"Malam ini Lo hancur! Biar kakak Lo paham, ada harga mahal buat tangan yang berani menyentuh adik gue." --Xavier--
"Aku bersumpah, aku akan jadi neraka terpanjang di hidupmu, Xavier!" --Sukma--
Dunia Sukma runtuh dalam satu malam. Perbuatan nista Hamdan, kakaknya, menyulut api dendam di nadi Xavier--pemimpin Geng Bima Sakti Yang Tak mengenal ampun. Dalam buta amarah, Xavier merenggut paksa kesucian Sukma sebagai balasan atas Marwah adiknya yang hampir ternoda.
Hamdan mengakhiri hidup dengan cara tak diberkati, meninggalkan Sukma sebatang kara.
Kesucian tercabik. Masa depan hancur. Satu-satunya penguat jiwa telah pergi.
Di ambang napas terakhirnya, Gea--kekasih Xavier, menitipkan wasiat yang menjadi belenggu sekaligus penebusan dosa: Xavier harus menikahi Sukma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 14 Jejak Yang Hilang
Di bawah naungan remang cahaya gudang tua yang dipenuhi kepulan asap rokok dan dentum musik menghentak, Haidar tetap berdiri dengan pembawaan tenang. Di balik sikap tenangnya, jemari lelaki itu diam-diam menyentuh kancing kemeja paling atas miliknya. Teknologi mikro tersembunyi di sana, bekerja dalam senyap merekam setiap bait percakapan dan gerak-gerik seluruh petinggi Geng Black Shadow tanpa menyisakan celah sekecil apa pun.
Setelah sempat membaur dan berpura-pura ikut berpesta bersama para berandal itu, panggilan interupsi terdengar. Raka memanggil Haidar untuk menghadap ke arah singgasananya.
Langkah Haidar mantap, tanpa riak ketakutan. Panggilan itu untungnya bukan didasari oleh kecurigaan, melainkan karena sang pimpinan Black Shadow ingin memercayakan perintah krusial. Raka menuntut Haidar untuk bergerak lebih agresif dalam merekrut anggota-anggota baru, terutama dari kalangan mahasiswa, guna memperluas sayap kekuasaan mereka.
Tak sampai di situ, ambisi gelap Raka kian membubung tinggi. Dengan tatapan penuh damba kekuasaan, lelaki itu meminta Haidar untuk melakukan infiltrasi—menyusup langsung ke dalam jantung pertahanan Geng Bima Sakti. Tujuannya sangat licik: menghasut dan menarik para anggota inti di sana agar berbalik setia dan membelot ke dalam barisan Black Shadow.
Raka memercayakan tugas sebesar itu bukan tanpa sebab. Di matanya, Haidar adalah sosok rekruter berdarah dingin yang memiliki kehebatan luar biasa dalam memikat orang-orang baru.
Ironi yang teramat menggelikan, karena Raka sama sekali tidak pernah tahu bahwa seluruh mahasiswa yang dimasukkan Haidar ke dalam tubuh Black Shadow adalah orang-orang pilihan milik Arjuna dan Ayu yang siap meledakkan geng dari dalam kapan saja.
Haidar mengangguk patuh sambil menyungging senyum misterius. Ia menyesap vape miliknya dalam-dalam, lalu mengembuskan kepulan uap tebal ke sembarang arah, seolah sedang menertawakan kebodohan pria di depannya.
"Lo nyerahin tugas sama orang yang tepat, Jenderal. Gue bakal ngejalanin semua perintah lo, nggak sampai satu minggu. Lo catat omongan gue," sahut Haidar penuh keyakinan.
Haidar menarik tipis satu sudut bibirnya, lalu memutar tumit dan melangkah pergi dari hadapan sang ketua Geng Black Shadow--pria angkuh yang di dalam benak Haidar sebenarnya jauh lebih pantas diberi gelar "Bahlul" ketimbang The Unbeatable.
Suara raungan mesin Ducati Panigale V4 warna hitam legam milik Haidar seketika memecah kesunyian. Kuda besi bertenaga monster itu melesat cepat membelah kegelapan malam, membawa Haidar menuju ke suatu tempat tersembunyi yang tidak akan pernah bisa terendus oleh siapa pun, kecuali oleh Tuhan-nya dan dua orang yang telah memercayakan misi besar ini kepadanya.
Bukan gudang tua, bukan pula sebuah rumah hunian biasa, melainkan kompleks makam keluarganya yang sunyi, yang berdiri kokoh di atas bukit di kawasan Joksel.
Begitu tiba di area pemakaman Joksel yang sunyi, Haidar mematikan mesin Ducati-nya. Ia berdiri mematung sejenak, menajamkan indra pendengarannya untuk memastikan sekeliling benar-benar sepi tanpa ada pergerakan mencurigakan dari arah mana pun.
Setelah merasa situasi aman terkendali, ia segera meraih gawai, menghubungkan teknologi di kancing kemejanya ke perangkat digital itu, lalu mentransfer seluruh file rekaman suara dan video ke nomor pribadi Arjuna.
Laporan yang dikirim oleh Haidar adalah kepingan bukti yang sudah lama dinantikan.
Arjuna dan Ayu turun tangan mengirim Haidar bukan tanpa alasan yang mendasari. Semula, Ayu tergerak karena Black Shadow nekat mengotori Kampus Cakrawala dengan jaringan bisnis gelap prostitusi dan peredaran narkoba.
Sebagai mantan pemimpin Geng Srikandi, nalurinya seketika terusik. Terlebih setelah mendengar rekaman di gudang tadi mengenai rencana keji Raka yang ingin menggunakan Nara untuk memuluskan ambisi kotornya. Bisa jadi, jika rencana itu dibiarkan, Raka akan membuat hidup Sukma kian hancur lebur dan Xavier benar-benar tumbang tanpa sisa.
Hal kotor itu jelas tidak akan pernah bisa ditoleransi oleh Ayu. Dan Arjuna--sebagai suami sekaligus CEO muda yang selalu setia mendukung penuh setiap niat mulia sang istri--siap mengerahkan segala sumber daya dan pengaruh finansial yang dimilikinya untuk membabat habis Geng Black Shadow sampai ke akarnya.
Haidar langsung menghubungi sang atasan untuk memberikan penegasan.
"Semua file rekaman di gudang tadi udah terkirim, Bang," lapor Haidar dengan nada suara yang ditekan rendah, memecah keheningan makam. "Sesuai dugaan Bang Juna dan Bu Ayu, bisnis haram mereka di Kampus Cakrawala memang bergerak rapi. Tapi ada satu hal baru, Raka menunjuk Edo sebagai aktor utama yang memegang kendali distribusi di kampus. Raka benar-benar memanfaatkan posisi Edo untuk menyusup tanpa terendus radar Xavier."
Haidar menjeda kalimatnya, mendengarkan keheningan berat yang tercipta dari balik ponselnya, sebelum akhirnya suara bariton Arjuna terdengar menyahut.
"Informasi yang sangat berharga, Haidar. Bukti ini sudah cukup untuk menjadi tiket emas kita buat menyeret Raka dan seluruh anak buahnya ke penjara," balas Arjuna di seberang sana, suaranya terdengar berwibawa sekaligus sarat akan ketegasan dingin. "Aku dan istriku tidak akan membiarkan mereka merusak kampus, apalagi sampai membuat hidup Sukma semakin hancur demi ambisi kotor itu. Aku akan urus semua dukungan logistik dan hukum yang kamu butuhkan dari sini. Terima kasih, Haidar. Lanjutkan tugasmu untuk memantau mereka dari dalam, tapi kamu tetap harus ekstra berhati-hati. Utamakan keselamatanmu di atas segalanya."
"Ogeh, Bang. Sampein salam gue ke Bu Ayu dan Aruna," sahut Haidar, sebelum akhirnya memutuskan sambungan telepon.
.
.
Keesokan paginya di kota bagian utara, matahari terbit dengan pendar cahaya yang terasa sangat menyilaukan bagi Xavier Narendra Aditama. Semalaman sepasang matanya sulit terpejam. Dadanya terus-menerus dihimpit sesak.
Rasa bersalah yang telanjur mengakar, pada akhirnya memaksa Sang Narendra untuk kembali mendatangi kediaman Sukma. Ia masih berharap ada keajaiban kecil: bahwa kedatangannya kali ini tidak akan berujung sia-sia.
Namun, kenyataan pahit kembali menamparnya telak. Pagar rumah sederhana itu tetap terkunci rapat dengan gembok besi berukuran besar yang bertengger angkuh di rantainya. Kosong dan senyap tanpa tanda kehidupan.
Saat Xavier tengah berdiri termenung menatap nanar ke arah pintu, suara sapaan lembut dari Ustaz Reinan menginterupsi lamunannya.
Langkah kaki sang Ustaz terhenti tidak jauh dari tempat Xavier berdiri.
"Mencari Sukma, Mas?" tanya Ustaz Reinan dengan pembawaan yang tenang dan teduh.
Xavier menoleh cepat, mencoba mengontrol ekspresi wajahnya yang kusut. "Iya, Bang. Rumahnya... masih kosong."
Ustaz Reinan mengulas senyum tipis, diiringi gurat kesedihan yang terlihat samar di matanya. "Sukma dan Bi Jayanti sudah pindah ke desa sejak beberapa hari yang lalu. Hanya saja, mereka belum memberi tahu saya secara pasti di desa mana mereka tinggal saat ini."
Mendengar jawaban itu, pertahanan batin Xavier runtuh seketika. Pancaran keputusasaan yang teramat dalam terpahat jelas di wajah rupawannya, pemandangan yang tak luput dari pengamatan tajam Ustaz Reinan.
Melihat reaksi berlebihan dari pemuda di hadapannya, Ustaz Reinan diam-diam menarik satu kesimpulan di dalam hati.
Sang Ustaz menduga Xavier dan Sukma memiliki hubungan spesial yang teramat dalam. Prasangka itu seketika mencubit hatinya, melahirkan asumsi bahwa pemuda berandal di depannya inilah alasan utama mengapa Sukma menolak niat sucinya untuk mengkhitbah gadis itu beberapa bulan lalu.
🍁🍁🍁
Bersambung
Ctt: Bab ini menjelaskan pengakuan Nara di bab 65 'Perisai Hati" di novel Sandiwara Cinta Sang Presma.
btw dr awal kamu kan yg salah?
memperkosa loh ga main" itu
The Power of bibi bibi🌹🌹
ancaman dlam kalimat konyol..itu kayak menggertak mau pukul orang tapi pakai ranting pohon tauge..🤣
semoga di kasih 7 tanjakan 7 turunan dan 7 Pengkol penderita mu mengejar maaf vier