NovelToon NovelToon
Warisan Dewa Elemen

Warisan Dewa Elemen

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Reinkarnasi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: LaQuin

Wen Yu sedang berpetualangan dengan mendaki bukit seorang diri di sebuah tempat wisata alam. Lalu sebuah kebetulan, ia bertemu seekor kucing yang memiliki sepasang sayap. Tanpa rasa takut dan hanya memiliki rasa penasaran yang tinggi, Wen Yu mengikuti kucing itu dan berusaha menangkapnya. Alih-alih berhasil, ia malah terperosok pada sebuah goa di dalam tanah yang ternyata sedang mengalami peristiwa aneh. Cahaya kebiruan bersinar melingkar seperti sebuah pintu lorong waktu yang sering ia tonton di film-film fantasi. Tak lagi bisa mengelak, Wen Yu jatuh ke dalam lingkaran biru itu dan menghilang seketika. Dan tiba-tiba terbangun di dunia antah berantah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertempuran Di Hutan

Pertempuran Di Hutan

Energi roh dari Ular Berwarna Biru masih terasa seperti aliran hangat yang mengalir menyebar ke setiap serat tulang dan otot Ze Kai. Getaran kekuatan baru itu membuatnya merasa lebih kuat, lebih terhubung dengan alam sekitar. Ia melanjutkan langkahnya melalui lorong hutan yang semakin sempit, dengan dedaunan yang lebat hampir menutupi sinar matahari sama sekali.

"Ada aura binatang spiritual yang cukup kuat tidak jauh dari sini," suara Genesis terdengar jelas di telinganya, gadis bersayap itu melayang di sisinya dengan mata yang semakin tajam saat memindai aliran energi alam yang melintas seperti sungai tak kasat mata. "Kekuatannya lebih tinggi dari ular yang kau kalahkan tadi. Sepertinya ini adalah Harimau Hutan Berbulu Salju, makhluk spiritual yang hidup di wilayah ketinggian. Energi rohnya sangat cocok untuk melengkapi perkembangan Elemen Air-mu, bisa membuatmu lebih peka terhadap aliran energi dan meningkatkan kelincahanmu."

Ze Kai mengangguk perlahan, menyesuaikan napasnya dengan irama alam sekitar. Udara di dalam hutan memang semakin dingin. Uap napasnya membentuk awan putih tipis di udara, dan rerumputan di sekitarnya mulai ditutupi lapisan embun beku yang tipis. Ia sudah bisa merasakan getaran energi yang lebih dingin dan menyegarkan, tandanya mereka benar-benar sudah mendekati wilayah harimau yang disebutkan Genesis.

Namun sebelum ia bisa mengikuti jejak energi yang mengarah ke lereng bukit yang lebih tinggi, terdengar suara dari balik semak-semak berduri di kejauhan. Bukan langkah binatang liar yang liar dan acak, melainkan langkah kultivator yang terlatih dengan baik.

"Ada kultivator di dekat sini," bisik Genesis dengan nada waspada, matanya berkilat ke arah sumber suara. "Satu orang saja, tapi level kultivasinya hampir sama denganmu sekarang. Aura yang ia keluarkan menunjukkan ia ahli dalam Elemen Udara."

Ze Kai segera bergerak dengan lincah untuk menyembunyikan diri di balik semak-semak besar yang ditutupi lumut hijau pekat. Namun tepat saat ia ingin menjatuhkan tubuhnya, selembar daun kering terdengar pecah di bawah tapak kakinya dengan suara "CRACK" yang jelas terdengar di tengah keheningan hutan.

"Aku tahu kau ada di sana," suara seorang pria terdengar dingin dan tajam dari tengah jalan. "Jangan bersembunyi seperti tikus yang tak berani keluar dari lubangnya!"

Ze Kai keluar dengan hati-hati dari balik semak-semak. Di depannya berdiri seorang kultivator muda dengan rambut hitam yang diikat menjadi ikal rapi di belakang kepala, berpakaian baju biru tua yang dibuat dari kain khusus yang tidak terpengaruh oleh dinginnya udara. Matanya yang belang hitam dan putih menatap Ze Kai dengan pandangan yang penuh kecurigaan dan kesombongan.

"Binatang spiritual di wilayah ini sudah aku pantau selama tiga hari penuh," ujar kultivator itu dengan suara yang menusuk seperti angin musim dingin. "Harimau Hutan Berbulu Salju itu adalah milikku! Jangan berpikir kau bisa datang seperti orang yang tidak dikenal dan mengambilnya dari tanganku!"

Ze Kai berdiri dengan sikap yang tenang namun waspada. Kedua tangannya rileks di sisi tubuhnya, siap untuk bertindak kapan saja.

"Aku tidak bermaksud mengambil apa yang menjadi milikmu," jawabnya dengan nada yang tetap stabil. "Aku hanya mencari binatang spiritual yang sesuai dengan level kultivasiku saat ini. Jika wilayah ini sudah menjadi wilayahmu, aku bisa segera pergi dan mencari di tempat lain yang tidak ada yang mengklaimnya."

Namun kultivator itu hanya mengangkat sudut bibirnya dalam senyuman sinis.

"Kau pikir aku akan percaya pada bocah seperti kau yang muncul seperti pencuri dari tengah hutan? Selain itu, aku sudah dengar kabar dari pengembara yang lewat. Ada seorang anak muda dengan bakat mengendalikan Elemen Tanah yang berkeliaran di hutan ini. Energi roh yang baru saja kamu serap dari ular, aku bisa merasakannya dari jauh. Energi itu akan sangat bermanfaat untukku dalam menghadapi harimau itu!"

Tanpa berlama-lama, lelaki itu melompat ke udara dengan gerakan yang sangat lincah. Tubuhnya seolah tidak memiliki berat sama sekali karena dikendalikan oleh Elemen Udara. Tangan kirinya bergerak dengan cepat membentuk bentuk pisau tipis dari energi udara yang dingin, mengeluarkan suara "SIUUSHH" saat memotong udara. Ia menyerang ke arah Ze Kai dengan kecepatan yang membuatnya hampir tidak bisa dilihat dengan mata telanjang.

Ze Kai dengan refleks yang cepat membungkuk ke belakang, pisau energi udara hanya menyisir sedikit seragamnya dan memotong beberapa helai rambutnya yang terbang ke udara. Dengan cepat ia menggerakkan tangan kirinya ke bawah. Energi tanah mengalir dari bawah tapak kakinya, membentuk tembok batu tipis namun kuat tepat di depannya saat kultivator itu menyerang kembali dengan serangkaian pukulan cepat.

"CLANG! CLANG! CLANG!"

Suara benturan antara energi udara dan batu yang keras menggema di hutan. Kultivator itu terkejut melihat tembok batu yang mampu menahan serangannya. Namun ekspresi keterkejutannya segera berubah menjadi kemarahan.

"Bakat Elemen Tanah memang tidak biasa... tapi kau juga mengendalikan Elemen Air?!"

Benar saja, saat tembok batu mulai retak akibat serangan berulang, Ze Kai mengendalikan uap air dari udara sekitar untuk membentuk tirai kabut tebal yang menyelimuti area pertempuran. Di dalam kabut, ia bisa merasakan setiap gerakan musuhnya melalui getaran energi udara yang ia keluarkan.

Pertarungan pun tak terhindarkan dengan emosi yang berapi-api. Kultivator muda itu ahli dalam Elemen Udara. Ia bisa melayang di udara dengan bebas, bergerak dengan kecepatan luar biasa dari satu tempat ke tempat lain, bahkan mengendalikan angin untuk membuat serangan yang lebih kuat dan sulit diprediksi. Ia melemparkan peluru-peluru kecil dari energi udara yang melesat seperti kilat, sementara juga menggerakkan angin untuk membuat tanah licin dan membuat Ze Kai kesulitan berdiri dengan stabil.

Ze Kai berusaha mengimbanginya dengan kombinasi jurus Elemen Tanah dan Air yang baru ia kuasai. Ia membuat bola tanah yang dilapisi lapisan tipis es untuk meningkatkan kekerasan dan efek pendinginan saat mengenai target, atau membentuk jalan tanah yang kokoh di tengah medan yang licin.

Namun kultivator itu cukup cerdas. Ia menghindari sebagian besar serangan dengan mudah dengan mengendalikan aliran udara di sekitar tubuhnya seperti perisai yang fleksibel.

Setelah beberapa menit bertempur yang membuat mereka berdua berkeringat meskipun udara sangat dingin, Ze Kai merasakan energi di tubuhnya mulai terkuras. Ia sudah terlalu banyak menggunakan kekuatan untuk membela diri dari serangan yang terus-menerus datang dari segala arah. Saat ia sedang fokus menghadapi serangan dari depan, kultivator itu muncul dengan cepat dari atas, mengumpulkan energi udara di kedua tangannya untuk membuat pukulan yang sangat kuat.

"SERANGAN BADAI PUTIH!" teriaknya dengan keras.

Pukulan itu menghantam dada Ze Kai dengan kekuatan yang luar biasa, membuatnya terlempar mundur hingga menghantam batang pohon besar dengan diameter hampir satu meter. Pohon itu langsung patah dan tumbang.

"CRASH"

Suara pohon tumbang menggema, menyebarkan dedaunan dan ranting ke segala arah. Rasa sakit yang menusuk menyebar ke seluruh tubuh Ze Kai saat ia mencoba berdiri kembali, darah mulai menetes dari sudut bibirnya.

"Sepertinya kekuatanmu masih kurang jauh, bocah!" kata kultivator itu dengan suara sombong saat mendekat dengan langkah yang santai. Ia menggosok tangan kanannya yang sedikit kesemutan akibat kekuatan yang dikeluarkan. "Sekarang serahkan energi rohmu dengan rela, atau aku akan mengambilnya dengan paksa dan menyakitimu lebih parah lagi!"

Namun Ze Kai tidak menyerah begitu saja. Ia menggigit bibirnya untuk menahan rasa sakit, kemudian mengambil napas dalam-dalam, mengumpulkan semua energi yang tersisa di dalam tubuhnya, menggabungkannya dengan energi alam yang ada di sekitarnya. Ia tahu bahwa untuk mengalahkan musuh yang lebih lincah darinya, ia perlu menggunakan strategi yang cerdas bukan hanya kekuatan saja.

Saat kultivator itu mulai menyerang lagi, Ze Kai dengan cepat menggerakkan kedua tangannya ke tanah. Energi tanah mengalir deras membentuk dinding-dinding batu yang tinggi dan tebal dari segala arah, mengurung kultivator itu di dalam ruang tertutup yang sempit.

"KURUNGAN BATU !" teriak Ze Kai dengan suara yang menggema.

Sebelum kultivator itu bisa menghancurkan dinding batu dari dalam, Ze Kai mengangkat kedua tangannya ke atas, energi air dari kabut dan embun beku di sekitarnya terkumpul dengan cepat, mengalir ke dalam kurungan batu dengan volume yang besar. Ia kemudian menggunakan sedikit energi tanah untuk menyumbat setiap celah di dinding batu, membuat air semakin menggenang di dalamnya.

"DUAARR!"

Dinding tebal dari tanah itu meledak dengan suara ledakan yang menggemparkan tanah sekitarnya, menghamburkan air dengan kekuatan yang cukup untuk menjatuhkan kultivator itu ke tanah. Air yang dingin membuat tubuhnya menjadi kaku dan lemah, ia terbatuk-batuk sambil mencoba berdiri kembali namun tubuhnya terus melemah.

Namun sebelum Ze Kai bisa mendekat untuk mengakhiri pertempuran, kultivator itu mengeluarkan bola kecil berwarna merah dari saku bajunya dengan tangan yang gemetar. Ia memecahnya dengan kuat ke udara. Bola itu meledak menjadi kembang api berwarna jingga dan ungu yang sangat terang, menyala terang di langit bahkan meskipun masih siang hari.

"Kau tidak akan bisa kabur sekarang!" teriaknya dengan senyum kejam meskipun wajahnya sudah memucat akibat kelelahan dan dinginnya air yang membasahi tubuhnya.

-

-

-

Bersambung...

Jangan lupa dukung Author dengan like dan komen ya, terima kasih 🙏😊

1
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
orang dewasa tau resikonya memilih lari, kalo anak2 pantang pulang sebelum menang
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
apa senjata leluhur?
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
nih biar yu sdar yg suka petualang itu anak kecil 😂
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
namanya sekarang jadi kai yu
Sangat Licin
tjakeup
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!