Nasib sial beruntun menimpa Kiara Masita, seorang siswi kelas 3 SMA yang energik. Setelah ditinggal pulang oleh sahabatnya, Kiara harus berjalan kaki di malam hari dengan ponsel yang mati total. Puncak kesialannya terjadi saat sebuah mobil mewah yang dikendarai oleh Abraham Wijaya (Bara) melindas ponsel kesayangannya hingga hancur berkeping-keping.
Pertemuan yang diawali dengan keributan di pinggir jalan ini memaksa Bara, seorang duda muda berusia 27 tahun sekaligus pengusaha sukses, untuk mengganti ponsel Kiara saat itu juga.
Dalam perjalanan pulang, suasana yang awalnya penuh perdebatan berubah menjadi negosiasi serius. Bara secara mengejutkan menawarkan sebuah kontrak pernikahan selama satu tahun kepada Kiara. Sebagai imbalannya, Bara menjanjikan fasilitas yang sulit ditolak rumah mewah untuk kedua orang tua Kiara, serta kehidupan yang terjamin dan serba mewah bagi Kiara sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Triple date
Bara menarik lengan Kiara, membawanya masuk ke dalam kamar. Meninggalkan Meisya dan Bu Monika yang diselimuti kejengkelan luar biasa.
"Mandi dulu, setelah itu kerjakan tugas sekolahmu." pesan Bara sesampainya di depan pintu kamar.
"Tapi saya tidak tahu tugas yang mana. Ponsel saya kan Om sita." sungut Kiara.
"Nanti aku kembali lagi untuk mengembalikan ponselmu."
Meski ingin membantah, Kiara mengurungkan niatnya. Ia sadar, ketenangan orang tuanya di Bogor yang kini tinggal di pegunungan dekat vila Bara bisa terancam jika ia terlalu membangkang pada suaminya. Maka untuk itu saat ini dia menuruti kemauan suaminya itu.
**
Saat Kiara sedang menyisir rambutnya yang masih basah, seseorang melangkah masuk tanpa mengetuk. Bu Monika, tanpa basa-basi, merebut sisir dari tangan Kiara. Ia mulai menyisir rambut menantunya itu, namun dengan gerakan kasar yang seolah ingin mencabuti helai demi helai rambut Kiara.
"Aww! Sakit, Tante…Pelan-pelan dong!" pekik Kiara, namun wanita itu tidak peduli.
"Aku senang melihat kenyataan bahwa kau dan Bara tidur di kamar terpisah." ujar Bu Monika dingin.
"Sekarang memang pisah kamar, tapi nanti tidurnya bersama kok." sahut Kiara sengaja memancing amarah. Tarikan pada rambutnya pun terasa semakin kencang.
"Mulai sekarang, berhenti membuat ulah! Jangan pikir aku tidak tahu apa yang kau lakukan di Bali, Kiara." peringat Bu Monika tegas. Kalimat itu terdengar seperti deklarasi perang. "Berhenti bertingkah aneh dan merusak karier anakku!"
"Tapi sa……”
"Berhenti membantah! Wanita seanggun Erika saja bisa aku singkirkan, apalagi hanya gadis pemberontak sepertimu. Aku tidak akan membiarkan hidup Bara hancur karena bocah ingusan!"
Kiara menyambar sisir itu kembali, membalikkan badan dan menatap tajam sang mertua. "Saya bukan Erika dan Ibu tidak akan bisa berbuat semena-mena pada saya!"
"Kita lihat saja sampai mana kau bisa bertahan." tantang Bu Monika sembari melangkah keluar.
Kiara tersenyum miring. Ia meraih tas sekolahnya, mengambil sebuah benda yang selalu ia bawa. Dengan gerakan cepat, ia melemparkannya ke arah pintu.
"Awas, Tante Monika!"
Kecoak mainan itu mendarat tepat di bahu Bu Monika.
"Aaaaa! Kecoak!" jerit wanita itu ketakutan. Kiara tertawa geli sembari menutup mulutnya.
"Kiara!" teriak Bara dari arah kamar sebelah. Kiara pun segera berlari dan mengunci diri di dalam kamar mandi.
**
"Ah, Bos Bara, akhirnya kau muncul juga!"
Yudha tampak sangat lega setelah menunggu selama dua jam di ruang rapat pagi itu. "Lain kali, jangan bawa istrimu yang masih remaja itu untuk urusan bisnis. Sumpah, kacau semua agenda rapat yang sudah kusiapkan dua bulan ini." keluh Yudha yang sudah mendengar laporan kerusuhan di Bali. Meski belum pernah bertemu Kiara secara langsung, ia sudah merasa sangat jengkel pada gadis itu.
"Anggap saja belum rezeki." jawab Bara santai.
"Ayo bicarakan logikanya, Bara. Apa kau tidak merasa gadis itu membawa sial? Hentikan saja pernikahan konyol ini!" tegas Yudha. Bara langsung memberikan tatapan tajam yang mematikan.
"Ini hidupku, Yudha. Sejak kapan kau yang mengatur? Mau aku pecat?”
Yudha sedikit menciut. "Maaf, tapi logikamu sepertinya sedang buntu. Maksudku, kau boleh saja menikahi anak SMA, tapi tidak yang seberontak itu juga. Gadis itu terlalu bar-bar Bara. Masih banyak wanita yang lebih anggun dan berkelas, kan?"
"Kau masih mau berceramah atau lanjut rapat? Kalau mau menasihatiku, kirim saja lewat email biar kubaca nanti malam. Sekarang tidak ada waktu." potong Bara dingin.
Yudha menarik napas frustrasi. Rasa jengkelnya pada istri Bara semakin memuncak.
**
"Wah, ternyata benar kau liburan ke Bali? Seru sekali!" Melati berseru penuh iri saat mereka berkumpul di sekolah. Sepertinya semua siswi di SMA Pertiwi ingin berada di posisi Kiara.
"Eh Kiara, bagaimana acara triple date kita? Jadi kan nanti malam?" sahut Rima, mengingatkan rencana menonton bioskop bersama pasangan masing-masing yang sudah dibahas sejak lama.
"Tapi aku belum punya teman kencan, bagaimana ini?" Melati melirik ke sekeliling, mencari sosok yang bisa diajak.
"Gampang, Mel. Ada si Alul. Dia kan bisa 'disewa'. Asal kau yang bayar tiket nonton dan makannya, dia pasti mau." saran Rima yang disambut pertimbangan serius oleh Melati.
"Sean oke kan, Ra?" tanya Rima lagi.
Kiara tampak ragu. Sean, kekasihnya yang merupakan ketua tim basket terkenal itu, belum menghubunginya sejak ia di Bali.
"Eh, panjang umur si Sean..." seru Rima saat melihat remaja tampan itu mendekat.
"Sayang, maaf ya, aku sibuk basket akhir-akhir ini jadi lupa menghubungimu. Kudengar kau ke Bali?" tanya Sean sembari duduk di samping Kiara.
Kiara mengangguk singkat. Setiap kali berada di dekat Sean, ia seolah terpesona. "Iya…. Aku bawakan banyak oleh-oleh untukmu." ucapnya lembut.
"Terima kasih, Sayang. Ngomong-ngomong, kau semakin dekat saja ya dengan Om Bara. Rasanya aku cemburu." ungkap Sean jujur.
"Tidak usah jealous, Sean. Kiara hanya milikmu. Om Bara kan jodohku." sahut Melati yang langsung mendapat jitakan dari Kiara. “ enak saja kalau ngomong. Aku nggak setuju yah Omku sama kamu.”
"Sean, nanti malam kita mau nonton bareng, triple date. Kau dengan Kiara, aku dengan Bale, dan Melati dengan Alul. Mau kan?" ajak Rima semangat.
"Boleh saja. Sudah lama kita tidak pergi nonton." sahut Sean dengan wajah berbinar.
"Iya... tapi aku minta izin Om Bara dulu, ya." gumam Kiara. Meski ragu, ia memutuskan untuk mencoba.
"Telepon sekarang saja!" desak Melati.
Kiara menjauh dari teman-temannya, lalu menghubungi Bara. Satu kali, dua kali... tidak ada jawaban. Setelah terus-menerus menghubungi tanpa jeda, akhirnya terdengar sahutan dari seberang sana.
"Saya sedang rapat, Kiara. Nanti saja teleponnya."
"Om, saya mau minta izin pergi nonton bioskop, boleh tidak?" suara nyaring Kiara memecah keseriusan di ruang rapat Bara.
"Nonton?" Bara terkejut. Semua peserta rapat menatap ke arahnya, membuat Bara terpaksa meninggalkan ruangan begitu saja demi melanjutkan pembicaraan.
"Dengan siapa?" tanya Bara menyelidik.
"Dengan teman-teman. Kami triple date, jadi masing-masing membawa pasangan."
"Kapan? Kalau nanti malam, saya tidak bisa... besok saja."
"Yee... siapa juga yang mau mengajak Om?"
Raut wajah Bara langsung berubah serius. Rahangnya mengeras.
"Jadi nanti Rima dengan pacarnya, Melati dengan gebetannya... eh, cowok sewaan maksudnya..."
"Kau dengan siapa?" tanya Bara dengan napas yang mulai memburu.
"Dengan Sean, pacarku Om.."
Glek.
Bara merasakan hawa panas menjalar di kerongkongannya mendengar pengakuan itu.
"Om... boleh ya?" rengek Kiara manja.
"Boleh... tapi aku juga ikut."
"Yah, kenapa Om ikut? Jadi tidak seru kalau…."
"Aku ikut atau kau tidak kuizinkan pergi sama sekali." tegas Bara, mengabaikan fakta bahwa puluhan orang di ruang rapat sedang menunggunya dengan bingung.
semangat💪 crazyup