Hidup Arumi hancur saat ayahnya terjerat utang besar kepada keluarga konglomerat Wijaya. Untuk melunasi utang tersebut, ia terpaksa menikah dengan Renard, sosok miliarder dingin yang dikenal kejam dan penuh rahasia. Bagi Renard, Arumi hanyalah alat untuk memenuhi tuntutan keluarga. Namun, di balik topeng arogan dan gengsinya, Renard menyimpan sisi lembut yang ia sembunyikan dari dunia, termasuk hobi rahasia yang tidak sengaja terbongkar oleh Arumi. Tanpa Renard sadari, Arumi adalah sosok penyelamat masa kecil yang selama ini ia cari. Mampukah Arumi mencairkan hati sang miliarder sebelum masa kontrak pernikahan mereka berakhir dan rahasia masa lalu terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Fasilitas VVIP untuk Sang Mertua
Mobil Maybach hitam legam itu meluncur mulus membelah jalanan ibu kota yang mulai padat. Arumi duduk bersandar di jok kulit berkualitas tinggi di bagian belakang, merasa luar biasa canggung.
Sopir pribadi keluarga Wijaya—seorang pria paruh baya bernama Pak Tarjo—sesekali meliriknya melalui kaca spion dalam dengan tatapan penuh hormat. Sesuatu yang sama sekali belum terbiasa bagi Arumi.
"Pak Tarjo, tolong turunkan saya di halte depan saja, ya. Jangan sampai masuk ke dalam area kampus," pinta Arumi saat mobil mereka mulai mendekati gerbang utama universitasnya.
Pak Tarjo mengernyit bingung, namun tetap menekan pedal rem secara perlahan. "Tapi Nyonya, Tuan Muda berpesan agar saya mengantar Anda sampai tepat di depan gedung fakultas."
"Tidak apa-apa, Pak. Saya hanya tidak ingin menarik terlalu banyak perhatian. Pakaian yang saya kenakan hari ini saja sudah cukup membuat saya terlihat seperti orang asing di kampus," jawab Arumi seraya merapikan blus satin emerald-nya. Ia tidak bisa membayangkan gosip apa yang akan menyebar jika teman-teman kampusnya melihat ia turun dari mobil seharga puluhan miliar rupiah.
Setelah meyakinkan sang sopir, Arumi berjalan kaki menuju fakultasnya. Di bawah teriknya matahari Jakarta, pikirannya kembali bergelut dengan realita akademisnya. Ia harus segera menemui dosen pembimbingnya untuk menyerahkan revisi bab empat skripsinya yang membahas fenomena phubbing. Tenggat waktu pendaftaran yudisium sudah di depan mata. Jika ia gagal mengejar deadline bulan ini, seluruh kerja kerasnya selama ini akan sia-sia, dan ia terpaksa harus memperpanjang masa studinya.
Beruntung, urusan di kampus hari itu berjalan lebih lancar dari dugaannya. Dosen pembimbingnya menerima revisi tersebut dengan beberapa catatan kecil. Setelah memastikan berkas yudisiumnya aman untuk sementara waktu, Arumi bergegas kembali ke halte tempat Pak Tarjo sudah setia menunggu untuk mengantarnya ke rumah sakit.
Jantung Arumi berdegup sedikit lebih cepat saat mobil berbelok memasuki pekarangan Rumah Sakit Medika, tempat ibunya dirawat selama dua minggu terakhir akibat komplikasi penyakit dalam. Begitu tiba di lobi, Arumi setengah berlari menuju lorong bangsal kelas tiga—ruangan yang selama ini menjadi batas maksimal kemampuannya membayar biaya perawatan.
Namun, langkah Arumi terhenti mendadak. Ranjang nomor empat di sudut ruangan yang biasanya ditempati ibunya kini kosong melompong. Seprai putihnya sudah diganti baru, dan tidak ada satu pun barang milik ibunya di sana.
Kepanikan seketika menyergap dada Arumi. Apakah pihak rumah sakit mengusir ibunya karena tunggakan biaya yang belum dibayar? Tapi bukankah Renard bilang pagi ini semua tagihan sudah dilunasi?
Arumi bergegas mendatangi meja perawat dengan napas memburu. "S-Sus! Pasien bernama Ibu Rini dari ranjang nomor empat... di mana beliau? Kenapa ruangannya kosong? Apakah terjadi sesuatu?"
Perawat jaga itu menatap Arumi sejenak, lalu tersenyum ramah. "Keluarga Ibu Rini? Oh, Anda tidak perlu panik, Mbak. Tadi pagi, ada instruksi langsung dari pihak manajemen atas permintaan donatur. Ibu Rini sudah dipindahkan ke Ruang Rawat VVIP Diamond di lantai delapan."
"V-VVIP Diamond?" Arumi terbelalak. Lantai delapan adalah area eksklusif yang semalam rawat inapnya saja setara dengan biaya sewa rumah Arumi selama setahun.
"Benar, Mbak. Mari saya panggilkan perawat pendamping untuk mengantar Anda ke atas," ucap perawat itu dengan sangat sopan.
Sesampainya di lantai delapan, Arumi dibuat takjub. Lorongnya tidak berbau obat yang menyengat, melainkan beraroma terapi lavender yang menenangkan. Saat pintu kamar ibunya dibuka, Arumi melihat ruangan yang lebih mirip suite hotel bintang lima daripada kamar rumah sakit. Ada sofa kulit yang empuk, televisi layar datar raksasa, dapur kecil, dan jendela kaca lebar yang menampilkan pemandangan kota.
Di tengah ruangan, sang ibu terbaring di atas ranjang hidrolik yang jauh lebih nyaman, tertidur pulas dengan alat monitor medis yang jauh lebih canggih dari sebelumnya. Wajah ibunya yang biasa terlihat pucat dan menahan sakit, kini tampak jauh lebih rileks.
Saat Arumi masih terpaku di ambang pintu, ponsel di dalam tasnya bergetar hebat. Sebuah nomor tak dikenal muncul di layar. Dengan ragu, Arumi menggeser tombol hijau.
"Halo?"
"Sudah sampai di rumah sakit?"
Suara bariton yang dingin dan familiar itu langsung membuat bulu kuduk Arumi meremang. Itu suara Renard Wijaya.
"T-Tuan Renard? Iya, saya baru saja masuk ke kamar ibu saya. Ini... ruangan ini..." Arumi kehabisan kata-kata. Matanya berkaca-kaca menatap sang ibu. "Ini terlalu berlebihan, Tuan. Saya tidak tahu harus berterima kasih seperti apa. Anda memindahkan ibu saya ke fasilitas terbaik."
Terdengar suara helaan napas kasar dari seberang telepon. "Jangan mengambil kesimpulan sendiri, Arumi," balas Renard dengan nada ketus yang khas. "Aku memindahkan ibumu bukan karena aku peduli. Pihak rumah sakit ini adalah salah satu anak perusahaan Wijaya Group. Aku hanya tidak ingin ada wartawan atau kolega bisnisku yang tidak sengaja tahu bahwa mertua dari seorang Renard Wijaya dirawat di bangsal kumuh kelas tiga. Itu akan sangat menjatuhkan harga saham perusahaanku."
Arumi tersenyum lebar hingga air matanya menetes jatuh ke pipi. Ia menghapus air mata itu dengan punggung tangannya. Ia sudah mulai terbiasa dengan pola komunikasi pria ini. Alasan gengsi dan reputasi selalu menjadi tameng andalan Renard untuk menutupi kebaikannya.
"Baiklah, kalau begitu," jawab Arumi dengan nada yang sengaja dilembutkan, mengabaikan omelan Renard. "Atas nama harga saham Wijaya Group, saya dan ibu saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya, Tuan Muda."
Hening sejenak di seberang sana. Arumi bisa membayangkan wajah Renard yang sedang mengernyit, berusaha mencari balasan yang tajam namun gagal.
"Jangan pulang terlalu larut. Malam ini ada makan malam rutin bulanan dengan keluarga besarku di rumah utama. Persiapkan dirimu, karena mereka jauh lebih merepotkan daripada hama di tamanku," ancam Renard sebelum sambungan telepon itu diputus secara sepihak.
Arumi menatap layar ponselnya yang menggelap. "Hama di taman," gumamnya pelan, teringat pada anak kucing liar berbulu oranye semalam. Senyum Arumi semakin mengembang. Menghadapi keluarga besar Wijaya malam ini mungkin akan menjadi medan perang yang mengerikan, tapi setidaknya, ia tahu bahwa sang jenderal di pihaknya tidak seburuk kelihatannya.