Selama 500 tahun, seorang arwah wanita dikutuk oleh dewa menjadi “Roh Bulan” dan disegel di dalam lukisan kuno di sebuah kuil akibat kesalahan fatal yang dilakukannya di masa lalu. Hidup dalam kesunyian abadi, ia hanya bisa melihat dunia dari balik lukisan tanpa mampu menyentuh siapa pun.
Hingga suatu malam, seorang pria tanpa sengaja membebaskannya dari segel kuno. Semakin lama bersama, arwah wanita itu mulai jatuh cinta padanya. Namun keduanya perlahan menyadari bahwa mereka ternyata telah terikat sejak 500 tahun lalu, dan pria itu mungkin adalah alasan sebenarnya di balik kutukan Roh Bulan yang menghancurkan hidup mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15 Arum dan Pangeran yang Hilang
Suasana rumah perlahan berubah hangat setelah kepulangan Arum dan Aruna. Meja makan besar di tengah ruangan dipenuhi berbagai masakan tradisional yang masih mengepul hangat. Aroma sup, ikan bakar, dan nasi rempah memenuhi rumah hingga membuat perut Ravin langsung berbunyi pelan.
Sejak tiba di dunia aneh ini, mereka hampir tidak makan dengan layak.
Karena itu begitu dipersilakan duduk, Ravin dan Arum langsung makan tanpa bisa menjaga image sama sekali.
Ajeng sampai melongo melihat Arum menyendok makanan begitu cepat.
“Mbak… pelan-pelan…” gumamnya bingung.
Sementara Ravin bahkan hampir lupa dirinya sedang berpura-pura menjadi bangsawan kerajaan. Ia terus makan dengan wajah serius seolah takut makanannya hilang.
“Aruna…” ayah Arum sampai tertawa kecil heran. “Istana tidak memberimu makan?”
Ravin langsung tersadar lalu batuk kecil canggung.
“Ah… itu… akhir-akhir ini sibuk.”
Arum langsung mendelik kesal ke arah Ravin yang masih sempat mengambil lauk lagi.
Ibu Arum justru terlihat sedih melihat kondisi mereka.
“Kalian pasti sangat menderita selama pergi…” ucapnya pelan.
Setelah suasana sedikit tenang, ayah Arum akhirnya menatap serius ke arah mereka.
“Sebenarnya apa yang terjadi?” tanyanya pelan. “Kenapa kalian menghilang sampai tiga hari?”
Arum langsung menegang.
Karena mereka sendiri bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu ini.
Namun sebelum Arum sempat bicara, Ravin lebih dulu membersihkan tenggorokannya lalu memasang wajah serius.
“Sebenarnya…” Ravin mulai bicara dengan nada dramatis. “Aku menemukan Arum di tepi jurang.”
Arum langsung menoleh tajam.
“Dia waktu itu benar-benar seperti kehilangan harapan hidup,” lanjut Ravin dengan ekspresi sedih dibuat-buat. “Dia terus bilang gak mau pulang… gak mau ketemu siapa-siapa…”
Mata Arum membelalak tidak percaya.
“Aku sampai harus menjaganya siang malam,”
Ravin menghela napas panjang seolah sedang mengenang penderitaan berat. “Bahkan waktu hujan deras aku rela gak tidur demi memastikan dia gak lompat ke jurang.”
Arum langsung menyikut kaki Ravin pelan di bawah meja.
Namun Ravin tetap melanjutkan ceritanya dengan lancar seperti aktor film.
“Aku terus meyakinkan dia bahwa hidup masih berharga… bahwa keluarganya sangat menyayanginya…”
Ajeng mulai berkaca-kaca mendengarnya.
Ibu Arum bahkan menutup mulut haru.
“Untung ada kamu, Aruna…” suara wanita itu bergetar penuh syukur.
Ayah Arum ikut mengangguk serius.
“Kau benar-benar menyelamatkan putriku.”
Ravin hampir tersenyum bangga mendengar pujian itu. Dadanya sampai mengembang puas.
Sementara Arum di sampingnya hanya bisa menatap kesal dengan alis mengernyit cemberut.
Pembohong besar.
Padahal sejak tadi justru Ravin yang panik dan ketakutan di mana-mana.
Namun keluarga Arum benar-benar mempercayai semua cerita itu.
Ayah Arum lalu menuangkan minuman ke cangkir Ravin sambil tersenyum hangat.
“Besok pagi aku akan mengantarmu kembali ke istana.”
Senyum bangga di wajah Ravin langsung menghilang.
Ayah Arum melanjutkan,
“Raja dan Selir Ratih pasti sangat merindukanmu.”
Suasana mendadak hening.
Ravin dan Arum kembali saling menatap dengan wajah kaget.
Selir Ratih.
Raja.
Istana.
Semakin lama, kehidupan asli Aruna terasa jauh lebih besar dan rumit dari yang mereka bayangkan.
Matahari sore mulai tenggelam di balik gedung campus. Suasana kantin yang biasanya ramai terasa biasa saja bagi semua orang, kecuali Juna yang sejak tadi terus melihat ke arah pintu masuk seolah menunggu seseorang datang.
Namun Dewi tetap tidak muncul.
Juna akhirnya menemukan Lia yang baru keluar dari kelas lalu langsung menghampirinya.
“Lia,” panggilnya serius. “Dewi ke mana? Dari tadi gak keliatan.”
Lia terlihat ragu sesaat sebelum menjawab pelan,
“Sejak Ravin masuk rumah sakit… Dewi jadi sering bolak-balik ke sana.”
Ekspresi Juna langsung berubah.
“Apa?” nada suaranya terdengar tidak suka meski berusaha ditahan.
Lia menghela napas kecil.
“Kasihan juga sih sama Ravin… kondisinya masih koma.”
Juna terdiam beberapa detik. Di satu sisi ia memang merasa iba mendengar keadaan Ravin. Namun di sisi lain, ada rasa kesal yang sulit dijelaskan setiap mendengar Dewi terus memikirkan pria itu.
Juna langsung mengeluarkan ponselnya lalu menelpon Dewi.
Nada sambung terdengar cukup lama.Namun tidak diangkat. Juna mencoba lagi.
Tetap sama.
Rahangnya perlahan mengeras menahan kecewa.
“Dia bahkan gak jawab teleponku…” gumamnya pelan.
Lia bisa merasakan suasana hati Juna berubah buruk. Namun ia juga tidak tahu harus berkata apa karena Dewi memang hampir selalu berada di rumah sakit akhir-akhir ini.
Sementara itu…
Di dunia masa lalu, Ravin sedang menatap langit-langit kamar dengan wajah tidak percaya.
Kamar Arum ternyata jauh berbeda dari kehidupannya di masa modern. Ruangan itu besar namun serba sederhana. Kasur tipis, lampu minyak redup, dan udara malam yang terasa panas membuat Ravin berkeringat tidak nyaman.
“Gila…” Ravin mengipas dirinya memakai kain. “Ini pangeran apa anak pramuka…”
Ia mengeluh sambil membolak-balik tubuh di atas kasur.
“Panas banget… mana gak ada AC…”
Pintu kamar terbuka perlahan.
Arum masuk sambil menatap Ravin datar.
“Kamu masih hidup ternyata,” ucapnya dingin.
Ravin langsung duduk kesal.
“Eh, salah siapa aku tidur begini? Hidup kalian zaman dulu keras banget.”
Arum berjalan mendekat lalu duduk tidak jauh darinya. Wajah gadis itu terlihat jauh lebih serius dibanding sebelumnya.
“Aku mau tanya sesuatu.”
Ravin meliriknya pelan.
“Kamu tadi… kenapa bicara berlebihan begitu ke keluargaku?”
Ravin langsung pura-pura batuk kecil.
“Itu strategi bertahan hidup.”
Arum mengernyit kesal.
“Kamu bikin aku seperti orang depresi mau bunuh diri.”
“Tapi mereka percaya kan?” jawab Ravin santai. “Lagian aku nyelametin suasana.”
Arum mendesah pelan namun tidak melanjutkan protesnya. Keheningan beberapa detik muncul sebelum akhirnya gadis itu berbicara lagi dengan nada jauh lebih pelan.
“Aku penasaran…” matanya menatap lantai. “Sebenarnya apa yang terjadi di masa ini.”
Ravin ikut terdiam.
Ia juga memikirkan hal yang sama.
Tentang Arum. Tentang Aruna. Tentang Ajeng yang wajahnya seperti Dewi. Tentang raja dan istana.
Semua terasa seperti benang kusut yang saling terhubung.
“Aku gak nyangka…” Ravin bergumam pelan. “Ternyata aku hidup di masa ini juga.”
Arum mengangkat pandangannya ke arah Ravin.
“Dan semua orang di sekitar kita seperti punya hubungan satu sama lain.”
Ravin mengangguk kecil.
“Dewi… atau Ajeng di masa ini.” Ravin berpikir keras. “Terus kamu… terus aku ternyata putra raja…”
Arum mengepalkan pelan tangannya di atas kain pakaian.
“Aku cuma punya seratus hari.” Suaranya terdengar berat. “Kalau dalam waktu itu aku gagal menemukan kebenaran tentang masa laluku… semuanya selesai.”
Ravin menatap Arum cukup lama.
Untuk pertama kalinya ia benar-benar menyadari betapa besar ketakutan yang disembunyikan gadis itu.
Dan entah kenapa… Ravin merasa semua ini memang ada hubungannya dengan dirinya juga.
Bukan sekadar kebetulan.
Malam semakin larut. Suasana rumah mulai tenang setelah semua orang masuk ke kamar masing-masing. Hanya suara jangkrik dan hembusan angin malam yang terdengar pelan dari halaman rumah.
Di ruang depan yang diterangi lampu minyak redup, ayah dan ibu Arum masih duduk berbicara dengan wajah penuh pikiran.
Ibu Arum menggenggam cangkir teh hangat sambil menghela napas panjang.
“Aku merasa Arum pergi karena masalah itu…” ucapnya lirih.
Ayah Arum terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk pelan.
“Pernikahan Ajeng dan Pangeran Yudra…”
Suasana langsung terasa berat.
Ibu Arum menunduk sedih.
“Padahal dulu Arum sangat menyukai Yudra.”
Nada suaranya penuh rasa bersalah sebagai seorang ibu.
Ayah Arum memejamkan mata sesaat sebelum bicara pelan,
“Aku tidak bisa menolak keputusan raja.”
Ia masih mengingat jelas hari acara pemilihan kandidat istri Pangeran Yudra di istana. Semua putri bangsawan hadir saat itu, termasuk Arum dan Ajeng.
Namun di akhir acara…
Raja memilih Ajeng.
“Sejak kecil Yudra memang dekat dengan Arum…” gumam ibunya. “Aku kira mereka benar-benar akan bersama.”
Ayah Arum mengepalkan pelan tangannya.
“Tapi raja berkata Ajeng lebih cocok mendampingi calon pewaris kerajaan.”
Kalimat itu masih terasa menyakitkan bahkan sampai sekarang.
Ibu Arum menatap lantai dengan mata berkaca-kaca.
“Mungkin Arum merasa kami mengorbankannya demi kerajaan…”
Tak ada jawaban setelah itu.
Karena jauh di dalam hati, mereka tahu kemungkinan itu benar.
Pagi hari datang dengan cahaya matahari hangat yang masuk dari sela jendela rumah.
Ravin baru keluar kamar dengan wajah masih malas dan rambut berantakan. Ia menguap panjang sambil melihat halaman rumah yang ramai oleh pelayan.
Namun langkahnya langsung berhenti saat melihat Ajeng sedang menyiram bunga di halaman.
Untuk beberapa detik Ravin hanya diam memandanginya.
Wajah itu benar-benar seperti Dewi.
Cara berdiri, mata, bahkan senyum kecilnya saat berbicara dengan pelayan sangat mirip.
Rasa rindu tiba-tiba muncul begitu saja di dada Ravin.
Tanpa sadar ia berjalan mendekat.
“Ajeng…”
Gadis itu menoleh sebentar.
Ravin tersenyum kecil canggung.
“Pagi.”
Namun berbeda dari yang ia harapkan, Ajeng justru menatap Ravin sinis.
“Ada apa, pangeran?”
Nada suaranya dingin.
Ravin langsung bingung.
“Kamu kenapa sih dari semalam jutek banget sama aku?”
Ajeng mendengus pelan lalu memalingkan wajah.
“Aku cuma gak suka laki-laki yang bawa kabur kakakku.”
Setelah mengatakan itu, Ajeng langsung pergi meninggalkan Ravin begitu saja.
Ravin hanya bisa berdiri bengong.
“Padahal mukanya Dewi banget…” gumamnya kesal. “Tapi sifatnya galak.”
Tak lama kemudian ayah Arum keluar dengan pakaian resmi bangsawan.
“Aruna,” panggilnya serius. “Kereta sudah siap.”
Ravin langsung menoleh.
“Hari ini aku akan mengantarmu kembali ke istana. Raja dan Selir Ratih sudah menunggu putra mereka.”
Kalimat itu membuat Ravin kembali merasa aneh.
Dirinya benar-benar seorang anak raja.
Namun sesaat kemudian wajahnya malah berubah bete.
“Kenapa malah anak selir…” gumamnya pelan kesal. “Kalau gitu posisi gue bukan pewaris utama dong…”
Arum yang baru datang langsung menahan tawa kecil melihat ekspresi Ravin.
“Kamu masih sempat mikirin status?”
“Ya iyalah,” protes Ravin. “Minimal kalau jadi pangeran tuh anak ratu utama.”
Arum memutar mata malas lalu berjalan mendekat ke ayahnya.
“Ayah, aku ikut ke istana.”
Namun ayahnya langsung menggeleng tegas.
“Tidak.”
Arum mengernyit kecewa.
“Kamu tetap di rumah bersama ibumu.” Suara ayahnya terdengar serius namun lembut. “Keadaanmu belum benar-benar pulih.”
“Ayah…”
“Tidak ada bantahan.”
Arum langsung cemberut kesal.
Sementara Ravin diam-diam malah merasa sedikit lega sekaligus gugup.
Karena sebentar lagi…
Ia akan bertemu langsung dengan raja.