Dikhianati hingga mati, Kirana terbangun di masa lalu dengan satu tujuan: membalas dendam pada adik tiri dan mantan tunangannya. Demi merebut kembali warisannya, ia nekat mengikat pernikahan kontrak dengan Adyatma Surya—CEO kejam berdarah naga yang dikutuk. Menawarkan diri sebagai penawar nyawa pria itu, Kirana tak menyadari bahwa kontrak berdarah tersebut justru menjebaknya dalam obsesi gelap sang predator yang takkan pernah melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Protokol Resonansi Jiwa
Hening yang mencekam menyelimuti ruang kendali utama Benteng Cendana setelah pintu baja kedap suara itu tertutup rapat. Kirana Larasati berdiri mematung di depan meja pualam putih yang permukaannya memancarkan cahaya biru neon samar. Di atas meja itu, jurnal ibunya tergeletak, halamannya terbuka pada skema rumit yang menghubungkan anatomi manusia dengan sirkuit kuantum.
Di sampingnya, Adyatma Surya tampak lebih tenang, namun gurat-gurat kelelahan masih membekas di wajahnya yang tegas. Energi naga dalam dirinya baru saja melewati fase kritis penjinakan, dan kini ia menatap Kirana dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara kekaguman dan kecemasan.
"Jadi, ini adalah alasan kenapa ibumu membangun semua ini," suara Adyatma berat, memecah kesunyian. "Bukan hanya untuk menyembunyikanmu, tapi untuk menciptakan 'Mesin Resonansi' yang bisa menyatukan dua energi paling berbahaya di Nusantara."
Kirana mengangguk pelan. Jemarinya menyentuh permukaan meja pualam, dan seketika sebuah antarmuka holografik muncul, menampilkan grafik tiga dimensi dari struktur DNA Kirana yang bersinggungan dengan pola energi biru milik Adyatma.
"Ibu menyebutnya Protokol Resonansi Jiwa," jelas Kirana. "Berdasarkan data yang tersimpan di Cendana-Drive ini, energi Cendana dalam darahku bukanlah sekadar penawar racun. Ia adalah 'konduktor'. Jika kita melakukan resonansi yang tepat, aku bisa memproyeksikan aura perlindungan ini ke seluruh infrastruktur digital Nusantara Group. Kita tidak akan lagi hanya bertahan dari serangan siber; kita akan membalikkan keadaan."
Ancaman di Balik Layar Google-Sites
Kirana mengaktifkan fitur Google-Sites internal yang telah dimodifikasi menjadi sistem pemantauan global. Di layar raksasa di hadapan mereka, muncul peta dunia dengan ribuan titik merah yang berkedip cepat.
"Reno, berikan laporan terakhir," perintah Kirana melalui interkom.
Suara Reno terdengar dari pengeras suara, sedikit terganggu oleh interferensi frekuensi tinggi. "Nyonya, Dewan Tetua Langit baru saja merilis 'Pesan Kematian' melalui jaringan gelap (dark web). Mereka mengklaim bahwa jika Anda tidak menyerahkan diri di markas mereka di lereng Gunung Lawu dalam waktu empat puluh delapan jam, mereka akan mengaktifkan virus 'Kalajengking Hitam' yang akan melumpuhkan seluruh sistem perbankan yang terafiliasi dengan Surya Corp dan Nusantara Group."
Kirana menyipitkan matanya. Ini adalah bentuk terorisme ekonomi tingkat tinggi. Dewan Tetua Langit tidak lagi bermain di balik bayangan; mereka mulai menggunakan kekuatan mereka untuk menyandera stabilitas nasional.
"Mereka pikir mereka bisa menyandera negaraku?" desis Kirana, auranya mulai memancar, aroma cendana memenuhi ruangan. "Mereka lupa bahwa aku memegang kendali atas pusat syaraf teknologi mereka."
Pelatihan Resonansi: Menyatukan Naga dan Cendana
Adyatma melangkah mendekati Kirana, memegang bahunya. "Jika kau ingin mengaktifkan Protokol Resonansi itu, kita harus melakukannya sekarang. Tubuhku sudah siap, tapi proses ini akan sangat menyakitkan bagimu, Kirana. Kau harus menampung sebagian dari energi nagaku ke dalam nadimu agar sinkronisasi terjadi."
"Aku sudah siap sejak aku kembali dari kematian, Adyatma," jawab Kirana tegas.
Mereka berdua melangkah menuju pusat ruangan, sebuah platform bundar yang dikelilingi oleh tabung-tabung kristal berisi cairan konduktif. Kirana dan Adyatma duduk berhadapan, tangan mereka bertautan erat.
Kirana memejamkan mata, fokus pada detak jantungnya. Ia mulai membayangkan aliran energi emas dari jantungnya mengalir menuju tangan Adyatma. Di saat yang sama, ia merasakan sensasi panas yang membara—energi biru naga milik Adyatma—mulai merayap masuk ke dalam pembuluh darahnya.
Rasa sakit itu luar biasa. Seolah-olah ada cairan logam mendidih yang dipaksakan masuk ke dalam tubuhnya. Kirana mengerang, keringat dingin membanjiri keningnya. Namun, ia tidak melepaskan genggamannya. Ia menggunakan teknik pernapasan yang diajarkan ibunya dalam jurnal Sastra Cyber, mengubah rasa sakit itu menjadi getaran frekuensi yang harmonis.
"Tahan, Kirana... fokus pada suaraku," bisik Adyatma, wajahnya juga tampak menegang menahan gejolak energi yang luar biasa.
Perlahan, cahaya di ruangan itu berubah. Bukan lagi emas atau biru secara terpisah, melainkan warna perak yang cemerlang. Inilah warna Resonansi Jiwa.
Operasi "Sapu Bersih" Digital
Di layar kontrol, Reno melihat sebuah fenomena yang mustahil. Tingkat keamanan di seluruh sistem Nusantara Group melonjak hingga level yang tidak terukur. Virus 'Kalajengking Hitam' yang mencoba menembus pertahanan mereka tiba-tiba terhenti, seolah-olah menabrak dinding suci yang tak kasat mata.
"Nyonya! Protokol berhasil!" seru Reno penuh kegembiraan. "Seluruh titik merah di peta mulai berubah menjadi hijau. Kita sedang melacak balik sumber serangan mereka!"
Melalui sinkronisasi ini, Kirana bisa 'melihat' aliran data di seluruh dunia. Ia melihat koordinat rahasia para anggota Dewan Tetua Langit. Ia melihat Bagas yang sedang meringkuk di penjara, masih mencoba mengirim pesan melalui penyelundupan ponsel, dan dengan satu pikiran, Kirana memutus seluruh akses komunikasi pria itu selamanya.
Namun, penglihatan Kirana tidak berhenti di situ. Ia melihat sebuah bayangan besar di lereng Gunung Lawu—sebuah kuil kuno yang dikelilingi oleh teknologi pemancar frekuensi tinggi. Di sana, Mbok Sum berdiri di samping seorang pria tua dengan jubah yang memancarkan aura kegelapan yang pekat. Itulah sang Pemimpin Dewan Tetua.
"Aku melihatmu," bisik Kirana dalam resonansinya.
Pria tua di Gunung Lawu itu tampak tersentak, seolah ia merasakan tatapan Kirana dari jarak ratusan kilometer. Ia menatap ke langit, matanya memancarkan kebencian yang mendalam.
Pengkhianatan di Dalam Benteng
Tiba-tiba, sebuah ledakan kecil mengguncang pintu masuk laboratorium bawah tanah. Kirana dan Adyatma terpaksa memutus resonansi mereka secara mendadak. Keduanya jatuh terduduk, napas mereka terengah-engah, tubuh mereka masih bergetar akibat sisa energi perak.
"Apa itu?!" teriak Kirana.
Reno masuk dengan senjata di tangan, wajahnya berdarah. "Nyonya, ada pengkhianat di antara tim pengawal elit! Seseorang telah memberikan kode akses pintu belakang kepada pasukan klan Scorpio yang berhasil menyelinap melalui jalur udara!"
Sesosok pria dengan seragam Surya Corp masuk, namun matanya kosong, seperti dikendalikan oleh sesuatu. Di lehernya, sebuah mikrodip bercahaya ungu tertanam.
"Hipnosis digital..." geram Adyatma, mencoba bangkit berdiri meskipun kakinya masih lemas. "Dewan Tetua menggunakan sinyal frekuensi rendah untuk mengendalikan pikiran orang-orang kita."
Pria yang terhipnotis itu mengangkat granat elektromagnetik. "Kunci... berikan... kunci..." gumamnya dengan suara monoton.
Kirana berdiri dengan angkuh. Meskipun tubuhnya masih terasa lemas, otoritasnya sebagai Sang Penjaga Cendana tidak goyah sedikit pun. Ia mengangkat tangannya, dan tanpa menyentuh pria itu, ia melepaskan sisa energi resonansi perak dari ujung jarinya.
Seketika, mikrodip di leher pria itu meledak kecil, dan pria itu jatuh pingsan. Kirana menatap ke arah kamera pengawas di langit-langit, tahu bahwa Dewan Tetua sedang menonton melalui mata sang pengkhianat.
"Kalian mengirim orang-orangku untuk membunuhku?" Kirana berbicara langsung ke arah kamera. "Itu adalah penghinaan terakhir yang akan kalian lakukan. Aku tidak akan menunggu empat puluh delapan jam. Aku akan datang ke Gunung Lawu malam ini, dan aku akan memastikan matahari besok pagi tidak akan pernah terbit untuk kalian."
Persiapan Perang Akhir
Adyatma memegang tangan Kirana, membantunya berdiri. "Kita tidak bisa pergi dengan tim besar. Mereka akan mendeteksi kita. Kita butuh serangan kilat."
"Aku tahu," jawab Kirana. Ia menoleh ke arah Reno. "Aktifkan unit 'Gatotkaca-02'. Siapkan pesawat tempur siluman tanpa awak yang dikendalikan oleh sistem resonansi ini. Kita akan menyerang dari dua sisi: aku dan Adyatma dari darat, dan pasukan digital dari udara."
Kirana kembali ke meja pualam, mengunduh seluruh data koordinat Dewan Tetua ke dalam perangkat komunikasi pribadinya. Ia menyadari bahwa babak pembalasan dendamnya telah berevolusi menjadi perang untuk kedaulatan jiwa Nusantara.
"Adyatma," Kirana menatap suaminya dengan mata yang kini memiliki kilatan perak yang abadi. "Jika kita tidak kembali dari Gunung Lawu..."
"Jangan katakan itu," potong Adyatma, mencium tangan Kirana yang kini telah sembuh dari lukanya. "Naga dan Cendana telah bersatu. Tidak ada kekuatan di bumi ini, baik kuno maupun modern, yang bisa memisahkan kita lagi."
Malam itu, di bawah perlindungan kegelapan, mereka meninggalkan Benteng Cendana. Bukan sebagai buronan, melainkan sebagai penegak keadilan yang akan membasmi benalu kuno yang telah terlalu lama menghisap kehidupan Nusantara. Perjalanan menuju Gunung Lawu akan menjadi babak paling berdarah dalam hidup mereka, di mana Kirana akan dipaksa untuk memilih antara pembalasan dendam murninya atau keselamatan orang-orang yang ia cintai.
Dengan teknologi Google Workspace yang kini telah terintegrasi dengan kekuatan spiritual, Kirana Larasati siap untuk menghadapi takdirnya sebagai ratu yang akan membawa fajar baru bagi bangsanya.
*** [Bersambung ke Bab 14...]