Aku tidak pernah menyangka pria yang kupanggil “Om” akan menjadi suamiku.
Pernikahan ini bukan karena cinta, tapi karena sebuah rahasia yang mengikat kami.
Dia dingin, kejam, dan penuh aturan. Tapi semakin aku mencoba menjauh… dia justru tidak pernah melepasku.
Di balik sikapnya yang kejam, ada sesuatu yang tidak bisa aku pahami. Apakah aku hanya permainan… atau benar-benar miliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Om CEO Mulai Posesif
Zahra pulang keesokan siangnya. Bukan karena kangen rumah itu, lebih karena Sinta ada kelas online jam sepuluh dan kostnya jadi terlalu sepi untuk betah berlama-lama. Lagipula Zahra ada bab empat skripsi yang sudah menunggunya dengan sabar terlalu lama.
Ojek online, dua puluh menit, dan Zahra sudah berdiri di depan pintu rumah itu lagi.
Masih besar. Masih terlalu rapi. Masih tidak terasa sepenuhnya seperti miliknya dan ini yang membuat Zahra sedikit tidak nyaman tidak seasing dua minggu lalu.
Mbak Reni menyambutnya dengan senyum ramah dan langsung menawarkan makan siang yang ternyata sudah disiapkan sejak tadi nasi, sup, dan lauk yang Zahra suka.
"Bapak yang bilang, Mbak. Katanya Mbak Zahra pasti pulang siang."
Zahra menatap makanan itu.
"Dia tau gue balik siang."
Zahra duduk dan makan sendirian di meja panjang itu. Makanannya enak. Seperti biasa.
.
.
.
Rafandra pulang jam tujuh malam. Zahra sedang di ruang baca dengan laptopnya skripsi bab empat yang akhirnya mau sedikit kooperatif setelah semalam istirahat dari semua drama. Dia mendengar suara pintu depan, suara langkah kaki, tapi tidak turun.
Sepuluh menit kemudian ada ketukan di pintu ruang baca.
"Masuk."
Rafandra membuka pintu. Sudah ganti baju kasual kemeja abu-abu, celana bahan. Matanya langsung ke arah Zahra, memindai sekilas seperti kebiasaannya.
"Sudah makan malam?"
"Belum. nanggung ini." Zahra menunjuk layar laptopnya. "Sebentar lagi."
Rafandra mengangguk. Tapi tidak langsung pergi.
Zahra menoleh. "Om butuh sesuatu?"
"Tidak." Dia berdiri di ambang pintu sebentar dengan ekspresi yang tidak bisa Zahra identifikasi. Lalu. "Tadi malam kamu baik-baik saja?"
Zahra mengernyit. "Iya. Gue bilang kan lewat pesan."
"Aku tahu." Rafandra menatapnya. "Aku hanya bertanya."
Hening sebentar.
"Baik-baik aja, Om." Zahra menatap balik. "Tidur nyenyak malah."
Sesuatu bergerak di mata Rafandra cepat, tidak terbaca.
"Bagus." Dia berbalik. "Jangan terlalu malam makan malamnya."
Pintu ditutup.
Zahra menatap pintu yang sudah kosong itu.
'Aku hanya Bartanya'
Tiga kata yang dari mulut Rafandra terasa seperti lebih dari sekadar tiga kata.
.
.
.
Dua hari kemudian, Zahra mau keluar lagi. Bukan ke kost Sinta tapi ke kampus. Bimbingan skripsi dengan dosen pembimbingnya yang sudah dia postpone dua kali karena situasi pernikahan yang tidak terduga.
Dia sudah siap dari pagi tas, laptop, buku catatan. Pamit ke Mbak Reni, sudah mau keluar waktu HPnya bergetar.
Rafandra.
"Aneh, dia biasanya nggak nelpon di jam kerja."
Zahra angkat. "Halo?"
"Mau ke mana?" Langsung. Tanpa basa-basi.
Zahra berhenti di depan pintu. "Kampus. Bimbingan skripsi."
"Naik apa?"
"Ojek online."
Hening sebentar.
"Supir bisa antar."
"Nggak perlu, Om. Gue biasa naik ojek."
"Zahra." Nada suaranya tidak naik tapi ada sesuatu di sana. "Pakai supir."
Zahra menarik napas pelan. "Om, gue udah kuliah tiga tahun naik ojek online sendiri. Gue nggak kenapa-kenapa."
"Sekarang situasinya berbeda."
"Beda gimana?"
Rafandra tidak langsung menjawab.
"Orang-orang tahu kamu istriku," katanya akhirnya. Pelan. "Itu membuat kamu perlu lebih berhati-hati dari sebelumnya."
Zahra diam.
'Orang-orang tahu kamu istriku.' Kalimat itu tidak terasa seperti kebanggaan. Lebih seperti peringatan bahwa ada konsekuensi dari status itu yang Zahra belum sepenuhnya pahami.
"Om takut gue kenapa-kenapa?" tanya Zahra langsung.
Hening lebih panjang kali ini.
"Pakai supir," kata Rafandra akhirnya. Tidak menjawab pertanyaan. Tapi tidak menghindar juga.
Zahra menutup mata sebentar.
"Oke," katanya. "Tapi gue minta satu hal."
"Apa?"
"Jangan suruh supir nunggu di depan kampus selama gue di dalam. nanti canggung."
Diam dua detik. Lalu hampir tidak terdengar sesuatu yang terdengar seperti helaan napas pendek.
"Terserahmu," kata Rafandra.
Sambungan terputus.
Zahra menatap HPnya sebentar. Lalu memasukkan ke tas. "Dia nggak nanya gue mau ngapain di kampus. Nggak nanya sama siapa. Nggak minta laporan."
"Hanya minta gue pakai supir." Zahra tidak tahu apakah itu bentuk kontrol atau bentuk khawatir.
Tapi kenyataannya dia naik mobil dengan supir yang Rafandra kirim. Dan selama perjalanan ke kampus, dia duduk di kursi belakang sambil menatap jendela dan mencoba tidak terlalu memikirkan perbedaan antara dua hal itu.
.
.
.
Bimbingan berjalan dua jam.
Dosen pembimbingnya Bu Hana, perempuan lima puluhan yang killer dan tidak punya basa-basi langsung menyerang begitu Zahra duduk.
"Bab tiga kamu masih lemah di bagian analisis data. Dan kenapa bab empat belum masuk?"
"Maaf, Bu. Ada situasi keluarga—"
"Situasi keluarga tidak menghentikan deadline sidang." Bu Hana menyerahkan kertas yang sudah penuh coretan merah.
"Revisi bab tiga, kumpulkan bab empat draft pertama minggu depan. Bisa?"
Zahra melihat coretan merah yang menutupi hampir setiap paragraf.
"Bisa, Bu."
Di luar ruang dosen, Zahra berdiri di koridor kampus dan menghela napas panjang.
Keadaan kampus, kertas, kopi dari kantin lantai bawah, AC yang terlalu kencang tiba-tiba terasa sangat familiar dan menenangkan. Seperti sesuatu yang dia rindukan tanpa sadar.
Di sini dia hanya mahasiswa yang skripsinya kena coret merah. Bukan istri siapapun.
Ponselnya bergetar. Bukan Rafandra tapi Sinta.
Sinta: gimana bimbingan? Bu Hana galak?
Zahra: bab tiga gue hampir merah semua
Sinta: HAHAHA klasik. mau ke kantin dulu? gue lagi di kampus juga nih
Zahra hampir mengetik "iya" tapi HPnya bergetar lagi.
Rafandra.
Pesan teks kali ini, bukan telepon:
"Sudah selesai?"
Zahra menatap dua pesan itu bergantian. Sinta yang menawarkan kantin. Rafandra yang tanya sudah selesai belum.
Dia mengetik ke Sinta dulu:
"Bisa. Tunggu gue di kantin lantai 1."
Lalu ke Rafandra:
"Belum. Mau ke kantin dulu sama temen. Sejam lagi."
Balasan Rafandra datang dalam tiga puluh detik:
"Oke. Supir menunggu kamu di gerbang."
Zahra menyimpan HPnya. Dia oke-in.
Tanpa drama. Tanpa pertanyaan tambahan. Hanya oke.
Zahra berjalan ke tangga menuju kantin lantai satu dengan langkah yang lebih ringan dari tadi.
Di kantin, Sinta sudah pesan dua es teh manis dan sepiring gorengan yang jelas bukan untuk satu orang.
"Cerita," kata Sinta begitu Zahra duduk. "Rafandra gimana sekarang?"
"Dia minta gue pakai supir ke sini."
Sinta mengernyit. "Itu posesif atau protektif?"
"Gue juga lagi mikirin itu."
"Bedanya tipis."
"Banget." Zahra mengambil gorengan. "Tapi dia nggak nanya gue mau ngapain, sama siapa, atau minta gue langsung pulang setelah bimbingan. Dia cuma minta gue nggak naik ojek."
Sinta mengangguk pelan. "Berarti dia khawatir. Bukan ngontrol."
"Atau dua-duanya."
"Zah." Sinta menatapnya. "Lo mau nggak mau harus ngakui satu hal."
"Apa?"
"Rafandra itu bukan suami yang lo bayangkan waktu lo denger kata 'perjodohan'." Sinta menyendok es tehnya.
"Lo ngebayangin seseorang yang nggak peduli, nggak dengerin lo, nganggep lo benda. Tapi yang lo dapetin—"
"Jangan bilang yang gue dapetin lebih baik dari yang gue kira."
"Yang lo dapetin 'berbeda' dari yang lo kira," Sinta mengoreksi. "Dan perbedaan itu yang bikin lo bingung."
Zahra menatap meja.
'Berbeda.' Kata yang paling jujur untuk mendeskripsikan semua yang sudah terjadi dua minggu ini.
.
.
.
Zahra sampai di rumah jam empat sore. Mbak Reni sudah pulang. Rumah sepi. Rafandra belum ada.
Zahra naik ke ruang baca, membuka laptop, menatap bab tiga skripsinya yang penuh coretan merah Bu Hana.
Dia bekerja sampai setengah tujuh dan baru sadar sudah hampir gelap waktu Rafandra pulang dan suaranya terdengar dari bawah, bicara singkat dengan seseorang di telepon.
Zahra menyimpan dokumennya. Turun. Rafandra sudah di dapur, menuang air minum, telepon sudah tidak di telinga.
"Bimbingannya bagaimana?" tanyanya tanpa menoleh.
Zahra berdiri di ambang dapur. "Bab tiga gue hampir merah semua."
Rafandra menoleh.
"Tapi gue tau apa yang harus diperbaiki," lanjut Zahra cepat sebelum dia salah baca ekspresi itu sebagai kasihan. "Bukan masalah besar. Cuma butuh waktu."
Rafandra menatapnya sebentar. "Kalau butuh tempat yang lebih tenang untuk kerja, bilang. Aku bisa diatur."
Zahra mengernyit. "Ruang baca sudah cukup tenang, Om."
"Bukan itu maksudku." Rafandra meletakkan gelasnya. "Kalau sewaktu-waktu kamu butuh ruang yang berbeda di luar rumah, misalnya, bilang saja."
Zahra diam. "Dia nawarin gue."
Bukan mengunci. Bukan membatasi. Menawarkan ruang.
"Gue... oke, Om. Makasih."
Rafandra mengangguk. Berbalik ke dapur.
"Makan malam dua puluh menit lagi," katanya. Datar seperti biasa. Seolah percakapan tadi tidak terjadi.
Zahra kembali ke ruang keluarga, duduk di sofa, menatap layar HP yang tidak menyala. Di kepalanya, kata-kata Sinta dari tadi siang masih berputar.
"Yang lo dapetin berbeda dari yang lo kira."
"Dan perbedaan itu yang bikin lo bingung."
Zahra meletakkan HP ke dadanya.
"Iya, Sin. Bingung itu kata yang paling tepat dan masalahnya gue mulai nggak yakin, bingung itu sepertinya hal yang buruk."
.
.
.
plisss lanjut ceritanya kak🥰🙏🏼🙏🏼