Novel ini memiliki karakter utama wanita bernama Aiena. Gadis berusia dua puluh lima tahun di awal mulai cerita yang terjebak di dalam hubungan yang tidak sehat dengan pacarnya.
Tiap hari ulang tahun adalah kesempatan untuk checkpoint bagi Aiena. Apabila ia mengatakan ia bahagia dan puas dengan hidupnya, maka itu menjadi titik checkpoint-nya. Sebaliknya, ia suatu hari pada ulang tahunnya ia menyesal akan keputusannya dan mengatakan ingin kembali ke masa lalu, maka ia otomatis kembali ke titik checkpoint terakhirnya.
Bermula dari penyesalannya tidak bisa memberikan yang keturunan bagi suami yang begitu mencintainya, Aiena di masa kini berniat kembali ke masa lalu untuk menghindari toxic relationship dengan mantannya dan bertemu jodohnya, pria yang di masa kini menjadi suaminya lebih cepat dalam kondisi yang lebih baik. Namun ketika Aiena mengulang cerita hidupnya, ia justru bertemu orang lain yang tidak mampu ia tolak pesonanya.
Cerita menjadi semakin kompleks ketika Aiena menyadari siapa pria yang merebut hatinya itu, bertemu dengan sang mantan pacar toxic, dan bertemu dengan pria yang dipercaya sebagai jodohnya dalam situasi yang kini jauh berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quoari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Putus Tanpa Kata
Hari-hari berlalu dengan keheningan yang janggal bagi Aiena. Untuk pertama kalinya dalam sekian tahun lamanya, layar ponselnya tidak lagi dipenuhi oleh rentetan pesan posesif yang menuntut laporan setiap jam atau spam call yang mengganggunya.
Haze benar-benar menghilang. Tidak ada lagi yang mengintai di seberang kantor, tidak ada lagi bayangan pria itu di teras rumahnya saat ia pulang kerja. Juga di pagi hari tidak ada yang menjemputnya di rumah.
Kehadiran Haze yang biasanya terasa seperti jerat mencekik, kini mendadak lenyap, meninggalkan ruang kosong yang aneh dalam rutinitas Aiena. Meski tidak nyaman, namun tak dapat dipungkiri bahwa Aiena juga sudah terbiasa dengan semua itu. Ia terbiasa hidup dalam kekang dan kendali Haze.
Sore itu, di dalam kabin mobil Shane yang sejuk, Aiena menatap keluar jendela, memperhatikan deretan lampu jalan yang mulai menyala satu per satu. Keamanan yang ia dapatkan saat ini terasa begitu rapuh, seolah-olah Haze bisa muncul kapan saja dari balik kegelapan.
“Dia nggak akan berani kembali, Aiena. Jangan terus-menerus menengok ke belakang.” Suara Shane memecah keheningan, tenang namun penuh keyakinan. Jemarinya yang panjang memutar kemudi dengan santai, namun matanya tetap fokus pada jalanan di depan.
Aiena menoleh pelan, menatap profil samping bosnya. “Shane, apa yang sebenarnya terjadi hari itu? Maksudku, setelah kamu menghajarnya?”
Shane menghela napas pendek, rahangnya sedikit mengeras saat ingatan tentang perkelahian di pelataran itu kembali muncul. “Aku memberinya pilihan yang sangat jelas. Menghilang sepenuhnya dari hidupmu, atau menghadapi tuntutan hukum yang akan menghancurkan masa depannya. Aku punya bukti-bukti rekaman CCTV dan saksi tentang perilakunya di kantor. Ditambah lagi, sepertinya perkelahian kemarin cukup buat menyadarkannya bahwa dia nggak lagi punya kendali atasmu.”
“Jadi dia benar-benar mundur?” Aiena hampir tak percaya.
“Dia pria pengecut yang hanya berani pada seseorang yang dia anggap lemah,” sahut Shane tajam. “Begitu dia bertemu seseorang yang siap membalas pukulannya, dia lari.”
Aiena terdiam cukup lama, membiarkan informasi itu meresap ke dalam benaknya. “Terima kasih, Shane. Benar-benar terima kasih karena sudah menarikku keluar dari sana.”
Namun, di balik ucapan terima kasih itu, ada sebuah getaran ganjil di ulu hati Aiena yang sulit dijelaskan. Ia merasa bebas, namun di saat yang sama, ia merasa kehilangan.
Bukan kehilangan sosok Haze yang kasar, melainkan kehilangan separuh dari dunianya yang selama bertahun-tahun telah dibentuk oleh pria itu—meski dunia itu adalah neraka. Ada rasa hampa yang menyakitkan saat ia menyadari bahwa keterikatan traumatis yang selama ini mengikatnya telah putus secara brutal.
Aiena merasa lega, namun juga merasa telanjang tanpa rantai yang biasanya melilitnya, sebuah perasaan paradoks yang membuatnya merasa semakin bersalah di hadapan kebaikan Shane.
***
Keheningan tanpa akhir dari sisi Haze mulai terasa seperti beban baru bagi Aiena. Tidak ada kata putus, tidak ada pertengkaran terakhir, bahkan tidak ada pesan pamit yang menutup babak kelam itu. Semuanya terputus begitu saja setelah insiden di pelataran kantor.
Di satu sisi, Aiena merasa bebas, namun di sisi lain, ia merasa seperti sedang berjalan di atas lapisan es tipis yang bisa retak kapan saja. Ketidakpastian itu justru menciptakan jenis ketakutan baru yang membuatnya terus waspada di setiap tikungan jalan.
Hingga suatu sore, di sela-sela rak supermarket yang dipenuhi deretan kotak sereal, Aiena bertemu dengan kenyataan itu. Ia sedang meraih sekotak susu ketika sebuah suara familiar memanggil namanya.
“Aiena?”
Yang dipanggil menoleh dan mendapati Hans, salah satu teman terdekat Haze, berdiri di sana dengan troli belanjaan.
Jantung Aiena berdegup kencang, refleks ia mengedarkan pandangan ke sekeliling, takut sosok yang menghantuinya selama ini muncul dari balik rak.
“Hai, Hans,”sapanya canggung, berusaha menutupi kegugupannya.
“Sendiri?”
Aiena mengangguk sebelum akhirnya memberanikan diri bertanya. “Hans, apa kamu tahu kabar Haze? Dia menghilang sudah hampir dia minggu.”
Hans justru mengernyitkan dahi, tampak heran dengan pertanyaan itu. “Lho, bukannya kalian memang putus? Minggu lalu dia ke rumahku buat pamit. Dia bilang kalian sudah resmi putus karena nggak ada kecocokan lagi.”
Napas Aiena tertahan di tenggorokan. “Putus? Dia bilang begitu?”
“Iya. Dia langsung berangkat ke luar kota besoknya. Katanya dia dapat tawaran pekerjaan bagus, kontraknya dia tahun. Dia ganti nomor teleponnya, bilang mau fokus kerja tanpa gangguan dari masa lalu,” Hans menjelaskan dengan polosnya, tak menyadari badai yang sedang berkecamuk di dalam dada Aiena.
Sebuah helaan napas panjang yang luar biasa lega lolos dari bibir Aiena. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, beban berat yang menimpa pundaknya seolah terangkat.
Hans yang melihat Aiena termangu hanya menepuk bahunya singkat. “Sabar ya, Na. Semoga itu yang terbaik buat kalian berdua.”
Aiena hanya mengangguk kecil, memberikan senyum tipis yang tulus. Mengetahui bahwa Haze telah melabeli hubungan mereka putus di mata orang lain dan memilih untuk pergi jauh adalah jawaban yang paling ia butuhkan.
Ia tidak peduli jika Haze memutarbalikkan fakta tentang alasan mereka berpisah. Saat ini yang terpenting baginya adalah pria itu telah menyerah dan memberikan ruang bagi Aiena untuk benar-benar bernapas kembali tanpa bayang-bayang obsesi yang mematikan.
***