NovelToon NovelToon
The 10th Battalion

The 10th Battalion

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Penyelamat
Popularitas:9k
Nilai: 5
Nama Author: BAGERAAA

Gerald—mantan tentara pasukan elit dari dunia modern—mengakhiri hidupnya setelah kehilangan tujuan hidup.

Namun kematian bukanlah akhir.

Ia terbangun di tubuh seorang prajurit rendahan di tengah medan perang dunia asing yang dipenuhi pedang, darah, dan kerajaan yang saling membunuh.

Tanpa sihir.
Tanpa kekuatan dewa.
Hanya perang.

Di saat umat manusia sibuk saling menghancurkan, bencana muncul dari bawah tanah.

Orc.

Ribuan monster brutal menyerbu benua dan memaksa seluruh kerajaan manusia bersatu demi bertahan hidup.

Di tengah kekacauan itu, Gerald mulai membangun pasukannya sendiri.

Bukan ksatria.
Bukan bangsawan.
Melainkan orang-orang buangan: pengemis, bandit, budak, pecandu alkohol, dan tentara gagal.

Pasukan sampah yang kemudian dikenal sebagai—

The 10th Battalion

Pasukan paling kacau.
Paling brutal.
Dan paling ditakuti di medan perang.

Dari unit buangan menjadi legenda perang umat manusia, Gerald akan membuktikan bahwa monster terb

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BAGERAAA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Medan Perang Bern

“MONSTERRR!!”

Jeritan itu menyebar ke seluruh medan perang seperti wabah.

Para prajurit yang sebelumnya saling membunuh kini membeku ketakutan sambil menatap makhluk raksasa yang keluar dari retakan tanah.

Makhluk itu perlahan berdiri.

Tingginya hampir tiga meter.

Kulit hijau gelap.

Otot besar penuh luka.

Dan mata merah yang dipenuhi rasa lapar.

“GRAAAHHH!!”

Orc itu mengayunkan kapak batunya ke depan.

DUAAARRR!!

Tiga prajurit langsung hancur bersama tanah di bawah mereka.

Darah muncrat ke mana-mana.

Keheningan pecah.

“LARI!!”

“Itu monster!”

“DEMI DEWA—”

Puluhan tentara manusia langsung panik dan berhamburan.

Namun retakan tanah belum berhenti.

KRAAAKKK!!

Satu demi satu tangan hijau muncul dari bawah tanah.

Orc lain mulai keluar.

Lalu lebih banyak lagi.

Dan lebih banyak lagi.

Mata Gerald langsung berubah dingin.

“…Sarang bawah tanah.”

Insting militernya bekerja cepat.

Makhluk-makhluk itu bukan datang tiba-tiba.

Mereka sudah ada di bawah tanah sejak lama.

Yang berarti—

Ini bukan serangan biasa.

Ini invasi.

“WOI! KAU!”

Seorang prajurit muda menarik bahu Gerald dengan panik.

“Kita harus lari!”

Gerald menoleh.

Tubuh prajurit itu gemetar hebat.

Umurnya mungkin belum genap tujuh belas tahun.

Matanya dipenuhi ketakutan.

Gerald melihat sekeliling.

Pasukan manusia sudah kacau total.

Tidak ada formasi.

Tidak ada komando.

Semua orang hanya berusaha menyelamatkan diri sendiri.

Dan itu yang paling berbahaya dalam perang.

Panik.

“Dengar,” kata Gerald tenang.

“Hah?”

“Kalau kau lari sekarang, kau mati.”

“A-Apa?”

“Saat orang panik, mereka berhenti berpikir.”

Gerald menunjuk bukit kecil di sisi kanan medan perang.

“Lihat.”

Prajurit muda itu menoleh.

Beberapa orc sudah bergerak memotong jalur kabur manusia.

Mereka lebih cepat dari yang terlihat.

Orc-orc itu tidak menyerang membabi buta.

Mereka berburu.

“Sial…” gumam Gerald.

Ini lebih buruk dari yang ia kira.

“Nama kau siapa?” tanya Gerald.

“E-Elias…”

“Bagus. Kalau mau hidup, ikut aku.”

“Hah?”

Belum sempat Elias menjawab—

“GRAAAHHH!!”

Seekor orc berlari ke arah mereka sambil membawa kapak besar.

Prajurit lain langsung kabur.

Gerald justru maju.

Matanya fokus pada kaki monster itu.

Berat tubuh.

Arah ayunan.

Jarak serang.

Semuanya terbaca jelas di kepalanya.

Orc itu mengangkat kapaknya tinggi.

Gerald bergerak lebih dulu.

Satu langkah masuk.

Tubuhnya merendah.

Pedangnya menusuk bagian bawah dagu orc.

CRAAKK!!

Darah hitam muncrat.

Monster itu roboh seketika.

Elias membeku.

“M-Mati?”

Gerald menarik pedangnya keluar.

“Jangan lawan tenaga mereka.”

“Apa?”

“Lawan titik lemahnya.”

Gerald melihat tubuh orc itu cepat.

Leher. Mata. Sendi lutut.

Masih sama seperti makhluk hidup lain.

Punya titik vital.

Yang berarti—

Bisa dibunuh.

“WOI!!”

Suara kasar terdengar dari belakang.

Seorang pria gendut dengan zirah rusak berlari sambil membawa kapak kecil.

“Ada makanan nggak?!”

Gerald dan Elias menatapnya aneh.

“APA?”

Pria gendut itu menunjuk orc mati.

“Bisa dimakan gak itu?”

“….”

Elias menatap tidak percaya.

“Kita hampir mati dan yang kau pikirkan makanan?!”

“Aku lapar!”

“SETAN!”

Gerald memijat pelipisnya.

Kenapa orang pertama yang ia temui di dunia baru justru orang idiot begini?

Namun sebelum mereka bisa bicara lagi—

DUUMMM!!

Tanah kembali bergetar.

Semua orang menoleh ke retakan raksasa di tengah medan perang.

Sesuatu yang besar perlahan naik dari bawah tanah.

Lebih besar dari orc biasa.

Jauh lebih besar.

Salah satu prajurit berlutut ketakutan.

“Dewa tolong kami…”

Makhluk itu muncul perlahan sambil membawa kapak hitam raksasa.

Tingginya hampir setara rumah kecil.

Matanya merah menyala seperti bara api.

Dan tubuhnya dipenuhi bekas luka perang.

Orc lain langsung meraung bersamaan.

Seolah memberi hormat.

Gerald menyipitkan mata.

“…Pemimpin.”

Orc raksasa itu membuka mulutnya.

“GROOOOAAAAHHHH!!”

Suara raungannya mengguncang seluruh medan perang.

Beberapa kuda langsung panik dan kabur.

Bahkan prajurit manusia mulai kehilangan keberanian hanya karena mendengar suara itu.

Lalu sang monster mengangkat kapaknya.

Dan mengayunkannya.

DUAAAAARRRRR!!

Satu barisan tentara manusia langsung lenyap.

Tubuh mereka hancur seperti ranting kecil.

Keheningan memenuhi medan perang.

Lalu—

Kepanikan total pecah.

“LARI!!”

“KITA MATI!!”

“ITU MONSTER APA?!”

Para tentara mulai saling dorong demi kabur lebih dulu.

Gerald mengepalkan pedangnya.

Situasi sudah tidak bisa diselamatkan.

Pasukan manusia kalah sebelum benar-benar bertarung.

Karena mereka kehilangan mental.

Namun di tengah kekacauan itu…

Gerald justru tersenyum tipis.

Sudah lama sekali ia tidak merasakan ini.

Adrenalin perang.

Insting bertahan hidup.

Dan rasa hidup yang sesungguhnya.

Ia menatap ribuan orc yang mulai bergerak menyerbu.

Lalu menatap dua orang di sampingnya:

Elias si bocah kurus

dan pria gendut aneh tadi

“Kalau mau hidup,” ujar Gerald tenang.

“Kalian ikut aku.”

Pria gendut itu mengangkat tangan.

“Asal ada makanan.”

Elias langsung berteriak.

“INI BUKAN WAKTU MAKAN, BODOH!!”

Dan untuk pertama kalinya sejak reinkarnasi—

Gerald tertawa kecil.

1
SR07
aing udh muak sama duel🗿
SR07
orc nya mana ini weh, harusnya orc yang jadi monster malah manusia nya banyak yang jadi monster 🗿
SR07
aing udh mulai muak sama peperangan antar manusia, kebanyakan drama, musuh terkejut lah, mulai serius lah, mending lawan orc 🗿
SR07
malah cosplay boris😅
SR07
anjay 10rb lawan ratusan🗿
SR07
lah gak war lagi?
Luthfi Afifzaidan
kok di ulang lg thor?
ar kan
mainkan👍👍
SR07
🤣🤣
SR07
awokawok Tom and Jerry 🤣
Kezia
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!