NovelToon NovelToon
Mendadak Hamil

Mendadak Hamil

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mafia / Nikah Kontrak
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Rubi Casandra, seorang yatim piatu yang hidup di panti asuhan, mendadak bertransmigrasi ke tubuh wanita lain yang memiliki nama sama dengannya. Ia terkejut saat mengetahui dirinya sedang hamil empat bulan dan telah menjadi istri dari Alexander Dimitri, seorang pengusaha sekaligus mafia paling ditakuti di Eropa.

Terjebak dalam kehidupan yang bukan miliknya, Rubi harus menghadapi berbagai rahasia, intrik, dan bahaya yang mengancam. Di tengah pernikahan yang terpaksa, akankah ia mampu bertahan atau justru jatuh cinta pada sang mafia yang berhati dingin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 Perasaan yang Mulai Berubah

Pagi itu Rubi turun ke ruang makan dengan perasaan sedikit aneh.

Semalam ia terus memikirkan sikap Alexander yang tiba-tiba berubah setelah mendengar Daniel datang ke mansion.

Padahal selama ini Alexander tidak pernah mempermasalahkan siapa pun yang berhubungan dengannya.

Namun kemarin berbeda.

Sangat berbeda.

Bahkan orang sepolos Rubi pun bisa merasakan ada sesuatu yang mengganggu pikiran pria itu.

Saat memasuki ruang makan, Alexander ternyata sudah berada di sana.

Seperti biasa.

Duduk di kursi ujung meja dengan secangkir kopi di tangannya.

Namun ada satu hal yang membuat Rubi terkejut.

Biasanya pria itu sibuk membaca laporan atau menerima telepon.

Hari ini tidak.

Alexander hanya duduk diam sambil memandang ke luar jendela.

Entah sedang memikirkan apa.

"Pagi."

sapa Rubi.

Alexander mengangkat kepala.

"Pagi."

Rubi duduk di kursinya.

Beberapa pelayan segera menyajikan sarapan.

Suasana sempat hening.

Sampai akhirnya Rubi memberanikan diri bertanya.

"Anda marah?"

Alexander mengernyit.

"Marah?"

"Iya."

"Tidak."

Jawaban cepat.

Terlalu cepat.

Rubi langsung menyipitkan mata.

Kalau hidupnya dulu mengajarkan satu hal, itu adalah mengenali orang yang sedang berbohong.

Dan saat ini Alexander jelas sedang tidak mengatakan yang sebenarnya.

"Kalau nggak marah, kenapa wajah Anda seperti orang mau perang?"

Alexander terdiam.

Beberapa pelayan langsung menunduk lebih dalam.

Takut tertawa.

Hanya Rubi yang berani mengatakan hal seperti itu kepada Alexander Dimitri.

Pria yang ditakuti setengah Eropa.

Namun anehnya Alexander tidak tersinggung.

Ia justru menghela napas pelan.

"Aku hanya lelah."

"Benarkah?"

"Ya."

Meski masih tidak yakin, Rubi memilih tidak melanjutkan.

Namun jauh di dalam hatinya, ia mulai memahami satu hal.

Kemungkinan besar perubahan suasana hati Alexander kemarin ada hubungannya dengan Daniel.

Dan entah kenapa pikiran itu membuat pipinya terasa hangat.

Cepat-cepat Rubi mengalihkan perhatian pada makanannya.

Setelah sarapan, Alexander berangkat ke kantor.

Sementara Rubi menghabiskan waktu di taman belakang.

Hari itu cuaca sangat cerah.

Langit biru tanpa awan.

Angin bertiup pelan.

Membuat suasana terasa nyaman.

Rubi duduk di gazebo sambil membaca buku.

Namun fokusnya terus buyar.

Pikirannya masih memutar kejadian beberapa hari terakhir.

Mulai dari Alexander yang diam-diam masuk ke kamarnya malam itu.

Meskipun ia tidak tahu kejadian sebenarnya, entah kenapa saat bangun pagi setelah malam tersebut, ia merasa sangat tenang.

Lalu perhatian-perhatian kecil pria itu.

Sepatu khusus ibu hamil.

Sarapan hangat.

Pemeriksaan dokter.

Dan semua hal yang awalnya terasa biasa.

Kini mulai terlihat berbeda.

Rubi menutup bukunya perlahan.

"Jangan-jangan..."

Kalimat itu terputus.

Karena bahkan dirinya sendiri takut menyelesaikannya.

Bagaimana jika ia salah paham?

Bagaimana jika semua itu hanya karena bayi?

Bagaimana jika Alexander hanya menjalankan tanggung jawabnya sebagai ayah?

Bukankah sejak awal pernikahan mereka memang karena kebutuhan?

Tidak ada cinta.

Tidak ada perasaan.

Karena itu Rubi memaksa dirinya berhenti berpikir terlalu jauh.

Sementara itu.

Di kantor pusat Dimitri Group.

Alexander sama sekali tidak fokus bekerja.

Sudah hampir tiga kali sekretarisnya mengulang penjelasan yang sama.

Namun pikirannya tetap melayang.

Dan penyebabnya hanya satu.

Rubi.

Lebih tepatnya Rubi dan Daniel.

Alexander memijat pelipisnya.

Ia membenci perasaan ini.

Selama hidupnya, ia selalu bisa mengendalikan segala sesuatu.

Bisnis.

Musuh.

Strategi.

Kekuasaan.

Namun sekarang?

Ia bahkan tidak bisa mengendalikan pikirannya sendiri.

Yang lebih menyebalkan, ia tahu Daniel bukan ancaman.

Pria itu tidak berbahaya.

Tidak punya kekuasaan.

Tidak punya pengaruh.

Tetapi tetap saja.

Alexander tidak menyukai cara Daniel memandang Rubi.

Tatapan itu terlalu jelas.

Terlalu hangat.

Dan untuk pertama kalinya, Alexander merasa ingin menghancurkan sesuatu hanya karena alasan sepele seperti itu.

"Pak?"

Suara sekretaris membuatnya tersadar.

"Hm."

"Apakah rapat dilanjutkan?"

Alexander menatap seluruh ruangan.

Para direktur langsung menegang.

Mereka sudah mengenal ekspresi itu.

Ekspresi yang biasanya muncul sebelum seseorang kehilangan pekerjaan.

Namun kali ini Alexander justru berdiri.

"Rapat selesai."

"Pak?"

"Aku ada urusan."

Semua orang saling berpandangan bingung.

Karena untuk pertama kalinya dalam sejarah, Alexander Dimitri meninggalkan pekerjaan lebih awal.

Sore hari.

Rubi sedang berada di dapur bersama beberapa pelayan.

Belakangan ia sering membantu membuat makanan ringan.

Bukan karena harus.

Melainkan karena bosan.

Hari ini mereka sedang membuat kue sederhana.

Tangan Rubi dipenuhi tepung.

Wajahnya bahkan terkena sedikit krim.

Para pelayan tertawa melihatnya.

"Nyonya muda seperti anak kecil."

Rubi ikut tertawa.

"Tidak sengaja."

Suasana hangat memenuhi dapur.

Sampai suara langkah kaki terdengar dari pintu.

Semua orang langsung diam.

Alexander.

Pria itu berdiri di sana dengan jas hitam yang masih rapi.

Tatapannya langsung jatuh pada Rubi.

Dan untuk beberapa detik ia hanya memandang.

Rubi yang menyadari kehadirannya langsung tersenyum.

"Anda sudah pulang?"

Alexander mengangguk.

Namun matanya masih tertuju pada wajah Rubi yang terkena krim.

"Ada apa?"

tanya Rubi bingung.

Alexander mendekat.

Semua pelayan langsung menahan napas.

Lalu tanpa peringatan, pria itu mengangkat tangan.

Rubi membeku.

Jantungnya berdetak lebih cepat.

Dan detik berikutnya...

Alexander menghapus sedikit krim di pipinya menggunakan ibu jari.

Gerakannya sangat alami.

Seolah itu hal biasa.

Namun bagi semua orang yang melihat, termasuk Rubi, itu sama sekali tidak biasa.

Ruangan mendadak sunyi.

Sangat sunyi.

Rubi bahkan bisa mendengar detak jantungnya sendiri.

Sementara Alexander baru menyadari apa yang baru saja dilakukannya.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, pria itu terlihat sedikit canggung.

"Krim."

katanya singkat.

Sebagai penjelasan.

Padahal semua orang sudah tahu.

Yang membuat mereka terkejut bukan krimnya.

Melainkan tindakannya.

Pipi Rubi langsung memanas.

"Oh..."

Hanya itu yang bisa ia katakan.

Sementara para pelayan berusaha keras menahan senyum.

Malam harinya.

Rubi duduk sendirian di balkon kamar.

Udara malam terasa sejuk.

Langit dipenuhi bintang.

Namun pikirannya jauh lebih ramai dibanding langit di atas sana.

Tangannya menyentuh pipi yang tadi disentuh Alexander.

Bahkan sekarang rasanya masih terasa hangat.

"Kamu kenapa sih..."

gumamnya pada dirinya sendiri.

Ia tidak tahu apakah yang berubah adalah Alexander.

Atau justru dirinya.

Karena setiap kali berada di dekat pria itu, jantungnya mulai bereaksi berbeda.

Dan itu membuatnya takut.

Takut berharap terlalu banyak.

Takut jika semua ini hanya sementara.

Takut jika pada akhirnya ia akan kecewa.

Di sisi lain mansion.

Alexander berdiri di balkon ruang kerjanya.

Pikirannya juga tidak tenang.

Ia mengingat ekspresi Rubi sore tadi.

Wajah yang memerah.

Mata yang membesar karena terkejut.

Dan tanpa sadar sudut bibirnya terangkat tipis.

Sangat tipis.

Namun cukup untuk menunjukkan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.

Selama ini Alexander selalu menganggap pernikahan mereka hanyalah kesepakatan.

Sebuah hubungan yang dimulai karena kebutuhan.

Tetapi sekarang...

Perlahan-lahan semuanya berubah.

Dan untuk pertama kalinya, Alexander mulai bertanya pada dirinya sendiri.

Bagaimana jika suatu hari nanti Rubi pergi?

Pertanyaan sederhana itu membuat dadanya terasa tidak nyaman.

Karena jawabannya ternyata jauh lebih jelas dari yang ia kira.

Ia tidak ingin Rubi pergi.

Sama sekali tidak ingin.

Dan tanpa disadari keduanya, perasaan yang awalnya hanya berupa perhatian kini telah tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam.

Sesuatu yang tidak bisa lagi mereka abaikan.

1
Alia Chans
like + 🌹+ komen semangat thor ✍️🤭





kalo sempat mampir ya thor🤭😉
wulaniii
gais jangan lupa like dan komen kalo bisa nonton iklanya 🤭🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!