Di buang ke Desa Kenangan, tempat Oma-nya menghabiskan sisa umur. Nero Vano Christian malah tidak sengaja bertemu dengan seorang gadis manis bernama Ainun Salsabila Adiakara. Gadis yang awalnya hanya sekedar mengusik hati.. Lalu menjadi alasan untuk Nero mulai mengenal Tuhan.
Ikuti kisahnya~
Happy Reading ><
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 32: NINJA HIJAU DAN SIRKUIT NOSTALGIA
Sebulan Sebelum Keberangkatan ke Desa
Malam itu, Nero sedang membaca kitab Riyadhus Shalihin di teras belakang mansion. Udara Jakarta Selatan terasa lebih dingin dari biasanya. Atau mungkin karena hatinya yang sudah lebih damai.
“Ro,” suara Papa terdengar dari pintu dapur. “Tidur belum?”
Nero menoleh. Papa berdiri dengan secangkir kopi hitam tanpa gula, seperti kebiasaan barunya setelah mualaf. Ada senyum misterius di wajah lelaki yang dulu jarang tersenyum itu.
“Belum, Pa. Lagi ngulang hafalan.”
“Ikut Papa ke garasi. Sebentar aja.”
Nero mengernyit. Garasi belakang mansion biasanya hanya berisi mobil-mobil dinas Papa dan mobil Ibu. Tapi begitu mereka melewati lorong belakang yang temaram, Nero mencium bau baru: ban karet dan cat segar.
Papa berhenti di depan sebuah benda besar yang tertutup kain hitam.
“Papa punya janji tiga tahun lalu,” kata Papa pelan. “Papa bilang, kalau Papa sita motor itu, Papa akan kembalikan kalau kamu sudah dewasa. Bukan dewasa umur, Ro. Tapi dewasa akal.”
Jantung Nero berdegup kencang. Dia tahu persis benda apa di balik kain itu.
Papa menarik kain penutup hitam itu perlahan.
Ssstttt...
Hijau metalik menyala di bawah lampu garasi.
Kawasaki Ninja ZX-10R.
Motor legendaris yang dulu Nero kendarai seperti setan di jalanan Jakarta. Motor yang Papa sita paksa setelah polisi mengantar Nero pulang dengan surat tilang dua puluh lembar sekaligus. Motor yang menjadi saksi bisu kenakalan remaja Nero. Balapan liar, kejar-kejaran dengan polisi, bahkan tabrak lari di Tangerang tiga tahun lalu.
Nero membeku.
Bukan karena motor itu kembali. Tapi karena kondisinya.
Ninja hijaunya kini jauh lebih mulus dari terakhir kali ia melihatnya. Mesinnya sudah di-refresh penuh. Blok mesin dibersihkan, oli baru, rantai baru, ban baru—Pirelli Diablo Supercorsa, ban impian yang dulu tak pernah mampu ia beli. Knalpotnya berkilau seperti cermin. Bahkan stiker-stiker liar dulu yang bergambar tengkorak dan api sudah diganti dengan stiker karbon polos yang elegan.
“Pa… ini…” Nero terbata. Tangannya gemetar saat meraih setang.
“Papa simpan motor ini bukan buat kamu pakai ugal-ugalan lagi, Ro,” kata Papa sambil menyerahkan kunci bermagnet itu. Kunci itu masih sama. Ada gantungan kunci kecil berbentuk huruf 'N' yang dulu diberikan Mama kamu. “Tapi buat pengingat. Kalau hobi nggak harus bikin kamu jauh dari Tuhan. Besok, ajak teman-temanmu ke Sentul. Papa sudah sewa sirkuitnya buat kalian nostalgia.”
Nero jatuh berlutut. Bukan sujud syukur—tapi menangis.
Air matanya jatuh ke lantai garasi yang dingin. Tangannya meraih tangan Papa yang kini hangat. Tangan yang dulu dingin dan penuh kalkulasi bisnis, kini lembut dan penuh kasih.
“Pa, dulu aku nyaris mati di motor ini,” Nero terisak. “Aku kira motor ini adalah musuh terbesar aku. Tapi Pa... Pa malah ngebenerin dia. Pa bikin dia jadi sahabat.”
Papa berlutut di samping Nero. Untuk pertama kalinya, Papa memeluk Nero—erat, hangat, tanpa canggung.
“Karena Papa sayang sama anak Papa. Papa nggak mau lihat anak Papa kehilangan jati dirinya cuma karena cara dia bahagia salah arah. Sekarang, kamu sudah tahu arahnya. Jadi nikmatilah dengan cara yang benar.”
.
.
.
SENTUL INTERNATIONAL CIRCUIT
Sabtu pagi. Pukul 08.00 WIB.
Langit Sentul cerah tanpa mendung. Sirkuit seluas 3,96 kilometer itu biasanya ramai oleh pembalap profesional atau komunitas mobil mewah. Tapi pagi ini, paddock dipenuhi oleh motor sport dan moge dengan suara knalpot yang menggelegar.
Robby, Kevin, Dika, dan sekitar lima belas anak motor lainnya sudah berkumpul. Bedanya dengan setahun lalu: tidak ada botol miras, tidak ada cewek-cewek berpakaian minim, tidak ada bau ganja.
Yang ada: botol air mineral, termos kopi, kurma ajwa yang dibawa Nero, dan semangat persaudaraan yang tulus.
“Woy, Ro! Lo yakin motor lo udah siap?” teriak Robby dari kejauhan. Rambutnya yang dulu gondrong sekarang sudah dipotong rapi. Tato naga di lengannya tertutup underglove hitam.
“Pertanyaannya, lo yang siap disalip sama motor yang baru bangun tidur tiga tahun?” balas Nero sambil keluar dari paddock.
Semua terdiam.
Nero mengenakan wearpack balap lengkap—hitam polos dengan aksen hijau. Helmnya masih yang lama, Arai RX-7X warna karbon, tapi di bagian belakang sekarang ada stiker kecil yang baru. "Tarim di Hati"
Di dada kirinya, ada bordir kecil bertuliskan "Muhammad Nero VA".
Ninja ZX-10R hijaunya terparkir di belakangnya. Mesin sudah hangat, bergemuruh pelan seperti macan yang siap menerkam.
“Woy, Pak Ustadz!” Robby menaikkan kaca helmnya. “Inget ya, ini sirkuit resmi, bukan jalanan Senopati! Jangan sampai lo kalah sama gue yang tiap hari latihan narik gas di tol dalam kota!”
Nero menurunkan kaca helmnya. Matanya tajam, tapi tenang. Tidak ada lagi ambisi membunuh lawan. Tidak ada lagi adrenalin beracun yang dulu membuatnya buta.
“Hati boleh di langit, Rob,” kata Nero pelan. “Tapi tangan tetap di gas. Let’s go.”
---
VROOOOMMMM!
Enam belas motor meluncur dari garis start. Suara mesin inline-four, twin, dan triple bercampur jadi simfoni yang menggetarkan aspal.
Nero berada di posisi ketiga. Di depannya, Robby dengan Suzuki GSX-R1000 dan Kevin dengan Yamaha R6. Di belakangnya, Dika dan rombongan lain saling susul.
Tikungan pertama: T1, hairpin kiri yang tajam.
Dulu, Nero selalu masuk T1 dengan kecepatan 140 km/jam, hampir jatuh setiap putaran. Sekarang, ia masuk di 110 km/jam—lebih lambat, tapi lebih stabil. Bibirnya komat-kamit.
“Bismillahirrahmanirrahim...”
Robby berhasil keluar dari T1 sebagai pemimpin. Nero menempel di belakangnya.
Tikungan kedua: T2, kanan cepat.
Ninja Nero meliuk seperti ular. Ia merasakan ban barunya mencakar aspal dengan sempurna. Kemiringan badannya 45 derajat. Lututnya hampir menyentuh aspal. Tapi ia tidak takut.
“Subhanallah...” gumamnya di balik helm setiap kali ia berhasil cornering dengan sempurna.
Lurus panjang: T4 sampai T6, kecepatan maksimal.
Nero membuka gas penuh. Ninja ZX-10R miliknya meraung seperti singa kelaparan. Kecepatan naik: 180... 200... 220 km/jam. Angin menerjang helmnya. Dunia di luar lintasan menjadi buram.
Tapi kepalanya tetap jernih.
Dulu, saat kecepatan begini, yang ada di pikirannya hanya: "Gilain, lu pada mati semua!" atau "Awas kena tilang, cabut!"
Sekarang, yang terngiang hanya satu ayat:
“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahman: 13)
Nero tersenyum di balik helm.
Di tikungan T6, Nero melihat celah. Robby sedikit melebar karena rem blong. Nero memanfaatkan momen. Dia memotong di dalam, nyaris menempel ke pembatas sirkuit.
BRAAAP!
Nero berhasil menyalip Robby.
“Woy!” teriak Robby lewat intercom. “Curang! Lo pake doa mulu!”
“Doa itu senjata mukmin, Rob! Lo punya doa apa?” balas Nero sambil tertawa.
Mereka tertawa berdua meski sedang melaju 180 km/jam.
.
.
Setelah lima putaran, mereka semua masuk ke pit stop.
Mesin-motor dimatikan satu per satu. Suara sirkuit yang tadinya riuh berganti dengan suara napas berat dan tawa lelah.
Nero melepas helmnya. Rambutnya yang pendek basah oleh keringat. Wajahnya yang klimis kini tampak bercahaya di bawah terik matahari. Bukan karena mahal skincare, tapi karena ketenangan.
“Gila, Ro!” Dika menyodorkan botol air mineral. “Lo masih punya skill gila-gilaan! Gue kira gara-gara kebanyakan baca kitab, tangan lo jadi kaku kayak robot.”
Nero tertawa lepas. “Kitab itu melatih kesabaran, Dik. Dan balapan butuh kesabaran buat tahu kapan harus ngerem dan kapan harus narik gas. Sama kayak hidup. Lo gas terus nanti jatuh. Lo rem terus nanti ketinggalan.”
Kevin yang dari tadi diam, tiba-tiba nyeletuk. Tangannya masih memegang setang Yamaha R6-nya yang sedikit penyok karena jatuh di tikungan T10.
“Ro, gue tadi hampir jatoh di T10,” kata Kevin pelan. “Bannya selip gara-gara bekas oli. Tapi pas gue bilang 'Ya Allah selametkan gua', tiba-tiba motor gue stabil lagi. Gue kira itu cuma mitos.”
Nero menepuk pundak Kevin.
“Itu namanya pertolongan Allah, Ke. Bukan mitos. Dulu lo minta tolong sama setan lewat jimat-jimat bodoh itu. Sekarang lo minta sama Yang Bener. Ya jelas beda.”
Robby merangkul Nero dari samping. Mereka duduk di pinggir lintasan. Persis di aspal panas yang masih menguap.
“Gue seneng banget hari ini, Ro,” kata Robby lirih. Suaranya berbeda. Tidak keras dan kasar seperti biasanya, tapi lembut seperti anak kecil yang baru menemukan mainan kesayangannya. “Seumur-umur gue balapan, baru kali ini gue ngerasa nggak ada beban. Nggak takut diciduk polisi. Nggak takut mati sia-sia. Karena gue tahu, habis ini kita bakal shalat Dzuhur jamaah di masjid sirkuit. Habis itu makan bakso bareng. Habis itu pulang dengan selamat.”
Nero menatap Ninja hijaunya yang terparkir rapi di paddock. Motor itu tidak lagi terlihat angker seperti dulu. Sekarang, ia hanya terlihat seperti teman lama yang sudah berdamai.
.
.
.
Pukul 12.30 WIB.
Mereka semua sudah mandi dan berganti pakaian. Masjid di area sirkuit Sentul tidak besar—mungil, sederhana, ber-AC seadanya. Tapi hari itu, masjid itu penuh.
Enam belas anak motor dengan tato di sekujur tubuh duduk bersaf di karpet merah. Beberapa masih bingung bacaan shalat. Beberapa masih salah gerakan. Tapi semua hadir dengan hati, bukan hanya badan.
Nero menjadi imam.
Allahu Akbar...
Saat ia melantunkan Surah Al-Fatihah dengan langgam Tarim yang merdu, di shaf belakang, Kevin menangis lagi. Dika ikut-ikutan nangis meski tidak tahu kenapa.
Dan Robby? Robby tersenyum.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tersenyum saat sujud. Bukan karena pura-pura, tapi karena benar-benar merasa damai.
.
.
Sore itu, langit Sentul berwarna jingga.
Enam belas motor melaju pelan di jalan raya menuju Jakarta. Tidak ada yang ngebut. Tidak ada yang saling serempet. Mereka hanya beriringan dengan kecepatan 60 km/jam seperti kawanan burung yang pulang ke sarang.
Nero di depan, Ninja hijaunya berkilau terkena sinar matahari sore.
Di spion kirinya, ia melihat Robby tersenyum. Di spion kanannya, ia melihat Kevin dan Dika berdua saling ledek.
-------
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.” — QS. Al-Qashash: 77
(Author makin puitis aja ihh~)