Nadira selalu hidup dalam bayang-bayang saudara kembarnya, Nayla. Wajah mereka identik, tetapi nasib mereka sangat berbeda. Nayla adalah anak kebanggaan keluarga—cantik, pintar, dan selalu diprioritaskan. Sementara Nadira dianggap cadangan, seseorang yang hanya dipanggil saat keluarga membutuhkan “pengganti.”
Semua berubah ketika Nayla mengalami kecelakaan misterius sehari sebelum pertunangannya dengan Arsen Wijaya, pewaris keluarga kaya yang dingin dan sulit ditebak. Demi menjaga nama baik keluarga dan kontrak bisnis miliaran rupiah, Nadira dipaksa menyamar menjadi Nayla sampai kondisi saudara kembarnya pulih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 — Rahasia yang Disembunyikan Keluarga
Nadira tidak tidur malam itu.
Ia hanya duduk diam di balkon penthouse sambil memeluk lutut, membiarkan angin malam menerpa wajahnya yang masih terasa panas karena terlalu banyak menangis.
Di dalam kepalanya, semuanya berputar kacau.
Tentang warisan.
Tentang kecelakaan waktu umur lima belas tahun.
Tentang fakta bahwa hidupnya ternyata penuh rahasia yang bahkan dirinya sendiri tidak tahu.
Dan yang paling mengganggu—
Kenapa keluarganya menyembunyikan semuanya darinya?
“Aku benci merasa jadi orang bodoh.”
Suara itu keluar pelan.
Namun Arsen yang masih duduk di sampingnya mendengar jelas.
“Kamu bukan bodoh.”
“Aku hidup dua puluh tiga tahun tanpa tahu perusahaan keluarga hampir diwarisin ke aku.”
Nadira tertawa kecil hambar.
“Itu definisi bodoh.”
Arsen menatapnya beberapa detik.
“Kamu trauma.”
“Trauma sampai lupa masa lalu?”
“Bisa.”
Nadira menoleh.
“Aku masih nggak ngerti kenapa Papa nyembunyiin semuanya.”
Tatapan Arsen perlahan berubah dingin.
“Ada kemungkinan dia takut.”
“Takut apa?”
Pria itu diam sesaat.
Lalu berkata pelan,
“Kalau kamu ingat semuanya.”
Deg.
Jantung Nadira langsung berdetak pelan.
Karena entah kenapa…
Ia merasa ada sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar warisan.
Sesuatu yang sengaja dikubur rapat-rapat oleh keluarganya.
Pagi harinya suasana penthouse terasa sangat tidak nyaman.
Mamannya masih diam sejak semalam.
Papanya sibuk menerima telepon dari pengacara dan direksi perusahaan.
Sedangkan Nayla…
Ia duduk di meja makan sambil menatap kosong secangkir kopi yang bahkan belum disentuh.
Nadira memperhatikannya pelan.
Saudara kembarnya terlihat sangat lelah.
Lingkar hitam muncul di bawah matanya.
Dan entah kenapa…
Nadira mulai sadar kalau selama ini Nayla juga hidup di dalam tekanan yang tidak kalah berat.
“Aku mau tanya sesuatu.”
Suara Nayla memecah suasana.
Semua langsung menoleh.
Tatapannya jatuh ke arah papanya.
“Waktu Kakek milih Nadira…”
Suara Nayla sedikit bergetar.
“Apa Papa kecewa sama aku?”
Deg.
Ruangan langsung sunyi.
Papanya terlihat terkejut.
“Nayla—”
“Jawab aja.”
Tatapan Nayla memerah.
“Aku capek pura-pura nggak mikir soal itu.”
Mamannya langsung mencoba memegang tangan Nayla.
Namun gadis itu menarik tangannya pelan.
“Selama ini aku mati-matian jadi sempurna.”
Air matanya mulai jatuh.
“Aku belajar bisnis.”
“Aku ikut semua acara keluarga.”
“Aku selalu nurut.”
Suaranya mulai pecah.
“Tapi ternyata dari awal yang dipilih bukan aku.”
Dada Nadira langsung terasa sesak.
Karena untuk pertama kalinya…
Ia bisa melihat luka yang selama ini disembunyikan Nayla.
Papanya mengembuskan napas panjang.
“Papa nggak pernah kecewa sama kamu.”
“Tapi Kakek iya.”
“Bukan begitu—”
“Terus apa?!”
Bentakan Nayla membuat semua diam.
“Aku cuma pengganti kalau Nadira nggak mau!”
“NAYLA!”
“Aku salah ya kalau capek?!”
Tangis Nayla pecah.
Dan Nadira langsung berdiri memeluk saudara kembarnya erat.
“Udah…”
“Aku benci dibandingin terus…”
Tubuh Nayla gemetar di pelukan Nadira.
“Kenapa harus kita berdua…”
Air mata Nadira ikut jatuh.
Karena sebenarnya…
Mereka sama-sama korban.
Korban dari ekspektasi keluarga yang terlalu besar.
Siang harinya Nadira akhirnya memberanikan diri masuk ke ruang kerja papanya.
Ruangan itu besar.
Dipenuhi rak buku dan dokumen lama.
Dulu waktu kecil, ia suka duduk di sofa kecil dekat jendela sambil menggambar saat papanya bekerja.
Namun sekarang tempat itu terasa asing.
Papanya sedang duduk sendiri sambil memijat pelipis.
Begitu melihat Nadira masuk, ekspresinya langsung berubah rumit.
“Kamu marah sama Papa.”
Bukan pertanyaan.
Pernyataan.
Nadira berdiri diam beberapa detik sebelum akhirnya duduk di depan meja.
“Aku cuma pengen jujur kali ini.”
Papanya mengangguk kecil.
“Silakan.”
Nadira menarik napas pelan.
“Kecelakaanku dulu… sebenarnya apa yang terjadi?”
Ruangan langsung sunyi.
Tatapan papanya berubah.
Dan itu cukup membuat Nadira makin yakin.
Ada sesuatu yang besar.
“Papa.”
Pria itu mengusap wajah lelahnya.
“Itu kecelakaan mobil.”
“Aku tahu.”
“Kamu sama supir keluarga waktu itu.”
“Terus?”
Papanya diam terlalu lama.
Dan Nadira mulai kehilangan kesabaran.
“Terus apa?!”
“Kamu hampir mati.”
Suara itu pelan sekali.
“Kepalamu bentur cukup keras.”
Potongan bayangan samar muncul lagi di kepala Nadira.
Suara rem.
Hujan deras.
Jeritan.
Dan darah.
Tangannya langsung dingin.
“Kenapa aku ngerasa… ada yang nggak beres?”
Papanya langsung menatapnya.
“Apa yang kamu ingat?”
“Sedikit.”
“Apa?”
Nadira memejamkan mata mencoba mengingat.
“Kayak…” napasnya mulai tidak stabil, “ada orang lain.”
Deg.
Ekspresi papanya langsung berubah.
Dan Nadira melihatnya.
Takut.
Untuk pertama kalinya…
Papanya terlihat benar-benar takut.
“Aku benar ya?”
Pria itu buru-buru berdiri.
“Kamu nggak usah mikirin masa lalu lagi.”
“Papa bohong lagi.”
“Nadira—”
“Ada orang lain di mobil itu kan?!”
Bentakan Nadira menggema di ruangan.
Dadanya naik turun.
“SIAPA?!”
Papanya memalingkan wajah.
Dan diamnya lagi-lagi menjadi jawaban.
Malamnya Nadira mengurung diri di kamar.
Pikirannya makin kacau.
Ia terus mencoba mengingat masa lalu, tapi semakin dipaksa semakin sakit kepalanya.
Tok.
Tok.
Pintu diketuk pelan.
“Masuk.”
Arsen masuk sambil membawa obat dan air.
“Kamu belum makan.”
“Aku nggak lapar.”
“Kamu juga bilang itu kemarin.”
Nadira menghela napas lalu menerima obat itu malas-malasan.
Arsen duduk di samping tempat tidur.
“Masih mikirin kecelakaan?”
Nadira tertawa kecil hambar.
“Aku baru sadar hidupku ternyata lebih mirip drama murahan.”
“Percaya deh, drama murahan nggak seseram hidup kamu.”
Nadira akhirnya tersenyum kecil.
Sedikit.
Namun itu cukup membuat Arsen lega.
“Aku takut ingat semuanya,” bisik Nadira pelan.
Tatapan Arsen langsung melunak.
“Kenapa?”
“Kalau ternyata masa lalu aku lebih buruk dari sekarang gimana?”
Pria itu diam sebentar.
Lalu berkata pelan,
“Aku tetap di sini.”
Deg.
Kalimat sederhana itu lagi-lagi menghancurkan pertahanan Nadira.
“Kenapa sih kamu selalu bilang hal kayak gitu…”
“Karena itu yang aku pikirin.”
Jantung Nadira mulai kacau lagi.
Sial.
Kenapa pria ini selalu bicara setenang itu seolah tidak sadar efeknya?
“Aku serius, Arsen.”
“Aku juga serius.”
Tatapan mereka bertemu.
Dan suasana langsung berubah pelan.
Hening.
Hangat.
Berbahaya.
“Aku nggak boleh suka sama kamu,” bisik Nadira lemah.
Arsen tidak terlihat kaget.
Seolah pria itu sudah tahu sejak lama.
“Kenapa?”
“Kamu tunangan Nayla.”
“Aku bisa batalin.”
Deg.
Nadira langsung membeku.
“Jangan ngomong sembarangan.”
“Aku nggak sembarangan.”
“Arsen…”
“Aku udah selesai pura-pura.”
Napas Nadira mulai tidak stabil.
Pria itu mendekat sedikit.
“Mau sampai kapan kamu lari?”
Dan sialnya…
Nadira tidak punya jawaban.
Karena kenyataannya…
Ia memang mulai jatuh terlalu dalam.
Namun tepat saat suasana mulai berubah lagi—
Ponsel Nadira tiba-tiba berbunyi.
Nomor tak dikenal.
Mereka langsung saling menatap.
Firasat buruk.
Lagi.
Nadira mengangkat telepon perlahan.
“Halo…?”
Tak ada suara beberapa detik.
Lalu—
“Kamu mulai ingat ya?”
Tubuh Nadira langsung dingin.
Suara pria.
Asing.
Namun entah kenapa terasa familiar.
“Siapa ini?!”
Pria itu tertawa kecil.
“Kalau kamu ingat semuanya…”
Suaranya berubah rendah.
“Banyak orang bakal hancur.”
Telepon langsung terputus.
Nadira membeku.
Tangannya gemetar hebat.
Arsen langsung mengambil ponselnya.
“Nomornya?”
Namun Nadira justru menatap kosong ke depan.
Karena tepat saat mendengar suara itu…
Sebuah bayangan muncul jelas di kepalanya.
Malam hujan.
Mobil terbalik.
Dan seorang pria berdiri di luar kaca mobil sambil memperhatikannya.
Pria itu…
Tersenyum.