NovelToon NovelToon
Bahkan Di 2 Kehidupan Aku Tidak Bisa Memiliki Mu

Bahkan Di 2 Kehidupan Aku Tidak Bisa Memiliki Mu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Reinkarnasi / Romantis
Popularitas:229
Nilai: 5
Nama Author: Velin Agustiningtias

Selama 500 tahun, seorang arwah wanita dikutuk oleh dewa menjadi “Roh Bulan” dan disegel di dalam lukisan kuno di sebuah kuil akibat kesalahan fatal yang dilakukannya di masa lalu. Hidup dalam kesunyian abadi, ia hanya bisa melihat dunia dari balik lukisan tanpa mampu menyentuh siapa pun.
Hingga suatu malam, seorang pria tanpa sengaja membebaskannya dari segel kuno. Semakin lama bersama, arwah wanita itu mulai jatuh cinta padanya. Namun keduanya perlahan menyadari bahwa mereka ternyata telah terikat sejak 500 tahun lalu, dan pria itu mungkin adalah alasan sebenarnya di balik kutukan Roh Bulan yang menghancurkan hidup mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 7 — Ciuman di Bawah Langit Malam

Langit pegunungan mulai berubah jingga ketika mobil-mobil itu meninggalkan villa lebih cepat dari rencana. Udara sore terasa dingin bercampur aroma tanah basah setelah hujan semalam. Kabut tipis turun perlahan di antara perkebunan teh, sementara suara mesin mobil memecah sunyi jalanan berliku.

Di mobil depan, Ravin memegang setir sambil sesekali melirik Dewi yang duduk di sampingnya. Rambut Dewi tertiup pelan dari jendela yang sedikit terbuka. Untuk pertama kalinya sejak datang ke villa, hati Ravin terasa jauh lebih ringan.

“Maaf ya… aku malah telat datang pas ulang tahun kamu,” ucap Ravin pelan. “Harusnya aku ada dari awal.”

Dewi menoleh sambil tersenyum kecil. “Aku udah bilang nggak apa-apa.”

“Tapi tetep aja rasanya nyebelin.”

Dewi memandang jalanan di depan mereka yang mulai diselimuti cahaya senja. “Daripada hadiah atau acara… aku lebih seneng kamu datang.”

Kalimat itu membuat dada Ravin berdegup keras. Tangannya sampai menggenggam setir lebih erat agar tidak terlihat gugup. Sudut bibirnya perlahan terangkat menahan senang yang hampir terlalu jelas.

“Serius?”

Dewi tertawa kecil melihat reaksinya. “Iya. Emangnya kenapa?”

Ravin menggeleng cepat sambil menahan senyum bodohnya sendiri. Di luar kaca mobil, hamparan kebun teh tampak tenang diterpa angin sore, namun isi hati Ravin justru berisik dipenuhi harapan yang mulai tumbuh.

Sementara itu di mobil belakang, suasananya jauh berbeda.

Mesin mobil berdengung pelan menemani perjalanan sunyi. Langit yang mulai gelap memantul samar di kaca depan. Lia duduk menyandarkan kepala ke jendela, beberapa kali melirik Juna yang sejak tadi fokus menyetir tanpa banyak bicara. Wajahnya dingin, bahkan lebih murung dibanding biasanya.

“Kamu bete banget dari tadi,” ucap Lia akhirnya memecah diam.

Juna tidak langsung menjawab. “Nggak.”

“Bohong. Mukamu jelas banget.”

Juna menghela napas panjang. Jalanan menurun yang berkabut membuat suasana semakin muram.

“Lia…” suaranya pelan. “Menurut kamu… Dewi suka Ravin?”

Pertanyaan itu membuat Lia diam beberapa detik. Ia menatap Juna cukup lama sebelum menjawab.

“Setauku Dewi suka sama kamu.”

“Tapi hari ini…” Juna menggenggam setir lebih erat. “Dia keliatan bahagia banget sama Ravin.”

Suara mesin dan gesekan ban di jalan basah kembali memenuhi mobil. Lia bisa merasakan nada kesal bercampur cemburu dalam ucapan Juna, sesuatu yang selama ini mungkin bahkan tidak disadari pria itu sendiri.

“Mungkin karena Ravin selalu ada buat dia,” jawab Lia pelan. “Dan hari ini… Dewi keliatan nyaman banget.”

Rahasia kecil itu akhirnya terdengar jelas di tengah perjalanan senja yang dingin. Juna terdiam sambil menatap jalan di depannya, tetapi isi kepalanya justru dipenuhi bayangan Dewi yang terus tertawa bersama Ravin sejak siang tadi.

Malam sudah benar-benar turun ketika mobil Ravin berhenti di depan rumah besar milik Dewi. Lampu taman menyala redup terkena embusan angin malam, sementara suara jangkrik terdengar samar dari pepohonan sekitar halaman. Setelah perjalanan panjang dari pegunungan, wajah Dewi terlihat lelah, tetapi senyum kecil yang terus muncul sejak tadi membuatnya tampak jauh lebih hidup.

Ravin mematikan mesin mobil lalu menoleh gugup.

“Ah… bentar.”

Dewi yang baru ingin membuka pintu kembali menoleh. Ravin buru-buru mengambil sebuah kotak kecil dari kursi belakang, wajahnya langsung panik sendiri.

“Aku malah lupa ngasih ini.”

Dewi menerima kotak itu perlahan. “Hadiah ulang tahun?”

Ravin mengangguk sambil tertawa canggung. “Harusnya dari tadi.”

Dewi menatap hadiah itu beberapa detik sebelum kembali melihat Ravin. Tatapannya lembut, seolah ada sesuatu yang sebenarnya lebih ingin ia dengar daripada benda di tangannya.

“Ravin…”

“Iya?”

Dewi tampak ragu sesaat, lalu tersenyum kecil. “Makasih udah datang hari ini.”

Ravin mengusap tengkuknya gugup. Padahal sejak tadi jantungnya terus berisik ingin mengatakan sesuatu. Perasaan yang selama ini ia tahan terasa hampir keluar begitu saja malam itu.

“Aku sebenernya—”

Belum selesai bicara, Dewi tiba-tiba mendekat.

Kecupan singkat mendarat di bibir Ravin.

Waktu seperti berhenti beberapa detik.

Mata Ravin membesar, tubuhnya membeku total bahkan napasnya tertahan. Dewi yang menyadari reaksinya justru tertawa malu sambil menunduk, pipinya memerah terkena cahaya lampu halaman.

“Selamat malam…” ucap Dewi pelan.

Lalu cepat-cepat ia berbalik masuk ke dalam rumah sebelum rasa malunya semakin menjadi.

Pintu rumah tertutup.

Dan Ravin masih berdiri mematung di samping mobil.

Beberapa detik kemudian—

“AAAAAAAHHHH!!”

Teriakan bahagia langsung pecah di depan rumah itu.

Ravin menutup wajahnya sendiri sambil tertawa tidak percaya. Jantungnya terasa hampir meledak karena terlalu senang. Ia bahkan menyentuh bibirnya berkali-kali seperti memastikan kejadian tadi benar-benar nyata.

“Dewi suka gue…? Serius…?”

Sepanjang perjalanan pulang, Ravin terus tersenyum sendiri seperti orang gila. Lampu-lampu jalan kota malam itu bahkan terasa jauh lebih indah dari biasanya. Sesekali ia masih menyentuh bibirnya sambil tertawa kecil menahan rasa menang yang memenuhi kepalanya.

Mobilnya akhirnya masuk ke garasi rumah. Ravin turun dengan langkah ringan, masih belum bisa menghapus senyum lebarnya. Bahkan saat berjalan menuju pintu depan rumah, pikirannya masih dipenuhi wajah Dewi beberapa menit lalu.

Namun langkahnya tiba-tiba terhenti.

Seseorang berdiri diam di depan rumahnya.

Rambut hitam panjang menjuntai diterpa angin malam. Gaun pucatnya bergerak pelan di bawah cahaya lampu teras yang redup. Wajah wanita itu terlihat tenang… terlalu tenang untuk seseorang yang seharusnya tidak berada di sana.

Mata Ravin langsung membesar.

“A-Arum…?”

Seketika rasa bahagia yang tadi memenuhi dadanya berubah menjadi hawa dingin yang menjalar sampai ke tengkuknya.

...............

Lampu kamar Dewi yang temaram membuat suasana malam terasa sunyi dan hangat. Gadis itu berbaring di atas ranjang sambil memeluk bantal, sesekali menutupi wajahnya karena malu mengingat apa yang baru saja ia lakukan. Bibirnya masih terasa panas setelah secara tiba-tiba mencium Ravin. Sebagai wanita yang selalu menjaga sikap anggun dan elegan sebagai calon ballerina, tindakan spontan itu benar-benar di luar kendalinya sendiri. Bahkan sekarang, setiap kali mengingat wajah Ravin yang membeku saat dicium, Dewi merasa malu sekaligus kesal.

“Kenapa aku bisa seberani itu sih...” gumamnya

pelan sambil menendang selimut kecil kesal.

Yang paling membuatnya bete, Ravin sama sekali tidak membalas dengan jelas. Pria itu hanya diam gugup seolah kehilangan kemampuan bicara. Bukannya membuat hati Dewi tenang, reaksinya malah membuat Dewi merasa malu sendirian.

Dengan napas pelan, Dewi mengambil hadiah dari Ravin yang berada di samping kasur. Saat kotaknya dibuka, matanya langsung tertuju pada gaun merah elegan di dalamnya. Kainnya lembut dengan desain cantik yang sangat sesuai dengan seleranya. Dewi menyentuh gaun itu perlahan, senyum kecil tanpa sadar muncul di wajahnya.

“Cantik...” lirihnya pelan.

Namun setelah itu ia membuka hadiah dari Juna. Sebuah kalung berlian mewah berkilau indah di bawah cahaya lampu kamar, membuat Dewi terdiam cukup lama. Di dalam kotak itu juga terdapat secarik pesan tulisan tangan.

‘Selamat ulang tahun, Dewi. Tunggu aku sedikit lagi.’

Dewi membaca kalimat itu berulang kali sebelum menjatuhkan tubuhnya kembali ke kasur dengan kesal.

“Lagi-lagi suruh nunggu...” keluhnya pelan.

Suasana kamar kembali sunyi. Dewi menatap langit-langit dengan bingung, sementara dua hadiah berbeda itu berada di sampingnya. Ravin memberinya kenyamanan sederhana yang hangat, sedangkan Juna datang dengan perhatian dan keyakinan yang kuat. Namun anehnya, tidak ada

satu pun yang benar-benar memberinya kepastian.

“Satu terlalu takut maju... satunya lagi cuma bilang tunggu,” ucap Dewi lirih sambil memeluk bantal erat. “Aku harus bagaimana...”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!