"Mantan kabur, adiknya malah melamar? Dunia ini sudah gila!"
Bagi Cantik (26 tahun), hidupnya berakhir tragis saat rencana pernikahannya hancur karena Satria, sang calon suami, ketahuan selingkuh tepat sebulan sebelum hari H. Di tengah rasa sakit hati dan niatnya untuk menutup diri dari laki-laki, sebuah kekacauan muncul di depan pagarnya.
Bukan Satria yang datang meminta maaf, melainkan Juna (18 tahun), adik kandung Satria yang baru saja pamer foto ijazah SMA. Tidak tanggung-tanggung, bocah ugal-ugalan itu datang membawa rombongan motor sport, spanduk lamaran, hingga surat izin menikah dari ibunya sendiri!
Bagi Cantik, Juna hanyalah "bocil" bau matahari yang tidak tahu diri. Namun bagi Juna, Cantik adalah bidadari yang sudah ia incar sejak ia masih memakai seragam putih-abu.
"Lu itu berlian, Kak! Nggak pantes nangisin kerikil kayak Bang Satria. Daripada jadi mantan kakak, mending jadi istri adek. Gaskeun?!"
Sanggupkah Cantik mempertahankan tembok gengsinya mengahadapi pesona Juna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29. Restu Yang Gugur
Malam itu, Jakarta tidak lagi ramah. Hujan turun begitu deras, membasuh darah yang berceceran di lantai kamar tamu kediaman Bani Sudirjo, namun tidak mampu membasuh luka di hati Juna Raksa.
Di dalam mobil, hanya ada isakan kecil dari Cantik yang meringkuk di kursi penumpang. Juna menggenggam kemudi dengan tangan yang masih gemetar hebat—sebagian karena sisa amarah, sebagian lagi karena rasa takut kehilangan yang amat sangat.
Sesampainya di rumah Cantik, pintu depan langsung terbuka lebar bahkan sebelum mesin mobil mati sempurna. Ayah dan Ibu Cantik sudah berdiri di teras dengan wajah penuh kecemasan.
Melihat putri mereka turun dengan rambut berantakan, wajah sembap, dan tubuh yang dibalut jaket denim Juna, kemarahan sang Ayah meledak seketika.
"Cantik! Nak, kamu kenapa?!" Ibu Cantik langsung memeluk putrinya yang kembali terisak histeris begitu menyentuh aroma rumah yang ia kenal.
Di ruang tamu yang tegang, Juna berdiri mematung. Ia tidak mencoba bersilat lidah. Dengan suara parau dan kepala tertunduk, Juna menceritakan semuanya—tentang bagaimana Satria menyelinap masuk ke rumah utama, tentang penyerangan di lorong belakang, hingga bagaimana ia menemukan Cantik yang sedang dalam ancaman keji sang kakak.
PLAK!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Juna. Juna tidak menghindar sedikit pun. Ia tetap berdiri tegak, menerima setiap inci kemarahan pria di depannya sebagai bentuk penebusan atas kelalaiannya.
"Saya mencoba memberi kamu kesempatan, Juna!" raung Ayah Cantik, napasnya memburu karena murka yang luar biasa.
"Saya mencoba percaya bahwa kamu berbeda dari kakakmu yang brengsek itu. Tapi ternyata, berhubungan dengan keluarga kalian hanya membawa petaka bagi anak saya!"
BUAGH!
Satu pukulan mentah mendarat di sudut bibir Juna hingga pria itu terjerembap ke lantai. Darah segar kembali mengalir dari luka yang belum sempat kering.
Cantik mencoba berteriak, mencoba menghalangi ayahnya dengan tubuhnya yang lemas, namun sang Ibu dengan sigap menariknya.
"Bawa Cantik ke kamar, Ma!" perintah Ayah Cantik dengan suara menggelegar. "Biarkan laki-laki ini di sini!"
Setelah Cantik dibawa masuk secara paksa, keheningan yang memuakkan menyelimuti ruang tamu. Juna bangkit dengan perlahan, tetap menundukkan kepala di depan Ayah Cantik.
"Om... saya bersumpah saya tidak akan membiarkan ini lewat begitu saja. Saya sendiri yang akan membawa bukti-bukti ke polisi—"
"Jangan sebut soal polisi ke saya!" Ayah Cantik menunjuk wajah Juna dengan telunjuk yang bergetar.
"Karena saya sendiri yang akan memastikan Satria membusuk di penjara. Saya tidak butuh bantuan anak kecil seperti kamu untuk menuntut keadilan bagi anak saya! Pengacara saya akan mengurus semuanya besok pagi. Satria akan mendekam di balik jeruji besi, dan itu adalah janji saya!"
Juna menarik napas panjang, ia merasa sedikit lega mendengar Satria akan dipenjara. Namun, kalimat Ayah Cantik berikutnya justru menjadi belati yang menusuk langsung ke jantungnya.
"Dan setelah Satria dipenjara, urusan kita selesai, Juna Raksa. Mulai detik ini, saya menarik kembali semua restu yang pernah saya berikan. Hubungan kamu dan Cantik berakhir di sini!"
"Om, saya mohon... saya salah karena membiarkan dia sendiri, tapi tolong jangan putuskan hubungan kami," bisik Juna dengan nada yang sangat putus asa.
"Cukup!" bentak Ayah Cantik. "Bukan cuma kamu dan Cantik. Saya juga memutuskan seluruh hubungan kerja sama, komunikasi, dan pertemanan antara keluarga saya dengan keluarga besar Bani Sudirjo! Saya tidak mau lagi ada sangkut paut dengan keluarga yang bisa melahirkan monster seperti Satria.
Keluar dari rumah saya, Juna! Jangan pernah muncul lagi di depan Cantik, atau saya sendiri yang akan membuat kamu menyesal!"
Juna berdiri terpaku.
Ia melihat ke arah tangga, tempat Cantik tadi dibawa pergi. Pintu kamar di atas tertutup rapat, menghalangi pandangannya dari satu-satunya alasan ia masih ingin bertahan hidup.
"Saya minta maaf, Om. Tapi saya tidak akan pernah berhenti menjaga Cantik, meskipun dari jauh," ujar Juna pelan sebelum akhirnya melangkah keluar menuju hujan yang kian deras.
Juna menaiki motor sport-nya, raungan knalpotnya kali ini terdengar sangat pilu, membelah kesunyian malam di perumahan itu.
Di bawah guyuran hujan yang seolah ingin menenggelamkan Jakarta, Juna Raksa merasakan sakit yang jauh lebih hebat daripada pukulan sang Ayah. Ia kehilangan segalanya dalam satu malam.
Malam itu, di kediaman Bani Sudirjo, polisi benar-benar datang menjemput Satria. Dan di rumah Cantik, sebuah restu yang baru saja mulai bersemi, kini telah mati dan terkubur oleh trauma yang tak termaafkan.
Bagi Juna Raksa, perjuangan ugal-ugalannya kini naik ke level yang mustahil: Menembus tembok kebencian seorang ayah yang telah terluka harga dirinya.