangat lembut. Ia sedang memegang sebuah buku tebal, latar belakang kamarnya terlihat sangat rapi, wangi, dan damai dengan lampu tidur yang berwarna kuning hangat.
Nor Rahma: "Mas Agus belum tidur ya? Aku baru mau baca buku sebentar sebelum tidur. Tadi aku kepikiran terus, apa kerja sampinganmu seberat itu sampai suara napasmu tadi terdengar sesak? Jangan lupa istirahat ya, Mas. Aku tidak ingin Mas sakit."
Agus menatap layar ponsel itu dengan mata yang perih. Kontras antara dunia Rahma dan dunianya malam ini benar-benar tidak masuk akal. Di sana Rahma sedang bersiap tidur di atas kasur yang empuk dengan aroma pengharum ruangan yang mahal. Di sini, Agus sedang berdiri di tengah pasar yang bau, dikelilingi sampah, memikul karung kol dengan kaki yang cidera parah demi uang seribu lima ratus rupiah per karung.
Ia ingin sekali membalas, "Rahma, aku sedang di pasar. Kakiku hancur, pundakku lecet, dan aku butuh uang untuk membayar utang koperasi." Tapi egonya sebagai laki-laki mencegahnya. Ia tidak ingin Rahma melihatnya sebagai pria yang tidak punya masa depan. Ia tidak ingin menjadi laki-laki yang dikasihani.
Agus memasukkan kembali ponselnya tanpa membalas. Ia memanggul kembali karung kol itu.
"Gus! Jangan kelamaan istirahat! Masih banyak karungnya!" teriak Bang Sani dari kejauhan.
Agus terus bekerja hingga pukul tiga pagi. Pada truk kedua, ia sudah tidak bisa lagi merasakan pergelangan kakinya. Rasa nyerinya berubah menjadi mati rasa yang aneh. Setiap langkahnya diseret. Beberapa kuli panggul lain menatapnya dengan heran, namun tidak ada yang bertanya. Di pasar ini, setiap orang sibuk dengan perutnya masing-masing.
Pukul empat pagi, truk ketiga selesai dibongkar. Agus terduduk di pinggir jalan, menyandarkan kepalanya pada tumpukan palet kayu. Wajahnya sangat kusam, matanya merah karena debu dan kurang tidur. Tangannya hitam pekat oleh kotoran tanah dari karung kol.
Bang Sani menghampirinya, lalu menghitung beberapa lembar uang kertas. "Kamu kuat juga, Gus. Totalnya kamu angkut seratus tiga puluh karung. Ini uangmu, seratus sembilan puluh lima ribu. Saya genapkan jadi dua ratus ribu karena kerjamu bagus."
Agus menerima dua lembar uang seratus ribuan itu dengan tangan yang gemetar hebat. Ia tidak bisa berkata-kata, hanya mengangguk pelan. Dua ratus ribu dari Bang Sani, ditambah lima puluh ribu dari Pak RT. Total dua ratus lima puluh ribu. Masih kurang lima puluh ribu lagi untuk membayar lunas denda koperasi besok.
Ia berdiri dengan bantuan kayu penyangganya yang ia ambil kembali dari persembunyian. Dengan langkah yang sangat lambat, ia menuju motor tuanya. Sepanjang jalan pulang, dinginnya angin subuh menembus kaosnya yang basah, namun ia sudah terlalu mati rasa untuk merasakannya.
Sesampainya di rumah, hari sudah mulai terang. Ayam-ayam sudah berkokok. Bu Asmah ternyata sudah menunggu di pintu depan, wajahnya menunjukkan bahwa ia tidak tidur semalaman.
"Gus... ya Allah, kamu dari mana? Lihat wajahmu, kotor sekali," ucap ibunya sambil menangis dan memegang kedua tangan Agus yang kasar.
"Dapat uangnya, Bu," bisik Agus sambil menyerahkan dua lembar seratus ribuan dan selembar lima puluh ribuan ke tangan ibunya. "Ini buat koperasi besok. Masih kurang lima puluh ribu lagi, tapi Agus akan cari caranya besok siang."
Ibu agus melihat uang itu, lalu melihat kaki Agus yang sudah membengkak dua kali lipat dari ukuran normal. Ia menutup mulutnya dengan tangan, menahan tangis agar tidak terdengar oleh suaminya di dalam. "Gus, demi uang ini kamu sampai begini... Ibu tidak sanggup melihatnya, Nak."
"Sudahlah, Bu. Yang penting besok Mas Totok tidak datang lagi bawa surat peringatan," ucap Agus lemas.
Ia masuk ke kamarnya, melempar tubuhnya ke atas kasur lantai tanpa membersihkan diri. Ia sudah terlalu lelah untuk sekadar membasuh wajah. Ia meraih ponselnya untuk terakhir kali sebelum kesadarannya hilang karena kelelahan yang luar biasa.
Ada satu pesan lagi dari Rahma yang masuk pukul dua belas malam tadi.
Nor Rahma: "Mas, kenapa tidak dibalas? Apa kamu marah padaku? Maaf ya kalau aku terlalu sering bertanya. Aku cuma peduli padamu. Selamat malam, Mas Agus. Semoga mimpimu indah."
Agus menatap pesan itu dengan pandangan kabur. Mimpi indah? pikirnya pahit. Mimpi indahnya baru saja ia tukar dengan seratus tiga puluh karung kol dan rasa sakit yang mungkin akan membuatnya tidak bisa berjalan selama seminggu ke depan.
Ia tidak punya tenaga lagi untuk mengetik penjelasan. Agus mematikan ponselnya. Ia memejamkan mata, membiarkan kegelapan menelannya. Di dalam tidurnya yang singkat itu, ia tidak bermimpi tentang Nor Rahma. Ia bermimpi tentang karung-karung kol yang tidak pernah habis dipikulnya, dan suara Mas Totok yang menagih janji di depan pintu rumahnya yang reyot.
Besok adalah hari penentuan. Agus masih harus mencari sisa lima puluh ribu rupiah lagi sebelum jam empat sore. Di balik layar ponselnya yang retak, cinta Rahma terasa semakin jauh, tertutup oleh tumpukan beban hidup yang setiap hari semakin menghimpitnya tanpa ampun.