NovelToon NovelToon
Gadis Desa Milik CEO Tampan

Gadis Desa Milik CEO Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: HegunP

Ayu pikir jadi istri dari CEO tampan hidupnya akan bahagia seperti di film-film, nyatanya malah selalu direndahkan dan diperlakukan kasar.

Sang CEO, bernama Arvin, memandang Ayu hanyalah gadis dari desa yang tak pantas bersanding dengan dirinya, yang berkelas dan premium. Arvin menikahi Ayu memang bukan karena cinta.

Hingga datanglah hari dimana kesabaran Ayu telah habis. Dia hendak mengakhiri rumah tangganya, namun perilaku Arvin malah berubah menjadi sosok yang tidak ingin lepas dari Ayu.

Sebenarnya apa yang terjadi dengan isi hati Arvin? Dan bisakah Ayu tetap mempertahankan rumah tangganya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HegunP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 Penjelasan

Tidak ada yang berani membantah Arvino Pradipta.

Berita sang CEO sudah memiliki istri tersebar cepat di grup-grup kantor.

Trending topik.

Tapi tidak ada yang berani meng-upload ke sosial media atau memberitahukan ke media besar, karena Arvin sendiri yang tegas melarang.

Dan semua orang tahu, jika ada yang berani melanggar akan diberi hukuman yang menyengsarakan.

Selepas keluar dari gedung, Ayu tergesa-gesa menelepon Cintia.

Panggilan diterima.

“Cin … pak Arvin akhirnya mengakuiku!” seru Ayu sambil menekan dadanya. Wajah manisnya masih dipenuhi cahaya haru.

Tidak butuh waktu lama, Ayu tiba di sebuah kafe, tempatnya janjian bertemu Cintia.

Cintia yang baru selesai kuliah sudah tiba duluan.

Dia duduk di meja dekat pohon rindang, dimana konsep kafe yang dikunjungi ini memang gaya terbuka. Ada guratan gelisah nampak jelas di wajahnya — yang mana dia memang tipe wanita bermuka judes. Dia jujur kaget mendengar Arvin telah mengakui Ayu sebagai istri.

Cintia sebenernya senang mendengar kabar Ayu itu, sekaligus khawatir. 

Dia mengenal baik sosok Ayu, sahabat sejak SMA di desa.

Ayu di sekolah dulu terkenal sebagai siswi paling cantik tapi gampang ketipu. Cintia lah yang selalu menjadi tameng, menendang anak-anak nakal yang mau mengerjai Ayu.

Lulus SMA, Cintia berhasil mendapatkan beasiswa, lalu merantau dan kuliah di universitas ternama di ibu kota.

Ayu dan Cintia pun berpisah.

Namun beruntungnya, Ayu bisa bertemu kembali dengan Cintia setelah Ayu mengabari dirinya menjadi istri CEO tampan dan ikut pindah rumah ke ibu kota.

Cintia mengulas senyum melihat Ayu datang tergesa-gesa. Begitu sampai dan bertemu dengan Cintia, Ayu langsung menceritakan semuanya.

Mulai soal Arvin mengancam pecat lalu memaksa Elena panggil Ayu dengan nama Nyonya.

Arvin tiba-tiba memanggil Ayu dengan sebutan sayang.

Hingga betapa senang dan merindingnya dia ketika menyaksikan serta mendengar Arvin mengakui Ayu adalah istrinya kepada orang-orang kantor.

“Entah bagaimana. Aku yakin pak Arvin sudah mengakuiku!”

“Aku … aku bahagia banget!” seru Ayu.

Ayu memendam wajahnya dalam-dalam ke kedua telapak tangannya sambil terus geleng-geleng tak karuan.

Tiba-tiba, Ayu mematung. Dua tangannya turun mencengkram pinggiran meja, sementara pupilnya bergetar.

“Tunggu! Bagaimana kalau pak Arvin malam ini ngajak bikin anak. Aduuh! Aku belum siap ngebayangin!”

Ayu kembali heboh sendiri.

Seperti cacing kepanasan.

Sahabatnya di seberang meja nampak was-was.

Cintia menghela napas panjang sebelum mulai menghancurkan kebahagiaan Ayu.

“Jangan cepat senang dulu. Bagiku Arvin malah aneh?”

Mendengar komentar Cintia, tubuh Ayu sontak tak bergerak. Dia kemudian menghujani Cintia dengan tatapan heran.

“Ko kamu ngomong begitu, sih?”

“Soalnya suami dingin dan galakmu itu tiba-tiba bertingkah romantis di depan banyak orang. Ya pasti mencurigakan, lah!”

“Mencurigakan bagaimana?” suara Ayu meninggi.

Cintia mencondongkan kepala ke depan. “Bisa saja dia koar-koar kamu istrinya supaya orang-orang percaya kalian pasangan romantis, tapi nyatanya kalian tidak begitu kan. Artinya Arvin sudah membodohi banyak orang.”

Raut berseri-seri Ayu mulai luntur.

“Tidak! Tidak mungkin! Pak Arvin orang yang tegas dan tidak suka berbohong!” 

“Heh Ayu! Orang kaya tuh dimana-mana pandai berakting. Mau pebisnis atau artis sama saja. Mereka sama-sama pandai berbohong.” 

Dahi Ayu mengerut. Ayu lalu bertanya dengan suara pelan. “Aku … tidak mengerti. Memangnya pak Arvin mendapatkan untung apa berbohong kaya gitu?”

“Nama baik.” jawab Cintia cepat.

“Nama baik?”

“Iya.”

Cintia menyesap jusnya sebelum memulai menjelaskan panjang lebar.

“Kamu tahu gak? Banyak CEO di luar sana justru semakin disegani dan dihormati setelah mengaku dirinya sudah menikah. Orang-orang jadi berfikir ‘wah! Pak Arvin pria romantis. Par Arvin peduli masa depan. Pak Arvin meski sibuk jadi CEO tetap sayang istri. Dan bla-bla-bla.’”

“Intinya, si Arvin itu cuma peduli sama dirinya sendiri.”

Ayu terdiam.

“Dan satu lagi! Rata-rata CEO yang nama baiknya makin besar jadi makin mudah mendapatkan proyek kerjasama. Dengan kata lain, bisnisnya makin ngehasilin banyak cuan.”

“Kesimpulannya… si Arvin terang-terangan ngaku kamu istrinya ke semua orang supaya bisnisnya makin cuan. Bukan karena cinta sama kamu!” tutup Cintia setelah menjelaskan panjang lebar.

Yang dikatakan Cintia memang ada benarnya. Ayu sendiri juga mulai sadar.

Arvin adalah sosok dingin dan galak yang tidak menyukai Ayu, tiba-tiba dengan bangganya mengakui Ayu adalah istrinya.

Maka penjelasan paling masuk akal; Arvin mungkin punya maksud tertentu.

Dan bisa saja yang dijelaskan Cintia itu benar.

Akan tetapi, Ayu tetaplah Ayu.

Dia lebih memilih percaya kepada suara hati ketimbang logikanya.

Dia masih percaya Arvin telah berubah, meski separuh dirinya telah goyang.

Ayu segera pulang dan sampai di rumah. 

Dia sedang membuat hidangan makan malam. Sebuah menu baru.

Selesai memasak, Ayu menunggu Arvin pulang, duduk gelisah di meja makan. Tangannya tak bisa diam, terus menarik-narik ujung kaos lengan panjang yang dikenakannya.

Ada suara pintu terbuka. Ayu menengok dan langsung berdiri siap.

Arvin masuk, melangkah cepat menuju area ruang makan. 

Dari jauh, Ayu melihat paras pria itu kembali dingin menusuk. Tidak seperti saat membelanya tadi siang.

Begitu Arvin melintasi area ruang makan, Ayu memanggil pelan. “Pak Arvin!”

Arvin menoleh dan berhenti.

“Anu … saya …”

“Ada apa?” tanya Arvin, suaranya rendah.

“Saya …” Ayu menengok sekilas ke belakang. “Makan malam sudah siap. Saya buat menu baru.”

Sebenarnya bukan itu yang ingin ia katakan.

“Oh. Nanti saja. Saya mau mandi.”

Gara-gara Ayu tadi ragu, Arvin lanjut berlalu. Namun, Ayu tidak mau lama-lama menunggu. Jadinya, dia mengumpulkan keberanian untuk memanggil lagi.

“Pak Arvin!”

“Ada apa lagi?” Arvin mulai sedikit kesal.

Ayu jalan mendekat hingga dia dan suaminya berjarak satu meter.

“Soal tadi siang di kantor, apa Bapak beneran sudah menerimaku jadi istri?”

Arvin memasukkan dua tangannya ke saku celana. “Tentu saja tidak.”

Ayu menatap Arvin kecewa.

“Jadi, bapak tidak—”

“Aku melakukannya karena memang sudah waktunya untuk dibongkar.”

Dan yang terjadi berikutnya, Arvin mondar-mandir sambil menjelaskan.

Tak peduli kepada Ayu yang membisu terpaku.

“Setiap hari ada saja orang-orang kantor nanya kapan aku nikah. Bikin muak mendengarnya. Belum lagi banyak wanita gila yang ngejar-ngejar minta dinikahi. Jadi aku pikir, membongkar fakta aku sudah menikah akan merubah mereka untuk tidak banyak nanya, dan tidak minta yang aneh-aneh lagi.”

Arvin terus menjelaskan dan mondar-mandir. Kini jari telunjuknya ikut mengayun-ayun santai di udara.

“Aku juga berpikir. Dengan membongkar aku sudah menikah, nama baikku juga meningkat, bisa membuat bisnis makin lancar. Peluang seperti ini tidak boleh dilewatkan. Jadi Ayu, kamu jangan bermimpi untuk …”

Arvin tercengang.

Kakinya sontak terdiam.

Arvin menelan salivanya.

Dia tidak mampu melanjutkan kata-katanya lagi karena yang terpampang di depannya sekarang adalah sosok Ayu yang tetap berdiri tegak meski tersiksa karena wajahnya dibanjiri air mata.

Bola mata istri Arvin seperti mata anak kucing yang sengsara. Menangis tanpa suara, tapi jelas rasa sakitnya.

Bahunya terhentak berkali-kali, berusaha menampung tangis yang tak bisa dibendung.

Suara isakan Ayu pelan tapi Arvin bisa merasakan getaran pedihnya.

Bahkan tangan Ayu tak kunjung naik untuk menghapus kesedihannya.

Dan sepertinya tidak perlu berusaha untuk dihapus lagi.

Ayu hanya bisa berbalik. Pergi tenang menuju kamarnya.

Tanpa kata.

Tanpa mengeluh.

Arvin sempat mengulur tangan untuk memanggil tetapi diurungkan lalu diam menyaksikan.

“Ayu …” lirih Arvin lalu menekan dadanya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!