“[Ikan Langka! Hadiah 100 Emas!]”
Beni hanyalah nelayan miskin yang hidup penuh penderitaan. Ia dikhianati istrinya, dijebak hingga terlilit hutang, dan hampir kehilangan harapan hidup.
Namun saat berlayar di tengah badai, ia malah tersesat ke lautan misterius yang dipenuhi bahaya. Di sanalah sebuah sistem aneh tiba-tiba muncul di hadapannya.
Dengan bantuan sistem pengumpul emas, bisakah Ye Fan mengubah nasibnya dan menjadi orang terkaya di lautan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Strike cok!
Dengan semangat yang membara, Beni melompat ke atas perahu barunya yang kokoh.
Mesin kapal menderu halus, memecah kesunyian malam di pesisir desa. Ia menoleh sekali lagi ke arah rumahnya, lalu ke arah rumah Kepala Desa di kejauhan.
"Tunggu saja, kalian semua akan melihat siapa yang sebenarnya menjadi pecundang di desa ini," pikirnya dingin.
"Semoga aku tidak mati malam ini," gumamnya, setengah bercanda, setengah berdoa.
Perahu membelah air dengan stabil. Awalnya, Beni melintasi perairan dangkal yang ia kenal, tempat yang biasa ia gunakan untuk mencari ikan kecil.
Namun, tak sampai satu jam perjalanan, kabut tebal berwarna perak tiba-tiba turun dari langit seolah menutup pandangan dari dunia luar.
"Hm? Kabut ini... rasanya aneh. Apa ini semacam gerbang tersembunyi, atau cuma aku saja yang bisa melihatnya?" Beni mengamati sekeliling. "Tempat ini benar-benar menarik. Kecuali, tentu saja, kalau monster mengerikan yang waktu itu muncul lagi."
Tak lama kemudian, kabut itu tersingkap. Pemandangan di depan matanya berubah drastis. Langit di atas sana tidak lagi gelap gulita, melainkan dihiasi oleh aurora tipis yang menari-nari, dan air laut di bawahnya berpendar seperti cairan kristal.
Ding!
[Peringatan: Area ini masih tergolong aman, namun jangan melaut terlalu jauh. Level perahu dan statistik Tuan Rumah masih sangat rendah!]
Beni mengernyitkan dahi. "Jadi begitu... tunggu dulu, kalau sekarang saja area ini dianggap masih aman, lalu kenapa waktu itu kau melemparku tepat ke mulut monster?" Beni memegang kemudi dengan kesal. "Apa kau sebenarnya berusaha membunuhku, Sistem?!"
Ding!
[Anggap saja itu bagian dari tutorial.
Selamat datang di dunia nyata, Tuan Rumah.
凸( •̀_•́ )凸]
Beni melongo. "Lah... Sistem bisa mengejekku juga? Benar-benar gila."
Ia menggelengkan kepala, mencoba mengabaikan kekonyolan sistemnya, lalu mulai mempersiapkan peralatan pancing.
Karena kail hadiah dari misi pertama hilang saat perahunya hancur di badai sebelumnya, ia terpaksa menggunakan kail yang dibelinya di kota.
Beni memasang umpan cacing laut yang berbau amis menyengat, lalu melemparnya sejauh mungkin ke permukaan air yang tenang itu. "Ayo, ikan manis... makan umpannya. Berikan aku emas yang banyak agar aku bisa segera pensiun dari kehidupan nelayan miskin ini! Hahaha!"
[-_-]
Sistem itu hanya mengirimkan ikon datar yang seolah-olah sedang menatap Beni dengan bosan.
Satu jam berlalu. Beni sudah menghabiskan setengah bungkus wafer dan minum air botol, namun jorannya tetap diam seperti patung.
Ia menghela napas panjang, menatap pancingannya dengan lesu. "Sial, spotnya jelek sekali. Jangan-jangan tempat ini cuma kelihatannya saja bagus, tapi isinya kosong?"
Namun, saat ia hampir menarik pancingnya untuk mengganti umpan, joran bambu yang ia beli di kota tiba-tiba melengkung hingga membentuk busur yang ekstrem.
ZRAAAKK!
"Strike! Sedap nyooh! Tarik sis!" seru Beni, matanya langsung terbelalak tajam.
Beni langsung menghunjamkan kakinya ke dek kapal, menahan tarikan yang luar biasa kuat. Bukan sekadar tarikan ikan biasa, rasanya seperti ada seekor kuda yang sedang menarik tali pancingnya di bawah sana. Kapal nelayannya yang baru itu pun ikut terdorong hingga sedikit miring.
"Tenaganya luar biasa! Ini pasti ikan yang besar!" Beni memutar tuas kailnya dengan susah payah. Keringat mulai bercucuran di pelipisnya. Otot lengannya menegang hebat, menahan setiap sentakan ikan yang berusaha melepaskan diri dari mata kail.
Ikan itu berenang melingkar, menciptakan pusaran air di sekitar kapal. Beni terus berjuang, jantungnya berdegup seirama dengan deru mesin perahu. "Aku tidak akan melepasmu! Kau adalah kunci emas pertamaku malam ini!"
Perlahan tapi pasti, siluet hitam di bawah air mulai muncul ke permukaan. Beni memutar tuas terakhir dengan sisa tenaganya, dan dengan satu hentakan kuat—
BYUURRR!
Ikan itu melompat keluar dari air, terbang tinggi melewati kepala Beni sebelum jatuh menghantam dek perahu dengan suara keras.
Beni terengah-engah, wajahnya basah oleh percikan air laut. Ia menatap tangkapan itu dengan napas tertahan. Ikan itu tidak memiliki sisik biasa. Tubuhnya dipenuhi oleh duri-duri tajam yang bercahaya biru, dan di kepalanya terdapat sepasang tanduk kecil yang tampak seperti kristal.
"Apa-apaan ini? Kau yakin ini ikan?" Beni melotot, mundur selangkah karena ikan itu masih bergerak dengan liar, menghantam lantai dek perahu hingga menimbulkan retakan pada kayu. "Ini bukan ikan, ini monster kecil!"
Ikan itu mengeluarkan suara desisan seperti ular, dan secara tiba-tiba, matanya yang tajam menatap Beni dengan penuh kebencian.